
Mau gak mau, akhirnya Bu Lastri membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Mega.
"Gitu dong Buk? Kalau gini kan enak," celetuk Wawan sambil mendekat.
"Oiya, kenapa ibuk nangis? Ibuk diapain aja sama Aris dan Dinda selama kami gak ada?" tanya Wawan.
Tadinya Bu Lastri ingin cerita yang macam-macam. Dari kejadian tadi pagi sampai dia kelaparan hampir pingsan. Namun niat itu batal lantaran anaknya sendiri lebih kacau dari pada sikap anak tirinya.
"Gak diapa-apain, malah dia yang ngundang dokter buat ibuk."
Wawan yang mendengarnya sama sekali tak suka.
"Terus kenapa kalau dia yang ngundang dokter? Ibuk jadi sayang sama dia ketimbang sama anak sendiri?" Wawan menyudutkan Bu Lastri.
"Mas, ibuk sakit ih. Jangan ngomong kayak gitu," ucap Mega yang berusaha mengingatkan Wawan.
"Ya kenapa emangnya? Ibuk sendiri yang mulai. Ow, atau ibuk sekarang ada di pihak mereka? Iya?" tuding Wawan sekali lagi.
Sebenarnya Bu Lastri bukan masalah berpihak pada siapa. Meskipun Wawan salahpun Bu Lastri akan berpihak padanya. Tapi saat ini situasinya berbeda, Bu Lastri ingin dimanja anaknya. Gak lebih dari ini.
"Bukan Wan. Ibuk pasti akan berpihak ke kamu. Ibuk nangis gini karena ibuk sayang sama kalian," dusta Bu Lastri akhirnya.
"Ya udah, kalau sayang sama kami. Mending ibuk cepetan makan, minum obat. Terus bobok," kata Wawan memberikan instruksi.
"Habis ini, anterin ibuk k'e kamar mandi ya?" pinta Bu Lastri, karena dia merasa gak mampu kalau gak ditemani.
"Emang gak bisa sendiri Buk?" tanya Wawan lagi. Dari gaya bicaranya dia seperti tak ikhlas.
"Ibuk pusing Wan," keluhnya.
"Ya wes ya wes, nanti Wawan antar!" kata Wawan mengalah. Kalau gak ngalah, takutnya Bu Lastri pindah haluan nanti.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor pak Bambang. Wawan dan Mega merasa lega. 'Akhirnya ayah udah pulang. Jadi aku gak perlu repot-repot nemenin ibuk ke kamar mandi,' batin Wawan agak senang.
Anak macam apa itu, dimintai tolong ibunya malah keberatan. Atau ini adalah sebuah karma yang harus Bu Lastri terima akibat menjelek-jelekkan orang lain?
__ADS_1
"Itu ayah pulang Buk," kata Wawan memberitahu Bu Lastri.
"Wan, gimana kondisi ibumu?" tanya pak Bambang sambil melepaskan sepatunya. Sebab Wawan tadi keluar dan bersalaman dengan pak Bambang. Cari muka gitulah.
"Agak mendingan Yah. Lagi disuapin sama Mega," kata Wawan lagi.
"Dinda, Aris?" tanya pak Bambang bermaksud bertanya.
"Gak tahu Yah. Dari kami pulang tadi, kami gak lihat batang hidungnya Aris," kata Wawan yang mulai memanas-manasi keadaannya.
"Anak itu, orang tua sakit malah ditinggal kelayapan," omel pak Bambang kesal.
Sebenarnya yang salah siapa? Yang gak percaya siapa? Kenapa semuanya jadi menyalahkan Aris?
"Buk, gimana? Masih pusing?" tanya pak Bambang sambil menyentuh dahi Bu Lastri.
"Masih Yah," jawabnya.
"Terus ini obat dari mana?" tanya pak Bambang memastikan.
"Dari dokter Yah."
Wawan hendak mengiyakan, tapi itu kayaknya gak boleh. Jadi niat jahatnya itu ia urungkan.
"Aris yang ngundangin dokter biar ke sini," jawab Bu Lastri jujur.
'Aris? Tumben tu anak manusiawi.'
"Ya udah, ibuk lanjut makan dulu. Ayah mau mandi," ijin pak Bambang.
"Temenin ibuk ke kamar mandi Yah!" cegah Bu Lastri. Sedari tadi dia menahan pipis akibat anaknya kurang ikhlas untuk membantunya.
"Fiuh, ya udah sini!" ajak pak Bambang dan kemudian memapah Bu Lastri. Agak kesulitan gara-gara badan bongsor Bu Lastri yang melebihi kapasitasnya pak Bambang.
Aris, dia yang baru sampai bersama keluarganya tak sengaja melihat pak Bambang yang kesusahan saat memapah Bu Lastri langsung menolongnya.
__ADS_1
"Sini biar Aris bantu!" tawar Aris namun ditampik mentah-mentah oleh Wawan. Wawan yang tadinya enggan menolong langsung mau membantu pak Bambang memapah ibunya.
"Gak usah!" katanya dengan kasar.
Dinda yang baru keluar kamar melihatnya tak suka. Tapi dia harus sabar, sebab di luar sana sedang ada mertuanya.
"Mas, ibu mana?" tanya Dinda pada Aris. Sebelum pulang tadi, Aris sudah mengabari Dinda, kalau ibunya dan Lia akan datang menengok si kecil. Jadilah Dinda bersiap-siap sekarang ini.
"Ada di depan. Temuin gih, mas mau letakin tas dulu," pamit Aris.
Sambil menggendong Zahra, Dinda segera menemui mertua dan adik iparnya itu. Dia sangat bahagia, sebab apa? Sebab ini adalah pertanda kalau pernikahannya dengan Aris semakin dekat. Ditambah lagi, Dinda udah muak tinggal di rumah ini. Hawanya panas gak ada adem ayemnya. Jadi sehabis menikah, Dinda akan langsung pindah rumah nanti. Entah mau tinggal di mana, yang penting gak tinggal serumah dengan orang-orang munafik macam Bu Lastri dan Wawan.
"Ibuk, Lia!" panggil Dinda sambil mendekat.
"Eh mbak Dinda. Apa kabar? Sini Zahranya biar aku gendong?" Lia segera mengambil alih Zahra dari gendongan Dinda. Soalnya kasihan Dinda, dia kesulitan buat bersaliman dengan Bu Rukmini.
"Alhamdulillah, kabarku baik Lia. Kamu sendiri gimana?" tanya Dinda pada Lia.
"Buk, maaf baru bisa berjumpa dengan ibuk sekarang," ucap Dinda sedikit menyesal. Lalu dia sungkeman dengan Bu Rukmini. Sungguh, dulu Dinda tak pernah berniat untuk menikah dengan Aris. Tapi sekarang, keadaannya beda. Jadi Dinda akan menganggap orang tua Aris seperti orang tuanya sendiri.
"Gak apa-apa Nak. Ibuk gak nyangka Aris akan menikah secepat ini? Bahkan kalian udah punya cucu," kata Bu Rukmini sambil mengelus tangan Dinda menggunakan tangan kirinya.
"Makasih ya nak, udah mau menerima semua kekurangan Aris. Tolong maafkan dia kalau dia banyak berbuat salah kepadamu," kata Bu Rukmini lagi. Bu Rukmini sudah membayangkan rumah tangga Aris dan Dinda itu bagaimana? Pasti setiap harinya Aris marah-marah dan melampiaskan amarahnya pada Dinda. Bu Rukmini yakin sekali, tiap hari Dinda pasti tekanan batin menghadapi Aris.
"Iya Buk. Dinda udah maafin semua kesalahannya mas Aris," jawab Dinda yang salah mengira. Dinda mengira kalau Bu Rukmini membahas masalah pemerkosaannya waktu itu. Soalnya kalau sekarang ini, Aris tak pernah berbuat jahat. Tak pernah sekalipun Aris menyakiti perasaan Dinda. Jadi kemungkinan besar, yang dimaksud Bu Rukmini adalah kesalahan Aris yang dulu.
"Makasih ya nak. Ibu sangat bahagia, selain kamu cantik, kamu juga pemaaf. Betapa beruntungnya Aris punya istri sepertimu," kata Bu Rukmini yang terus memuji Dinda.
"Ya pasti beruntung banget Buk!" sahut Aris yang b.aru muncul dari arah belakang.
Dinda yang mendengarnya karena tersenyum malu. Bisa-bisanya Aris gak malu bicara kayak gitu, pikir Dinda.
"Oiya nak. Ini oleh-oleh buatmu dan Zahra. Dan ini, sedikit buat keluarga ini," kata Bu Rukmini sambil memberikan barang bawaannya yang terlihat tak sedikit.
"Ya Allah, Buk. Kok repot-repot banget sih, ibuk harusnya gak perlu kayak gini," kata Dinda terharu.
__ADS_1
'Ini uang suamimu nak. Dia udah habis banyak biar kamu seneng, dan semua keluargamu juga seneng,' batin Bu Rukmini sambil menatap Aris. Anaknya yang dulu dibenci banyak orang, akhirnya kini berubah derastis. Bu Rukmini bangga, meskipun bertahun-tahun dia tak pernah mendengar kabar baik dari anaknya ini.
Bersambung...