
"Dinda, kamu yang sabar ya. Ayah mau menemani Lia. Suamimu lagi dievakuasi dan mau dibawa ke rumah sakit," kata pak Bambang sambil menepuk pundak Dinda.
"Dinda ikut Yah," pinta Dinda sambil menatap pak Bambang penuh harap.
"Kamu di rumah aja Din. Keadaanmu belum pulih, terus Zahra gimana? Dia juga butuh kamu." Pak Bambang menjelaskan.
"Biar Zahra ku ajak Yah," pinta Dinda lagi. Anggap saja Dinda egois, dia begitu karena dia hanya ingin bertemu dengan suaminya. Entah bagaimana pun keadaannya Aris, Dinda hanya ingin melihatnya.
"Dinda, yang sadar Nduk. Kamu baru melahirkan lho. Apalagi ini udah malam, gak baik buat Zahra. Dia bayi merah, harus tetap stay di rumah. Jadi biarin ayah aja yang ke rumah sakit. Kamu di rumah aja ya Nduk?" bujuk pak Bambang kepada anaknya.
Hatinya seperti teriris melihat kesedihannya Dinda selama ini. Kalau dipikir-pikir, pak Bambang juga andil dalam menyakiti Dinda.
'Maafin ayah nak. Selama ini ayah udah berbuat salah ke kamu,' batin pak Bambang lagi. Setelah anaknya dalam kesulitan, barulah dia sadar.
"Gak Yah. Dinda gak tenang di sini. Dinda ingin bertemu mas Aris, Yah. Dinda ingin tahu keadaannya." Dinda terus berusaha memaksa agar diijinkan ikut ke rumah sakit.
"Dinda, cukup doain Aris. Doain dia baik-baik aja. Selamat dan kembali ke rumah ini. Kalian mau menikah kan?"
Dinda mengangguk mengiyakan.
"Ya udah, kalau gitu doain aja. Doain Aris gak kenapa-kenapa."
Dinda menatap pak Bambang ragu. Keadaan dia dan anaknya emang menyulitkan Dinda untuk ikut ke rumah sakit. Andai Mega bisa dipercaya, pasti Dinda sudah menitipkan anaknya ke Mega. Tapi semua itu mustahil, Dinda gak percaya sama Mega, Wawan apalagi Bu Lastri.
"Tapi Yah. Gimana Dinda bisa tenang kalau Dinda gak melihat keadaan mas Aris secara langsung? Ku mohon Yah, ijinin Dinda ikut." Dinda terus memaksa.
"Ya udah, tapi besok aja ya. Biar Zahra dijagain sama mbak Mega. Kalau ibu? Dia lagi sakit, jadi biarin ibu istirahat. Takut kalau Zahra ketularan juga kan?"
Dinda sedikit berpikir. Sepertinya omongan ayahnya ada benarnya juga. Tapi Dinda gak mungkin rela anaknya di jaga Mega. Lebih baik Dinda minta Lia aja buat jagain si Zahra. Tapi gak ada salahnya juga kalau Dinda mengiyakan dulu ucapan ayahnya itu.
"Ya udah deh Yah. Kalau ayah udah sampai sana, langsung kabarin Dinda ya Yah. Biar Dinda tenang," mohon Dinda sambil memegang jemari tangan ayahnya.
Pak Bambang langsung mengangguk tak berdaya. Semua kesalahannya, kali ini Dinda harus bahagia.
__ADS_1
"Iya Nak. Ya udah, ayah berangkat ya. Kamu istirahat, jangan mikir yang macam-macam. Assalamualaikum," pamit pak Bambang sambil memberikan pesan kepada Dinda.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ayah," jawab Dinda dengan wajah yang masih kelihatan gelisah.
Setelah pintu kamarnya ditutup oleh pak Bambang. Kini air matanya langsung mengalir dengan derasnya.
"Mas Aris, semoga kamu gak apa-apa mas. Berjuanglah demi keluarga kita yang baru akan kita mulai ini," gumam Dinda sambil terisak.
Sementara itu. Wawan yang berada di ruang TV langsung bertanya ke pak Bambang yang terlihat sangat panik.
"Ada apa Yah? Kok panik gitu?" kata Wawan pura-pura perduli atau emang perduli? Susah dibedakan memang.
"Aris kecelakaan Wan," jawab pak Bambang memberitahu.
"Innalilahi, terus gimana kondisinya Yah?" tanya Wawan sok ingin tahu.
"Ayah gak tahu Wan. Ya udah, ayah pergi dulu ya? Titip Dinda," pamit pak Bambang dan dia segera menuju ke kamarnya. Mungkin mau pamitan kepada istrinya juga.
"Siap Yah. Dinda pasti aman bersama kami," kata Wawan seneng.
...****************...
Kini pak Bambang sudah sampai di TKP (Tempat Kejadian Perkara) dan ternyata dia kalah cepat. Aris sudah dilarikan lebih dulu ke rumah sakit. Jadi melihat Aris gak ada di tempat kejadian, pak Bambang langsung tancap gas menuju ke rumah sakit.
"Ya Allah, semoga Aris gak parah. Aamiin," doa pak Bambang saat di tengah perjalanannya.
"Lia, Lia!" panggil pak Bambang saat dia sudah menginjakkan kakinya di depan ruang IGD.
"Iya Pak!"
Mata sembab, tangan dan baju penuh darah menandakan kalau Aris benar-benar mengalami kecelakaan.
"Gimana Aris?" tanya pak Bambang khawatir.
__ADS_1
"Belum tahu Pak. Dari tadi saya menunggu, tapi dokternya belum juga keluar."
"Ibumu gimana?" tanya pak Bambang lagi.
Kali ini Lia hanya menggelengkan kepalanya.
"Mbak Dinda di rumah kan pak?" tanya Lia ingin memastikan.
"Iya, dia ingin kesini. Tapi bapak larang. Soalnya dia baru melahirkan, keadaannya belum fit. Apalagi bayinya juga masih kecil, jadi bapak cegah buat ikut kesini."
"Iya Pak, Lia paham. Tapi mas Aris sedari tadi memanggil-manggil namanya mbak Dinda. Jadi biar Lia yang jagain Zahra, dan mbak Dinda kesini jagain mas Aris," kata Lia yang tak tega melihat keadaan Aris sehabis kecelakaan tadi.
'Gimana ya keadaan mas Aris? Semoga mbak Dinda masih mau menerima mas Aris, apapun keadaannya,' batin Dinda penuh harap. Mengingat wajah Aris yang berlumuran darah, dan kakinya yang sempat terjepit. Sebagai adiknya, Lia hanya berdoa atas keselamatan kakak satu-satunya itu.
"Iya, tapi jangan sekarang ya. Kalau bisa besok saja. Biarkan Dinda istirahat dulu. Bapak gak tega lihat Dinda terus-terusan menangis," cerita pak Bambang. Dia lupa, bahwasanya dia juga pernah membuat Dinda menangis karena perbuatannya.
Ceklek!
Pintu IGD terbuka, keluarlah seorang dokter mengenakan jas putih, masker dan sarung tangan lengkap.
"Maaf, keluarganya Aris dan Bu Rukmini?" tanya dokter itu menatap Lia dan pak Bambang secara bergantian.
"Saya Dok!" sahut Lia dan pak Bambang secara bersamaan.
"Gimana keadaan mas dan ibu saya Dok?" tanya Lia yang sudah tak sabar.
"Alhamdulillah, ibumu masih selamat," kata dokter itu yang membuat Lia dan pak Bambang sedikit lega. Tapi kenapa hanya ibu saja? Arus bagaimana? Pikir Lia yang kembali tidak tenang.
"Kalau mas Aris Dok? Gimana keadaannya?" tanya Lia dan pak Bambang yang mendengarnya jadi tegang sendiri. Pak Bambang takut memberikan jawaban apa untuk Dinda nantinya. Sebab sampai sekarang pun, telepon Dinda masih diabaikan oleh pak Bambang.
"Nak Aris, dia belum sadarkan diri. Berdoalah, semoga mas Arismu segera sadar," kata dokter itu sambil menghembuskan nafas berat.
Susah memang, inginnya memberikan kabar bagus untuk semuanya. Tapi keadaan Aris memang begitu adanya. Masih selamat, hanya saja belum sadarkan diri. Semoga ada keajaiban, biar Aris segera sadar dan bisa berkumpul dengan keluarganya kembali.
__ADS_1
Bersambung...