Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Bikin Heboh


__ADS_3

...****************...


JLEB!!!


"DASAR SIALAN! KALIAN UDAH NYAKITIN PERASAAN ISTRIKU!" teriak Aris sambil berkali-kali menusukkan celuritnya tanpa ampun.


"Kalian pantes dapetin ini." Aris terus menusukkan celuritnya membabi buta. Dia gak perduli meskipun makhluk dihadapannya sudah hancur, lemah tak berdaya. Yang penting rasa sakit istrinya terbalaskan.


"Kurang ajar. Dasar kalian wanita gila!!"


Sudah berapa lama Aris terus begitu. Hingga Wawan yang melihatnya jadi takut sendiri. "Kayaknya Aris udah gak waras, bisa-bisanya dia berbuat kayak gitu di sini! Aku harus ngasih tahu Dinda. Biar Dinda jauhin cowok penjahat kayak dia," gumam Wawan sambil berlari.


Asik melampiaskan amarahnya. Tiba-tiba suara orang yang ia sayang memanggilnya.


"Mas Aris!! Mas!! Apa yang kamu lakuin di situ!!" teriak Dinda sambil berjalan tertatih-tatih menghampiri Aris.


Mendengar itu, Aris langsung membuang celuritnya jauh-jauh dari Dinda.


"Maaf Din!" Aris bertekuk lutut di depan Dinda.


"Apa yang mas Aris lakuin?" tanya Dinda lagi.


"Maafin aku Din. Aku gak bisa mengontrol emosiku lagi. Jadi tolong maafin mas, kalau mas udah bersikap kayak gini," mohon Aris sedih. Tapi sungguh, separuh jiwanya merasa puas. Karena amarah yang ia pendam akhirnya tersalurkan juga.


"Dengan merusak pohon pisang ayah? Gimana kalau ayah tahu?"


Pohon pisang itu sudah tak berbentuk lagi. Rusak dan hancur akibat pukulan dan tusukan yang Aris layangkan tanpa ampun. Sepertinya Aris memang sedang tak baik-baik saja kalau menyangkut dirinya.


"Mas bisa nanem sebanyak-banyaknya Din. Mas gak tahu harus bagaimana lagi. Jadi mas terpaksa lakuin ini," jawab Aris yang mulai sedih.


Fiuh. Dinda menarik nafasnya. Sebenarnya ini bukan masalah besar. Cuma orang-orang rumah sepertinya sudah panik gara-gara ulah Aris. Tapi Dinda sedikit lega, seenggaknya Aris melampiaskan amarahnya pada pohon pisang bukan pada mereka.


"Ya udah, mas jangan gini lagi ya? Janji sama Dinda," ucap Dinda setengah tersenyum.


"Iya, insya Allah Din."


"Ya udah, cepet berdiri!" suruh Dinda yang membuat Aris sedikit bingung.


"Kenapa?" tanya Dinda yang menampilkan wajah biasa saja.

__ADS_1


"Kamu gak marah?" tanya Aris memastikan. Biasanya Dinda akan diam kalau gak mencak-mencak. Ini Dinda terlihat biasa saja. Kenapa?


"Gak. Ngapain aku marah?"


"Ya udah, ayo cepetan masuk!" ajak Dinda pada akhirnya.


Saat Dinda hendak membalikkan badannya, tiba-tiba dengan sigap Aris menggendong tubuh istrinya itu. Aris kasihan melihat cara berjalan Dinda.


"Eh! Mas ih, ngagetin!" kata Dinda yang otomatis berpegangan pada bahu Aris.


"Bukannya kamu tadi bobok? Kenapa tiba-tiba nyamperin mas?" tanya Aris sambil terus menggendong Dinda ala bridal style.


"Tadi seisi rumah heboh. Mereka ngomongin kamu, terus ada yang bangunin aku juga sih. Jadi aku datengin kamu, padahal tadi aku udah dilarang sama ayah, tapi aku nekat samperin kamu," curhat Dinda dengan santai. Entah kenapa, Dinda jadi percaya sama Aris ketimbang yang lain.


"Lagian kenapa dilarang? Kamu itu istriku, gak mungkin aku celakain kamu," balas Aris yang terus menggendong Dinda.


Setibanya mereka di ruang tengah. Semua orang menatap takut ke arah Aris. Apalagi Bu Lastri dan Mega. Mereka berdua sudah pucat pasi layaknya orang mati.


"Dasar cah edan! Kenapa pohon pisang ayah kamu hancurin kayak gitu!" Pak Bambang memarahi Aris. Tak perduli di manapun tempatnya, bagi pak Bambang kalau Aris salah ya langsung ia tegur di situ juga.


Aris segera menurunkan Dinda dengan pelan. Kemudian Aris menatap biasa saja ke semua orang. Bahkan di rumah ini masih ada Jo dan Nesa. Tapi Aris tetap bersikap cuek layaknya tak terjadi apa-apa padanya.


Semua orang tak semudah itu percaya dengan Aris. Masalahnya Aris tadi seperti orang gila yang tengah kerasukan setan.


"Boong! Lu emang udah gila Ris," sahut Nesa yang memang sudah kenal lama dengan Aris. Jadi dia merasa sangat tahu akan tabiat buruk Aris yang suka mencelakai orang.


"Din, kamu yakin bisa hidup bareng dia?" tanya Nesa kemudian.


Mendengar itu Aris sangat tak suka. Sepertinya Nesa ingin mengompori Dinda agar menjauhinya.


"Kenapa enggak? Lagian aku gak ngapa-ngapain Dinda," sahut Aris dengan tajam.


Sepertinya semua orang di rumah ini akan membencinya. Kecuali Dinda dan Jo? Apakah Jo juga akan membencinya?


"Yah, gimana kalau tiba-tiba dia kalap dan ngebunuh salah satu di antara kita?" Wawan mencoba menjadi racun di tengah-tengah panasnya api yang membara.


"Iya Yah. Ibu jadi takut." Bu Lastri ikut menimpali. Sedari tadi, tangannya berpegangan rapat dengan tangan Mega.


"Cukup! Emang apa yang kalian takutin? Aris gak melukai kalian semua. Gak mungkin Aris mengotori tangannya jika tanpa sebab," ujar Jo menengahi masalah ini.

__ADS_1


"Oya Ris. Ngomong-ngomong kamu beneran nebang pohon pisang karena pohonnya udah mau mati? Atau ada alesan yang lain?" tanya Jo memastikan.


"Aku cuma lagi gabut aja. Lagian kalau aku salah, kenapa gak ada yang nasehatin aku?" tanya Aris seperti meminta keadilan untuk dirinya.


"Masalahnya kamu itu bawa celurit Ris. Jangankan mereka, aku aja takut Ris," kata Jo yang sekarang terdengar seperti membela orang rumah.


Aris akui kalau dia bersalah. Tapi apa sedramatis ini dalam menanggapi sikap Aris barusan? Aris hanya sekedar melampiaskan amarahnya. Kalau gak, hal ini gak akan pernah kejadian.


"Udahlah. Mas Aris gak kenapa-kenapa. Semua masalah juga udah selesai. Apalagi yang kalian takutin?" tanya Dinda pada keluarganya.


"Ayah gak masalah pohonnya dihancurin, asal diganti sama Aris. Untuk masalah celurit, bisa gak sih kamu ambil sendiri tanpa minta tolong ibumu?"


Mendengar itu Aris langsung tersenyum. Smirk yang begitu menakutkan untuk Mega dan Bu Lastri.


"Bu, suami Dinda benar-benar gak waras ya?" bisik Mega pada Bu Lastri.


"Iya Yah. Lebih baik Aris ambil sendiri, biar Aris tahu cara menumbangkan pohon sekali tebas itu gimana?" jawab Aris santai.


"Jangan gila deh lu!"


"Din, mbak gak tahu lagi dengan suamimu. Mas Jo, lebih baik kita pulang sekarang!" ajak Nesa yang sepertinya udah gak betah berlama-lama tinggal di rumah Aris.


"Tapi Bun, masalah belum selesai," tolak Jo secara halus.


"Untuk kalian semua! Kalau kalian gak suka sama suami Dinda, kami siap angkat kaki dari rumah ini!" kata Dinda yang membuat Aris menoleh menatapnya. Aris gak menyangka Dinda akan bersikap kayak gini untuknya.


"Bukan maksud ayah gak suka Din. Ayah biasa wae. Tapi siji, kalian belum waktunya tinggal bareng," nasehat pak Bambang sambil mengingatkan Aris dan Dinda.


Siji \= satu


"Ya udah, kalau gitu berikan kesempatan untuk mas Aris. Lagian ini cuma masalah nebang pohon, kenapa kalian seheboh ini?" Dinda mulai tersulut emosi melihat kelakuan Mega, Bu Lastri bahkan mbaknya sendiri.


"Din, kamu itu masih terlalu kecil untuk mikirin ini. Mas Wawan yakin, Aris ini udah main dukun biar kamu perduli padanya. Iya kan?" tuduh Wawan tiba-tiba.


'Ya Allah, cobaan apa lagi ini?' batin Aris kaget dengan tuduhan Wawan. Otak Wawan terlalu dangkal. Aris gak pernah menggunakan cara curang seperti itu. Kalau Dinda bisa cinta secara tulus, kenapa harus main mistis?


Sekarang Dinda yang menatap Aris. 'Benarkah mas Aris main dukun?' batin Dinda yang mulai memikirkan ucapan Wawan tadi.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2