
***
Dinda POV
Ya Allah, rasanya aku udah gak tahan lagi dengan keadaan ini. Aku diperlakukan layaknya pembantu oleh suamiku sendiri.
Seperti pagi ini. Briyan sama sekali tak mengasihani diriku. Padahal perutku sudah semakin membuncit. Sudah berusia 6 bulan menuju 7 bulan. Jadi ruang gerakku semakin terbatas. Tapi Briyan kayak gak mengijinkanku untuk istirahat.
"Cepat sana pergi! Gak becus jadi bini. Tugas lu tuh di dapur, masak!" ucapnya sambil berlagak sok majikan.
"Iya Bang. Tapi uang buat belanja gak ada," ucapku sedikit membenarkan.
"Apa? Uang? Bisa hemat gak sih. Tiap hari minta uang. Emangnya uang dari ayah lu,lu kemanain?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Uang dari ayah udah habis buat makan kita tiap hari, Bang. Lagian gak setiap hari ayah ngasih duit ke aku," sahutku terasa semakin teraniaya olehnya.
"Astaga, lu tuh ya. Gue gak peduli. Gimanapun caranya... Lu harus masak hari ini," ucap Briyan tanpa rasa bersalah.
Aku heran aja. Uang dari ngebengkelnya dikemanain? Apa iya habis buat foya-foya bareng cewek-cewek yang gak jelas itu? Pikirku.
"Tapi Bang!" tolakku. Aku gak mungkin hutang kan? Secara aku bukan asli orang sini.
"Terserah lu aja. Pinter-pinterlah, hutang kan bisa. Apalagi?" katanya dan langsung mengambil kunci motornya.
"Bang, mau kemana?" tanyaku ingin tahu.
__ADS_1
"Bukan urusan lu! Cepat sana, cari sayur. Awas aja, kalau gue pulang belum ada apa-apa!" ancamnya sambil menyalakan sepeda motornya. Dan kini tinggal aku sendirian.
Bingung banget rasanya. Uang gak ada. Emangnya sayur tinggal petik di halaman rumah apa? Enteng banget dia kalau ngomong.
Aku mondar-mandir sambil mencari-cari sisa uangku di dompet. Hah, alhamdulillah di dompetku ada uang 20 ribu rupiah. Rasanya seperti mendapatkan harta karun. Aku langsung mengambilnya dan pergi ke tukang sayur.
Author POV
Dinda sudah tak tahan lagi dengan perlakuan Briyan padanya. Bisa-bisanya saat Dinda mencari bahan buat makan mereka berdua, Briyan malah mengajak seorang wanita datang ke rumahnya lagi. Lagi dan lagi dengan wanita berbeda. Sebegitu mudahnya kah Briyan berhubungan dengan wanita? Apalagi hubungan mereka itu hubungan terlarang. Kenapa begitu mudahnya Briyan bersikap seperti itu? Apa dia gak mikirin perasaan Dinda?
Untunglah, selama Briyan tahu kalau dirinya tengah mengandung anak dari Aris. Briyan tak mau lagi menyentuhnya. Mungkin itulah sebabnya, kenapa Briyan memuaskan dirinya dengan memilih bergonta-ganti wanita. Tapi tak harus di depan mata Dinda jugakan kalau ingin balas dendam? Seenggaknya, Briyan harus pikirin kondisi kehamilan Dinda sekarang. Tapi namanya juga udah gak peduli. Sesakit apapun perasaan Dinda, mana mungkin Briyan akan simpati padanya.
"Apa-apaan ini Bang!" teriak Dinda tak terima. Dia baru pulang belanja, tapi yang dia lihat pertama kali adalah hal yang begitu menjijikkan. Briyan tengah mencumbui seorang wanita yang berpakaian seksi di ruang tamu. Mau dijadikan apa rumah mereka? Rumah ini sudah gak layak lagi disebut rumah. Karena Briyan sudah mengotorinya sendiri.
"Apa-apaan! Serah gue lah, rumah-rumah gue. Mau gue jungkir balik juga bukan urusan lu. Lu itu cuma numpang di sini. Apa loe lupa?" ujarnya dengan menyudutkan Dinda.
"Iya aku tahu, aku cuma numpang Bang. Tapi kamu itu masih suamiku. Pantes kah kamu bersikap kayak gini di depan mata kepala ku?" tegas Dinda.
Seketika itu juga, Briyan langsung menghentikan cumbuannya. Ditinggalkan wanita yang ia pungut entah dari mana itu. Kini mata pria itu menatap mata Dinda dengan tajam.
"Ck, loe fikir gue bertahan begini karrna apa? Karena loe gak pernah ikut campur urusan gue selama ini. Berhubung karena loe sekarang ikut campurin gue terus-terusan... Mending kita cerai," ucap Briyan dengan lantang.
Tak tahukah Briyan. Ucapan cerai dari mulut pria itu langsung afdol. Tandanya Briyan sudah memberikan talak untuk Dinda.
Tapi siapa takut? Emangnya Dinda takut ditalak. Meskipun Dinda melarangnya, semua sudah berucap. Kali ini Dinda sudah tak perduli lagi dengan keadaan Briyan. Dinda sudah muak dengan semua sikap Briyan. Mungkin emang ini jalan hidup yang harus ia jalani. Menikah dan bercerai.
__ADS_1
"Oke Bang. Aku terima keinginan Abang. Kita bercerai. Puas kan!" ujar Dinda sambil tersenyum kecut. Dia udah gak kuat hidup dalam tekanan batin lagi. Udah cukup semuanya sampai di sini. Gak ada lagi Briyan yang dicintainya. Meskipun Dinda masih mencintainya, tapi dia udah gak bisa bersama Briyan lagi.
DEG
Langkah kaki Briyan terhenti seketika. Dia diam mematung beberapa langkah dari jarak Dinda. Niatnya tadi hanya ingin menggertak Dinda agar tak ikut campur lagi dengan urusannya. Tapi sepertinya Dinda benar-benar marah padanya. Dinda tak semenurut dulu lagi. Dinda sudah berubah sampai-sampai Briyan kaget dibuatnya.
"Din, loe nglawan gue?" tanya Briyan heran saat Dinda melewatinya begitu saja menuju ke arah kamar.
"Iya, apa lagi Bang? Apa abang belum puas menyiksa Dinda. Hiks..." Air matanya runtuh juga.
"Dinda ini cuma perempuan biasa Bang. Kalau abang berbuat seperti itu di depan Dinda, Dinda juga bakalan sakit hati Bang. Emangnya Abang, manusia yang gak punya hati dan perasaan. Jadi, mana mungkin abang bisa ngertiin perasaan Dinda itu kayak gimana saat ngelihat suami Dinda bermesraan dengan cewek lain? Mana mungkin Abang ngerti? Abang gak pernah ngerasain kan?" balas Dinda. Dia sudah gak takut lagi. Bukan gak takut, tapi Dinda mencoba menguatkan dirinya.
"Din, loe serius mau pisah ama gue? Bukankah loe cinta mati ama gue?" tanya Briyan lagi sambil mengikuti setiap langkah Dinda yang hendak memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper.
"Cinta? Abang kira dengan aku mencintai Abang, lalu dengan seenaknya Abang menyakiti Dinda gitu? Sorry ya Bang, kali ini Dinda gak bisa pertahanin rumah tangga kita. Udah cukup kesabaran Dinda sampai sini. Biarin aku pergi jauh dari Abang. Semoga Abang bahagia dengan jalan yang Abang pilih sekarang," ujar Dinda sambil menutup kopernya.
Diseretnya koper itu ke luar. Menatap wanita yang berpakaian seksi itu sebentar. Tapi Dinda tak perduli. Sudah cukup pengabdiannya pada Briyan selama ini. Dia harus pergi menjauh. Mungkin inilah jalan takdirnya. Begitu kelam tak bercahaya. Semua sirna gara-gara kelakuan Aris padanya.
"Kamu harus sehat terus Nak. Doain ibu agar selalu sehat dan kuat bekerja, buat biayain hidup kita berdua sayang," ucap Dinda sambil mengelus perutnya.
Dinda keluar dari rumah itu hanya dengan menggunakan baju daster, sandal jepit dan uang seadanya. Ada sisa beberapa puluh ribu di dalam kopernya. Uang itu Memang sengaja Dinda sembunyikan, tidak untuk sehari-hari. Dinda berharap uang itu cukup untuk membawanya pulang ke rumah ayahnya. Atau tidak, pulang ke rumahnya Jo untuk menginap beberapa waktu.
Di dalam kamar, Briyan terduduk lemas. Kepergian Dinda membuat hatinya seperti dihancurkan. Ada kesakitan yang Briyan sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Briyan hanya tidak menyangka kalau Dinda bakalan ninggalin dia kayak gini.
"Din... tolong balik. Please!" mohon Briyan. Yang jelas Dinda gak akan dengar permohonannya itu. Sebab Dinda sudah jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Begitulah penyesalan, selalu datang di akhir. Kenapa waktu dia masih ada kau sia-siakan Yan? Sekarang Dinda udah jauh, ngapain kamu mohon-mohon?
Bersambung...