
***
Pagi-pagi buta, di kediaman pak Bambang didatangi oleh seorang pemuda yang begitu kurus tinggal tulang. Entah penyakit apa yang dia derita. Tapi dia ke sini hanya ingin bertemu dengan Dinda.
Si Mega orang pertama yang mendengar ketukan pintu rumah. Sebab Aris dan Dinda sedang melaksanakan ibadah sholat subuh. Sementara Mega, dia sedang tidak ngapa-ngapain selain hanya tiduran. Sebenarnya mereka tidak sedang tidur bersama. Karena Wawan memilih tidur di bawah.
"Siapa sih, subuh-subuh gini datang bertamu?" gumam Mega dengan malas. Dia segera bangun dan merapikan rambutnya.
Mega sempat menatap Wawan. Tapi kemudian dia mencibir. "Ganteng-ganteng, kelakuan kayak setan. Ngorok lagi," gumamnya sambil berjalan keluar.
"Ya, cari siapa?" tanya Mega malas saat melihat pria jangkung (kurus tapi tinggi) di hadapannya.
Pria ini sempat kaget melihat ada wanita lain di rumah pak Bambang. Masa sih rumahnya dijual? Tebak pria kurus itu yang tak lain adalah mantan suami Dinda alias Briyan.
"Ini rumah Dinda kan?" tanya Briyan memastikan.
"Iya kenapa?" jawab Mega dengan jutek. Dia ini memang tipe wanita jutek sejak dari remaja. Jadi sikapnya susah dihilangin.
"Saya mau ketemu sama Dinda," jawab Briyan kemudian.
"Kamu siapa?" tanya Mega ingin tahu. Siapa tahu hari ini ada gosip baru yang akan dia bahas bareng Bu Lastri.
"Bilang aja teman kampusnya," dusta Briyan. Sebab kalau dia jujur, Dinda tak akan pernah mau menemuinya.
"Oke, tunggu sebentar." Mega berlalu dan mengetuk pintu kamar Dinda. 'Merepotkan sekali,' batin Mega kurang ikhlas. Mengingat semalam Aris menolak ajakannya, jadi sekarang Mega malas buat ketemu sama Aris. Kirain Mega, Aris mudah digoda. Ternyata, susah minta ampun.
"Din, ada tamu nyariin kamu!" panggil Mega sambil mengetuk kamar Dinda.
"Sopo Ga?" tanya Pak Bambang yang tak sengaja melintas di belakang Mega.
"Gak tahu Yah. Katanya temen kampus," jawab Mega jujur.
"Ow, Aris di dalam?" kata pak Bambang curiga. Soalnya Aris gak bisa dibiarin berduaan lama-lama sama Dinda. Takut kalau Aris bakal ngapa-ngapain Dinda, pikir pak Bambang khawatir.
"Kayaknya iya Yah," jawab Mega lagi.
"Dari semalem?" tanya pak Bambang dan kebetulan pintu langsung terbuka.
"Habis ngapain kalian?" tuding pak Bambang seketika.
Padahal Aris baru nongol dan ingin keluar. Dia langsung dikagetkan dengan tudingan yang tak mengenakkan.
"Habis sholat Yah," jawab Aris jujur.
"Oiya, ada apa mbak?" tanya Dinda yang muncul dari belakang Aris.
__ADS_1
"Ada temen kampusmu di luar," jawab Mega. "Oiya, dia nungguin kamu," lanjutnya lagi.
"Siapa mbak?" tanya Dinda memastikan. Setahunya dia gak punya teman dekat di kampus.
"Coba kamu lihat di luar. Soalnya dia gak bilang namanya," jelas Mega. Dia terlihat gak ada masalah sama Dinda atau Aris. Ini cuma perang batin biasa di antara mereka.
"Aku temenin ya?" tawar Aris takut kalau Dinda bakalan kenapa-kenapa.
Dinda mengangguk.
"Tuh, jaga Dinda!" Pak Bambang mengingatkan Aris.
"Pasti Yah," jawab Aris. 'Tanpa Ayah suruh, aku pasti akan menjaga istriku,' sambungnya dalam hati.
Dinda berjalan pelan menuju ke depan. Berkali-kali dia sempat menatap Aris buat meyakinkan dirinya. Namun Aris hanya memberikan anggukan tanda setuju dengan keputusan Dinda.
"Astaghfirullah, Bang Briyan!" Dinda kaget melihat kondisi tubuh Briyan yang begitu kurus tak terawat.
Aris belum menampakkan diri, dia hanya standby di belakang Dinda. Tapi waktu nama Briyan disebut-sebut, membuat Aris penasaran dan langsung berjalan ke samping Dinda.
"Mau apa lu?" tanya Aris dengan sarkastik. Aris takut Briyan menggoda istrinya.
Briyan tak memperdulikan keberadaan Aris. Yang dia perlukan sekarang hanya Dinda.
"Din, Abang mau minta maaf sama kamu," ucap Briyan dengan raut wajah yang begitu sedih.
"Buat apa minta maaf Bang? Semuanya udah berakhir, gak ada yang perlu disesali," ucap Dinda. Dia enggan mendekat.
Aris hanya diam saja menyimak. Toh Dinda sudah tak tergoda lagi oleh mantan suaminya itu.
"Tapi Din, Abang banyak berbuat salah sama kamu. Abang udah banyak dosa sama kamu. Jadi Abang minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu Din. Please, maafin Abang. Kali ini aja. Uhuk uhuk."
Aris jadi tak tega melihat Briyan. Apalagi Briyan sepertinya kurang sehat.
"Em, sayang," panggil Aris pelan. Dinda segera menoleh ke arah Aris.
"Gak apa-apa, maafin aja dia. Sepertinya dia lagi gak sehat. Aku takut kalau kamu berlama-lama di sini, nanti kamu ikutan batuk." Khawatir sudah si Aris dengan keadaan Dinda. Soalnya Dinda hamil besar, kalau sampai sakit... gimana dengan persalinannya nanti?
Dinda agak sedikit keberatan. Tapi ucapan Aris ada benarnya juga. Briyan memang tak baik-baik saja. Jadi gak ada salahnya buat Dinda untuk memaafkannya.
"Iya Bang. Ini karena suami Dinda yang nyuruh, jadi Dinda maafin Abang," balas Dinda dan membuat Briyan lega. Setidaknya Briyan sudah mendapatkan maaf dari orang yang pernah dia sakiti.
"Nuhun banget ya Din. Abang bersyukur, akhirnya kamu maafin Abang."
"Sama-sama, biarin Dinda istirahat dulu ya. Dia gak boleh lama-lama berdiri," serobot Aris sambil mengajak Dinda masuk.
__ADS_1
Setelah Dinda masuk ke dalam rumah, kini Aris menyuruh Briyan untuk duduk di kursi teras.
Dinda pikir, Aris bakalan mengusir Briyan. Tapi ternyata Aris malah menyuruhnya duduk. Padahal Briyan mantan suami Dinda, apakah Aris gak cemburu?
"Kayaknya lu gak sehat? Lagi sakit ya?" tanya Aris pada Briyan.
"Iya Bro. Gue lagi ada sakit. Makanya gue minta maaf sama Dinda. Oya, btw kalian udah menikah? Selamat ya, maafin gue yang pernah nyia-nyiain istri lu," ucap Briyan lagi.
Aris melihatnya sangat kasihan. Briyan sepertinya sungguh-sungguh minta maaf.
"Gue udah maafin lu. Jangan berpikiran yang enggak-enggak, lu harus fokus sama kesembuhan lu dulu," ujar Aris sambil menepuk pundak Briyan.
Dinda yang melihatnya dari balik tirai jendela ruang tamu jadi terharu dengan sikap Aris. Ternyata di balik sikap jahatnya, Aris punya hati yang begitu baik pada orang.
"Nuhun ya Bro. Kalian berdua emang pasangan yang serasi. Semoga kalian bahagia sampai akhir hayat kalian nanti, aamiin," doa Briyan dengan setulus hatinya.
"Aamiin, semoga penyakit yang lu derita juga cepat hilang ya. Gue yakin lu pasti kuat," kata Aris sambil mendoakan Briyan balik. Karena Aris tahu, Briyan pasti sedang sakit keras. Perubahan tubuhnya yang tidak signifikan dan juga kantung matanya yang cekung ke dalam. Melihat dulunya Briyan sehat bugar, badan segar. Sekarang kurus tinggal tulang. Seperti orang yang tak terurus sama sekali.
"Aamiin. Ya udah, gue pamit dulu ya. Salam buat semuanya," ucap Briyan sambil berdiri hendak berpamitan.
"Tunggu!" cegah Aris.
Briyan langsung menoleh. "Tunggu sebentar ya," ucap Aris menahan kepergian Briyan. Tak disangkanya saat Aris hendak masuk ke dalam rumah, dia hampir saja tabrakan dengan Dinda.
"Em sayang, aku mau ke dalam bentar ya," pamit Aris terlihat buru-buru.
Dinda merasa aneh. Padahal Dinda ada di depan matanya, emang siapa yang dicari oleh Aris?
Tiba-tiba Aris sudah ada di dekat Dinda. "Briyan mau pamit, kamu gak mau nemuin dia lagi kah?" tanya Aris. Aris benar-benar mengijinkan Dinda.
Dinda menggeleng. "Kenapa? Ada aku yang akan melindungimu, jangan takut!" bujuk Aris dan akhirnya Dinda ikut keluar.
"Eh Dinda, semoga kelahirannya lancar ya?" doa Briyan yang kini sudah berdiri hendak berpamitan.
"Makasih Bang. Cepet sembuh ya?" Kini Dinda yang berucap. Meskipun Dinda jijik sama Briyan, tapi mendoakan sepertinya tak ada salahnya juga.
"Iya Din, nuhun ya. Semoga selalu bahagia," kata Briyan lagi.
Aris tersenyum. Dia mendekat ke arah Briyan. "Ini sedikit dari kami. Semoga bisa membantu," kata Aris sambil menggenggamkan sebuah amplop ke tangan kanan Briyan. Briyan sempat menolaknya. Tapi Aris juga kekeh memberikannya.
"Ini rejeki Bro. Kamu gak boleh nolak," kata Aris dan akhirnya Briyan mau menerimanya.
"Makasih banyak ya buat kalian. Semoga Allah membalas kebaikan kalian."
"Aamiin," jawab Aris dan Dinda. Lalu Briyan berpamitan dan pergi dari tempat itu. Semoga ini bukan pertemuan terakhir mereka.
__ADS_1
Bersambung...