Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Perubahan Dinda


__ADS_3

"Gak mas, aku di sini aja," jawab Dinda sambil merebahkan diri di kasur.


"Yakin?" tanya Aris dan dijawab anggukan pelan dari Dinda.


"Ya udah, kamu istirahat aja." Aris mencium keningnya Dinda.


Dinda tersenyum dan menatap Aris sendu. 'Mas Aris yang pernah masuk penjara aja bisa berubah. Semoga mas Wawan juga bisa berubah,' batin Dinda sambil mencoba memejamkan matanya.


Dinda sudah tak mau memikirkan orang lain lagi. Cukup kali ini dia akan mikirin kebahagiaan keluarganya sendiri.


'Kamu harus fokus pada keluargamu Din. Kamu harus bangkit,' batin Dinda sambil memiringkan kepalanya ke samping. Dia berusaha menidurkan matanya kalau bisa.


Di luar kamar. Aris melihat Zahra yang tertidur pulas di ayunan bayi.


"Ada apa Ris?" tanya Bu Rukmini ingin tahu.


"Enggak Buk," jawab Aris sambil mendekati Zahra. Meskipun ada masalah, rasanya Aris tak bisa menceritakannya kepada ibunya. Bukannya gak percaya sama ibu sendiri. Tapi kalau bisa menutupi masalah keluarga, kenapa tidak?


"Ibuk lihat Dinda kayak sedih banget," ucap Bu Rukmini masih penasaran.


"Wajarlah Buk, saudara tirinya sedang berduka. Jadi dia juga ikutan sedih," jawab Aris sekenanya. Aris memang masih emosian. Harusnya Bu Rukmini tidak perlu memancing seperti tadi, dari pada suasananya makin panas nanti.


Bu Rukmini mengangguk paham. Akhir-akhir ini masalah anaknya semakin banyak. Sebagai orang tua harusnya Bu Rukmini tak terlalu kepo seperti tadi.


"Ya udah, ibuk siapin makan dulu ya. Jagain Zahranya," pamit Bu Rukmini kemudian.


"Iya Buk. Maaf Dinda gak bantuin ibuk, dia lagi istirahat." Aris rada gak enak juga. Ini kemauan Dinda untuk tinggal bareng ibunya. Padahal kalau boleh, Aris maunya tinggal di rumah sendiri. 'Omong-omong, gimana ya kondisi rumahku?' batin Aris teringat rumahnya yang pernah menjadi pengalaman terburuk sekaligus terindah buatnya.


"Udah gak apa-apa, ibu paham kok." Bu Rukmini berjalan sedikit agak pincang. Beliau memang ada encok. jadi jalannya sudah tidak normal seperti orang pada umumnya. Untung darah tingginya sudah jarang kambuh lagi. Mungkin ini efek bahagia karena Aris telah menikah dan sekarang ada cucu sebagai pengobat kegalauannya.


"Uh Zahra anak ayah. Maaf ya, akhir-akhir ini ayah sibuk banget. Jadi jarang ada waktu lagi buat nemenin Zahra. Zahra yang pinter ya, jangan rewel. Biar ibuk sama nenek gak kerepotan," ucap Aris yang seolah-olah mengajak Zahra mengobrol.

__ADS_1


"Ayah sibuk kerja buat masa depan Zahra juga kok," lanjut Aris sambil merebahkan diri di samping ayunan Zahra. Tak terasa, diapun ketiduran. Mungkin sangking capeknya juga.


...****************...


Hari ini Dinda begitu berbeda di mata Aris. Sebab dari pagi dia tak sedikitpun menolak dengan apa yang Aris minta. Seperti halnya saat ini. Aris minta disiapkan baju kerjanya dan juga sekalian menyuruh Dinda menjemur baju. Biasanya memang Aris yang mengerjakan kalau sempat, kadang Bu Rukmini. Soalnya Dinda ini diratukan oleh Aris, kalau bisa Dinda tidak boleh kecapekan. Tapi gimana lagi? Saat ini Aris harus buru-buru.


"Sarapan udah siap mas," ucap Dinda tiba-tiba saat Aris baru selesai mengenakan pakaiannya. Tinggal dasinya yang belum.


"Sini biar Dinda bantuin." Tanpa diminta oleh Aris, Dinda menawarkan diri dan membantu memasangkan dasi di lehernya Aris.


"Sayang," panggil Aris tiba-tiba. Soalnya sedari tadi Aris merasa aneh dengan tingkah laku Dinda yang tak seperti biasanya.


"Iya mas," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Are you oke?" tanya Aris memastikan.


"Iya, aku baik-baik aja mas. Ada apa?" Dinda balik bertanya. Pasalnya dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.


"Iya mas, tenang aja sih. Gak usah khawatir." Dinda tersenyum kecil. Aris ini terlalu berlebihan menurutnya.


"Ya udah, sarapan dulu mas. Keburu dingin," ajak Dinda dan Aris langsung mengangguk.


...****************...


"Jangan capek-capek ya nak Dinda. Ibu takut kamu kenapa-kenapa." Rupanya Bu Rukmini juga sama khawatirnya seperti Aris.


"Gak apa-apa Buk. Ini udah tugas Dinda kok. Ibuk kan lagi kurang sehat, jadi ibuk harus banyak-banyak istirahat," jawab Dinda dengan tulus. Dia ingin menjadi anak sekaligus menantu yang baik buat Bu Rukmini. Sudah beberapa hari ini dia egois dan tak mau membantu, sekarang giliran dia menggantikan pekerjaannya Bu Rukmini.


"Tapi Nak..."


"Udah Buk, percaya sama Dinda ya. Kalau ibuk butuh apa-apa, ibuk tinggal bilang. Jangan sungkan-sungkan ya?" bujuk Dinda sambil menatap Bu Rukmini yang kini tengah menatap Dinda juga. Sementara Dinda, sedari tadi dia bersih-bersih meja makan, lumayan kotor mungkin karena baru pindahan setelah sekian lama tidak ditempati.

__ADS_1


"Makasih ya nak." Bu Rukmini menurut dengan Dinda. Lagian dari semalam beliau memang kurang enak badan. Jadi dia merebahkan dirinya di samping baby Zahra yang tengah tertidur. Untung Zahra tidak rewel, jadi masih enak menjaganya.


Usai bersih-bersih, barulah Dinda istirahat dan gantian buat jagain Zahra. Begitu seterusnya sampai-sampai Dinda lupa kalau di luar sana ada Wawan yang masih di penjara. Ada Bu Lastri yang tinggal bersama Mega, dan yang terakhir pak Bambang yang terpaksa tidur sendirian. Rumahnya yang dulunya sangat terawat dan asri. Kini rumah itu seperti tak berpenghuni lagi.


Begitu seterusnya sampai-sampai Dinda sudah lihai dalam urusan rumah tangganya. Bu Rukmini, dia merasa lebih baikan sekarang. Sebab Dinda selalu perhatian dan memanjakannya tiap waktu.


Aris? Dia selalu sibuk bekerja. Bukannya gak ada waktu, tapi jabatan Aris sekarang lebih bagus dari pada yang kemarin. Jadi dia tak bisa seenaknya sendiri, karena tergolong pekerja baru juga.


Saat ini, Dinda tengah asik menyiapkan makan malam mereka. Ya hitung-hitung masih sore, jadi Dinda ingin cepat menyelesaikannya.


Dia dengan semangat merajang bawang merah. Tapi tiba-tiba...


"Argh!" Dinda kaget, karena tak biasanya dia ceroboh seperti ini.


"Nak, kamu kenapa?" Bu Rukmini panik bukan main saat melihat darah yang mengalir dari jari tengahnya Dinda.


"Udah Buk. Gak apa-apa kok, tinggal dikasih hansaplast nanti juga berhenti," jawab Dinda santai.


"Gak nak, ibu takut kamu kenapa-kenapa."


Satunya biasa saja, dan satunya terlihat khawatir. Sampai-sampai, salamnya Aris tak ada yang menjawab. Melihat keributan dari dapur, Aris segera meletakkan tasnya dan melihat Zahra yang tengah buka mata. Tapi bukan Zahra tujuan Aris. Ya mohon maaf, kali ini Zahra terabaikan oleh Aris karena ada yang lebih penting dibandingkan itu.


"Buk, Dinda kenapa?" tanya Aris saat melihat Bu Rukmini memegang tangan Dinda.


Di sini Aris terlihat sangat khawatir. "Ibuk, kenapa tangan Dinda sampai berdarah seperti ini?" teriak Aris tiba-tiba. Emosinya masih belum terkontrol kalau itu soal Dinda maupun Zahra.


Bu Rukmini hendak menjelaskan. Tapi dipotong oleh Dinda.


"Mas apa-apaan sih? Kenapa neriakin ibuk sampai segitunya?" Dinda menatap Aris dengan tajam.


Aris membuka mulutnya kaget.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2