Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Ketangkap Basah


__ADS_3

***


Siang harinya. Di saat Dinda sedang berpamitan tidur. Bu Lastri dan Mega kembali bergosip.


"Tahu gak Buk? Ternyata yang datang tadi mantan suaminya Dinda," ucap Mega sambil memancing Bu Lastri.


Tanpa menunggu lama, Bu Lastri langsung meresponnya. Mereka berdua tengah dudukan di lantai dapur. Jadi waktu kosong begini memang enak dipakai buat bergosip.


"Masa sih nduk? Berarti Briyan-Briyan itu," ucap Bu Lastri menanggapi Mega.


"Iya Buk. Kurus banget badannya. Kasihan ya, untung Dinda udah cerai. Soalnya Mega gak bisa bayangin gimana nasib Dinda pas hidup sama dia," ucap Mega setengah menilai.


"Iya, ibuk juga denger. Kalau pernikahan Dinda sama mantan suaminya gak bahagia. Makanya cerai. Oiya satu lagi..." ucap Bu Lastri berhenti.


"Apa itu Buk?" tanya Mega penasaran.


"Mereka cerai karena Dinda udah hamil duluan sama Aris," ucap Bu Lastri dengan serius.


PRANG!


Sontak 2 wanita yang tengah duduk di dapur itu langsung mendongak kaget. Tangannya gemetaran seperti tertangkap basah.


"Astaghfirullah. Pantaskah kalian berbicara seperti itu? Sementara yang kalian omongin itu masih tinggal di rumah ini!" tegur Dinda tiba-tiba. Entah kapan Dinda datang? Sampai-sampai Bu Lastri dan Mega tidak menyadarinya.


"Ah itu nak Dinda, anu..." Bu Lastri kelimpungan. Dia benar-benar seperti maling yang ketangkap basah.


"Ini semua gak seperti yang kamu dengar Din. Kami gak ada jelekin kamu." Kali ini Mega yang mencoba membela dirinya dan juga Bu Lastri.


"Aku heran sama kalian. Kami semua yang tinggal di sini masih keluarga. Tapi kenapa dengan seenaknya kalian membicarakan keburukan keluarga kalian?" Tiba-tiba air mata Dinda menetes. Dia tak biasa marah. Semua ini karena bawaan ibu hamil, jadi emosinya tak bisa terkontrol.


"Din, ibu gak ada maksud menjelekkan kamu." Bu Lastri segera berdiri dan mendekat ke arah Dinda.


"Terserah ibu aja. Bebas mau ngomongin apa soal Dinda," ucap Dinda dan segera balik ke kamarnya.


Di dalam kamar, Dinda meluapkan amarahnya. Dia menangis tiada henti. Ini rumahnya, tapi rasanya seperti di neraka.

__ADS_1


Dinda tak tahu harus cerita sama siapa? Bisakah Nesa dijadikan teman curhat? Pasti yang ada Nesa langsung datang melabrak Bu Lastri dan Mega. Terus akan ada pertengkaran lagi di antara mereka. Dan ini bukan kasus satu keluarga saja, melainkan 3 keluarga.


"Mas Jo? Apa aku curhat ke mas Jo ya?" gumamnya. Tapi apakah Dinda pantas curhat ke kakak iparnya? Sedang posisi Dinda sekarang sudah punya suami.


Aris? Bisakah dia dipercaya?


***


Sore harinya. Terlihat Aris yang buru-buru masuk rumah. Seharusnya dia lembur. Tapi semuanya ia cancel. Sebab Dinda tadi siang menelponnya dengan suara yang serak. Aris tidak bodoh. Dia tahu kalau Dinda menangis. Sebenarnya dia tadi sudah ijin pulang, tapi dilarang oleh bosnya. Dan sekarang dia baru sampai rumah.


'Semoga gak terlambat,' batin Aris. Kalau terlambat, Dinda pasti akan memarahinya nanti.


Wawan memicingkan mata saat melihat Aris yang seperti dikejar maling. 'Lagaknya kek pencuri aja. Habis ngapain tu orang?' batin Wawan kepo.


Setelah Aris meletakkan helm, dia langsung menuju ke kamar Dinda.


"Din," panggil Aris dari luar.


"Masuk!" terdengar suara parau dari dalam. Mendengar intruksi kata masuk, Aris langsung nyelonong masuk kamar.


Aris jadi berpikiran yang negatif. Tapi sedetik kemudian dia menepis pikiran itu. Dia akan mencoba membujuk Dinda agar mau cerita kepadanya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aris dengan begitu perhatian. Tidak perhatian bagaimana? Posisi Aris yang tengah duduk di samping Dinda, sambil tangannya mengelus rambut Dinda dengan sayang. Tidak ada wajah amarah atau apapun. Pokoknya Aris sangat perhatian pada Dinda. Menunggu Dinda bercerita tanpa ada paksaan darinya.


"Hiks." Ditanya seperti itu, tangis Dinda makin pecah. Ada apa gerangan?


"Cup cup... Udah jangan nangis. Kalau kamu nangis, aku jadi ikut sedih," kata Aris yang kali ini mengelus lengan Dinda. Lalu tangannya terulur ke pipi Dinda. Mengusap air mata yang sudah membasahi pipi istrinya.


"Aku pengen ngontrak Mas," ucapnya tiba-tiba. Kali ini posisi Dinda berubah jadi bersandar menghadap ke arah Aris.


Aris sempat kaget. Ngontrak? Bukankah Aris sudah punya rumah? Tapi kalau Aris bahas soal rumahnya, maukah Dinda tinggal di sana?


"Kenapa? Kok tiba-tiba?" tanya Aris dengan sabar. Mereka masih dalam pengawasan. Kalau tinggal bareng, takutnya ada yang khilaf. Sebenarnya tidak apa-apa juga, Aris bisa menahan nafsunya kok. Masalahnya, cari kontrakan di mana? Apalagi sebentar lagi Dinda melahirkan. Pilihan satu-satunya adalah rumahnya. Tapi apakah Dinda mau? Terus pak Bambang, setujukah beliau dengan keinginan Dinda ini?


"Gak tahu Mas. Aku pengen ngontrak aja," jawabnya masih sedih. Aris langsung naik ke kasur dan merangkul Dinda dalam pelukannya. Untung Dinda gak pernah berontak diperlakukan Aris seperti ini. Jadi Aris bisa leluasa menenangkannya.

__ADS_1


"Kamu yakin? Kita lagi gak boleh tidur bareng lho? Terus sebentar lagi anak kita bakalan lahir. Apa gak pa-pa, hm?" Aris bertanya seperti itu sambil mengelus pundak Dinda. Dia sayang sama Dinda, tapi dia gak boleh gegabah. Aris suka dengan keputusan Dinda ini. Tapi... masih banyak hal yang harus ia pikirkan.


Dinda terdiam. Betahkah dia tinggal bareng Bu Lastri dan Mega selama itu? Jelas mereka lebih dekat karena posisi Mega adalah menantu kandung. Beda dengan Dinda yang hanya anak tiri.


"Kenapa? Cerita dong?" pinta Aris yang kali ini menatap mata Dinda.


Dinda balik menatapnya. Mata teduh Aris membuat rongga dada Dinda menghangat. Dia menatap Aris begitu dalam. Rasa ingin itu muncul lagi. Dinda segera menoleh ke samping. Tak kuat akan tatapan Aris yang seperti tengah mengajaknya untuk tidur bareng.


"Kenapa Din?" tanya Aris heran. Aris mengira kalau Dinda bosan dengan wajahnya. Padahal Aris hampir saja mengecup bibir Dinda andai dia tak ingat kalau Dinda lagi sedih.


"Din." Kali ini Aris menyentuh dagu Dinda. Mengajaknya untuk saling bertatapan lagi.


Cukup lama bertatapan. Tiba-tiba mulut keduanya saling menyatu. Dinda memejamkan matanya. Menikmati kecupan lembut nan menenangkan dari Aris.


Aris sengaja mengajak Dinda kissing agar Dinda lupa akan masalahnya. Karena yang Aris tahu, ciuman bisa mengobati rasa sedih seorang wanita.


'Aku cinta sama kamu Din. Sampai kapanpun akan begitu,' batin Aris sambil terus menikmati bibir Dinda dengan pelan. Sedikitpun dia tak ingin menyakiti istrinya.


Tiba-tiba Dinda membuka matanya. Dia melepaskan bibirnya dan menatap Aris begitu dalam. Kesedihan Dinda sirna. Tapi tatapan sayu penuh harap yang ia tampilkan di depan Aris.


"Kenapa sayang?" tanya Aris sambil mengusap bibir Dinda yang setengah basah akibat ulahnya tadi.


"Tolong!" Dinda mengambil tangan Aris dan menggenggamnya.


Aris menelan ludahnya dengan sulit. Nafasnya sedikit tersengal akibat permintaan Dinda barusan.


"Please!" Mohon Dinda lagi.


Aris tak bisa menolaknya. Dinda butuh dirinya. Akhirnya Aris mengangguk.


Ada kelegaan di wajah Dinda. Saat Aris kembali menciumnya. Ini bukan ciuman untuk menenangkan, melainkan ciuman panas yang tercampur dengan hawa nafsu.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2