
***
Pagi hari.
Semua orang sudah bangun. Terlihat Mega dan Bu Lastri sudah sibuk di dapur. Ya, setidaknya Mega pandai memasak. Jadi Bu Lastri merasa cocok banget dengan Mega. Sementara Mega, dia rela begini karena ingin cari perhatian ke Jo.
"Wah, mantu ibuk. Pinter masak ternyata," puji Bu Lastri dan dibalas senyuman ramah oleh Mega.
"Ah, ibuk bisa aja."
Sementara itu, Dinda sama Nesa lagi asik mengurusi Raskha. Dan rencananya, setelah Raskha sudah beres. Dinda mau keluar kamar, membantu bersih-bersih mungkin.
"Oya Din, udah USG belum?" tanya Nesa memastikan.
"Aku gak pernah periksa mbak," jawab Dinda dengan jujur.
"Kok bisa? Aris gak nyuruh kamu periksakah? Kalau gitu, biar mbak aja yang ngomong ke dia," ujar Nesa tanpa berpikir panjang.
"Jangan mbak!" larang Dinda. Bukannya Aris gak nyuruh periksa. Hanya saja, Dinda malu. Mungkin nanti dia minta diantarkan oleh Aris. Lagian sekarang dia sudah menikah. Jadi kayaknya sudah sah-sah aja kalau Dinda minta diantarkan.
"Kenapa? Kamu itu mengandung anaknya Aris lho Din, jadi tugas dia itu nganterin kamu periksa. Biar tahu perkembangan janinmu gimana, terus perkiraan lahirnya kapan? Periksalah kamu, biar tahu!" ujar Nesa sambil memberi tahu.
"Iya mbak, nanti Dinda periksa kok. Makasih ya mbak, udah ngasih tahu Dinda soal ini," kata Dinda sambil memeluk Nesa dari samping.
"Sama-sama Din. Ya udah sana, urusin suamimu. Mbak juga mau urusin suami mbak," kata Nesa sambil menggendong Raskha.
Dinda mengekori Nesa. Dia bingung mau berbuat apa ke Aris. Nanya baju? Nanya sarapan? 'Ya Allah, kenapa rasanya jadi begini?' Dinda tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang.
'Rileks Dinda, rileks. Kamu harus bisa melayani suamimu,' batinnya lagi mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Kamu udah bangun?" tanya Aris lebih dulu.
Dinda hanya balas mengangguk. Tiba-tiba saja dia jadi malas melihat wajah Aris. "Aku ke dapur dulu," pamitnya setengah jutek.
Aris jadi berpikiran yang tidak-tidak. Pasalnya Dinda sekamar dengan Nesa. Tadi malam Dinda tak sejutek ini, kenapa pagi ini sikapnya jadi berubah?
'Jangan-jangan, Nesa ngehasut Dinda soal aku,' batinnya sambil menatap Nesa.
"Apa lihat-lihat?" hardik Nesa secara langsung.
Aris kesal. Dia sudah tak cinta lagi sama Nesa. Takut kalau Dinda atau Jo tahu, yang ada malah salah paham. Jadi Aris segera menjawabnya.
"Aku cuma lihatin anakmu. Siapa tahu anakku juga cowok," jawabnya santai.
"Oh, ajak tuh si Dinda periksa. Biar tahu kapan waktu persalinannya," saran Nesa.
Dan Aris baru sadar. Kalau Dinda gak pernah lagi memeriksakan kandungannya. "Iya, nanti."
"Awas aja kalau kamu sakitin Dinda. Aku gak akan beri ampun buat kamu!" ancam Nesa sambil berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Si Nesa galak amat. Untunglah jodohku bukan dia. Kalau iya, mungkin aku sudah masuk penjara lagi gara-gara KDRT terhadap istri. Astaghfirullah," gumam Aris geleng-geleng kepala.
Di dapur.
"Eh Dinda," sapa Mega tiba-tiba.
"Iya Mbak. Masak apa nih?" tanya Dinda sambil menatap sesuatu yang dipegang oleh Mega.
"Nih, oseng mi." Terlihat Mega sangat mahir memegang spatula. Mungkin si Mega sudah biasa memasak.
"Kenapa lihatin aku segitunya?" tanya Mega sambil cekikikan.
"Mbak pinter masak ternyata," jawab Dinda dengan jujur.
"Ow, biasa aja Din. Mbak dulunya jurusan tataboga," jawab Mega.
"Ow pantesan!" Dinda manggut-manggut. Pantas saja kalau Mega kayak cekatan banget. Ternyata dia dulunya lulusan tataboga.
"Dinda, ngapain di sini?" tanya Bu Lastri yang baru keluar dari kamar mandi.
"Lihat mbak Mega masak Bu," jawabnya.
"Suamimu udah kamu bikinin kopi belum Din? Kalau belum, ibu nitip kopi buat ayah ya?" kata Bu Lastri sambil menyiapkan kopi buat suaminya.
"Oiya Mega, jangan lupa buatkan kopi buat Wawan. Dia suka ngopi juga kalau pagi gini," ucap Bu Lastri lagi.
"Iya Buk," jawab Mega agak malas.
"Jadi seneng ya. Semua udah punya pasangan. Terus sekarang udah ada yang nyiapin sendiri-sendiri." Bu Lastri terus berucap, tangannya sambil mengaduk kopi.
"Nah itu Nesa. Mau buatin susu Raskha ya Nes?" tanya Bu Lastri saat Nesa menuangkan air panas ke dalam gelas.
"Teh Bu. Mas Jo mau dibuatkan Teh," balas Nesa.
"Bagus, gitu kalian juga. Melayani suami," terang Bu Lastri.
Melihat Dinda yang sudah selesai membuat kopi, Bu Lastri langsung membuka mulutnya. "Nitip buat ayah Din."
"Iya Bu," jawab Dinda sambil mengambil baki.
Ruangan dapur terasa penuh gara-gara dihuni oleh 4 wanita. Suasana makin ramai aja.
"Eh Mega, buruan bikinin kopi buat Wawan. Nanti dia meri (ngiri) lihat yang lain udah dibuatkan oleh istrinya," kata Bu Lastri mengingatkan Mega. Sepertinya Bu Lastri ini golongan ibu-ibu yang cerewet namun perhatian.
"Iya buk." Mega langsung mematikan kompornya. Dia segera membuatkan kopi untuk Wawan.
'Biar tahu rasa,' batin Mega sambil tersenyum licik.
Dengan pelan Dinda menuju ke depan. "Eh, buat siapa sayang?" tanya Aris yang melihat Dinda membawa 2 gelas kopi.
__ADS_1
"Kopi Mas, buat kamu," ucap Dinda. "Emm, yang tutupnya biru," lanjut Dinda saat Aris hendak mengambil kopi buatan Bu Lastri.
"Ow, makasih ya," ucap Aris sambil mengambil segelas kopi tadi.
"Yang satu?" tanya Aris curiga. 'Jangan-jangan buat Wawan,' duganya dalam hati.
"Ini buat Ayah. Ibu yang bikinin," jawab Dinda sambil menuju ke ruang tamu.
"Oh." Aris hanya membulatkan mulutnya. Dia hampir saja curiga pada istrinya. Untunglah, Dinda hanya membuatkan kopi untuknya.
Kemudian disusul oleh Nesa di belakangnya. Aris diam saja, begitu juga dengan Nesa. Seperti ada perang batin di antara mereka. Tak lama kemudian, Mega muncul dan membawa segelas kopi. Mungkin buat Wawan. 'Syukurlah, si Wawan udah ada yang ngurusin,' batin Aris sedikit lega.
"Ngopi juga?" tanya Mega, mungkin bermaksud menyapa.
"Iya Mbak," jawab Aris sambil mengangguk.
"Ya udah, lanjutkan!" kata Mega sambil berlalu.
Aris menatap ke depan. 'Kenapa Dinda lama banget ya?'
"Mas Wawan, nih kopinya! Special for you," kata Mega sambil menyunggingkan senyum termanisnya.
'Cuih!' Rasanya si Mega pengen muntah.
'Tumben si nenek lampir bersikap manis kayak gini? Oiya, kan banyak orang,' batin Wawan yang sempat curiga.
"Din, mau kemana?" tanya Wawan saat melihat Dinda yang mau pergi.
"Nemenin suami Dinda, Mas," kata Dinda mengingatkan Wawan. Sebab, si Wawan dari tadi mengajaknya ngobrol. Untung Mega cepat datang, jadi si Dinda punya alasan untuk pergi.
"Diminum atuh Kang?" pinta Mega menirukan logat Sunda.
Tanpa curiga lagi, Wawan langsung menyeruput kopi buatan Mega.
"Pffffft! Lu gak ngasih gula?" tanya Wawan dengan emosi.
"Enggak," jawab Mega tanpa rasa bersalah.
"Mau lu apa hah?" Wawan menatap Mega dengan kesal.
"Mau ku, tatap aja aku. Aku kan manis. Lagian ya, yang namanya kopi itu pahit. Mana ada kopi manis. Dasar IQ rendah," ejek Mega sambil berlalu.
"Sialan. Nenek lampir itu makin gak tahu diri," ucap Wawan kesal dengan tingkah laku Mega yang begitu menyebalkan.
Di ruang tengah. Dinda duduk menemani Aris. Tidak ada yang sepesial. Dinda sebenarnya malas menatap muka Aris. Dia begini karena ada maksud lain. Yaitu minta dianterin periksa ke bidan.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Aris penuh perhatian. Sikap Aris benar-benar berubah 100%. Sikap sangar dan kejamnya mendadak hilang di mata Dinda. Tapi secuil-pun Dinda masih enggan membuka hatinya untuk Aris. Baginya Aris tetaplah monster yang merusak masa depannya.
Bersambung...
__ADS_1
Akankah Dinda mau membuka hati untuk suaminya?