Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Pengganggu


__ADS_3

***


"Selamat ya Din. Akhirnya kamu menikah juga dengan Aris. Ngomong-ngomong, Aris gak kasarin kamu kan?" tanya Nesa memastikan. Dia khawatir Aris akan kalap. Karena Aris punya kepribadian yang berbeda. Mirip orang saiko. Kadang lembut, kadang kasar tanpa sebab.


Dinda menggeleng. "Sejauh ini, dia masih bersikap wajar mbak," balas Dinda. Dia tidak menutup-nutupi. Karena Dinda sendiri memang masih bingung dengan perasaannya.


"Alhamdulillah. Semoga dia selalu baik sama kamu. Kalau ada apa-apa, misal dia nampar kamu atau gimanain kamu... jangan sungkan-sungkan, cerita ke mbak atau mas Jo," ucap Nesa lagi.


Tiba-tiba Mega masuk. "Ngomongin siapa kalian?" keponya.


"Enggak ngomongin siapa-siapa Mbak. Kami lagi ngobrol soal Dinda aja," jawab Nesa. Si Mega ini pengen tahu aja.


"Ow. Aku tidur di mana ya?" tanya Mega. Dia tidak suka dengan Nesa, ini hanya pura-pura saja.


"Kamu bobo sama ibu aja Nak Mega," sahut Bu Lastri tiba-tiba. Wajarlah kalau Mega tidur sama Bu Lastri. Sebab Mega adalah menantunya Bu Lastri. Kalau sama pak Bambang? Hubungannya hanya sebatas menantu tiri. Jadi lebih baik, Mega tidur sama Bu Lastri saja.


'Hadeh,' keluh Mega. Pasti ibu mertuanya ini akan bercerita tentang kehidupan Wawan. Dan itu sangat membosankan baginya.


"Nah itu mbak. Mbak Mega diajak tidur bareng ibu," kata Nesa senang. Sebab kasurnya udah diisi Dinda, Raskha dan dia sendiri.


"Yuk nak Mega, sini! Ikut ke kamar ibuk!" kata Bu Lastri terdengar begitu sayang pada mantunya.


Sepergian Mega. Dinda langsung menatap keluar. Dia mikirin Aris. Ada bantal gak ya? Aris tidur pake bantal apa gak? Itulah sekelumit pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalanya sekarang.


"Kenapa Din? Ngelamun aja? Istirahat, udah malam ini. Emang kamu gak capek apa?" tanya Nesa yang langsung tidur di sebelah kiri Raskha. Sebab, posisi Raskha saat ini berada di tengah-tengah mereka.


"Capek sih mbak. Tapi Dinda mau ambil air dulu. Panas tenggorokan Dinda," dustanya. Sebenarnya dia hanya memastikan saja, kalau Aris bisa tidur dengan baik malam ini. Meskipun Dinda begitu benci sama Aris, tapi Aris adalah suaminya. Apalagi ini rumah Dinda. Sebagai pemilik rumah, dia harus welcome pada Aris. Sebab Dinda sendiri sudah pernah ngalamin rasanya tinggal bareng mertua. Takutnya Aris gak betah nanti.


"Iya Din. Jangan lupa tutup pintu ya?"


"Iya mbak," sahut Dinda.


Baru saja Dinda menutup pintu. Tapi Aris langsung mendekat. "Kok kamu belum tidur? Butuh sesuatu kah?" tanya Aris yang ternyata sedari tadi dia mengawasi kamar yang ditempati oleh Dinda. Wajar, mereka pengantin baru. Namun sayang, tak bisa tidur bareng untuk beberapa waktu.


Dinda menggeleng. "Aku cuma haus," jawabnya.

__ADS_1


"Ya udah biar aku ambilkan," tawar Aris. Padahal Aris belum tahu pasti seluk beluk rumah Dinda ini seperti apa. Dia main tawar aja, kayak yang udah hafal betul tempat minumannya di mana.


Lagi, Dinda menggeleng. "Gak usah. Mas istirahat aja," tolak Dinda.


Satu yang baru Aris tahu dari Dinda. Meskipun Dinda tak menyukainya, tapi Dinda masih mau bersikap lembut padanya. Benar-benar istri idaman. Aris sangat bersyukur bisa kenal sama Nesa dan akhirnya dia balas dendam pada adiknya yang tak bukan adalah Dinda yang kini telah menjadi istrinya.


"Mas temenin ya?" tawar Aris lagi. Namun kali ini Dinda diam saja.


"Kamu laper?" tanya Aris saat Dinda sudah mengambil segelas air putih.


Dinda menggeleng. Dia memang tidak lapar. Atau mungkin Aris sendiri yang lapar? Duga Dinda yang kali ini menatap Aris. Ditatap sedemikian rupa oleh Dinda, membuat Aris salting dan menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal.


"Mas laperkah?" Dinda bertanya balik.


"Ah, gak kok. Mas cuma nanya ke kamu aja. Siapa tahu kamu laper?" ucap Aris sungguh-sungguh.


"Mas mau minum?" tawar Dinda kemudian. Kayaknya sepulang dari warung tadi, Aris belum ada minum, sama seperti dia.


"Boleh," jawab Aris ragu. Soalnya baru kali ini dia diperhatikan seperti ini oleh wanita.


"Apa aja boleh," jawab Aris.


Namun Dinda tak suka jawaban seperti itu. "Apa aja itu bukan jawaban," sahut Dinda yang kali ini tak melihatnya.


Aris sadar. Dirumus pelajaran matematika tidak ada jawaban seperti itu. Semua menggunakan ilmu pasti.


"Emm, kopi kalau gitu," jawab Aris yang jadi kaku saat berduaan dengan Dinda. Masalahnya, otak Aris lagi tidak sinkron. Di dalam hatinya, Aris selalu ingin bermesraan dengan Dinda. Padahal ini tidak boleh.


'Astaghfirullah. Kuatkan imanku ya Allah.'


"Ya udah, tunggu. Mas duduk aja dulu, gak apa-apa kok," suruh Dinda sambil menyiapkan kopi untuk Aris.


"Enggak, aku nemenin kamu aja."


"Ckckck, gayanya kek pengantin baru aja," sindir Wawan yang ntah datang dari mana. Padahal Wawan tadi udah tidur duluan. Kenapa sekarang malah muncul?

__ADS_1


'Ganggu aja,' batin Aris kesal.


"Bukannya Mas juga pengantin baru?" Aris balik menyindir.


Kalau sudah begini, Dinda jadi tak nyaman. Mereka berdua pasti gak akan ada habisnya. Saling ngeyel, engkel-engkelan. Gak ada yang mau mengalah.


"Mas Aris, mas Wawan. Please gak usah bikin mood ku jadi jelek," pinta Dinda.


"Mas Wawan kalau mau kopi, aku buatin!" lanjut Dinda kemudian.


"Eh, boleh tuh Din. Mas Wawan mau!" kata Wawan tanpa sungkan-sungkan.


Aris membuang nafas jengah. 'Sabar Ris, sabar. Kamu gak boleh marah di depan istrimu,' batin Aris mengatur nafasnya.


"Sini deh sayang, biar mas aja yang buatin kopi untuk mas Wawan," serobot Aris kemudian.


"Tapi Mas..." Dinda hendak protes.


"Udah, kamu istirahat aja. Kamu capek, anak kita butuh istirahat juga," kata Aris yang terlihat makin romantis di depan Wawan. Kopi yang buatan Dinda langsung ia seruput. Sengaja, biar Wawan tak mengambilnya.


'Kurang ajar si Aris. Padahal aku ingin menikmati kopi buatan Dinda,' batin Wawan tak terima.


"Nih Mas, kopi buat kamu!" kata Aris sambil menyodorkan kopi buatannya tadi.


"Ogah! Minum aja sendiri," jawab Wawan sinis.


Aris terdiam. Dia tersenyum kecil, ternyata Wawan masih suka dengan Dinda. Kemudian dia menatap kopi buatannya. Dari pada mubazir, jadi Aris bawa ke depan. Ia kasihkan ke Jo yang kebetulan belum tidur.


"Weh, makasih Ris. Udah bikinin aku kopi," kata Jo senang.


Sementara si Wawan, di dalam sana mulutnya komat-kamit. Dia benar-benar tak suka dengan Aris. Hatinya panas melihat Aris yang ingin menguasai semua orang.


"Gak semudah itu Ris buat dapetin Dinda. Lu harus bersaing dulu sama gue. Semakin lama lu tinggal di sini, semakin gencar gue deketin Dinda lagi," gumam Wawan sambil menatap ke arah Aris dengan sinis. Intinya, Wawan ingin mengusir Aris. Namun secara perlahan.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2