
...****************...
"Dinda, mas lihat dari tadi kamu kayak kurang tidur," ucap Aris sedikit khawatir melihat Dinda yang terlihat begitu pucat.
"Ah, perasaan mas Aris aja. Jadi gimana? Jadi ke KUA gak?" tanya Dinda yang tak ingin membahas soal dirinya.
"Ya jadi. Tapi mas harus tetap memakai kursi roda Din," ucap Aris lagi masih tak enak hati. Sebenarnya dia ingin jujur, tapi belum waktunya.
"Ya gak apa-apa mas. Kan ada mas Jo yang akan bantuin kita," kata Dinda lagi. Dia pasti mendukung niat baik dari suaminya ini.
"Ya udah yuk siap-siap!" ajak Aris, dia lupa saat ini dia tengah berdiri tanpa duduk di kursi roda.
"Sarapan udah siap Dinda!"
"Mas, suara ibu Lastri!" ucap Dinda takut. Aris pun juga sama takutnya, mereka saling tatap. Gak mau menunggu lama, Aris segera kembali duduk di kursi rodanya.
"Aris!" panggil Bu Lastri yang membuat Dinda dan Aris jantungan.
Gimana kalau ibu Lastri melihat kejadian barusan?' batin Dinda takut.
"I-iya Bu," jawab Aris sedikit gugup. Ya, mereka berdua seperti maling yang tertangkap basah.
"Jangan lupa sarapan juga ya?" ucap Bu Lastri dan seketika Aris dan Dinda begitu lega.
'Mereka berdua kenapa ya? Kayak nyembunyiin sesuatu dariku. Aku harus cari tahu,' batin Bu Lastri curiga.
"Iya makasih Bu," balas Aris yang kali ini dengan wajah berbinar.
"Oiya, semoga besok acara kalian lancar," doa Bu Lastri yang terlihat sungguh-sungguh.
"Aamiin," jawab Aris dan Dinda secara bersamaan.
Di balik bahagianya Dinda dan Aris. Di situ ada Wawan yang harus terpaksa menerima kenyataan kehamilannya Mega.
"Ya udah deh, kalau kamu mau merawatnya aku bisa apa?" ucap Wawan yang akhirnya pasrah. Dia tadi sempat bertanya pada Mega. Tapi faktanya Mega mau mempertahankan anak mereka ketimbang menggugurkannya.
"Makasih ya Wan. Semoga dengan kehadiran anak kita, keluarga kita akan semakin harmonis," kata Mega dan Wawan menatapnya dengan kaget.
Wawan pikir memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang yang sudah berkeluarga di luaran sana. Mereka akan semakin rukun gara-gara kehadiran seorang anak.
"Udah kan? Kalau gitu kita pulang sekarang!" ajak Wawan sambil bersiap-siap mengenakan jaket.
__ADS_1
"Sekarang? Kenapa gak agak nanti, aku mager keluar jauh," rengek Mega mencari perhatian.
"Hanya gara-gara kamu hamil, kamu gak usah terlalu manja kayak gini Mega," kata Wawan sedikit ketus.
"Ya udah deh, kamu aja yang balik. Aku masih mau tinggal di sini," ancam Mega dan itu membuat Wawan tak berdaya. Dia sudah bilang pada nenek Nur untuk bisa membahagiakan Mega.
"Ya udah iya-iya," balas Wawan yang akhirnya pasrah.
Lalu dia duduk dan membuka HP-nya. Tak sengaja dia melihat status what'sappnya Dinda. Matanya langsung terbelalak melihat status Dinda yang tengah memotret kantor yang bertuliskan KUA.
"Hah? Ngapain Dinda di KUA? Jangan bilang mereka mau menikah," gumam Wawan kaget. Tapi kenapa tiba-tiba Wawan gak cemburu? Apa ini pertanda kalau cintanya ke Dinda sudah mulai luntur?
"Siapa yang menikah Wan?" sahut Mega yang tak sengaja mendengar selenting gumaman Wawan.
"Dinda dan Aris kayaknya mau menikah deh," jawab Wawan dan Mega mengangguk paham.
'Bagus dong kalau mereka menikah. Biar kamu gak gangguin hubungan mereka lagi dan fokus pada hubungan kita,' batin Mega senang.
"Ya udah, kalau gitu kita pulang sekarang aja," ajak Mega kemudian.
"Sekarang aku yang males," ucap Wawan. Rasanya dia malas pulang. Yang ada dia akan menyaksikan kebahagiaan Dinda.
"Ya udah deh, kalau gitu aku mau tidur dulu," pamit Mega yang langsung masuk ke kamar.
"Iya, aku susul sebentar lagi," balas Wawan.
Wawan memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya. Sepertinya kepalanya pusing gara-gara mikirin hal yang tak diinginkan. Tapi kenapa dari lubuk hatiny dia tak cemburu?
'Kenapa ya? Rasanya aku kayak udah ikhlas melihat Dinda bahagia dengan Aris. Apa mungkin cintaku pada Dinda udah hilang?' batin Aris bertanya-tanya pada perasaannya sendiri.
Karena kalau Wawan pikir-pikir, jika dia menikah dengan Dinda. Belum tentu Dinda bisa move on dari Aris. Bisa jadi Dinda tak pernah mau disentuh olehnya. Berbeda dengan Mega, meskipun mereka berdua tak saling cinta. Tapi dari awal Mega sudah tahu sikap buruk dan kejelekan Wawan selama ini. Lagipun Mega tak pernah menuntut apapun. Jadi lebih baik Wawan mengikhlaskan Dinda untuk Aris. Dari pada dia memendam cinta, tapi tak akan pernah dia miliki.
...****************...
"Bagaimana mas Jo?" tanya Dinda setengah berbisik.
"Alhamdulillah, semuanya lancar. Tinggal ijab kabulnya besok. Semoga gak ada halangan."
"Aamiin. Makasih ya mas, udah selalu ada saat Dinda butuhkan."
"Sama-sama Din, itulah gunanya saudara. Membantu saat ada saudara lain yang sedang kesusahan," kata Jo sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalian bahas apa?" tanya Aris yang baru datang. Dia sebenarnya ingin normal kayak biasanya. Tapi berpura-pura untuk mencari siapa yang telah mencelakainya itu ternyata susah. Aris menyerah, dan besok dia ingin memberikan kejutan pada yang lain. Bahwa sebenarnya dia tidak lumpuh seperti apa yang mereka bayangkan.
"Ini, aku berharap acaramu besok berjalan dengan lancar," kata Jo seraya memberitahu Aris.
"Aamiin. Makasih doanya Jo."
"Sama-sama Ris. By the way, urusan udah selesai kan? Ayo ku antar pulang!"
"Iya ayo!"
"Oya Dinda," panggil Aris tiba-tiba saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya mas, ada apa?"
"Besok aku mau bikin kejutan," kata Aris yang membuat Dinda kaget.
"Kejutan?" tanyanya dengan spontan.
'Padahal aku yang mau bikin kejutan buat semua orang. Emang kejutan apa yang mas Aris maksud?' batin Dinda penasaran.
"Ada deh, namanya juga kejutan. Pasti dirahasiakan."
"Bukan gitu," protes Dinda. Dia takut Aris mengetahui sesuatu.
"Terus apa?" Kali ini Aris balik bertanya.
"Aku kan penasaran, kenapa harus dirahasiakan?" tanya Dinda yang mencoba mencari jawaban teka-teki yang Aris berikan.
"Tidak boleh. Besok kamu juga tahu sendiri," jawab Aris begitu santai. Tapi Dinda yang terlihat gelisah. Dia berharap semua urusannya berjalan dengan lancar. Dan harapannya juga berjalan sesuai rencananya.
"Kok gitu? Ayolah kasih tahu. Istrimu ini penasaran mas!" Dinda terus mencoba merayu. Tapi namanya rahasia, bagi Aris tetaplah rahasia.
Dan diujung penasarannya Dinda, akhirnya dia mengalah. Dia berharap besok akan menjadi hari yang bahagia untuknya dan untuk Aris.
"Ya udah deh mas. Yang penting besok hari bahagia kita berjalan dengan lancar," kata Dinda mengalah.
"Aamiin. Maaf ya sayang, tapi yang pasti besok semua orang akan bahagia," jawab Aris sambil memeluk Dinda dari samping.
'Soalnya aku gak lumpuh, otomatis ibu, adik dan ayah akan bahagia mendengar itu,' batin Aris berharap.
Bersambung...
__ADS_1