Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Rencana Dinda


__ADS_3

***


Difikir-fikir. Dibully itu ternyata tidaklah nyaman. Setiap hari makan hati. Membuang air mata. Apa kalian tahu? Seperti itulah Dinda setiap malam-malamnya. Membuang air mata yang padahal si pembully tidak pernah tahu kondisinya.


"Din, kamu kenapa sayang?" tanya Wawan panik.


Tanpa sadar Wawan telah memanggil Dinda dengan sebutan sayang. Dinda langsung menatap Wawan dengan aneh.


"Eh, bukan. Maksud mas kamu gak apa-apa kan?" tanya Wawan sambil salting. Dia telah keceplosan tadi.


Dinda tak menanggapi.


"Dinda." Kali ini Aris yang datang.


"Tolong dengarkan penjelasanku Din. Dan untuk omongan ibu-ibu tadi, jangan pernah kamu masukin hati ya?" bujuk Aris.


Dia hanya ingin menjelaskan ke Dinda. Bahwa Dindalah perempuan satu-satunya yang ia harapkan.


"Omongan ibu-ibu? Maksudnya apa?" tanya Wawan kepo.


"Kenapa Din? Tolong cerita ke Mas," pinta Wawan.


'Please deh!'


Hari ini Dinda jengah. Dia ingin menenangkan diri. Dia lagi muak dan gak pengen menanggapi dua pria ini yang dirasa sangat menyebalkan.


"Maaf, Dinda capek. Dinda mau istirahat!" pamitnya sambil berlalu meninggalkan Aris dan Wawan.


"Dinda, sampai kapanpun aku akan menunggumu!" teriak Aris sambil melihat kepergian Dinda begitu saja. Sebab Aris tahu, kalau Dinda akan menghindarinya.


"Heh! Semua ini gara-gara elu kan? Pasti lu nyakitin Dinda lagi kan?" tuding Wawan pada Aris.


"Kalau gak tahu masalahnya, gak usah ikut campur urusan orang!" sahut Aris tajam.


Percuma dia menunggu di sini. Toh Dinda lagi istirahat juga.


"Permisi, assalamualaikum," pamitnya dan berlalu pergi.


"Wa'alaikumussalam. Dasar gak punya sopan santun," gerutu Wawan kesal.


"Duh, aku keceplosan tadi. Semoga Dinda gak salah paham. Bodoh bodoh bodoh! Kenapa mulutku gak bisa ngerem sih!" Wawan mengomel-ngomel sendiri. Dia kesal dan takut kalau Dinda bakal menjauhinya.


Di dalam kamarnya, Dinda sedang kepikiran dengan perkataan Aris yang akan menunggunya. Benarkah?


"Ngapain dia nunggu aku? Harusnya dia cari yang baru. Itu lebih baik," ucapnya. Kemudian dia kepikiran dengan panggilan sayang yang keluar dari mulut Wawan tadi.


"Kenapa mas Wawan segitunya? Apa sebenarnya yang salah denganku? Kenapa aku jadi ilfil sama dia?" Gundah sudah si Dinda. Dia jadi merasa tak nyaman dengan Wawan.


"Ya Allah, mungkin aku harus tetap melanjutkan rencanaku yang tertunda."

__ADS_1


Malam ini Dinda putuskan untuk pergi. Dengan persetejuan dari pak Bambang dan bantuan dari pak Bambang juga. Karena Dinda belum bisa melakukannya sendiri. Begitu pula pak Bambang, mana tega membiarkan Dinda pergi sendirian. Cukup pak Bambang, Dinda dan Tuhan yang tahu. Karena masalah ini begitu sangat sensitif dan berbahaya.


Sebelumnya, Dinda sudah bercerita kepada pak Bambang. Mengenai dia yang kurang nyaman akan dekatnya Wawan padanya. Dinda yang masih labil, bisa jadi dia akan menaruh hati ke Wawan. Karena perhatian dan kasih sayang yang Wawan berikan setiap hari padanya. Dan itu akan beresiko. Sebenarnya ini bukan masalah suka atau tidak suka. Dinda hanya ingin menyendiri, sekaligus menguji keseriusan ucapan Aris padanya.


"Dinda, kamu udah siapkan?" tanya pak Bambang setengah berbisik.


"Udah Yah!" balas Dinda. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ini rencana tergila yang baru pertama kali dia lakukan. Dan ini didukung kuat oleh ayahnya sendiri.


"Ya udah. Jalan pelan-pelan," suruh pak Bambang dengan volume yang begitu kecil.


"Baik, Yah!" Dinda ini memang sangat penurut. Jadi tak heran kalau banyak cowok yang menyukainya.


Tepat pukul 11 malam, di saat bu Lastri dan Wawan sudah terlelap dalam tidurnya. Dinda dan pak Bambang berjalan mengendap-endap. Berjalan berjinjit agar tak menimbulkan suara apapun. Dengan perlahan namun pasti akhirnya kedua ayah dan anak ini berhasil keluar rumah.


Setelah mereka sampai di jalan. Akhirnya dengan berani, pak Bambang men-starter sepeda motornya. Melajukan dengan pelan. Membelah dinginnya malam menuju ke tempat persembunyian yang dirasa akan nyaman untuk Dinda dan anaknya kelak.


"Pegangan Din. Ayah takut kamu kenapa-kenapa," perintahnya.


"Iya, Yah!" balas Dinda sedikit sedih. Tapi semua ini ia lakukan demi kebaikannya nanti.


Lumayan lama. Akhirnya mereka sampai ditujuan dengan selamat.


"Kamu yakin berani?" tanya pak Bambang memastikan.


"Insya Allah, Yah." Dinda yakin dia akan baik-baik saja. Lagian dia juga gak mau menikah dengan Aris. Jika memang mereka menikah, semua itu pasti karena terpaksa.


"Ya udah, ayah pamit ya? Jaga diri Dinda baik-baik," pesan pak Bambang padanya.


"Iya, tenang aja. Rahasia Dinda pasti akan aman di tangan Ayah," ucap pak Bambang penuh percaya diri.


"Makasih, Yah!"


***


Malam harinya. Aris cuma bisa membolak-balikkan badannya. Tidurnya tak nyenyak. Dia kepikiran Dinda terus-terusan.


"Semoga Dinda baik-baik aja."


Aris kembali mencoba menutup matanya. Lagi-lagi dia gak bisa tidur.


"Aku kenapa sih? Padahal ini udah hampir jam setengah 12 malam. Kenapa aku gak bisa tidur?" gumamnya heran.


Dia berencana pergi ke rumah Dinda. Tapi diurungkannya. Ini sudah larut malam. Gak pantes bertamu.


Tak lama kemudian, matanya pun terpejam.


"Din, tolong dengarkan penjelasanku Din. Aku cinta ma kamu Din. Jadi tolong, jangan ninggalin aku ya?" pinta Aris dengan memohon.


"Maaf. Aku gak bisa sama kamu. Hidupku udah kamu hancurkan. Jadi aku gak mungkin menikah sama kamu!" jawab Dinda dengan tegas.

__ADS_1


"Tapi Din. Gimana dengan anak kita? Dia butuh aku, Din!"


"Anak kita? Jangan mimpi! Sampai kapanpun dia bukan anakmu. Kamu itu penjahat. Aku gak sudi punya suami bekas penjahat kayak kamu! Maaf, aku harus pergi!" pamit Dinda tanpa perduli sedikit pun dengan Aris.


"Din! Jangan pergi Din!"


"Dindaaaa... hiks!" Aris menangis.


"Din. Dinda! Jangan pergi!"


Nafasnya terengah-engah. Aris membuka matanya dengan kaget. "Astaghfirullahal'adzim," ucapnya beristighfar. Ternyata tadi itu hanyalah sebuah mimpi.


"Ya Allah. Selamakanlah Dinda dan anak hamba di manapun dia berada. Aamiin," doanya. Dan di sepanjang malam itu Aris terjaga. Dia tak bisa tidur sama sekali.


***


Ke-esokan paginya. Wajah Wawan sedikit gelisah. Gelisah karena Dinda sedari subuh tak menampakkan batang hidungnya. Bertanya pada bu Lastri, ibunya itu malah bilang kalau si Dinda belum ada keluar dari kamar. Kecemasan semakin menjadi tatkala Wawan tak mendengar suara apa-apa dari dalam kamar Dinda.


Penasaran, akhirnya Wawan putuskan untuk segera mengetuk pintu kamar Dinda. Namun yang ada hanya hening.


"Dinda! Bangun Din!" panggil Wawan dengan gusar. Dia takut Dinda kenapa-kenapa.


Dengan memberanikan diri. Sebut saja lancang. Wawan memutar kenop pintu kamar itu.


Brak! Terbuka.


Diedarkan pandangannya secara menyeluruh. Menjelajahi ruangan itu yang terkesan sedikit berantakan. Apa itu tandanya Dinda ada di dalam kamar? Takut kena marah. Wawan segera menutup pintu itu kembali.


'Kamarnya berantakan? Tumben? Tapi kemana ya si Dinda?' batin Wawan curiga.


Bisa jadi Dinda marah padanya gara-gara kemarin. Wawan segera menjauh dari kamar Dinda. Bisa kena pasal pengintipan kalau dia sampai ketahuan. Ah, Dinda kenapa membuatnya cemas?


'Perempuan hamil itu. Ck,' heran Wawan dalam hati.


Diputuskannya agar tak mengganggu Dinda untuk sementara. Padahal susu buatannya sudah siap. Rutinitas paginya ini sepertinya akan gagal.


***


Sepulang bekerja, rencananya Aris mau pergi ke rumah Dinda. Tadi malam, ia tidur tak nyenyak. Aris merasa Dinda akan pergi meninggalkannya. Itu memang mimpi, tapi terlihat begitu nyata untuknya.


Setelah dua kali berucap salam, seperti kejadian kemarin. Bu Lastri lah yang membukakan pintu. Mata sembab bu Lastri lah yang pertama kali Aris tangkap. 'Ada apa?' fikir Aris heran.


Otaknya yang lumayan encer langsung memberikan petunjuk. Dinda...


"Kenapa Bu? Apa Dinda baik-baik aja?" Itulah akhirnya pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Betapa sayangnya Aris pada Dinda. Makanya, tak ada orang lain yang ia khawatirkan selain Dinda.


Bagaimana kalau misalnya, yang bu Lastri tangisi orang lain? Apakah Aris akan malu? Tidak. Aris tidak akan malu. Justru dia akan merasa lega jika Dinda baik-baik saja.


"Dinda, kabur nak Aris," tangis bu Lastri pecah kembali.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" Mimpi Aris bak jadi kenyataan. Benarkah Dinda meninggalkannya?


Bersambung...


__ADS_2