Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Kesedihan Bu Lastri


__ADS_3

"Mbak Mega nyalahin aku mas," tangis Dinda saat Aris mengelus pundaknya.


"Kamu gak salah sayang. Karena kamu udah berusaha membuktikan kebenarannya pada yang lain, bahwa di sini yang salah adalah mas Wawan."


Dinda mengangguk. Dia sakit hati saat suaminya disalah-salahkan terus di rumah ini. Tapi di saat Wawan yang salah, kenapa mereka marah?


"Lalu kita gimana mas?" tanya Dinda, dia sudah tak tahan tinggal di rumah ini.


"Seperti yang kamu minta Din. Kita pindah ke rumah ibuk," kata Aris dan Dinda mengangguk senang. Siapa tahu dengan begitu Dinda bisa melupakan kenangan buruk di rumah ini.


"Ya udah, Dinda mau siapin semuanya sekarang. Mas jagain Zahra dulu ya?" Dinda hendak menyerahkan Zahra namun ditolak oleh Aris.


"Udah kamu aja yang gendong Zahra. Biar mas aja yang nyiapin semua keperluan kita," kata Aris dan membuat Dinda lega. Kasih sayang Aris tetap sama. Aris tidak marah, dia mendukung akan kebenaran yang Dinda lakukan.


"Makasih ya mas."


"Sama-sama sayang," jawab Aris.


...****************...


Seharian ini Bu Lastri hanya mengurung diri di kamar. Dia tak punya muka untuk bertemu Dinda dan Aris di rumah ini. Bu Lastri masih tak menyangka kalau Wawan sejahat itu. Padahal Bu Lastri selalu membela Wawan. Tapi apa motif Wawan melakukan semua itu?


Bu Lastri mendengar kesibukan di luar kamarnya. Mungkin Aris dan Dinda yang... Entahlah. Bu Lastri enggan ikut campur. Rasanya dia ingin mati saja saking malunya dia. Minta maaf pun rasanya tak mungkin, dia tetap akan dikucilkan oleh Aris dan Dinda.


Sembari menunggu kepulangan pak Bambang, Bu Lastri gunakan diri untuk menangis dan menangis. Makan pun sampai ia lupakan. Semua otaknya seperti tak waras hanya gara-gara memikirkan Wawan.


"Ibu! Bu! Ibu gak makan? Ini udah siang Bu, dari pagi ibu juga belum ada sarapan!"

__ADS_1


Di luar kamar Bu Lastri, ada Aris yang tengah berdiri dan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya Bu Lastri. Aris khawatir kalau Bu Lastri jadi sakit kalau dibiarkan terus-terusan mengurung diri di kamar tanpa ada makan sesuap nasi pun. Aris begini karena Aris masih menganggap Bu Lastri keluarganya, untuk Wawan? Itu beda urusan. Kasusnya memang berhubungan dengan Wawan. Tapi kalau dengan Bu Lastri, Aris tidak punya masalah apapun. Jadi Aris tidak mau menyimpan dendam. Karena bagaimanapun juga, dia sudah pernah merasakan gimana sakitnya saat dikucilkan di masyarakat? Dan Aris tidak mau hal itu kejadian pada Bu Lastri.


'Aku yakin ibu Lastri gak akan kuat dengan keadaan ini,' batin Aris yang sudah menduganya duluan.


"Bu Lastri, tolong buka pintunya Bu! Kami tidak ada masalah sama ibu, jadi tolong Bu! Keluarlah dan makan! Kami gak mau ibu kenapa-kenapa." Aris terus berusaha memanggil Bu Lastri.


Sementara Dinda, dia cuma berdiri di belakang Aris sambil menimang-nimang si bayi.


Ceklek!


Tiba-tiba Bu Lastri keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lusuh. Kalau dilihat-lihat, sepertinya Bu Lastri belum mandi dari kemarin. Itu terlihat dari pakaian yang masih sama saat di ijab qobul mereka.


"Dari pada aku terus tersiksa seperti ini. Aku lebih baik mati," kata Bu Lastri yang langsung menangis di hadapan Aris dan Dinda.


"Ya Allah, Bu. Sadarlah Bu, di luar sana yang sudah meninggal belum tentu ada kesempatan buat hidup. Tapi Bu Lastri di beri kehidupan harusnya disyukuri," kata Aris terus mencoba membujuk Bu Lastri.


"Karena Wawan itu anakku, jadi aku merasa gak enak dengan kalian. Ibu tahu Wawan salah, tapi apa gak ada toleransi buat dia?" Bu Lastri mencoba membela Wawan.


"Toleransi? Gak ada Bu. Coba ibu bayangkan! Kalau ibu ada di posisi Dinda saat itu, apa ibu akan diam aja saat suami ibu dicelakai orang lain? Begitu juga denganku Bu, saat mas Aris dicelakai oleh mas Wawan. Aku juga gak akan tinggal diam." Dinda menggebu. Bukannya bermaksud mengeroyok Bu Lastri, tapi di sini Bu Lastri seperti tak terima dengan kasus Wawan.


"Maafin ibu nak. Ibu emang tahu Wawan jahat, tapi ibu gak kuat sama keadaan sekarang. Anak ibu masuk penjara, dan ibu udah gak punya muka lagi di depan kalian atau pak Bambang," kata Bu Lastri bersedih.


"Udahlah Bu, soal malu pada kami harusnya gak perlu. Karena kami masih perduli sama ibu. Oiya makan Bu? Ayo!"


Kali ini Aris memaksa, dan Bu Lastri akhirnya mau. Tapi meskipun makan, wajah itu seperti memikirkan sesuatu. Memang tidak salah sih, Bu Lastri begini karena memikirkan anaknya. Ibu kandung mana yang gak akan memikirkan soal anaknya, apalagi anaknya yang awalnya terlihat kalem. Gak tahunya malah berujung bui seperti sekarang.


"Kami gak akan memusuhi ibu kok," kata Aris lagi. Soalnya Aris sudah berpengalaman. Gimana dulu keluarganya begitu terpukul saat dirinya masuk penjara?

__ADS_1


"Aku bukan masalah itu. Sekarang ini ibu bener-bener pusing gak bisa mikir. Ibu cuma bisa minta maaf sama kalian." Tiba-tiba ibu Lastri menyudahi makannya. Dia tak bernafsu lagi. Ini seperti karma yang begitu nyata bagi Bu Lastri. Setelah dia menggosipkan Dinda kala itu, kini dia merasakan bagaimana rasanya menjadi Dinda.


'Ya Allah, hamba tak kuat atas cobaan ini.'


Dinda dan Aris yang melihat keadaan Bu Lastri jadi tidak tega.


"Kasihan ibu Lastri, Din." Aris mengajak Dinda duduk di ruangan makan itu. Keduanya terlihat sedih juga. Tapi bagaimana lagi, Dinda gak mungkin mencabut laporannya hanya gara-gara Bu Lastri down. Ini gak adil bagi Dinda.


"Iya Dinda juga kasihan mas. Tapi gimana lagi? Bukankah kejahatan itu juga harus dapat balasannya?" Dinda kurang setuju kalau Aris minta laporannya dicabut. Sebab perbuatan Wawan sangat fatal.


"Aku juga pernah jahat sama kamu, Din. Kenapa kamu gak laporin mas saat itu?"


Ditanya seperti itu, Dinda langsung menatap Aris dengan mata yang memerah. Amarahnya, kebenciannya tiba-tiba menghinggapinya. Entah kenapa, pertanyaan Aris barusan membuat trauma Dinda kambuh lagi.


"Kenapa kamu menghargai usahaku mas? Aku siang malam gak tidur hanya buat ngungkapin kasus ini. Tapi apa yang ku dapat? Kamu seperti tak perduli pada usahaku ini. Apa aku jadi tak berharga di matamu?" Dinda menahan emosinya. Dia mengatakan itu sampai mulutnya bergetar saking tak kuat menahan amarahnya itu.


Aris mendongak. Sepertinya Dinda salah paham dengan maksudnya.


"Dinda. Mas gak bermaksud seperti itu!"


"Bohong!" elak Dinda lagi.


"Oke. Ayo kita bersiap pergi sekarang. Lupakan Bu Lastri. soalnya kita punya harapan dan masa depan kita sendiri!" ajak Aris sambil berdiri. Tangannya terulur di depan wajah Dinda yang masih menggendong Zahra.


Dinda hanya menatap tangan Aris. Akankah Dinda


menerima ajakan Aris?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2