
Lia maju selangkah.
"Aku juga benci sama kamu mas Aris! Kau itu emang manusia keji, gak punya hati. Mas Aris gak pernah mikirin nasib adikmu ini bakalan gimana nanti kedepannya? Apa mas Aris mau, Lia senasib dengan Dinda hah! Lebih baik mas Aris nyerahin diri ke polisi deh. Biar Lia bisa maafin semua kesalahan mas Aris."
"Dasar adik biadab! Harusnya kau berterima kasih sama aku. Aku lakuin semua ini karenamu!" teriak Aris lagi. Aris ini memanglah orang yang gegabah. Dia tak pernah memikirkan nasib kedepannya nanti bakalan gimana.
"Loe Aris!" tunjuk Jo pada Aris.
"Gue minta tolong, loe minta maaf sama Dinda. Tapi
tidak sekarang! Karna gue yakin, Dinda masih shock dengan kelakuan loe itu."
"Jo," panggil Aris seketika.
"Apa?" tanya Jo dengan malas.
"Gue bener-bener ingin nikahin Dinda Jo," ucap Aris pelan.
"Buat apa loe nikahin Dinda hah! Loe belum cukup apa nyakitin Dinda lahir dan batin. Dinda itu gak salah Ris, yang salah itu otak loe. Kenapa loe gak menyelidikinya dengan benar dulu sebelum bertindak? Coba kalau loe nyelidikinya gak dari luarnya aja? Cari informasi dulu yang lebih akurat Semuanya pasti gak akan sekacau ini Ris. Belajarlah dari pengalaman loe dulu Ris. Gue yakin loe juga punya sisi yang baik, gak selalu jahat kayak gini," ucap Jo seraya mendekat ke Aris.
Aris langsung terperosot ke lantai. Kakinya sudah tak mampu menopang berat tubuhnya. Bahkan juga gak mampu menopang beban pikirannya saat ini.
Tiba-tiba Lia berlari dengan uraian air mata. Aris dan Jo yang melihat kepergian Lia hanya diam saja. Mereka tak tahu juga harus berbuat apa.
Aris si monster jahat itu sedikit menyesali perbuatannya. Sedang Jo, Jo juga menyesali nasib malang Dinda. Korban dari kesalah-pahaman si bejat Aris.
"Jo, tolongin gue ya... Gue benar-benar ingin tanggung jawab Jo. Jangan seret gue ke penjara lagi ya Jo. Gue janji bakalan nikahin Dinda Jo. Gue bakal tanggung jawab Jo," pinta Aris seraya memohon.
Jo menepuk pundak Aris pelan. Sesama laki-laki, Jo juga bisa merasakan bagaimana kacaunya Aris sekarang.
"Gue gak janji ya Ris, ini semua tergantung Dinda. Berdoalah Ris. Insyaflah. Gue tahu loe terlahir dari keluarga baik-baik. Gue tahu itu Ris. Gue juga yakin, kalau loe bisa kembali ke jalan yang benar."
__ADS_1
Jo membuang nafasnya sebentar sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Satu lagi Ris, berubah. Jangan terus-terusan menyimpan dendam di dalam hati. Gak baik Ris. Karena dendam itu bisa menghancurkan hidup loe sendiri. Seperti sekarang ini, apa hidup loe gak tambah hancur saat dendam loe jadi bumerang buat diri loe sendiri?"
Sekali lagi Jo menepuk pundak Aris. "Sadarkan diri loe Ris. Berdoa dan minta ampunan. Berharaplah Dinda mau membuka hatinya untuk loe. Kalau jodoh, gue yakin seberapa-pun Dinda ngebenci loe, kalian akan tetap bersatu nantinya. Inget, belajar sabar mulai sekarang. Jangan semua hal loe atasin dengan kekerasan. Dinda itu jurusan psikologis loh, kalau kalian berjodoh. Loe bisa minta bantuan ke Dinda buat ngilangin sikap temperamental loe itu, biar ngilang perlahan-lahan. Gue bicara gini bukan maksud apa-apa Ris. Hanya saja, gue ingin loe berubah," kata Jo dengan panjang lebar.
"Thanks Jo, gue gak tau harus berterimakasih seperti apa? Selama ini, gue selalu ngejahatin loe. Bahkan ingin ngerebut Nesa dari tangan loe, tapi loe gak pernah ada dendam ama gue. Yang ada malah gue, yang terus ngejahatin loe. Sekali lagi maafin gue Jo, titip salam sama Nesa dan Dinda. Maaf yang sebesar-besarnya," balas Aris menyesal.
Kali ini Aris menyesali perbuatannya. Semua rencana sudah hilang kemana. Yang ada di otaknya saat ini adalah minta maaf sama Dinda dan bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat kemarin.
Jo berdiri, dia menipiskan bibirnya. "Yang lalu buat pembelajaran aja Ris. Kalau itu gak baik, jangan diulang lagi. Gue pamit dulu, jangan kabur kemana-mana sebelum Dinda ngasih keputusan."
"Tapi Jo, apa boleh gue menemuinya?" tanya Aris penuh harap. Entahlah, tiba-tiba Aris tak ingin kehilangan Dinda. Mengingat status Dinda yang sudah punya pacar, otomatis kedudukan Aris bisa terancam saat ini. Karena, Dinda pasti lebih memilih kekasihnya ketimbang dirinya. Dan itu akan mempersulit Aris untuk menebus semua dosanya.
"Gue gak tau Ris. Sebaiknya jangan dulu deh. Nunggu mental Dinda membaik, nanti akan gue pikirkan lagi. Tapi kalau sikap loe tetep kayak gini, gue pastikan loe gak akan pernah bisa ketemu ama Dinda. Bahkan minta maaf-pun gak bisa."
Jangan kira Jo gak bisa mengancam. Jo juga bisa melakukannya. Hanya saja, Jo lebih mengutamakan kebaikan dari pada kejahatan. Karena kejahatan tidak akan pernah menuntaskan semua masalah.
***
Terlihat Dinda berdiam diri. Pak Bambang khawatir kalau Dinda mengalami depresi.
"Dinda," panggil pak Bambang. Sedari tadi dia mencoba mengajak Dinda mengobrol. Namun Dinda tetap terdiam. Pandangannya sangat kosong tak karuan.
"Sabar ya nak. Ayah akan segera bawa kamu pulang. Maafin ayah yang gak bisa jagain kamu," sesal pak Bambang. Air matanya menetes meratapi nasib buruk yang diterima oleh anak bungsunya ini.
Dinda POV
Aku sudah gak punya fikiran yang jernih lagi. Masa depanku sudah hancur. Hancur di tangan orang yang bernama Aris sialan itu.
Ya Allah, ingin rasanya aku mati aja.
Sebenarnya salahku apa? Sampai-sampai Tuhan mengirimkan ku seorang penculik yang mengotori tubuhku. Haruskah aku menikah dengannya?
__ADS_1
Rasanya jiwaku sangat kosong. Tubuhku memang sedang di dalam mobil. Tapi tidak dengan jiwaku. Semua kosong, aku tak punya harapan untuk hidup lagi.
"Dinda," panggil ayahku lagi. Ntah ini panggilan yang ke berapa.
Aku menatap ayahku dengan lesu. Entah, mulutku enggan terbuka.
"Kamu harus kuat Din. Ayah yakin kamu bisa melewati semua ini," ujar ayahku yang berusaha menyemangati ku.
Aku hanya balas mengangguk. Lagi-lagi semuanya terasa kosong.
Tak berapa lama, aku sudah sampai di depan rumah. Seseorang membuka pintu, dan itu adalah mbak Nesa.
"Ya Allah Dinda!" teriaknya kaget melihat kondisi tubuhku.
"Ayah, apa yang terjadi dengan Dinda Yah? Aris gak nyakitin dia kan Yah?" tanya mbak Nesa terlihat begitu khawatir.
"Bawa dia ke kamarnya Sa. Ajak dia ngobrol ya?" pinta ayahku.
Saat tangan kak Nesa memegang lenganku, aku hanya diam saja.
"Ayo Dinda, ikut ke kamar mbak!" ajaknya. Namun aku no respon. Aku ini seperti patung. Tak punya tujuan hidup lagi. Semua cita-citaku sudah hilang gara-gara Aris. Semuanya karena Aris. Aku gak akan maafin dia.
***
Author POV
Aris tengah duduk melamun di rumahnya. Dia bingung harus berbuat apa sekarang. Semua tinggal penyesalan, dan itu tak akan ada habisnya.
"Aaaaarrrgh! Maafin aku Din, maaf!" teriaknya sambil menjambak rambutnya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
Rupanya Aris menyesal. Dia balas dendam pada orang yang salah. Akankah Aris berubah?