Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Kumpul Keluarga


__ADS_3

***


Sesampainya di kediaman keluarga pak Bambang. Dinda dengan pelan turun dari jok sepeda motor Aris. Kemudian disusul oleh Aris sambil menenteng banyak makanan dan juga baju mereka. Sebab Aris paham, kalau mereka semua belum sempat makan.


"Hati-hati Dinda sayang," kata Aris mengingatkan Dinda. Soalnya Dinda berjalan seperti tak sabaran.


"Ya Allah kalian ini! Ayah hampir satu jam nunggu kalian, kenapa baru nongol!" celetuk pak Bambang dengan sedikit kesal. Padahal beliau mau bahas pernikahan mereka. Tapi mereka berdua, si Aris sama Dinda malah gak nongol-nongol.


"Maaf Yah, kami beli makan dulu," sahut Aris.


"Makan? Kebetulan ayah belum makan dari tadi," jawab pak Bambang senang.


"Ini Yah, Aris belikan buat semuanya," jawab Aris antusias. Dia langsung meletakkan bingkisan itu di meja.


"Alhamdulillah, kita makan dulu yuk? Ayah lapar. Wan, ajak istrimu makan!" suruh pak Bambang.


"Buk, ayo makan. Jo, makan! Si Nesa juga, panggil kemari buat makan!" perintah pak Bambang lagi. Dengan cekatan dia langsung mengambil sebungkus nasi dan memakannya dengan lahap. Lalu disusul oleh Bu Lastri.


Wawan ilfil melihatnya. Aris terlihat mencari muka di depan keluarganya. Wawan semakin tak suka. Sebenarnya ada hubungan apa antara Dinda denga Aris? Sampai pak Bambang tak melarang Aris berduaan dengan Dinda kayak gini.


'Sial!' umpat Wawan dalam hati.


"Kamu gak ngajakin aku makan?" sindir Mega yang melihat gerak-gerik aneh Wawan. Dia juga lapar kali. Sedari kegrebek tadi dia belum sempat makan apa-apa.


"Mau makan? Makan aja sendiri," ketus Wawan hendak meninggalkan Mega. Tapi dia tersadar kalau ada Dinda di depannya. Menanyakan kabar kayaknya gak masalah. Wawan juga ikut andil dalam pencarian Dinda. Namun sayang, bukannya menemukan Dinda, yang ada malah ketemu si Mega. Dan yang bikin sakit hati, pulang-pulang si Dinda malah makin mesra dengan Aris.


"Dinda, gimana keadaanmu?" tanya Wawan penuh perhatian. "Mas Wawan sempet nyari kamu. Tapi malah gak ketemu," lanjutnya sedih.


Kali ini Aris yang menarik nafas berat. Dinda miliknya, tak boleh siapapun mendekatinya. Tapi ini di depan keluarga istrinya, semua keluarga lagi berkumpul. Masa iya Aris bertindak. Jadi dia hanya diam dan menatap gerak-gerik Wawan. Meskipun cemburu, tapi Aris mencoba tetap diam.


"Alhamdulillah, seperti yang mas Wawan lihat. Dinda baik-baik aja. Maaf kalau udah merepotkan mas Wawan. Tapi Dinda baik-baik aja Mas, gak usah khawatir," sahut Dinda sambil mengulas senyum.


Wawan hanya manggut-manggut. Dinda terlihat berbohong. Dinda seperti memendam sesuatu. Memangnya ada apa dengannya? Wawan mencoba mencari jawaban yang dia sendiri tidak tahu.


"Mas Wawan, ajakin istrinya makan dong? Kasihan dia, pasti laper." Aris ikut menimbrung, tentunya sambil mendekat ke arah Dinda.


'Huft! Harus pura-pura sama si Mak lampir lagi nih,' batin Wawan tertekan.

__ADS_1


"Sweety, kamu laper ya. Sini mas Wawan suapin," kata Wawan tiba-tiba. Sebenarnya dia mual mendengar perkataannya sendiri.


Mega menganga. 'Dasar orang gila. Tadi sok gak perduli. Sekarang sweety sweety,' gerutu Mega dalam hati.


Wawan langsung mendekat dan mengambil sebungkus nasi. Aris yang melihatnya langsung berucap, "Masih banyak Mas nasinya. Kok cuma satu?"


"Kami mau makan sebungkus berdua," jawab Wawan sekenanya. Hoek! Ingin muntah rasanya. Sebungkus berdua? Dengan Mega? Yang benar saja?


'Aku begini karena terpaksa,' batinnya.


"Inget ya, gue begini hanya di depan keluarga gue. Gak lebih," bisik Wawan pada Mega.


"Oh, gue pikir lu tadi kesambet setan," sahut Mega dengan santai. Dia juga ogah disuapin sama Wawan. Mending disuapin Jo.


'Huh! Menyebalkan banget sih. Kenapa gue malah nikah sama si orang gila ini. Padahal aku pengennya dinikahin sama Jo. Huft!'


"Oya perhatian buat semuanya!" Tiba-tiba pak Bambang memanggil semua orang.


Nesa langsung menatap Jo dengan penasaran. "Ada apa ya Mas?" tanya Nesa pada Johan.


Mega yang melihat itu langsung panas dingin. "Ck, cemburu kan lu? Inget! Mereka itu keluarga gue! Awas aja kalau lu berani ngerusak rumah tangga mereka!" ancam Wawan setengah berbisik.


Aris menatap gerak-gerik Wawan yang mencurigakan. Sepertinya Wawan tak suka dengan istrinya. Benarkah? Lalu Aris menatap orang yang kini berdiri di sampingnya. Dinda... Jangan tanyakan seberapa besar cintanya pada Dinda. Karena tak akan pernah terhitung.


"Kamu capek ya? Habis ini kamu istirahat aja. Karena kita gak boleh tidur bareng, jadi aku mau tidur di luar aja malam ini," jelas Aris. Dia sadar kok, memang inilah resikonya. Lagian gak lama. Nanti setelah anak mereka lahir, dia akan mengucap ijab kabul lagi dan bisa tidur bersama.


"Iya, kaki dan pinggangku rasanya pegel banget," cerita Dinda dengan jujur.


"Mau dipijitin kah?" tanya Aris lagi.


Dinda menatap Aris sambil menggeleng. Dinda takut Aris menginginkan lebih. Atau Dinda sendiri yang gak kuat imannya, gara-gara Aris menyentuh salah satu anggota tubuhnya.


"Oya, ayah mau bilang. Kalau hari ini, ayah menerima dua menantu sekaligus."


Mendengar itu, Wawan langsung membelalakkan matanya. Dua menantu? Jangan bilang...


"Ya, seperti yang kalian pikirin. Dinda dan Aris sudah menikah. Terus Wawan juga suda menikah dengan nak..." ucapan pak Bambang terputus. Karena lupa dengan nama istrinya Wawan.

__ADS_1


"Mega," jawab Mega malu-malu.


"Oiya Nak Mega. Selamat ya untuk kalian semua. Untuk malam ini, kalian bobok di sini semua. Karena ruangan kamarnya gak cukup, gimana kalau para pria seperti ayah ini bobok diluar?" usul pak Bambang dan diangguki setuju oleh Aris. Jo pun juga gak keberatan. Tinggal Wawan yang memonyongkan bibirnya seketika. Bukan karena gak rela berjauhan dengan Mega, dia hanya males melihat wajah Aris.


'Sial sial! Kenapa Dinda malah menikah sama Aris?' batin Wawan yang belum bisa menerima kenyataan.


"Iya Yah, kami setuju. Biar mas Wawan gak jadi malam pertamanya, hahaha!" tawa Jo menggelar.


"Ah, asem kau Jo!" maki Wawan bercanda. Dia juga ikut tertawa dengan godaan yang Jo lontarkan.


Kalau Aris? Tentu gak ada malam pertama. Karena malam pertamanya sudah ia nikmati lebih dulu. Lagian Dinda hamil tua, mana tega dia mengajaknya berenak-enak.


"Ya udah, kamu istirahat dulu sayang. Kalau ada apa-apa, panggil aku," pesan Aris saat melihat Dinda yang beranjak meninggalkannya.


Dinda hanya balas mengangguk. Aris tersenyum kecil. Dinda seperti berbeda. Apa Dinda menyesal menikahinya? Pikir Aris. Tapi Aris tak akan menyerah. Dia gak perduli dengan Dinda. Entah menyesal, entah bahagia. Pokoknya Aris mau egois. Semua akan ia pertahankan, untuk anak mereka.


"Rencanamu gimana Ris?" tanya Jo tiba-tiba. Soalnya ruang tamu sudah terlihat sunyi. Wawan dan pak Bambang memilih tidur di ruang tengah.


"Kalau rencanaku sih, aku pengen ngajakin Dinda tinggal di rumahku."


Jo mengangguk paham. Memang lebih enak kalau hidup bersama keluarga masing-masing. Maksudnya biar mandiri, jadi tidak melulu menumpang. Takutnya ada yang gak nyaman saat tinggal bersama. Atau Aris gak enak sama pak Bambang atau sama Bu Lastri. Setiap anak mantu pasti ngerasain itu. Jo sendiri pun juga pernah ngerasain gak nyaman. Meskipun baginya itu masalah enteng sih, tapi buktinya Jo lebih nyaman mandiri.


"Ya bagus sih Ris," jawab Jo setuju.


"Tapi Jo, masalahnya aku gak boleh tinggal bareng. Takutnya aku khilaf," terang Aris.


"Iya aku ngerti kok. Kalau kamu tinggal di sini, itu lebih baik juga. Tapi ada mas Wawan sama istrinya. Kemungkinan mereka akan tinggal di sini juga untuk sementara waktu. Ya sesama ipar, aku cuma pengen ngasih tahu soal itu aja. Moga kamu betah," ucap Jo sambil menepuk pundak Aris.


"Insya Allah aku betah Jo."


'Aku cuma gak betah kalau Wawan deketin istriku. Itu aja,' sambung Aris dalam hati.


Bersambung...


Jangan lupa mampir juga di novel bawah ini.


__ADS_1


__ADS_2