Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Permintaan Dinda


__ADS_3

"Tamatlah riwayat lu, Mega."


Rasanya Mega ingin menjerit saking takutnya.


"Raskha," panggil Nesa yang kini sudah berada di ambang pintu.


'Gimana ini? Ya Allah,' batin Mega yang semakin tertekan oleh keadaan sekitar.


"Em, Nes. Se-be..." Mega sangat sulit untuk berkata. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan.


"Kenapa mbak? Raskha gak pa-pa kan?" tanya Nesa memastikan.


Wawan segera mendekat sambil tersenyum. Senyuman Wawan justru terasa mematikan bagi Mega.


Ya begitulah kalau pernikahan tanpa dilandasi rasa tulus. Isinya cuma seperti tinggal bersama musuh. Tak ada perlindungan yang didapatkan oleh Mega. Yang ada hanya penindasan, pikir Mega yang kini sudah pasrah dengan keadaannya.


"Ini Nes..."


Suara terpotong dari Wawan seperti tengah menyudutkannya. Mega gak bisa seperti ini. Dia harus bertindak.


"Si Raskha nyari kamu. Dia gak bisa tidur," potong Mega pada akhirnya.


Si Wawan langsung mengarahkan Raskha ke gendongan Nesa.


"Iya, dia gak apa-apa kok Nes. Cuma rewel nyariin kamu kayaknya," ucap Wawan yang pada akhirnya membela Mega. Gimana lagi, Mega sudah membalikkan keadaannya. Gak mungkin Wawan mengelak, sementara Raskha gak kenapa-kenapa.


"Cuma itu aja?" tanya Nesa lagi.


"I-iya, gak ada yang lain kok," jawab Mega sedikit terbata-bata.


"Ow, makasih ya mbak, mas. Raskha ini emang gampang rewel kalau sama orang baru," balas Nesa yang membuat Mega terasa lega.


'Untunglah Nesa percaya. Kalau gak, mati riwayatku. Mau ditaruh di mana mukaku kalau Jo sampai tahu kalau aku ini lalai ngejaga anaknya. Pasti dia bakalan ngira, aku ini perempuan yang gak becus ngerawat anak. Huft,' batin Mega yang hampir mati berdiri gara-gara tingkah Wawan yang memanas-manasi keadaan.


...****************...


"Jadi kami sudah boleh pulang ya dok?" tanya Aris berbinar.


"Iya pak, setelah pak Aris melunasi biaya persalinannya. Bu Dinda dan bayi boleh dibawa pulang," sahut Bu perawat menjelaskan.


"Terimakasih Bu."

__ADS_1


Dengan tak sabaran Aris segera berlari ke loket pembayaran. Tapi kalau mereka pulang sekarang, itu tandanya Aris gak akan bisa berduaan lagi dengan Dinda. Mendadak pikiran Aris jadi sedih, padahal tadinya dia seneng Dinda bisa pulang. Tapi kalau soal kebahagiaannya, rasanya akan beda. Memang lebih bebas saat tinggal di rumah sendiri dari pada ikut mertua.


'Sabar Ris, setelah Dinda selesai nifas. Kamu akan menikahinya lagi dan membawa dia pulang ke rumah,' batin Aris yang berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Setelah pembayaran lunas. Aris segera menelpon Jo untuk menjemput mereka.


"Kamu bisa jalan kan sayang??" tanya Aris ke Dinda. Sehabis Dinda mandi tadi, jalannya kan agak gimana gitu. Jadi Aris kayak gak tega ngelihatnya.


Dinda meringis. "Ya seperti yang mas Aris lihat," jawab Dinda santai. Mau bilang gak bisa, nyatanya Dinda masih bisa berjalan. Meskipun belum normal, karena semuanya butuh proses.


"Ya udah, dedek biar mas aja yang gendong. Soal pakaian yang kotor atau barang-barang yang lain, bisa mas ambil nanti. Yuk, kita ke depan sekarang. Mas Jo udah dalam perjalanan," ujar Aris sambil membonceng tangan Dinda. Sementara tangan kirinya buat menggendong si kecil.


"Mas," cegah Dinda tiba-tiba.


"Iya, kenapa sayang?" tanya Aris penasaran.


"Boleh gak, aku minta satu permintaan sama mas."


"Apa itu?" tanya Aris lagi.


"Tapi mas harus janji buat menepatinya," kata Dinda setengah mendesak.


"Gak boleh sembarangan berjanji Dinda. Takut kalau mas gak bisa menepatinya. Karena kamu tahu sendiri kan, kalau janji itu adalah hutang. Jadi lebih baik kamu ngomong langsung, kalau mas mampu... mas akan berusaha menepatinya."


"Din, bilang aja kamu mau apa?" tanya Aris lagi.


"Dinda pengen tinggal bareng sama ibunya mas Aris," terang Dinda dengan jujur. Entah kenapa, rasanya Dinda ingin tinggal di rumah orang tuanya Aris ketimbang dengan ayahnya.


"Ibuk? Jadi ini permintaan Dinda?" tanya Aris dengan wajah yang pucat. Aris pasti akan mengusahakan permintaan ini tersampaikan, hanya saja semua itu butuh waktu yang cukup lama. Mencari? Ya, lagi-lagi Aris harus mencari keberadaan mereka.


Ditanya seperti itu, Dinda langsung mengangguk.


"Kenapa kita gak tinggal di rumah yang di perumahan aja?" tanya Aris setengah bernegosiasi. Dia sudah punya rumah sendiri kan? Kenapa harus repot menumpang? Kalau soal kenyamanan, Aris pastikan Dinda akan nyaman di manapun dia tinggal asal bersama Aris. Tapi masalahnya, Aris tak bisa mengabulkan permintaan Dinda itu dengan cepat.


"Gak mas. Tempat itu mengingatkan tentang tragedi itu," jawab Dinda sambil menitikkan air matanya.


"Assalamualaikum."


Di saat mereka berdua sedang serius, Jo malah sudah sampai duluan.


"Wa'alaikumussalam. Eh Jo, udah sampai aja," tanya Aris yang masih menggendong bayinya.

__ADS_1


Jo kaget melihat keadaan Dinda yang terlihat tengah menangis. Ingin bertanya, tapi dia sudah gak ada hak. Dinda sudah ada suaminya. Kecuali kalau Dinda yang cerita lebih dulu kepadanya, pasti Jo akan bersedia mendengarkannya.


"Iya Ris. By the way, aku bantuin bawa tas bajunya aja ya?" tanya Jo sambil melihat tas yang sudah siap dibawa.


"Emang gak ngerepotin Jo?" Aris balik bertanya. Dia merasa gak enak sama Jo. Mengingat dosanya yang pernah menuduh papanya Jo, bahkan pernah merusak rumah tangga Jo juga saat itu. Jadi pas Jo berbuat baik padanya, Aris merasa tak pantas mendapatkan semua itu.


"Enggak Ris, santai aja. Ya udah yuk, semua orang rumah udah gak sabar nunggu kalian pulang," terang Jo yang membuat Dinda tersenyum sumir. Soalnya Dinda takut, kalau di belakangnya Bu Lastri dan Mega bakalan ngegosip lagi. Dan semua itu akan menyakiti hati Dinda setiap harinya.


"Ayo Din!" ajak Jo yang merasa aneh dengan sikap Dinda. Karena bagaimanapun juga, Jo memang sangat peka dan perhatian pada Dinda. Jadi Dinda tak heran kalau Jo curiga dengan gerak-geriknya saat ini.


"Gak mas. Ya udah yuk!" jawab Dinda yang pura-pura semangat.


Jo berjalan lebih dulu, disusul dengan Aris dan Dinda yang berjalan di belakangnya.


"Soal tadi, kita bahas di rumah ya? Dan mas mohon, jangan terlalu dipikirin. Nanti kita ambil jalan terbaiknya gimana," ucap Aris mencoba menenangkan Dinda. Soalnya pas Aris ingin menjawab, keburu Jo datang duluan. Jadi semua perdebatan mereka berdua berakhir cancel. Tertunda.


Dinda cuma mengangguk saja. Lagian yang ia rasakan bukan cuma masalah pindah rumah. Sakit di pembuangan airnya lebih mengalihkan semua perasaan yang ia rasakan.


Sesampainya di mobil. Aris berniat untuk menggendong Dinda. Jadi kali ini Aris akan minta tolong ke Jo, biar menggantikan dia menggendong anaknya dulu.


"Jo, tolong gendongin bayiku ya?" pinta Aris dan Jo segera mengulurkan tangannya.


"Iya sini Ris. Oya Dinda, kamu bisa masuk sendiri gak?" tanya Jo yang melihat Dinda kesulitan untuk masuk.


"Sini biar ku bantu," kata Aris yang langsung membopong tubuh Dinda.


"Eh!" Refleks Dinda kaget dengan sikap perhatian Aris kepadanya.


Padahal ini cuma masuk ke dalam mobil, tapi pake acara di gendong segala oleh Aris.


Jedag jedug


Tak tahu kenapa, jantung Dinda bagai di pompa tanpa batas saat melihat wajah Aris dari samping. Rasanya Dinda bahagia dan ingin mengatakan kalau dia suka dengan perlakuan Aris kepadanya.


"Uhuk!" Interupsi Jo pada kedua insan yang tengah di mabuk cinta.


"Wkwkwk, maaf Jo," kata Aris cengengesan.


"Sini ikut ayah nak!" Aris segera mengambil alih anaknya dari tangan Jo.


"Awas Ris! Harus hati-hati loh!" Jo mengingatkan itu pada Aris sebelum dia masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Aman, wahahaha."


Bersambung...


__ADS_2