
Ditanya seperti itu oleh Aris, Wawan terdiam.
"Kenapa kamu lakuin ini Mas?" tanya Aris lagi.
Sementara yang lain, seperti Bu Rukmini dan Lia masih kaget kalau Aris ternyata sudah sembuh. Keluarga Aris justru bahagia atas kesembuhan Aris dan juga pelakunya akhirnya tertangkap.
"Gak usah pura-pura gak tahu kalau kamu sendiri yang udah ngelaporin aku!" tuding Wawan.
"Ngelaporin? Aku gak ngelaporin," elak Aris. Faktanya dia memang tidak tahu menahu soal ini.
"Halah, gak usah pura-pura sok lugu. Padahal lu sendiri yang udah tega ngejeblosin aku ke penjara," kata Wawan kesal.
"Aku emang gak pernah laporin kamu mas," kata Aris lagi.
"Aku yang ngelaporin!"
Sontak semua orang langsung menoleh ke sumber suara itu.
"Dinda." Suara orang-orang langsung menyebutkan nama Dinda.
"Kenapa kamu tega ngelaporin mas Wawan ke penjara Din?" Kali ini Mega yang menyahut.
Wawan? Dia masih syok. Adik tiri yang ia cintai, yang ia sayangi, yang ia banggakan. Ternyata dialah yang menghancurkan kebahagiaannya. Padahal Wawan sudah ikhlas buat menerima kenyataan kalau Dinda bukanlah miliknya. Tapi Wawan sepertinya lupa, kalau kejahatan ada hukumannya. Dan sekarang kejahatannya terbongkar tapi dia seperti tak terima.
Jika Wawan begitu syok, sama halnya dengan Bu Lastri. Selama ini dia tak menyangka kalau Wawan akan nekad mencelakai Aris. Bu Lastri memang tahu Wawan sangat membenci Aris, tapi dia tak sampai hati memikirkan kalau Wawanlah dalang dari kecelakaannya Aris.
"Astaghfirullah," gumam Bu Lastri yang tiba-tiba kakinya merosot ke lantai.
Pak Bambang pun sama kagetnya. Pak Bambang kecewa berat dengan kepolosan Wawan selama ini. Pak Bambang kira Wawan itu pria baik-baik. Tapi kenapa dia sampai hati mencelakai Aris? Pak Bambang aja sudah ridho Dinda menikah dengan Aris. Bagaimana jika Aris meninggal? Apa Wawan gak pernah memikirkan hal seperti itu sebelum iya bertindak?
__ADS_1
"Ayah gak pernah menyangka kalau kamu akan melakukan kejahatan seperti ini Wan. Ayah kecewa sama kamu!" ucap Pak Bambang sambil meninggalkan Wawan, bahkan pak Bambang juga tak mau membantu Bu Lastri berdiri. Pak Bambang menyesal dan seperti tak punya muka lagi saat berpapasan dengan Aris. Selama ini dia salah menilai Aris, tapi ini belum terlambat. Mungkin pak Bambang ingin menenangkan diri lebih dulu.
"Tuh Bunda! Lihat! Orang yang kamu bela baik, ternyata dia justru mencelakai suami adikmu sendiri," ucap Jo pada Nesa.
Dari tadi Nesa diam karena dia juga tak menyangka kalau Wawan adalah dalang di balik kecelakaannya Aris. Padahal tadinya Nesa mengira kecelakaannya Aris itu murni karena karma di masa lalu. Tetapi, pikirannya soal kebusukan Aris ternyata salah besar. Arus sudah berubah dan Nesa baru menyadarinya.
"KENAPA KAMU LAKUIN INI PADAKU, DIN?" teriak Wawan tiba-tiba. Amarahnya sudah tak terkontrol. Hampir saja dia ingin memukul Dinda, tapi dengan sigap Aris menahannya dan kini tangan Wawan sudah terborgol dan tak bisa ngapa-ngapain lagi.
"Mega! Maafin aku Meg. Maafin aku yang gak bisa merawat anak kita," ucap Wawan bersedih.
"Hah?" Aris dan Dinda saling bertatap.
"Puas kalian! Aku lagi mengandung dan kalian dengan kejamnya misahin aku sama suamiku! Puas kan kalian! Dasar keluarga tak punya hati!" Setelah berucap seperti itu, Mega berlari menyusul Wawan yang hendak dibawa ke mobil polisi.
"Wawan!" Kali ini Bu Lastri yang berlari dan mengejar Wawan.
"Ibu gak nyangka kamu akan berbuat seperti ini Wan! Di mana muka ibu sekarang? Ibuk malu Wan. Ibuk malu," kata Bu Lastri saat dia sudah ada di dekatnya Wawan.
...****************...
"Aku gak bisa tinggal di sini Buk!" Mega menitikkan air matanya. Sakit banget rasanya saat saudara tiri dari suaminya memperlakukan Wawan seperti itu.
"Kamu mau kemana Mega? Saat ini kamu hamil anak dari Wawan. Siapa yang akan merawatmu kalau bukan ibuk?" Bu Lastri mencoba membujuk Mega. Dia juga sudah tak punya muka lagi untuk tetap tinggal di rumah pak Bambang. Mengingat pak Bambang yang dari kemarin cuek kepadanya, jadinya Bu Lastri tak enak sendiri.
Siapa yang mengira kalau Wawan akan senekad itu? Ya, semua orang tahu mereka berdua tak pernah akur. Tapi kejahatan Wawan? Dan kini Bu Lastri merasakan sakitnya saat anak kandungnya masuk bui. Begitu pula dengan Mega, ternyata dia tak kuat saat status suaminya menjadi narapidana. Sungguh memang Dinda wanita paling kuat. Makanya Dinda marah kalau ada yang menggunjing Aris dari belakangnya. Ternyata rasanya sesakit ini.
"Aku emang hamil anak Wawan, Buk. Tapi biarkan Mega merawatnya sendiri," kata Mega bersikeras.
"Gak Mega, ibuk ikut!" Bu Lastri terus menggenggam tangan Mega.
__ADS_1
"Bukannya ibuk selalu membela keluarga ayah Bambang? Kenapa sekarang ibuk mau ikut denganku?"
"Ibuk gak pernah membelanya Mega. Dari lubuk hati ibuk, ibuk hanya sayang sama Wawan dan kamu, mantu ibuk."
Bu Lastri berusaha memohon pada Mega. Karena Mega menantunya sekaligus harapan terakhirnya.
"Maaf Buk. Mega ingin menenangkan diri dulu," pamit Mega sambil membawa barang bawaannya. Wajah dan namanya sudah tak ada tempat lagi di rumah pak Bambang. Kenapa juga Mega baru tahu kalau Wawan bisa sejahat itu pada Aris?
"Mega!" Bu Lastri menangis sambil memegang tangan Mega.
Mega sendiri sebenarnya tak tega sama Bu Lastri. Tapi balik lagi pada Wawan, kenapa dia juga bisa setega itu sama Mega dan bayi yang bahkan belum lahir? Benarkah Wawan yang tega?
Tak sengaja saat keluar dari kamarnya. Mega menatap kamar Dinda. Kebetulan sekali, Dinda juga keluar dari kamar sambil menggendong Zahra.
"Di mana hatimu Dinda? Di saat anakmu butuh perhatian dari ayahnya, suamiku selalu ada buatmu. Tapi sekarang? Teganya kamu memperlakukan mas Wawan seperti itu. Di mana otakmu Din? Kenapa kamu gak mikirin soal anakku?" Mega menyerang Dinda.
Sebenarnya setelah pernikahan kemarin, Dinda pun merasa bersalah dengan kasus ini. Aris ingin menutup kasusnya, tapi Dinda belum bisa. Dia hanya ingin kejahatan itu dihukum, bukan malah dibiarkan.
"Bayangkan juga mbak Mega. Gimana kalau gara-gara ulah mas Wawan suamiku benar-benar lumpuh, atau bahkan lebih dari itu. Siapa yang bisa dianggap tega kalau bukan suami mbak Mega sendiri? Aku begini hanya ingin kejahatan itu mendapatkan imbalannya, bukan malah ditutup-tutupi."
Sontak Mega tertampar dengan kata-kata Dinda barusan. Dia tak punya jawaban lain selain pergi.
"Semoga kamu bahagia Dinda, semoga kamu puas atas penderitaanku." Mega berjalan menjauh dari rumah itu, dan Bu Lastri terus berusaha mengejarnya.
Wawan yang bersalah di sini. Kasihan Mega yang harus menerima imbasnya dari ulah Wawan yang tak manusiawi itu.
"Mega..." Bu Lastri menangis sambil bersimpuh di tanah.
Mega menoleh, jujur hatinya tak sanggup melihat mertua serta orang yang pernah menolongnya semenderita ini. Tapi Mega juga jauh lebih menderita ketimbang Bu Lastri. Jadi untuk sementara ini Mega ingin menenangkan diri dahulu.
__ADS_1
Bersambung...