Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Kasihan


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Buk, titip Zahra ya. Kami mau melawat ke rumahnya mbak Mega," ucap Dinda minta tolong.


"Iya sayang. Jangan sungkan kayak gitu dong? Anggap aja ibu ini seperti ibu kandung sendiri, biar semuanya terasa ringan gak jadi beban dipikiran kamu," kata Bu Rukmini memberitahu Dinda.


Bu Rukmini tahu kok bagaimana rasanya hidup bersama mertua? Makanya sekarang dia lebih memilih akrab dari pada ada jarak yang membuat perselisihan.


"Makasih banyak ya Buk." Dinda jadi terharu. Seumur-umur dia merasakan kasih sayang seorang ibu baru kali ini, bukan kasih sayang dari ibu kandungnya. Tapi Allah mengirimkan ibu mertuanya sebaik ini.


"Gak usah makasih nak. Ini udah tugas ibu buat membantu anaknya. Lagian Zahra itu cucu ibu, jadi kamu jangan berpikiran yang macem-macem ya." Bu Rukmini menenangkan Dinda.


Dinda akhirnya mengangguk dan berpamitan. Aris juga ikutan berpamitan.


"Buk, berangkat dulu ya?" pamitnya pada Bu Rukmini.


"Zahra, yang pinter ya." Aris mencium pipinya Zahra dan kali ini keduanya menuju ke rumahnya nenek Nur.


Sesampainya di sana. Rumah itu terlihat agak sepi.


"Mungkin udah berangkat dikuburkan mas," kata Dinda sambil melihat di sekelilingnya.


"Ya udah gak apa-apa, kita tunggu di sini aja."


Setelah dipersalahkan masuk oleh tetangganya Mega, Aris dan Dinda segera masuk dan duduk sambil bercakap-cakap sedikit mengenai nenek Nur.


Dari sini Dinda jadi merasa kasihan pada Mega. 'Kasihan mbak Mega. Ternyata dia udah menjadi yatim-piatu dari kecil. Pasti dia gak bisa merasakan kasih sayang orang tuanya. Dan sekarang, apa iya aku udah merenggut kebahagiaannya?' batin Dinda merasa bersedih.


Tak lama kemudian, terlihat Mega, Bu Lastri dan pak Bambang baru pulang dari makam.


"Ayah," panggil Aris sambil berjabatan tangan dengan pak Bambang, disusul dengan Mega dan terakhir Bu Lastri. Begitu juga dengan Dinda, dia mengikuti jejak Aris tadi.


"Turut berdukacita ya mbak," kata Dinda saat menjabat tangan Mega.

__ADS_1


Mega mengangguk sambil mengusap air matanya. "Maafin nenek," ucap Mega mewakili almarhumah nenek Nur.


"Sami-sami mbak," jawab Dinda dan keduanya kembali duduk.


Terasa sekali suasana duka di dalam rumah ini. Mata Mega dan wajahnya yang seperti begitu kehilangan. Ya, mungkin ini adalah puncak deritanya Mega. Semua orang terdekatnya meninggalkannya, termasuk Wawan suaminya yang kini sah mendekam di penjara 15 tahun ke depan. Akankah Mega bisa bertahan selama itu?


Sementara itu, terlihat wajah Bu Lastri yang sama sedihnya dengan Mega. Bu Lastri sedih karena sikap cuek pak Bambang kepadanya yang belum kunjung usai. Mungkin perang batin di antara mereka belum berakhir, dan rumah tangga mereka juga belum jelas.


Kalau Bu Lastri sebenarnya masih ingin bertahan. Tapi rasanya dia sudah tak punya muka lagi buat masuk ke dalam keluarga pak Bambang lagi. Tapi untuk bercerai? Bu Lastri tak akan pernah mau.


Aris yang melihatnya jadi tak tega. Permasalahan ini berawal dari Aris yang nekat masuk ke dalam keluarga pak Bambang. Tapi bagaimana lagi? Takdir berjalan seperti keinginannya. Apakah ini pertanda harapannya tercapai?


Hening dan sesekali terdengar isakan tangis dari mulut Mega. Hingga Aris dan Dinda memutuskan untuk pulang.


"Yang sabar ya mbak. Semoga amal ibadah nenek Nur diterima disisi-Nya," ucap Dinda mencoba menenangkan Mega.


"Aamiin. Makasih ya Din. Meskipun suamiku jahat pada kalian, tapi kalian gak musuhin aku. Aku merasa sangat bersyukur karena kalian masih baik sama aku," kata Mega sambil menggenggam erat jemari Dinda.


Mega sudah pasrah akan nasibnya pada yang Maha Kuasa. Jika ini memang jalannya, dia hanya bisa pasrah. Mungkin memang nasibnya harus membesarkan anaknya sendirian tanpa campur tangan suaminya.


"Kami pulang mbak, jaga diri mbak Mega baik-baik ya," ucap Dinda sambil memberikan pelukan hangat untuk Mega.


Mega mengangguk dan menitikkan air matanya. Sekarang kini tinggal mereka bertiga di rumah itu. Pak Bambang sepertinya juga ingin berpamitan. Sungguh nasib keluarga ini menjadi begitu buruk. Tak ada keharmonisan lagi si dalamnya.


"Ayah juga mau pamit Mega. Soalnya ada urusan penting yang harus ayah selesaikan. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungin ayah. Insya Allah, ayah akan berusaha untuk datang," katanya sambil melirik Bu Lastri.


Pak Bambang masih bungkam dan enggan berbicara dengan Bu Lastri. Jadilah setelah berkata seperti tadi, dia langsung pergi begitu saja.


Tangis Bu Lastri langsung pecah. Dia sudah tak tahan hidup seatap dengan pak Bambang lagi.


"Mega, boleh gak kalau ibu tinggal sama kamu?" ijinnya agak takut-takut. Masalahnya dia di sini juga ingin menumpang. Ada sih rumah di kampung, masa iya Bu Lastri harus balik ke asal lagi?


"Terserah ibuk aja." Kali ini Mega pasrah. Toh dia cuma sebatang kara. Tak punya siapa-siapa lagi.

__ADS_1


"Serius nak?" tanya Bu Lastri memastikan.


Mega malas banyak bicara. Jadi dia cuma mengangguk sembari bersalaman dengan tamu yang datang melawat nenek Nur.


"Makasih ya nak." Bu Lastri sedikit lega. Akhirnya dia akan melanjutkan hidupnya bersama Mega. Tapi sebenarnya dia masih cinta dengan pak Bambang. Mungkinkah pak Bambang juga masih mencintainya?


***


"Mas," panggil Dinda saat keduanya sudah berada di rumah. Sedari tadi pikiran Dinda terganggu soal Mega.


"Iya sayang. Ada apa, hm?" tanya Aris sambil mengelus pipi Dinda. Saat ini Aris tengah mengerjakan pekerjaannya. Ada beberapa laporan yang harus ia selesaikan secara online.


"Aku kok kasihan sama mbak Mega ya," ucap Dinda sambil menunduk sedih.


Aris menghentikan aktifitasnya. Saat ini dia lebih fokus mendengarkan Dinda dan memberikan perhatian lebih pada istrinya ini. Mana mungkin Aris menyia-nyiakan Dinda. Sudah lama dia menunggu Dinda, dan sekarang dia sudah mendapatkannya. Jadi sampai kapanpun Aris akan selalu berusaha membahagiakan Dinda, sampai akhir hayatnya.


"Kenapa kok gitu?" tanya Aris menanggapi ucapan Dinda barusan.


"Dia udah kehilangan neneknya mas. Terus dia juga lagi hamil. Pasti dia sangat tersiksa saat hamil tapi suaminya gak ada di sisinya," kata Dinda lagi.


"Iya kalau kasihan sih, kasihan. Terus apa yang harus kita lakuin?"


Dinda setengah berfikir. Rasanya dia belum ikhlas untuk mencabut laporannya.


"Entahlah mas, Dinda cuma kasihan aja," jawabnya yang kini menangis di pelukan Aris.


"Udah sayang. Jangan nangis! Mas tersiksa kalau lihat kamu nangis kayak gini," balas Aris sambil mengusap punggung istrinya itu.


Bukannya diam, yang ada tangisan Dinda makin pecah. Aris tak bisa melakukan apa-apa selain membujuk istrinya untuk diam.


"Udah dong sayang. Apa kamu mau kita jalan-jalan?" ajak Aris, siapa tahu dengan begini Dinda akan melupakan rasa kasihannya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2