
"Gak bener kata ibu?" Kali ini Dinda yang menimpali. Sepertinya, hari ini riwayat ibu Lastri akan tamat.
Jika semuanya bicara, dan Wawan gak ada di rumah. Siapa yang akan membelanya?
"Yah, selama ini Dinda diam. Dan sekarang Dinda harus bilang ke ayah, kalau apa yang dikatakan sama mas Aris itu semuanya bener," kata Dinda sungguh-sungguh.
Pak Bambang jadi bingung. Haruskah dia percaya terhadap anaknya? Ataukah dia percaya pada istrinya?
"Hiks, tolong percaya sama aku mas," ucap Bu Lastri yang sepertinya tengah mencari perhatian kepada pak Bambang.
"Sejak kapan kamu jadi pembohong kayak gini Dinda? Sebelum menikah dengan mantan narapidana ini, kamu gak pernah sekalipun membantah perkataan orang tua, tapi sekarang? Aris bener-bener mempengaruhimu. Kali ini ayah gak percaya dengan omong kosong yang Aris ucapkan barusan!"
"Ow, jadi ayah gak percaya? Baik kalau gitu Yah, silahkan ayah rawat ibu Lastri sendiri. Dan tehnya? Tehnya biar aku ambil aja, mubazir kalau dibuang," kata Dinda dengan santai.
"Sayang, tehnya biarin buat ibu," kata Aris melarang Dinda.
"Gak apa-apa mas, lagian dia istrinya ayah. Jadi biar diurusin ayah sendiri," kata Dinda sambil menatap pak Bambang sekilas.
Perasaan baru saja Dinda dan Aris merasa bebas, sekarang malah ada masalah baru. Benar-benar membuat Dinda emosi.
"Kita keterlaluan gak sih?" tanya Aris saat mereka sudah berada di dapur.
"Keterlaluan? Gaklah mas. Dinda udah sakit hati banget. Gak nyangka aja gitu, kenapa bisa-bisanya Bu Lastri menebar fitnah kayak gitu. Jelas-jelas aku bilang ke dia, jangan terlalu mikirin mas Wawan. Karena mas Wawan tidur di rumah istrinya. Tapi apa katanya? Dia menyalahkan kita mas. Udah cukup aku diam selama ini, sekarang udah gak lagi. Biarin dia mau bicara apapun ke ayah, aku udah gak peduli," cerita Dinda sambil emosi.
"Udah sayang. Sini sini, jangan marah lagi ya? Mas akan selalu ada di pihakmu. Kamu gak akan sendiri lagi," kata Aris sambil memeluk Dinda.
"Makasih mas."
'Sekarang emang cuma kamu yang bisa ngertiin aku mas. Aku tahu, kamu gak akan pernah tinggalin aku,' lanjut Dinda dalam hatinya.
Sementara itu...
"Dasar anak kurang ajar. Gara-gara Aris dia jadi kayak gitu sama orang tua," ucap pak Bambang kesal.
"Apa yang aku bilang mas. Kalau Aris dibiarin lama-lama di sini, dia makin berulah." Bu Lastri kembali memberikan kompor pada pak Bambang yang mudah terhasut itu. Sikap pak Bambang benar-benar mirip dengan sikap Nesa, yang terlalu percaya dengan omongan orang lain tanpa tahu pembuktiannya.
__ADS_1
"Fiuh. Ayah tadi pulang karena mau ngambil flashdisk. Gak tahunya malah ada hal kayak gini."
"Terus ayah mau balik lagi?" tanya Bu Lastri sedikit takut. Gimana gak takut, kalau dia serumah dengan Aris dan Dinda? Bisa mati dia kalau Dinda ngelabrak Bu Lastri bahas masalah fitnahnya tadi.
"Iya ibuk, ayah ada rapat ini. Kalau gak berangkat lagi, atau gak tahu jabatan ayah akan bagaimana?" ucap pak Bambang yang dengan berat hati harus ninggalin Bu Lastri.
"Ibuk ikut ya?" ijin Bu Lastri penuh memohon.
"Ikut? Gak bisa Bu. Ayah rapat, terus ini udah hampir telat juga. Lagian ibu juga sakit, jadi lebih baik ibu istirahat aja. Nanti ayah telponin Wawan biar pulang. Gimana?" tanya pak Bambang yang sudah gelisah akibat telat berangkat kerja.
"Ya udah deh Yah, gimana lagi." Bu Lastri pasrah. Tapi hatinya benar-benar gak tenang. Kejahatannya mulai terendus akibat Aris dan Dinda yang sudah berani mengadu pada pak Bambang.
"Ya udah, ayah berangkat dulu ya Bu? Nanti kalau udah sampai kantor, ayah bakalan telpon Wawan," ucap pak Bambang sambil berpamitan.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Bu Lastri lesu.
...****************...
Beberapa menit kemudian.
Diam-diam Bu Lastri mengintip dari pintu kamarnya. Gak terlihat sih Dinda dan Aris lagi di mana. Jadi dengan nekatnya, akhirnya Bu Lastri keluar kamar. Hitung-hitung cari makanan buat dia sendiri.
Tak disangkanya, saat Bu Lastri baru jalan menuju ke arah dapur. Aris mengagetkannya.
"Sarapan Bu? Udah belum?" tanya Aris yang membuat jantung Bu Lastri berdebar-debar.
'Ayah gak ada, apa dia masih ingin berbuat jahat pada kami?' tanya Dinda dalam hati.
"Em, ibu mau ambil air anget," suaranya dengan sedikit grogi. Bahkan Bu Lastri takut buat menatap mata mereka.
"Percuma kamu nanya mas. Lagian ibu Lastri gak akan pernah butuh kita," sahut Dinda sambil terus menikmati sarapannya.
Aris mengangguk setuju. Toh benar apa yang dikatakan oleh Dinda. Di mata Bu Lastri, Aris gak akan pernah berguna.
__ADS_1
"Nasinya enak ya mas?" tanya Dinda minta persetujuan.
"Iya sayang, enak banget tahu. Besok kita masak ini lagi ya? Nanti ditambah ayam sama sosis," kata Aris yang membuat perut Bu Lastri makin keroncongan.
'Sial banget sih mereka. Awas aja kalian, sebentar lagi Wawan pulang. Aku akan balas perbuatan kalian yang udah beginiin ibu,' batin Bu Lastri penuh dendam.
"Nasi gorengnya masih Bu. Mau Aris ambilin gak?" tawar Aris saat melihat Bu Lastri yang hendak balik ke kamar.
"Gak usah," jawab Bu Lastri ketus.
"Nanti kalau butuh apa-apa, bilang aja sama kami Bu. Siapa tahu kami bisa menolong," kata Aris lagi.
Bagaimanapun juga, Aris masih peduli padanya. Dia gak dendam. Hanya saja, memberikan pelajaran sekali-kali pada Bu Lastri itu emang gak ada salahnya. Mengingat fitnahnya sampai membuat Dinda sakit hati. Sebelumnya Dinda ini diam dan menyimpan semua perasaannya sendiri. Dan sekarang, bahkan Dinda sudah berani melawan mereka. Berarti itu pertanda, kalau perbuatan Bu Lastri sudah sangat keterlaluan kepada Dinda.
"Mas, kenapa kamu masih baikin ibu Lastri sih?" protes Dinda sambil cemberut.
"Gak apalah Din. Bu Lastri lagi sakit, nanti kalau dia kenapa-kenapa gimana? Ayah yang repot kan? Dan sekarang ayah lagi di kantor, jauh dari rumah. Otomatis kita yang mau gak mau akan tetep bantuin Bu Lastri. Jadi dari pada hal buruk kejadian, lebih baik kita mengalah aja, gak apa-apa kan?" Aris meraih tangan Dinda dan mengelus punggung tangannya.
"Ya udahlah mas. Gimana lagi? Kalau dari awal Dinda tahu sikap ibu Lastri itu macam mana, pasti Dinda udah gak ijinin ayah menikah lagi," celetuk Dinda yang masih kesal dengan Bu Lastri.
"Iya gimana lagi. Itu kayak mas yang ke kamu kan? Nasi udah jadi bubur. Jadi kita gak bisa berbuat apa-apa lagi, selain pasrah."
"Iya udahlah mas. Habisin gih sarapannya," suruh Dinda pada Aris.
"Iya, makasih sayang."
...****************...
Sudah sejam lamanya Bu Lastri menunggu. Tapi tak ada kabar sedikitpun dari pak Bambang maupun Wawan.
Bu Lastri udah gak sabar menahan lapar, apalagi kepalanya begitu pusing. Dia bingung harus gimana lagi pada keadaannya ini. Ingin minta tolong Dinda atau Aris, dia sangat gengsi dan belum minta maaf. Bu Lastri jadi serba salah sendiri.
Sementara di tempat lain. Pak Bambang sudah berada di ruang rapat. Gara-gara dia berangkat terlambat, pak Bambang jadi lupa segalanya. Pak Bambang lupa kalau dia mau menelepon Wawan. Bahkan sampai sekarang, Wawan belum juga ditelepon olehnya.
Lalu bagaimana dengan keadaan Bu Lastri? Gimana kalau semakin parah?
__ADS_1
Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Aris dan Dinda selanjutnya?
Bersambung....