Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Usaha yang Tak Sia-Sia


__ADS_3

Aris mendesah lelah. Diusapkan tangannya ke wajah dengan kasar. Pandangan itu kembali normal seperti biasanya. Saat ia hendak menutup tirai jendela hotel. Matanya menangkap sesosok perempuan yang ia cari selama ini.


Mungkinkah itu Dinda?


"Dinda," panggilnya lirih.


Ya, Aris tak salah lagi. Perempuan hamil itu adalah Dinda. Perempuan yang ia cari selama ini. Segera Aris berlari. Menuruni anakan tangga. Sebab dia harus cepat. Kalau menunggu lift pasti lama. Aris harus cepat, biar dia tidak ketinggalan jejak Dinda.


Saking kencangnya berlari, hampir saja Aris terjungkal gara-gara menabrak pintu kaca. Untung dia masih aman semua. Jadi dia kembali berlari menuju di mana Dinda pergi tadi.


Fiuh. Ia bernafas lega. Akhirnya Dinda masih stay di tempat penjual es degan. Mungkin antri, makanya Dinda belum balik.


"Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah mendengar doa hamba." Aris mengatur nafasnya.


"Dinda, aku datang!" gumamnya senang. Lalu dia berjalan, menyusul ke tempat Dinda.


Aris rela menyerobot antrian orang demi bisa berdekatan dengan Dinda. Dan dia pun berhasil. Kini Aris sudah berdiri di samping Dinda.


'Kamu cantik banget sih Din. Bikin aku kangen terus sama kamu. Kenapa kamu tega banget sih sama aku? Padahal aku gak bisa berjauhan sama kamu,' batin Aris mengomel-ngomel sendiri.


Padahal yang sebenarnya, Aris sangat bahagia. Akhirnya usahanya tak sia-sia.


"I miss you," ucap Aris sambil menggenggam jemari Dinda dengan erat.


"Eh!" pekik Dinda saking terkejutnya. Hampir saja Dinda membogem orang yang dengan seenaknya menggenggam tangannya.


Tapi... wajah itu memucat seketika saat tahu siapa orangnya.


'Aris?'


Dinda menelan ludahnya kepayahan. Apa yang harus ia lakukan? Benarkah dia akan menikah dengan Aris? Tidak! Dinda belum siap.


'Ya Allah, kenapa dia di sini? Benarkah dia jodohku?' batin Dinda tak yakin.


"Hai Dinda," sapa Aris lagi. Dia menyunggingkan senyuman termanisnya.


Apa-apaan si Aris? Kenapa dia pamer senyuman ke arah Dinda? Dinda jadi meleleh bagai ice cream yang sedang dijemur sekarang? Cair seketika.


'Sial, kenapa dia memporak-porandakan hatiku?' batin Dinda. Dia mulai kacau dan gelisah dengan kedatangan Aris yang tiba-tiba. Karena Dinda fikir, Aris sudah balik ke rumahnya. Tapi ternyata, dia masih di sini. Dan sekarang berdiri di sampingnya dengan menggenggam erat jemari tangannya. Mau tak mau, akhirnya Dinda balas tersenyum. Ini tempat umum, gak baik dia berteriak. Nanti yang ada Aris bakalan digebukin orang.

__ADS_1


"Apa kabar?" tanya Aris lagi. Sungguh jantungnya berdebar. Gugup bukan main.


Huh! 5 hari. Tepat selama 5 hari Aris mencari Dinda. Dia rela merogoh kocek demi ini. Bukan masalah Aris pelit. Dia guru matematika kan? Jadi dia sangat pandai penjabaran. Tidak termasuk pelit di dalamnya. Hanya saja, dia bukan golongan orang kaya. Mungkin bisa dikatakan ini adalah perjuangannya dan untuk menebus kesalahannya di masa lalu.


Ditanya kabar, Dinda bingung mau menjawab apa. Jujur dia bahagia Aris datang. Tapi di sisi lain, kebenciannya belum hilang.


"Wah, suaminya ya dik?" Si penjual es degan mengajak Dinda mengobrol.


"Iya Pak," jawab Aris sambil menerima orderan Dinda. Karena tadi Dinda beli 1, sekarang orderannya jadi 2.


"Serasi, semoga langgeng!" kata si bapak penjual.


"Aamiin," jawab Aris dengan lantang. Dinda hanya tersenyum hambar. Masih syok dengan kemunculan Aris yang tiba-tiba.


Sepertinya Dinda salah. Kenapa dia nekat beli es degan di sini? Sebenarnya ini salah apa takdir?


"Din, main ke tempat menginapku yuk?" ajak Aris kemudian.


"Enggak!" balas Dinda.


"Kenapa? Nanti aku anterin kamu kok," bujuk Aris.


"Mau ya Din. Aku pengen ngobrol-ngobrol sama kamu," rayu Aris lagi.


"Aku janji Din. Aku gak akan sentuh kamu," kata Aris sungguh-sungguh.


"Mau kan? Sambil minum es degan bareng-bareng." Aris benar-benar gak menyerah.


Melihat Aris yang memohon kepadanya, akhirnya Dinda mengangguk setuju.


'Yes!' batin Aris kesenangan.


Aris segera membawa Dinda ke kamar hotelnya. Mungkin dewi fortuna saat ini berpihak pada Aris. Sebab, si Dinda tak menolak. Malah ada semburat kemerahan di pipinya. Mungkinkah Dinda gugup?


Dinda memang gugup. Tapi semburat merah itu hanya rasa malu.


Layaknya pengantin baru, Aris terus menggenggam jemari Dinda dari warung es degan tadi sampai kini di dalam hotel. Dinda yang merasa malu dan risih, lantas mengakhiri penyatuan jemarinya dari Aris.


"Eh maaf," kata Aris tak enak hati.

__ADS_1


Aris sangat memakluminya. Dijauhkan tangannya dan menyuruh Dinda duduk di ranjang.


"Duduk Din. Kamu pasti capek kan?"


Dinda hanya mengamati kamar hotel yang ditempati oleh Aris. Lalu dia duduk di tepi ranjang. Rasa trauma itu masih ada. Dinda sebenarnya takut. Tapi dia meyakinkan dirinya, kalau ucapan Aris bisa dipegang.


Aris mengambil sebuah gelas plastik dan sendok yang sempat ia beli beberapa hari lalu. Dituangkan es degan itu di gelas. Karena hanya ada 1 gelas, jadi Aris mengalah saja. Dia lebih memilih minum menggunakan sedotan.


"Diminum Dinda," suruhnya pada Dinda setelah Dinda menerima segelas es degan tadi.


Dinda hanya menipiskan bibirnya. Gugup. Jantungnya berdegup kencang. Antara takut dan senang. Campur aduk, sulit diungkapkan.


Dia tak biasa seperti ini. Apa mungkin karena Dinda sudah membuka hati untuk Aris? Benarkah seperti itu?


Mata itu tiada hentinya menatap iris coklat tua, khas sekali mata orang indo sebagian umumnya. Tapi bagi Aris, mata Dinda yang sayu lebih menggoda dibandingkan dengan mata Nesa, cinta pertamanya dulu yang tak lain dan tak bukan adalah Nesa. Tapi Aris tak berjodoh dengan Nesa. Bolehkah sekarang Aris minta dijodohkan saja dengan Dinda?


Diperhatikan begitu insten oleh Aris, membuat Dinda jadi malu. Dia meminum es degannya sambil malu-malu kucing. Dan tanpa mereka sadari, es degan mereka sudah habis. Namun tak ada seorangpun yang mau berucap.


Kini keduanya duduk diam. Aris mengambil gelas kosong dari tangan Dinda dan meletakkannya di sebuah meja. Aris kembali duduk. Namun keadaannya jadi canggung.


Kalau sudah begini, apa yang akan mereka lakukan? Dua orang yang bukan muhrim. Tentu saja, orang ke tiganya adalah setan. Bisikan dan godaan setan lebih kuat dari pada hati nurani manusia.


Hingga Aris-lah yang terhasut lebih dulu. Aris begitu tergoda akan bibir tipis nan penuh milik Dinda. Sudah lama ia menginginkannya. Merindukan bibir tipis nan kenyal milik Dinda.


Tangan kasarnya terulur untuk membelai bibir Dinda. Dinda hanya diam. Entah kenapa, mungkin dia juga terkena hasutan setan. Sehingga dia tak berkutik sama sekali dengan apa yang Aris lakukan padanya.


Tak perlu waktu lama lagi, mereka berdua pun berciuman. Melampiaskan kerinduan dan hasrat yang sudah lama terpendam. Aris menikmati momen ini. Sampai-sampai dia memejamkan matanya.


"Kamu mau apa?" tanya Dinda yang menyadarkan lamunan Aris. Dinda sempat terkejut dengan uluran tangan Aris yang ingin menyentuh bibirnya. Jadi sebelum itu terjadi, Dinda akan mencegahnya.


"Hah, heh!" Aris gugup bukan main. Dia tarik kembali tangannya yang sempat maju ke depan tadi.


'Aris, kamu bayangin apa tadi? Bikin malu aja. Huft, bodoh banget sih aku,' gerutu Aris dalam hati.


"Ah itu..." Aris bingung mau jawab apa.


"Kayaknya aku mau balik deh. Udah mau maghrib," ujar Dinda kemudian. Dia merasa kurang nyaman berada di sini.


"Nunggu maghrib sekalian aja Din. Aku dengar, cewek hamil gak boleh berada di luar kalau lagi waktu senja sampai maghrib," kata Aris memberitahu.

__ADS_1


Dinda terdiam. Bisakah dia tinggal selama itu bareng Aris? Mana berduaan lagi.


Bersambung...


__ADS_2