Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Doa Bu Rukmini


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Hari ini Aris sudah dijinkan pulang. Masih dengan kepura-puraannya, kini Aris harus mau mengenakan kursi roda buat alat bantu berjalannya.


"Apa gak apa-apa mas?" tanya Dinda khawatir. Bisa saja Aris lupa, kalau tiba-tiba Aris berjalan bagaimana?


"Jangan khawatir ya Sayang. Mas lakuin ini demi membuktikan kecemasan yang ada dalam pikiran mas," kata Aris sambil menepuk tangan Dinda.


"Iya mas, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dinda lagi.


"Nanti kamu akan tahu sayang. Mas belum bisa mengatakannya sekarang, takut kalau ujungnya akan jadi fitnah. Oh iya, jangan lupa siap-siap buat pernikahan kita besok," kata Aris lagi yang membuat Dinda kaget.


"Besok? Apa gak terlalu cepat?"


"Ow, jadi maunya dilama-lamain. Oke, nanti kalau udah sah kita mainnya lama," ucap Aris sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, nakal ya?" protes Dinda sambil tersipu malu.


"Kamu juga pengen kan? Kita belum pernah lho ngelakuin itu setelah kita menikah," cerita Aris yang terlihat tersiksa gara-gara tak bisa menikmati malam pertamanya.


"Itu salahmu, kenapa kamu merenggutnya duluan? Harusnya rayu kek kalau suka sama cewek tuh," goda Dinda sambil mengingat masa lalunya. Dinda memang masih trauma. Tapi dia sudah berusaha menerima takdirnya. Kalau jalannya sudah begini, bagaimana lagi?


"Maafin kesalahan mas ya Din. Mungkin memang gak mudah buatmu memaafkannya..."


"Kata siapa?" potong Dinda dengan tajam.


"Kan udah Dinda bilang, kalau Dinda udah maafin mas Aris."


"Itu beneran Din?" tanya Aris tak percaya. Sebab selama ini Aris mengira Dinda masih membencinya.


"Udah, ayo kita pulang!"


"Ibuk, Zahra sama Lia mana?" tanya Aris sambil celingukan.


"Dia udah menunggu di rumah mas?"


"Ya udah kalau gitu, ayo kita pulang!"


Keduanya begitu semangat. Dinda mendorong kursi dorong yang Aris duduki. Sementara Aris, dia memegang kedua tangan Dinda. Keduanya tersenyum menikmati momen hari ini.


...****************...


Sesampainya di rumah. Wawan dan semua orang sudah menunggu kedatangan Aris dan Dinda.


Saat pertama kali bertemu dengan Aris. Wajah Wawan terlihat biasa. Bahkan sekarang lebih terlihat seperti mengejek dengan keadaan Aris.

__ADS_1


"Pakai kursi roda juga lu Ris," bisik Wawan saat mereka berjabat tangan setelah beberapa hari tak bertemu.


"Iya, puas kan mas udah mencelakaiku?" balas Aris dan membuat Wawan terbelalak.


"Ck, gak usah menuduh kalau lu gak punya bukti Ris. Itu kan yang sering lu bilang, dan sekarang jangan memfitnah orang?" jawab Wawan.


Aris jadi berfikir. 'Kok mas Wawan gak kaget ya? Apa aku salah menuduh?' batin Aris yang sekarang jadi ragu dengan hatinya.


"Mas Aris! Mas harus banyak istirahat," ucap Dinda yang mengakhiri praduga dari Aris barusan.


'Dih, Dinda masih sayang aja sama suaminya. Padahal jelas-jelas dia lumpuh. Mantan penjahat itu... dia harus bisa keluar dari sini bagaimana pun caranya,' batin Wawan yang kembali menyimpan dendam.


"Mas Wawan!" panggil Mega tiba-tiba.


"Iya Mega." Wawan terlihat jengah menanggapi istrinya.


"Dinda dan Aris udah pulang. Ayo sekarang giliran kita pulang!" ajak Mega pada Wawan.


"Pulang katamu? Mau pulang kemana?"


"Ke rumah nenek Nur," ucap Mega memberitahu.


"Emang kenapa kalau tinggal di sini?" tanya Wawan memastikan. Dia selalu kesal dengan rengekan manja dari Mega. Memang sih, akhir-akhir ini Mega terlihat begitu manja. Gak tahu kenapa, apa mungkin Mega udah bucin padanya.


"Aku betah di sini."


"Mas, aku udah gak mau lagi hidup serumah bareng mantan napi," ucap Mega yang tak sengaja didengar oleh ibunya Aris.


Ibu mana yang tak sakit hati saat kejahatan anaknya di masa lalu tetap disebut-sebut seperti itu.


'Tega sekali mereka. Dia gak tahu aja, bagaimana perasaanku saat anakku masuk ke dalam penjara. Ku harap suatu saat perempuan ini akan merasakannya,' doa Bu Rukmini tiba-tiba. Saking sakit hatinya dia, sampai dia lupa mendoakan kejelekan buat orang lain.


"Ya udah deh, sehari aja ya? Besok kita kesini lagi." Wawan akhirnya setuju dan Mega pun senang mendengarnya. Tumben-tumbenan Wawan gak menolak permintaannya.


"Mau kemana Wan?" tanya Bu Lastri saat melihat Wawan sudah berdandan rapi.


"Malam ini Wawan menginap di rumahnya Mega Buk," kata Wawan dan Bu Lastri merasa gak ikhlas.


"Jangan Wan! Jangan malam ini!" cegahnya.


"Kenapa Buk? Lagian besok kami udah balik," kata Wawan lagi.


"Ibuk ikut ya?"


"Kalau ibuk ikut, gimana sama ayah Buk?" Wawan merasa risih juga kalau ibunya ikut. Lagian Wawan juga di rumah orang lain. Jadi rasanya kurang pantas kalau mengajak Bu Lastri.

__ADS_1


"Ya udah deh, tapi cepetan balik. Jangan kayak kemarin gak pulang-pulang."


"Iya Buk, manja banget," ucap Wawan sambil membatin.


"Buk, Mega ke rumah nenek dulu ya?" pamit Mega.


"Kok kamu agak kurusan ya Nak?" ucap Bu Lastri sambil menilai penampilan si Mega.


"Apa iya ya Buk? Perasaan sama aja," kata Mega sambil cengengesan.


"Iya Nak Mega. Apa jangan-jangan kamu isi?" tanya Bu Lastri sambil menduganya.


'Apa? Gak mungkin Mega hamil. Jangan sampai hamil. Bisa celaka aku kalau Mega hamil,' batin Wawan tak suka.


"Ah, masa sih Buk."


"Wan, kalau sempat bawa istrimu periksa. Takutnya kalau ada cucu ibuk di dalam perutnya," kata Bu Lastri dan Wawan langsung bersikap acuh.


"Apaan sih Buk. Gak udah lebay kayak gitu."


"Bukan lebay. Tapi ibuk juga pengen cucu dari kalian," kata Bu Lastri lagi.


"Ya udah nanti Wawan ajakin Mega buat beli alat tes kehamilan." Wawan mengusulkan.


"Nah gitu, lebih cepat tahu hasilnya lebih bagus."


'Bagus buat ibuk. Tapi gak bagus buat Wawan,' batin Wawan lagi.


Dan dia berbalik arah. Dia malah tak sengaja melihat Aris dan Dinda saling tertawa.


'Sial. Bukannya menjauh, si Dinda malah makin akrab. Emang sampai kapan Dinda akan betah sama cowok lumpuh kayak si Aris? Udah lumpuh dan gak mungkin bisa muasin Dinda di atas ranjang,' batin Wawan sedikit senang.


Ya, kalau Aris lumpuh. Otomatis gak akan ada pernikahan di antara mereka. Satu lagi, Dinda juga butuh dipuaskan. Dan Aris? Dia gak akan bisa lagi memberikannya.


'Kalau Aris gak berguna lagi buat Dinda. Aku siap menggantikan posisinya. Mau berapa kali pun akan aku lakukan, hanya untuk Dinda.'


"Mas!" panggil Mega yang membuyarkan lamunan indahnya Wawan.


"Iya, ada apa lagi?" Wawan agak kesal juga.


"Aku udah siap, mau berangkat kapan?" Mega memastikan. Dia juga cukup kesal tak dianggap oleh Wawan.


"Dasar cewek. Ya udah berangkat sekarang. Lagian ngapain lama-lama di sini, bikin enek aja," ucap Wawan sedikit meninggikan nada bicaranya agar didengar oleh si Aris.


Dan benar saja, Aris dan Dinda langsung menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2