
"Maksudmu apa mas?" cegah Aris sambil menatap Wawan dengan tajam.
Wawan menelan ludahnya kepayahan. 'Sial! Dia mau ngajakin perang,' batin Wawan ketar-ketir.
"Mas Wawan sebelum bicara kayak gitu, tolong mikir logikanya. Sawan? Emang aku buat apa sampai aku bikin sawan anakku?" Jangan kira Aris akan diam saja.
Wawan menciut. Sepertinya dia salah mencari lawan. Kenapa mulutnya tadi ceplas-ceplos kayak gitu? Mana pak Bambang sudah masuk kamar lagi, jadi otomatis gak akan ada yang ngebelain Wawan.
Mega? Cuma Mega yang masih stay di sampingnya. Haruskah Wawan minta perlindungan Mega?
"Kali aja efek bekasmu main dukun," celetuk Wawan menahan rasa ketakutannya.
"Oh ya! Emang kapan aku main dukun? Kok aku gak inget?"
Mumpung cuma mereka bertiga, makanya Aris berani bertindak. Ini semua pembelajaran buat Wawan agar tidak menginjak-injak harga dirinya. Selama ini Aris sudah sabar difitnah, tapi tidak malam ini. Malam ini Aris harus membuat Wawan sadar, kalau semua yang Wawan ucapkan itu belum benar adanya.
"Ya mana aku tahu. Yang main kan kamu, kenapa tanya sama aku?" Rupanya Wawan masih punya segudang alasan. Akankah dia kalah adu skill kejujuran dengan Aris?
"Dan yang nuduh mas Wawan. Kalau mas Wawan berani berucap kayak gitu, berarti mas Wawan udah melihatnya secara langsung kan?" Aris terus memojokkan Wawan supaya Wawan jera.
Wawan terdiam. Dia kehabisan kata. Emangnya kapan Wawan melihat Aris ke dukun? Inikan cuma dugaan Wawan, jadi Wawan bingung mau jawab apa.
"Kenapa mas Wawan diem?" tanya Aris sok polos.
Wawan akhirnya memberanikan diri untuk menatap Aris. "I-itu cuma dugaanku Ris," jawab Wawan setengah terbata.
"Dugaan? Dugaan itu belum tentu benar Mas," kata Aris sambil balik menatap Wawan dengan tajam.
Aris melihat tangan Wawan yang gemetaran, akhirnya dia tak tega buat melanjutkan.
"Oya, udah malem mas. Saatnya kalian istirahat. Tapi inget satu hal, jangan kebiasain sikap menuduh. Karena menuduh atau menduga itu belum tentu benar. Jaman sekarang udah canggih mas, kalau ada apa-apa tinggal rekam, tinggal klik, semua udah jadi barang bukti," kata Aris sambil menunjukkan ponselnya.
"Seperti yang aku lakukan sekarang, merekam pembicaraan kita," kata Aris sambil meninggalkan Wawan yang sudah tersudut.
Sementara Mega, sedari perdebatan antara Aris dan Wawan tadi. Dia hanya diam dan mencengkeram jemarinya. Takut kalau Aris akan nekad dan memukuli Wawan. Tapi rupanya, Aris gak memukul secara fisik melainkan pukulan langsung lewat mental. Jelas saja Wawan sampai tak berkutik. Aris benar-benar bukan lawannya.
__ADS_1
Di dapur, Aris mengintip Wawan yang berwajah pucat pasi. Tanpa sadar Aris tersenyum kecil. "Emang enak cari gara-gara sama aku. Aku emang diem, tapi aku gak akan diem kalau kesabaranku udah abis," gumam Aris sambil mengaduk kopinya.
Ya, mumpung malam. Jadi sekalian dia ngopi buat ngilangin rasa kantuk dan pusingnya.
...****************...
Setelah kejadian semalam itu. Hari ini Wawan menjadi pendiam. Yang biasanya dia selalu cari muka sama pak Bambang, kini kebiasaan itu sudah tidak ada lagi. Bahkan Wawan seperti ketakutan saat ingin melihat wajah Aris.
Aris yang menyadari sikap aneh Wawan akhirnya merasa senang. Karena Wawan sudah tidak akan lagi mengganggu keluarganya. Dan Aris akan pastikan, kalau Wawan akan berpikir dua kali lipat untuk mendekati Dinda. Sebab jika itu sampai terjadi, mungkin Aris akan jauh lebih nekat ketimbang yang semalam.
"Padahal itu cuma pelajaran kecil, tapi kamu udah takut mas," gumam Aris sambil melihat Wawan yang kini sudah bersiap untuk on the way.
"Kamu kenapa mas?" tanya Dinda curiga. Pasalnya hari ini Aris terlihat begitu ceria. Bahkan sekarang pun Aris senyum-senyum sendiri tanpa Dinda tahu apa penyebabnya.
"Enggak sayang. Mas seneng aja, akhirnya anak kita udah gak rewel lagi," jawab Aris sambil merapikan rambut Dinda yang sedikit berantakan.
"Masa gara-gara itu mas jadi senyam-senyum kayak gini?" Dinda masih gak percaya. Soalnya Dinda tahu banget, Aris ini orang yang jarang tersenyum kalau bukan hal yang serius.
"Kenapa? Tumben istriku ini kepo banget, hmm mas jadi gemes pengen cium kamu deh?" bisik Aris sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.
"Mau kemana?" tanya Aris saat Dinda menjauhinya.
"Kamar," jawab Dinda singkat.
Aris mendesah. Kalau udah begini, tandanya si Dinda lagi ngambek. Aris yang tadinya di ruang tamu, langsung buru-buru menyusul Dinda dan mengajak Dinda masu ke kamar.
'Telat 5 menit kayaknya gak masalah,' batin Aris sambil menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Lalu Aris menyudutkan Dinda ke tembok.
"Apa?" tanya Dinda ketus.
"Jatahku belum," jawab Aris yang langsung menyesap bibir Dinda tanpa ampun.
Dinda sempat ingin mengalungkan tangannya di leher Aris. Namun digagalkan oleh Aris, karena Aris langsung mengangkat tangan Dinda di dinding dan meletakkannya di samping kanan dan kiri kepalanya Dinda.
__ADS_1
Bunyi decapan itu terasa membahana. Itu karena ulah Aris yang melakukannya dengan terburu-buru. Jika Aris terlalu menikmatinya, yang ada gak jadi kerja. Ini hanya jatah sebelum berangkat, jadi Aris harus bergerak cepat sampai waktu yang ditentukan.
"Umh, kau membuatku gila Din," ucap Aris yang mengakhiri ciumannya. Dia membersihkan bibir Dinda yang basah dengan jari ibunya.
"Hah, hah!" Dinda tak menjawabnya. Nafasnya terlalu memburu akibat ulah Aris yang tiada kira itu. Makin kesini, ciuman Aris terasa sangat handal. Sampai-sampai Dinda tak mampu mengimbanginya lagi. Aris begitu panas untuk Dinda yang dingin. Bagaimana mungkin Dinda gak meleleh kalau tiap hari dipanasin Aris seperti ini?
"Mmuah, nanti lagi ya? Sekarang mas mau berangkat," pamit Aris sambil mencuri kecupan singkat dari bibir Dinda.
Aris bicara seperti itu karena Aris tahu, nafsu Dinda begitu besar. Aris yakin, pasti Dinda kurang dengan ciuman singkatnya. Jadi Aris berusaha mengimbanginya, eh gak tahunya jadi kebiasaan dan Aris jadi semakin lihai menggoda sang istri.
"Iya mas," kata Dinda sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
"Kamu super hot mas, kalau begini terus, bisa-bisa aku lemas tiap hari," gumam Dinda setelah Aris keluar dari kamar.
Setelah nafasnya sudah teratur, Dinda menyusul keluar dan bersaliman dengan Aris.
"Kalau ngantuk bobok aja, nanti mas kabarin kalau udah sampai," kata Aris sambil menatap Dinda dengan sayang. Berat memang punya istri cantik, tiap hari rasanya gak rela buat ditinggal pergi.
"Iya mas, hati-hati. Semangat kerjanya ya?"
"Makasih sayang, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Dinda sambil berdarah ria.
"Emm Din!" panggil Mega tiba-tiba.
Dinda mengangkat alis kanannya, heran kenapa Mega menghampirinya?
"Ada yang ingin mbak Mega omongin ke kamu. Ini penting," kata Mega lagi.
Tadinya Dinda biasa saja. Mendengar kata penting, Dinda jadi penasaran.
"Emang apa?" tanya Dinda.
Bersambung...
__ADS_1