Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Tatapan Aris


__ADS_3

Dinda menatap ke arah tangan Aris. Rasanya ingin menepisnya tapi... sebuah gerakan dari perutnya membuatnya dia diam membisu.


Mendapat persetujuan dari Dinda, akhirnya Aris beranikan diri menelisik wajah Dinda yang kini terlihat begitu kurus. Mata mencekung ke dalam akibat terlalu banyak menangis. Bahkan matanya sudah mirip panda. Ada garis hitam. Mungkin Dinda kurang tidur. Meskipun penampilan Dinda sekarang tak secantik biasanya, namun Aris tetap menganggap Dinda adalah wanita yang paling cantik dan sempurna dalam hatinya.


Dinda tetap membiarkan tangan Aris bertahan di sana. Sentuhan Aris membuat hatinya menghangat. Bahkan anaknya langsung bergerak aktif di sana. Apakah bayi itu bisa merasakan mana yang ayah dan mana yang bukan?


"Dinda, jika kamu sudah siap. Menikahlah denganku," ucap Aris kemudian. Dia sudah tak sabar ingin tinggal bareng Dinda dan momong anak mereka.


Jo dan Nesa tak menyangka, jika Aris akan melakukan itu. Mengingat dia yang begitu keras, kasar. Namun faktanya di balik sikap jahatnya itu, Aris juga mempunyai sisi kelembutan.


Aris mencari benda bulat yang pernah dikembalikan Dinda lewat ekspedisi dulu. Ya, Aris selalu menyimpan cincin lamaran itu di dalam dompetnya. Setelah dia mengambil cincin itu. Aris menatap Dinda penuh harap.


"Pakailah ini jika masalahmu sudah beres. Tapi jika kamu menolaknya, kamu bisa membuangnya jauh-jauh. Gak usah kau kembalikan lagi seperti dulu. Aku hanya ingin kamu tahu, aku sayang dan cinta sama kamu dan juga anak kita. Bahkan kalau kamu gak mau merawatnya, aku akan senang hati membesarkannya sendirian," ucap Aris memberikan pengertian pada Dinda. Bahwa dia benar-benar tulus pada Dinda dan anaknya.


Jo dan Nesa jadi terharu melihatnya. Aris benar-benar telah berubah.


Dinda tak memberikan jawaban apapun. Selain tangannya yang menerima cincin dari Aris. Entah harus dikemanakan cincin itu. Sebab Dinda sendiri masih berstatus kan istri orang. Meskipun Briyan sudah menalaknya, namun kasus perceraiannya belum diurus sama sekali.


***


Ke-esokan harinya.


Pintu rumah Jo sudah digedor-gedor dari luar. Orang itu patut dikatakan seperti orang yang tengah kesetanan. Bagaimana tidak? Dengan tak tahu sopan santunnya cara bertamu ke rumah orang. Tanpa salam tanpa permisi. Datang-datang langsung menggedori pintu rumah orang.


Dengan malasnya Jo berjalan membuka pintu. Dilihatnya, ternyata orang yang tengah kesetanan itu adalah Briyan. Kini dia malah asik berdiri di ambang pintu.


Rahang Jo mengetat kemudian. 'Mau apa sih dia ini?'


"Mau apa loe? Belum puas lu nyakitin adik gue hah!" sembur Jo seketika. Dia sudah tak sabar ingin memukul wajah Briyan yang terlihat memelas itu. Sebelumnya ke mana saja dia selama ini? Kenapa baru melas sekarang?


"Jo, gue yakin Dinda ada di sini! Jadi suruh dia keluar sekarang! Dia harus pulang!" teriak Briyan dengan suara lantangnya.


"Kenapa kalau di sini? Ini rumah gue, jadi dia juga berhak tinggal di sini. Bukankah loe udah nalak dia. Ngapain masih dicari? Oh, gue lupa. Loe mau nyerahin surat cerainya. Siniin, biar gue yang ngasih ke Dinda."


"Gue mau bicara sama Dinda Jo, penting. Jadi ijinin gue ketemu sama dia. Gue gak mau pisah sama dia," sahut Briyan sambil menatap ke dalam rumah Jo.


"Kenapa? Bukannya selama ini loe udah nyelingkuhin Dinda. Bahkan loe udah menalaknya setelah 10 minggu pernikahan kalian. Apa loe melupakan itu Yan?" Jo mencoba mengingatkan kesalahan Briyan kemarin itu seperti apa?


Briyan hanya diam. Dia menyesali semua perbuatannya yang selalu menyakiti Dinda. Padahal udah jelas, Dinda tak pernah sekalipun melawannya. Dinda selalu menuruti semua keinginan Briyan. Namun yang kemarin itu begitu fatal baginya. Meskipun begitu, pada akhirnya Briyan menyesal.


"Gue nyesel Jo. Gue hanya ingin ketemu Dinda. Gue gak mau pisah Jo," sesal Briyan. Namun semua bagai percuma. Nasi sudah menjadi bubur.

__ADS_1


"Gak Yan, gue udah tahu akal bulus loe itu. Loe pasti akan merayu Dinda agar balikan ama loe. Jangan mimpi Yan! Gue gak rela adik gue makin tersiksa gara-gara kelakuan loe. Apa loe kira gue bakal diem aja adik gue lu perlakuin kayak gitu? Gak ya Yan. Sejauh ini, gue udah dua kali mergokin loe jalan dengan dua wanita yang berbeda. Disitulah gue mulai paham hubungan kalian. Meskipun yang terakhir gue gak tahu kalau Dinda hamil anak orang lain. Jika gue tahu lebih awal, mungkin gue gak bakalan ngijinin loe menikah dengan Dinda," ujar Jo menjabarkan dan menyeseli adanya pernikahan mereka. Baru saja dia mengeluarkan semua uneg-unegnya. Tidak semua, masih ada yang lain.


"Tapi Jo. Please, gue mau ketemu Dinda," mohonnya lagi.


Jo mendesah pelan. Mungkin dipertemukan tidak masalah. Jo berharap, Dinda tak kepincut lagi dengan pesonanya Briyan. Apalagi mulut Briyan itu begitu manis. Jo takut kalau Dinda bakalan terperangkap dengan rayuan maut Briyan. Tapi melihat kebencian Dinda pada Briyan kemarin, Jo yakin Dinda gak akan luluh lagi dengan Briyan.


"Oke, tunggu sini loe!" sinis Jo. Briyan pantes mendapatkan itu semua. Mengingat bahwa Briyan mengatai Dinda bekas orang lain. Memangnya Dinda sampah? Kesal Jo jika mengingat kata-kata tak sopan itu. Huft.


Jo berjalan menuju ke kamar satunya. Diketuknya pintu itu sembari memanggil sang empunya nama. "Diiin, Dindaaa. Sudah bangun belum?" tanya Jo dari luar kamar.


Nesa yang usai menyusui Raskha, langsung keluar kamar bersama sang anak balitanya. "Ada apa Mas?" tanya Nesa penasaran.


"Itu di luar ada Briyan," balas Jo pelan.


"Ow, jadi orang gila yang pagi-pagi gedorin pintu kita tadi itu si Briyan. Ngapain dia?" tanya Nesa penasaran.


"Biasa, mau nemuin Dinda."


"Jangan Mas!" larang Nesa.


"Kenapa? Biarin aja mereka berdua menyelesaikan masalahnya sendiri. Nanti kalau ada apa-apa, mas pasti gerak cepat," balas Jo meyakinkan Nesa.


Tak lama kemudian Dinda membukakan pintunya. Menatap heran mbak dan masnya, yang pagi-pagi sudah ada di depan pintunya.


"Briyan mau ketemu sama kamu Din," balas Jo.


"Buat apa Mas?" tanya Dinda heran. Jujurly, dia udah muak banget ngelihat muka si Briyan.


"Gak tau, mau ngasih surat cerei mungkin Din. Coba temuin aja," suruh Nesa dengan sekenanya.


Dinda mengangguk. "Mas, Mbak... temenin Dinda ya. Dinda takut Briyan kalap," pinta Dinda yang diangguki oleh Jo dan Nesa.


Setelah Raskha diam, diletakkannya kembali Raskha ke dalam box. Nesa ingin menyusul dan menemani sang adik.


Dan benar saja dugaan Jo. Briyan kembali merayu Dinda. Jo jengah. Mudahan Dinda tak mendengarkan kemauan konyol Briyan. Briyan orangnya perayu ulung, makanya wanita manapun cepat bertekuk lutut padanya. Untung saja Nesa gak sampai beneran kepincut.


"Din, maafin abang Din." Panggilannya pun sudah berubah. Tadinya elo-gue, sekarang kembali abang. Itu tandanya aku kamu lagi. Dan tandanya Briyan tengah beraksi.


Dinda menatap datar ke arah Briyan. "Kali ini terserah Abang mau kayak gimana. Dinda tetep ingin kita cerai aja. Udah dua kali abang minta cerai. Dan sebelum menikah, abang juga pernah bilangkan? Kalau sampai Dinda mengandung anak orang lain, maka abang tak mau menikahi Dinda. Dan sekarang, Dinda hamil anak orang lain. Jadi itu tandanya, kita bercerai Bang." Dinda mengatakan finish pada pernikahan mereka.


"Aku gak mau Dinda," elaknya.

__ADS_1


"Kenapa Bang? Di dalam perutku bukan anak Abang. Sudahlah Bang, Dinda udah capek. Ku tunggu Abang di pengadilan aja," kemudian Dinda berlalu. Tinggalah Jo, Nesa dan Briyan kini.


"Din... Abang masih sayang kamu Din. Tolong baliklah Din," mohon Briyan. Namun Dinda sudah tak mendengarnya.


"Gue gak nyangka loe sebejat itu Yan!" maki Nesa emosi.


"Gue fikir loe bakal berubah. Tapi ternyata, playboy tetaplah playboy," sindir Nesa lagi.


"Maafin gue Teh, tolong bujuk Dinda agar gak nyerein gue Teh," mohonnya lagi sambil menunduk.


"Jangan mimpi loe Yan. Semua sudah Dinda putuskan. Tinggal tanda tangan suratnya dari loe," Jo ikut menyahut.


Senyuman licik langsung terpatri di bibir Briyan. "Puas kalian. Kalian memainkan kehidupan gue. Jijik tau gak! Dasar keluarga gak punya malu!" desis Briyan yang membuat Nesa naik pitam.


"Loe itu yang jijik, bekas dari banyak wanita. Gak tahu malu lu bilang? Lu itu yang gak punya malu. Ngaca dong?" hardik Nesa tajam.


"Mending loe pergi aja Yan, kehadiran loe ngebuat mood istri gue tak baik," balas Jo seraya mendekap pundak Nesa.


"Cuih!" Briyan meludahi teras Jo sebelum benar-benar pergi.


Nesa mendengus kesal. Menyebalkan sekali si Briyan itu. Minta dicincang tuh orang kayaknya.


Nesa kembali menghela nafasnya. Dia segera menemui Dinda. Menenangkan sang adik tentunya.


"Yang sabar ya Din, serahkan semuanya pada Allah. Mbak yakin semuanya akan baik-baik saja," ucap Nesa seraya menenangkan Dinda.


Dinda mengangguk dan memeluk Nesa dengan erat. Ujian lagi mengejarnya sekarang. Dinda harus kuat.


"Gimana caranya menjelaskan ke ayah Mbak? Ayah kan mau nikah bulan ini?" tanya Dinda takut. Ya, pak Bambang sudah menemukan jodoh terakhirnya. Dan bulan ini rencananya mereka akan menikah.


"Biar mas Jo aja yang cerita. Ayah pasti mengerti kok Din. Ayah kan gak seegois itu? Pasti ayah akan paham dengan keadaan Dinda saat ini," jawab Nesa dengan bijak.


Dinda pun mengangguk. Setuju dengan ucapan Nesa tadi. Ayahnya pasti mengerti kondisi yang Dinda alami sekarang.


"Ya udah, Dinda mandi aja dulu. Mbak mau masak buat kita." Nesa pamit dan meninggalkan Dinda sendirian.


"Biar aku bantu Mbak," semangatnya mendengar kata masak. Ini bukan semangat dari hati, melainkan untuk menghibur diri.


Dengan segera Dinda berlari ke kamar mandi luar. Membersihkan diri dan berganti pakaian yang dari semalam belum ia ganti.


Dinda sebenarnya tak menyukai Aris. Hanya saja, sentuhan tangan Aris di perutnya membuat gelenyer aneh di setiap aliran darahnya. Namun saat memikirkan kejadian yang lain, Dinda langsung menggelengkan kepalanya. Dia menyukai tatapan teduh Aris. Benarkah seperti itu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2