
"Gak Yah. Pernikahan ini gak akan pernah aku batalkan," jawab Aris setengah pucat pasi.
"Kenapa? Sebelum semua terlanjurkan? Mumpung masih awalkan? Lagian ini cuma nikah siri. Kamu tinggal bilang cerai, semua selesai. Bubar," kata pak Bambang begitu enteng.
Dinda hanya menangis saja. Tak ada niatan membantu Ariskah?
"Semua ini salah paham Din. Aku... aku gak pernah main serong. Sekali menikah, ya tetap kamu istriku."
"Din... tolong dengerin aku. Aku tadi udah chat kamu. Kalau aku bakalan pulang terlambat. Atau kalau gak percaya, ayah bisa tanyakan langsung sama staff yang lain. Atau gak, ayah bisa lihat CCTV di perusahaan Aris. Sumpah demi apapun, aku lagi lembur. Gak ngelayap," jelas Aris yang hampir kehilangan kendali.
Hampir saja dia berteriak tadi. Tapi semuanya ia urungkan. Kalau bisa dibicarakan baik-baik, kenap tidak?
Dinda langsung mengambil ponselnya yang entah diletakkan di mana. Setelah ketemu, Dinda langsung membuka aplikasi WhatsApp. Ternyata ada 9 chat dari Aris.
Pertama chat Aris yang nanyain Dinda lagi apa? Siangnya nanyain udah makan belum? Dan di chat bawah, memang ada chat Aris yang ijin pulang terlambat karena kerjaan numpuk. Dan yang terakhir Aris nawarin Dinda mau camilan apa?
Ah, apakah Dinda salah menuduh? Faktanya Aris tidak main serong. Apakah kesetiaan Aris benar-benar bisa diuji? Pikiran Dinda mulai kalut.
Sementara pak Bambang, dia penasaran dan minta penjelasan ke Dinda. "Gimana Din? Apa benar dia ijin ke kamu?" tanya pak Bambang dan dijawab anggukan sama Dinda.
"Terus gimana? Kamu percaya sama dia apa gak?" tanya pak Bambang lagi. Sebenarnya dia agak sedikit malu kalau kenyataannya Aris tidak bersalah.
"Maaf Yah, udah buat Ayah marah-marah kayak tadi. Dinda tadi cuma emosi sesaat. Mungkin bawaan kehamilan Dinda," ucap Dinda kemudian.
"Astaghfirullah. Ya udah kalau gitu. Kalau ada apa-apa, langsung panggil ayah," ucap pak Bambang tanpa minta maaf sama Aris.
"Oya, kalau bisa hal ini jangan sampai kejadian lagi. Aku nerima kamu karena anakku, kalau anakku kenapa-kenapa. Kamu tahu akibatnya kan?" Mendadak pak Bambang yang humoris itu berubah bak singa yang kelaparan.
"Iya Yah. Maaf udah bikin istirahat ayah keganggu," ucap Aris penuh memohon.
"Ya udah, ayah balik ke kamar. Maafin ayah," ucap pak Bambang sambil menepuk pundak Aris.
__ADS_1
Ada rongga kelegaan di hati Aris. Setidaknya pak Bambang sudah memaafkannya.
"Maaf ya, udah bikin kamu curiga," ucap Aris setelah dia masuk kamar dan menutup pintu kamar mereka.
Padahal yang nuduh Dinda, tapi yang minta maaf justru Aris. Tapi namanya juga perempuan... Sesalah apapun dia, pasti gengsi buat minta maaf duluan. Seperti Dinda sekarang, dia malah membelakangi posisi Aris. Sebenarnya dia merasa bersalah, tapi mau minta maaf rasanya begitu berat.
"Oya, aku tadi beliin kamu ini (sambil nunjukin kantong plastik yang berlogo warna merah). Biasanya kan tengah malem kamu gak bisa bobo, jadi aku beliin cemilan buat nemenin kamu pas malem," ujar Aris lagi. Rasa lelahnya sampai dia abaikan demi membujuk Dinda.
Karena Dinda tak kunjung menerima pemberiannya. Aris berinisiatif meletakkannya di kasur. Berikut juga dengan tas kerjanya. Dia lelah, pengen mandi biar balik segar.
"Mas," panggil Dinda tiba-tiba sambil membalikkan badannya.
"Iya, dalem sayang," jawab Aris dengan lembut. Sedikitpun dia tak ada rasa untuk memarahi Dinda.
"Maafin aku ya, udah nuduh kamu yang enggak-enggak," ucap Dinda pada akhirnya. Dia merasa terlalu berlebihan dalam menilai Aris. Meskipun Aris dulunya jahat, tapi makin ke sini yang Dinda lihat Aris orangnya sangat sabar dan perhatian pada Dinda. Harusnya Dinda senang diperlakukan seperti ini oleh Aris. Sebab sewaktu sama Briyan, dia bagai istri yang tak pernah dihargai. Bahkan diselingkuhi tepat di depan matanya.
"Gak apa-apa kok. Mungkin ini bawaan dari kehamilanmu," jawab Aris lagi.
"Biar aku aja Mas," ucap Dinda yang membuat jantung Aris berdegup kencang. Ucapan Dinda bak lampu disco yang membuat si pendengar ingin berjoget.
Baru kali ini mereka sedekat ini. Benarkan? Kalau mereka dibiarkan berduaan seperti ini, yang ada malah nafsunya Aris yang tak bisa tertolong.
Keduanya saling diam. Hanya tangan Dinda yang bergerak mencoba melepaskan dasi Aris. Tiba-tiba keduanya tak sengaja menangkap bunyi desah manja dari kamar sebelah. Wawankah? 'Kurang ajar banget si Wawan. Pasti dia sengaja mamerin itu ke aku. Hah, padahal aku gak boleh begituan sama Dinda,' geram Aris yang tanpa sadar si Joni sudah mengeras di dalam sana.
Sementara Dinda, dia hanya tersipu malu. Sungguh, Dinda pun juga ingin disentuh Aris. Tapi mereka benar-benar tidak boleh melakukan itu. Hingga pada akhirnya Aris mengerti apa yang Dinda inginkan.
Setelah dasi itu terlepas, Aris langsung membubuhkan kecupan-kecupan di bibir Dinda. Padahal habis berantem, tapi dilakukan sedemikian rupa oleh Aris, Dinda justru pasrah. Tak ada penolakan sedikitpun darinya.
Aris dan Dinda hanyut dalam permainan mereka. Apalagi di kamar sebelah, terdengar Mega terus merintih seperti menikmati permainan yang Wawan kendalikan. Jadi kedua insan ini juga ingin merasakannya.
Saat bibir Aris mengecup buah yang begitu ranum. Tiba-tiba ketukan pintu mengakhiri segalanya. Aris tersadar, dia telah melakukan hal yang berlebihan tadi ke Dinda.
__ADS_1
"Are you okay?" tanya Aris memastikan kalau Dinda baik-baik saja.
Dinda hanya mengangguk. 'Sebenarnya aku ingin lebih Mas,' batinnya yang sudah tidak tahan.
"Ibu manggil kita. Kamu temuin dulu ya. Aku mau pergi mandi," jawab Aris setelah dia melihat Dinda selesai merapikan bajunya yang sempat dibuka olehnya tadi.
'Ah Dinda. Ingin rasanya aku melahapmu malam ini. Tahan dulu ya Joni, nanti setelah ada pernikahan lagi, baru kamu boleh merasakannya lagi,' batin Aris mencoba merileksasikan dirinya. Dia segera mengambil baju dan masuk ke kamar mandi.
"Kenapa Bu?" tanya Dinda heran.
"Enggak, di mana Aris?" tanya Bu Lastri sambil menengok ke dalam kamar Dinda. Sepertinya Bu Lastri sama keponya dengan Wawan. Atau jangan-jangan Bu Lastri mengira kalau bunyi uh ah tadi dari kamarnya. Padahal jelas-jelas dari kamar anak kesayangannya. Kenapa harus kamar Dinda? Pikir Dinda aneh.
"Mas Aris lagi mandi Bu," jawab Dinda. Dan Bu Lastri manggut-manggut.
"Habis itu kalian makan ya. Ibu dan ayah mau makan duluan," ucap Bu Lastri yang terlihat kecewa.
Kemudian Dinda mencoba mendekatkan telinganya ke tembok kamar Wawan. Tak ada suara uh ah lagi. Tapi malah suara tangisan dari Mega yang seperti sedang menyalahkan Wawan.
Kenapa?
Mendadak Dinda kepo. Kalau udah sah, apalagi hubungan Wawan dan Mega tidak terhalang apa-apa. Harusnya setelah enak-enak mereka happy. Tapi kenapa Mega malah menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sayang, lagi ngapain? Nguping ya?" tuduh Aris setengah bercanda.
"Dikit aja, lagian aku gak denger apa-apa," jawab Dinda yang kini berjalan mendekat ke arah Aris.
"Mungkin udahan," jawab Aris dan Dinda pun tertawa.
Kasihan sekali pasangan yang satu ini. Hanya pengen tapi belum bisa melakukannya. So sad.
Bersambung...
__ADS_1