Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mantan Napi


__ADS_3

Di tempat makan.


"Yah, Dinda kenapa tuh?" tanya Wawan setengah kepo saat mendengar teriakan Dinda.


Padahal yang lain fokus pada makanan mereka masing-masing, berbeda dengan Wawan yang sibuk ngurusin Dinda. Padahal tadi dia baru membujuk Mega. Sontak Mega langsung menatap Wawan penuh tanda tanya.


"Dinda? Ayah gak denger apa-apa tuh!" jawab pak Bambang santai.


"Iya, emang kenapa mas?" sahut Nesa kepo.


"Iya, kenapa mas?" Kali ini Mega menimpali.


Wawan hanya nenggedikkan bahunya, tanda tak tahu juga.


"Tapi aku mau lihat bentar," kata Wawan sambil meninggalkan meja makan.


Sepergian Wawan, kini Mega menatap Jo. Jo, dia orang yang membuatnya jatuh cinta dan membuatnya terperangkap dalam hubungan yang bermasalah dengan Wawan.


Nesa tersadar dengan sikap Mega. Nesa mengikuti pandangan Mega yang ternyata menatap suaminya. Tentu Nesa gak terima.


"Mbak Mega, ngapain lihatin suamiku kayak gitu?" tuduh Nesa tanpa berpikir panjang. Toh begitu faktanya, Nesa gak mau nutup-nutupin atau pake acara bohong segala. Ingatkan tentang Nesa, kalau Nesa punya mulut pedas yang suka ceplas-ceplos.


Sontak Mega merasa sesak nafas. Malu, itulah keadaan Mega sekarang.


'Sialan si Nesa. Ternyata mulutnya sangat tajam, setajam bambu runcing,' batin Mega megap-megap kayak kehabisan oksigen. Nesa benar-benar membuatnya malu hari ini.


"Eng-enggak. Mana ada mbak lihatin suamimu kayak gitu," elak Mega gak terima.


Jo jadi merasa tak nyaman. 'Kenapa mbak Mega lihatin aku ya? Ini gak boleh terjadi, yang ada semuanya akan salah paham. Lebih baik aku makan di ruang tengah bareng Raskha,' batin Jo yang ingin menjaga perasaan istrinya.


"Bunda, ayah sama Raskha mau makan di ruang tengah ya?" pamit Jo setengah berbisik. Takut kalau pak Bambang dan Bu Lastri dengar.


Sementara Bu Lastri, dia jadi menatap Mega dengan curiga. Bu Lastri takut kalau Mega berpaling dari Wawan. Memang Bu Lastri akui, Jo lebih tampan dari Wawan. Tapi meskipun begitu, Mega harusnya menjaga perasaan suaminya.


Sementara itu, Wawan mendekat ke kamar Dinda dan mencoba mendengarkan perbincangan keduanya.

__ADS_1


"Tenangin dirimu dulu Mas. Lagian aku masih di sini. Aku gak akan kemana-mana. Aku gak akan tinggalin kamu Mas."


Terdengar suara Dinda yang sepertinya tengah menenangkan Aris. Kenyataannya memang seperti itu, karena sekarang ini, Dinda tengah mengelus pundak Aris yang masih setia memeluknya. Aris butuh sandaran, begitu juga Dinda. Tapi saat ini Dinda yang menyalakan api masalah, jadi Dinda juga yang harus memadamkannya.


"Dengerin aku mas. Mas Aris harus bangkit. Maafin aku yang udah nanya kayak tadi. Harusnya aku emang gak perlu kayak tadi. Maafin aku mas," ucap Dinda sambil melepaskan pelukannya.


Aris menatap Dinda dengan sungguh-sungguh. Aris gak pernah menyalahkan Dinda. Hanya saja Aris merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.


"Kamu gak perlu minta maaf Din, karena kamu gak ada salah apapun. Soal pertanyaanmu, mas mengaku kalau mas emang mantan narapidana."


Di luar sana, Wawan syok berat akan status Aris sekarang. 'Ternyata dia penjahat. Mantan napi. Gila, Aris ternyata seorang penjahat,' batin Wawan yang masih tak percaya.


"Mas Wawan, ngapain mas?" Pertanyaan Jo membuat Wawan jadi kikuk. Wawan seperti tertangkap basah akibat menguping urusan keluarga Dinda.


"Ah eng itu anu... tadi habis dari kamar mau balik ke meja makan," dusta Wawan sambil ngacir ke meja makan.


"Aneh," gumam Jo sambil menatap punggung Wawan, kemudian menatap pintu kamar Dinda.


Kembali ke Dinda dan Aris.


Mendengar pernyataan dari Aris. Dinda sempat terkejut juga. Tapi orang seperti Aris pasti bisa berubah. Dinda gak akan mengucilkan suaminya hanya gara-gara pernah masuk bui.


Aris memang tenang. Tapi dia butuh pelampiasan atas amarahnya sekarang. Bisa-bisa dia kalap dan membunuh 2 orang wanita itu.


"Aku percaya sama kamu Din. Makasih ya udah mau menerima keburukan mas dan semua perilaku jahat mas!" kata Aris lagi.


"Sama-sama Mas. Ya udah, sekarang mas Aris makan gih. Dari pulang dari rumah sakit, mas belum makan lho?" ucap Dinda begitu perhatian.


Dinda sendiri bingung dengan sikap Aris. Tapi dia sedikit lega, akhirnya Aris paham dan mengerti. Maksudnya Aris gak seheboh Nesa yang akan melabrak orang itu secara langsung. Hanya saja, amarah Aris terlihat begitu tertutup oleh Dinda. Mungkin Aris begitu, takut kalau Dinda benci kepadanya. Sungguh sebenarnya Dinda tak seperti itu. Memang Dinda sempat benci, itu semua juga karena Aris yang membuat dia benci. Sekarang? Mereka sudah menjadi suami istri. Dan Dinda gak ingin menjanda untuk kedua kalinya. Sebab Arislah orang yang selalu mengerti dirinya. Perhatiannya meskipun Dinda gak pernah membalas, kasih sayangnya, cintanya bahkan semua itu Dinda dapatkan dari Aris.


"Ya udah, Dinda suapin ya?" tawar Dinda sambil mengambil piring yang satunya.


"Gak usah sayang. Kamu istirahat dulu. Kamu pasti ngantuk dan capek kan?" kata Aris yang sudah kembali seperti semula.


Melihat itu Dinda jadi merasa beruntung telah dicintai oleh Aris. Berbeda dengan pernikahan yang dulu, meskipun saling cinta, nyatanya cinta itu hanya tumbuh pada diri Dinda. Karena hanya Dinda yang lebih mendominasi ketimbang Briyan yang hanya pasif dan justru menyakitinya.

__ADS_1


"Tapi mas, sebelum aku tidur. Mas harus janji, mas gak akan marah sama mereka kalau aku udah cerita kayak gitu sama mas. Aku takut, kalau aku di cap tukang adu domba," pinta Dinda memohon pada Aris.


Aris tersenyum lebar. "Iya sayang. Percaya sama mas. Asal kamu mau terbuka apapun tentang perasaanmu, semuanya akan aman di tangan mas," kata Aris sambil mengusap rambut Dinda dengan sayang.


Dinda percaya sama Aris. Lalu dia mencoba untuk memejamkan matanya. Tak berapa lama kemudian, mata itu sudah terpejam rapat. Bunyi dengkuran menandakan kalau Dinda sudah berada di alam mimpi.


Setelah selesai makan. Aris segera pergi ke dapur. Tak disangka, ternyata Aris malah melihat wajah 2 orang yang membuat Dinda sedih beberapa hari ini.


'Kurang ajar mereka. Awas aja, aku akan membunuh kalian!' batin Aris penuh dendam.


"Sini nak Aris. Biar ibu cuci piringnya," kata Bu Lastri sambil meraih 2 piring itu dari tangan Aris.


"Ada pisau gak Bu? Atau celurit?" tanya Aris tiba-tiba membuat Bu Lastri dan Mega menelan ludahnya kepayahan.


"Ada, tapi untuk apa?" tanya Bu Lastri gugup.


"Boleh minta tolong ambilkan!" pinta Aris tanpa menjawab pertanyaan Bu Lastri yang dirasa sangat tidak penting.


Agak ragu. Akhirnya Bu Lastri mengambilkan pisau. Tapi rupanya Aris kurang puas. Pisau itu terlihat sangat kecil. Pasti sangat sulit dipakai menusuk.


"Kalau celurit?"


Suara Aris yang menanyakan celurit malah membuat jantung Bu Lastri berdebar-debar. Apalagi Bu Lastri melihat betapa tajamnya celurit yang dipunya oleh pak Bambang. Sekali tusukan, pasti orang itu akan mati seketika.


"Emang buat apa?" tanya Bu Lastri ketakutan. Bahkan Mega juga sangat syok akan sikap yang begitu menyeramkan dari Aris.


'Sebenarnya dia cari celurit buat apa?' batin Mega ketar-ketir.


"Udah jangan banyak tanya. Aku minta tolong ambilkan!" kata Aris lagi yang mau tidak mau, Bu Lastri pun mengambilkannya untuk Aris.


...****************...


JLEB!!!


"DASAR SIALAN! KALIAN UDAH NYAKITIN PERASAAN ISTRIKU!" teriak Aris sambil berkali-kali menusukkan celuritnya tanpa ampun.

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2