
Sesampainya di rumah pak Bambang. Jo segera mengetuk pintu dan dibuka oleh Dinda. Karena Dinda sudah standby sedari tadi.
Mendengar ramai-ramai di depan, pak Bambang berinisiatif untuk melihat ke depan. Dia kaget melihat Jo yang subuh-subuh gini sudah berada di rumahnya.
"Ada apa Jo?" tanya pak Bambang penasaran.
"Ini Yah, katanya Dinda mau ngelahirin. Terus juga si Aris katanya sakit, jadi Jo mau anterin mereka ke rumah sakit," terangnya.
"Loh, kok gak bilang ke ayah sih Din? Terus lagi, si Aris belum sembuh tho?" Kali ini pak Bambang meminta penjelasan ke Dinda.
"Belum Yah, kadang-kadang masih sakit. Dinda takut ganggu ayah, jadi Dinda gak bilang," jawab Dinda. Bukan apa-apa sih. Masalahnya kalau pak Bambang dikasih tahu, Bu Lastri pasti kepo. Terus mau gak mau, pak Bambang akhirnya ngasih tahu juga ke Bu Lastri.
"Eh Ris, udah siap?" tanya Jo yang melihat Aris muncul dari ruang tengah.
"Udah Jo," jawab Aris seperti menahan sakit.
"Oya Mas Jo, baju bayinya udah siap kan?" tanya Dinda memastikan.
"Udah Din, di mobil. Eh tunggu deh!" Jo menatap aneh ke arah Dinda dan Aris secara bergantian.
"Kenapa mas Jo?" tanya Dinda penasaran.
"Kamu beneran mau ngelahirin Din?" tanya Jo dan dijawab gelengan oleh Dinda. Dinda bingung, sepertinya Aris kena sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Pasalnya, Aris yang ngerasain kayak mau melahirkan. Sedang Dinda? Dia hanya nyeri sesekali sama sakit pinggang yang tak biasa.
"Kok gak tahu? Tapi yang sakit itu Aris lho, ini kenapa sih? Yang ngelahirin kan kamu, tapi yang sakit kok Aris?" celetuk pak Bambang heran dengan keadaan Dinda dan Aris.
"Dari pada kenapa-kenapa, mending berangkat sekarang aja. Ke rumah sakit kan?" tanya Jo memastikan.
"Iya Jo," jawab Aris pasti.
"Ayah susul sama ibu nanti ya? Soalnya ayah belum mandi," kata pak Bambang sambil nunjukin pakaian yang ia kenakan.
"Iya Yah. Kami berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Jo dan diikuti oleh Aris dan Dinda.
"Wa'alaikumussalam, semoga lahirannya lancar nak!" doa pak Bambang ke Dinda.
"Aamiin, makasih Yah," jawab Dinda yang usai bersalaman dengan pak Bambang.
Perjalanan yang cukup lama, akhirnya membawa Dinda dan Aris sampai ke rumah sakit.
Setelah usai pendaftaran dan administrasi awal, sekarang Aris dibawa ke IGD. Tentunya ditemani oleh Dinda. Karena kurang cairan, jadinya Aris diinfus. Aris merasa badannya berangsur-angsur membaik. Hanya tenaganya saja yang belum pulih.
"Aku lumayan baikan Din," kata Aris sambil memegangi tangan Dinda.
__ADS_1
Dinda mengangguk. Entah kenapa, melihat Aris yang lemah tak berdaya seperti ini membuat Dinda merasa sangat sedih. Tapi buru-buru dia menghapus air matanya.
"Mas makan ini dulu, tadi mas Jo yang belikan," kata Dinda sambil berusaha menyuapi Aris dengan nasi yang dibelikan oleh Jo tadi. Ini sudah jam 6, mungkin warung makanan sudah pada buka.
Aris pun mau saja disuapi oleh Dinda. Karena ini adalah bentuk perhatian Dinda kepadanya. Jadi mana mungkin Aris menolaknya.
"Udah Din," kata Aris yang merasa sudah kenyang.
"Dikit lagi mas, dihabisin!" suruh Dinda lagi.
"Buat kamu mana?" Aris bertanya balik. Jangan-jangan Dinda belum kebagian?
"Ada di depan satu," jawabnya.
"Bener ada kan?" Aris memastikan.
"Ada mas, yuk habisin!"
Di saat suapan yang terakhir. Dinda merasakan kontraksi rahim. Sepertinya dia tengah pembukaan.
Aris yang dari tadi menatap Dinda, langsung kaget melihat ekspresi Dinda yang tak biasa. Segera Aris mengambil alih nasi yang ada di tangan Dinda.
"Dokter! Dokter!" panggil Aris setengah teriak.
"Istri saya mau melahirkan Bu. Tolong bantuin dia!" mohon Aris dan seorang perawat satunya mengambilkan brankar pasien untuk Dinda.
"Silahkan naik dik!" suruh perawat itu pada Dinda.
Saat Dinda hendak dibawa ke ruangan bersalin, Aris mencegah perawat satunya. "Bu, saya mau nemenin istri saya," katanya.
"Tapi Anda belum sehat," kata perawatnya.
"Sudah Bu. Saya udah gak kenapa-kenapa. Tolong Bu, saya ingin nemenin istri saya melahirkan," pinta Aris setengah memohon.
"Baik Pak. Tapi infusnya jangan sampai jatuh!" jawab Bu perawat itu mengingatkan.
"Alhamdulillah, iya Bu." Ada kelegaan tersendiri untuk Aris saat diperbolehkan menemani Dinda bersalin.
"Sssst, sakit mas," ucap Dinda sambil mencengkram lengan Aris. Mereka berdua sudah berada di ruangan bersalin. Sementara 2 perawat ini tengah melihat pembukaan jalannya bayi.
"Sabar ya sayang, tahan ya. Sebentar lagi anak kita akan lahir," kata Aris berusaha menyemangati sang istri.
"Tarik nafas Bu. Ini sudah pembukaan full," kata si perawat.
__ADS_1
Dinda langsung membuka kakinya lebar-lebar. Dia terus berusaha mengikuti instruksi dari Bu perawat. Hingga suara tangisan sang bayi terdengar di telinga semua orang.
"Huh!" Dinda bernafas lega. Tanpa sadar dia memiringkan kepalanya dan menatap Aris dengan begitu dalam.
"Anaknya cewek Din," kata Aris sumringah.
Dinda hanya tersenyum lemas dan Aris balas tersenyum lebar, akhirnya dia kini telah menjadi ayah. Tapi tangannya itu loh, ditindih oleh Dinda. Gimana Aris bisa menariknya. Apalagi tatapan sayu Dinda. Ah iya, Aris lupa berterima kasih padanya. Maklumlah, ini moment pertamanya. Ditambah lagi, Aris ini sebenarnya bukan pria yang romantis. Tapi dia ingin selalu bersikap yang terbaik buat istrinya.
Impulsif, Aris mendekatkan wajahnya ke kening Dinda.
"Mmuah! Terimakasih Dinda sayang, akhirnya kita menjadi ayah dan ibu," ucap Aris dan Dinda menutup matanya. Hatinya sangat bahagia diperlakukan seperti ini oleh Aris.
'Ya Allah terimakasih. Engkau telah mengirimkanku seseorang yang menyayangiku,' batin Dinda sambil menyunggingkan senyuman.
"Maaf Pak. Bayinya sudah siap untuk diadzani," kata Bu perawat itu yang membuat Aris menjauh dari Dinda.
"Tanganku Din," ucap Aris tak enak hati pada Dinda.
"Eh, maaf Mas," balas Dinda malu-malu. Sikapnya ini persis seperti orang yang tengah jatuh benarkah? Kalau benar juga gak masalah sih, lagian Aris adalah suaminya. Apa salahnya dia jatuh cinta pada Aris? Toh Aris juga mau menerima semua kekurangan Dinda.
Setelah mengadzani si cantik mungil itu. Aris mengamati wajahnya yang imut. Mungil tapi cantik, mirip Aris namun versi cewek. 'Dia memang darah dagingku. Maaf ya nak, kalau kamu ada di saat ayah punya dendam. Mungkin kalau ayah gak menculik ibumu, kamu gak akan pernah lahir di dunia ini,' batin Aris sambil mengecup si mungil.
Bayi perempuan berat 2,8 kilogram itu, kini diletakkan di box kaca. Bayinya sehat, begitu pula dengan ibunya. Jadi hanya pemulihan beberapa hari, baru Dinda dan si bayi boleh dibawa pulang.
"Anak kita masih di box, nanti dibawa ke sini," ucap Aris pada Dinda.
"Kamu gak istirahat mas?" tanya Dinda saat dia teringat infus yang menempel di tangan Aris.
"Rasanya aku udah sehat. Perutku udah gak mules-mules lagi," terang Aris menjelaskan keadaannya.
"Tapi kamu masih di infus, mas?" tanya Dinda penuh perhatian. Padahal Dinda habis melahirkan, tapi perhatiannya dirasakan sangat berbeda oleh Aris. Dinda terlihat banyak senyum kepadanya. Apa ini tanda-tanda kalau Dinda sudah membuka hati untuknya.
"Ini gak apa-apa sayang. Oya, mau minum? Mas keluar dulu ya, ambilin minum buat kamu," kata Aris sambil keluar.
Dia mencari Jo dan meminta tolong Jo untuk membelikan minuman atau makanan, kebetulan sekali Jo sudah berpengalaman. Jadi apa yang Aris inginkan semuanya sudah siap.
"Makasih Jo. Btw anakku udah lahir, cewek," ucap Aris begitu senang.
"Alhamdulillah. Ayah dan ibu katanya juga mau ke sini," ujar Jo dan Aris manggut-manggut saja. Lalu dia pamit untuk menemui Dinda lagi.
Bersambung...
__ADS_1