
"Ya jelas lah mirip Aris. Lha wong dia ayahnya tho?" kata pak Bambang santai.
"Uh cucu ayah, cantik cantik, tak denok denok deblong." Pak Bambang lagi ngudang bayi yang bahkan masih tidur itu.
Sementara Dinda, dia jadi gak srek lagi sama Bu Lastri. Bukan masalah anaknya yang mirip Aris, tapi kalau Bu Lastri tahu Dinda gak suka sama Aris. Harusnya gak usah bilang begitu, apalagi sangat lantang di depan Dinda. Bener-bener bikin mood Dinda jadi gak karuan.
Di sekakmat sama pak Bambang, Bu Lastri langsung diam. Dia melirik Dinda yang seperti tengah sedih. Ingin menghibur, bu Lastri jadi takut. Ya, semua memang salah Bu Lastri sih. Dinda marah karena Bu Lastri sendiri yang bikin api. Padahal tadinya hubungan mereka harmonis, sekarang mendadak kaku dan saling tak mengenal.
Sementara itu, setelah infusnya dilepas. Aris langsung pergi ke toko perlengkapan bayi. Dia memilih-milih sendiri, kadang kalau gak tahu apa yang harus dia beli, Aris langsung tanya sama penjaga toko.
Banyak yang dia beli, dari minyak kayu putih, bedak, baju bayi, semua kebutuhan buat bayi dia beli.
"Kira-kira ada yang kurang gak ya?" gumam Aris sambil menatap troli belanjanya. "Ah, kalau kurang gampang. Nanti bisa beli lagi," sambungnya sambil membawa ke kasir.
Ternyata memilih pelengkapan bayi itu tidak mudah. Semua butuh waktu dan harus memilih yang pas. Usai membayar, Aris melihat jam tangannya. Ternyata sudah tengah hari. Padahal lahir si bayi tadi jam 8.
'Moga Dinda gak marah,' harapnya. Apalagi Aris harus pulang ke rumah pak Bambang dulu. Gak mungkin barang yang dia beli langsung dipakai. Karena kata pelayan toko tadi harus dicuci, biar kulit bayi gak gatel. Sebab kulit bayi itu sangat sensitif, takutnya bakalan gatel gara-gara terkena debu.
Jadi sekarang Aris langsung cus ke rumah pak Bambang. Di sana dia malah ketemu Mega yang di rumah sendirian. Sangat gak nyaman Aris berduaan dengan Mega. Bahkan Mega sempat bertanya dan ingin membantunya mencuci.
"Sini biar ku bantu!" katanya. Tapi langsung ditolak sama Aris.
"Gak usah mbak. Biar aku aja," jawab Aris yang langsung pergi ke kamarnya. Lalu dia kunci pintunya dari dalam. Takutnya bakalan ada fitnah kalau Aris mengijinkan Mega membantunya. Sebenarnya kalau Mega membantu, pekerjaan jadi ringan dan Aris bisa cepet balik ke rumah sakit. Tapi masalahnya, Mega itu orang lain. Sesama ipar berlainan jenis, kayaknya tidak pantes kalau terlalu dekat. Pasti ketiganya adalah setan yang akan mempengaruhi keimanan mereka.
Di saat dia mencuci begini, Aris jadi teringat Lia. Pasti kalau ada Lia, pekerjaannya seperti ini akan jadi lebih ringan. Mana mungkin Lia menolak mengurusi anaknya Aris. Kan masih keponakannya sendiri.
"Ya Allah, gimana ya keadaan mereka sekarang?"
Ya begitulah manusia, di saat kita sedang susah. Pasti keluarga yang akan kita ingat, bukan orang lain. Jadi kalau bisa, Aris harusnya tetap menjaga silaturahmi pada keluarganya. Bukan malah kabur dan hidup sendiri. Sesungguhnya manusia itu tidak akan cukup kalau hidup sendirian.
__ADS_1
Usai menjemur pakaian, Aris langsung mandi dan bersiap-siap ke rumah sakit. Ini sudah terlalu sore. Semoga Dinda mengerti dengan hal yang dilakukan Aris untuk anaknya.
"Mau ke rumah sakit?" tanya Mega sambil menatap Aris.
"Iya mbak," jawab Aris setengah malas.
"Ikut dong? Aku juga mau lihat anak kalian," kata Mega penuh harap.
"Rumah gak ada yang jaga mbak. Kan bisa nanti aja mbak, nunggu mas Wawan pulang," kata Aris lagi. Apa iya dia harus membonceng Mega? Jangan harap deh, selama ini dia itu cuma boncengin Dinda. Nesa? Nesa juga gak pernah mau dibonceng, jadi perempuan yang ia bonceng selama ini ya masih Dinda, istrinya.
"Tapi..."
"Dah ya mbak. Aku pamit dulu, assalamualaikum," kata Aris dan segera berlalu.
"Wa'alaikumussalam. Sombong banget," gerutu Mega kesal. Coba kalau ada Bu Lastri, pasti Mega akan langsung ngadu pada Bu Lastri.
"Huh, nasib hidup numpang mertua," gumamnya sambil kembali ke kamar.
Sebelum sampai ke rumah sakit. Aris menyempatkan diri untuk membeli makanan, buah-buahan buat Dinda. Aris juga tak lupa membelikan popok bayi, susu formula berikut botolnya. Satu lagi, pembalut. Kalau sampai ketinggalan, Dinda pasti akan marah dan gak mau ngomong sama dia. Jadi sebelum hal itu terjadi, Aris harus antisipasi lebih dulu.
"Soalnya ibumu lucu kalau marah. Dia bakalan diemin ayah," gumam Aris yang bermaksud cerita ke anaknya. Padahal dia di jalan. Mana mungkin ada yang dengar selain angin di sore itu.
Sesampainya di rumah sakit. Aris langsung masuk dan ternyata di dalam masih ada Bu Lastri dan pak Bambang.
"Maaf Yah, Bu. Aris baru sampai. Ini Aris bawakan makanan buat ayah dan ibu," katanya sambil menyodorkan 2 bungkus makanan.
"Weleh, ayah tungguin dari tadi lho. Yo wes, karena kamu udah datang... Ayah dan ibu mau pamit, makanane ayah bawa yo?" kata pak Bambang sambil ijin. Sedari tadi mereka berdua ingin pulang, tapi Aris belum datang-datang, jadi ya harus nunggu. Dan sekarang mereka mau pamitan.
"Iya nak Aris. Ibu sama ayah mau pamit dulu. Tadi si Mega di rumah sendirian kan?" tanya Bu Lastri memastikan. Dan Aris mengangguk mengiyakan. Melihat itu, Dinda langsung memicingkan matanya. Kesal juga karena ternyata Aris cuma berduaan dengan si Mega.
__ADS_1
"Nak Dinda, ibu pamit dulu ya?" pamit Bu Lastri.
Dinda hanya balas mengangguk.
"Ayah juga balik dulu ya? Kalau ada apa-apa, minta tolong sama suamimu, jangan sungkan-sungkan," kata pak Bambang menasihati Dinda.
"Iya ayah," jawab Dinda pasrah.
"Ya udah ya cu, kakek sama nenek mau pulang. Yang pinter ya," kata pak Bambang berpamitan.
Setelah pak Bambang dan Bu Lastri pergi. Kini tinggal mereka berdua yang saling menatap. Tapi ditatap Aris sangat lama seperti itu, membuat Dinda memalingkan wajahnya. Kesal. Kenapa Aris sangat lama ditungguin? Gak tahunya si Aris malah berduaan dengan Mega? Benarkah kalau seperti ini tandanya si Dinda cemburu?
"Sayang, anak kita udah minum belum? Mas bawakan susu sama botol buat dia?" kata Aris sambil menatap si kecil.
Dinda diam saja tak menggubris. Aris menghembuskan nafas beratnya. 'Alamat nih, kayaknya Dinda marah sama aku,' batin Aris yang sudah merasa bakal ada badai halilintar untuknya.
"Sayang, maaf ya kalau aku baru datang. Tadi itu..."
"Apa? Mas asik berduaan sama mbak Mega kan? Jadi mas lupa sama omongan mas sendiri, yang katanya gak akan lama," tuding Dinda yang membuat Aris melongo. Padahal Aris tadi belum selesai bicara, tapi Dinda sudah main potong aja.
"Berduaan? Iya di rumah itu emang ada kami berdua. Tapi mas gak berduaan sama mbak Mega. Dinda, mas tadi itu..."
"Gak usah alesan deh mas. Kalau mas emang gak mau jagain kita, aku gak apa-apa kok," kata Dinda menyerah.
"Astaghfirullah Dinda. Kamu kenapa sih? Sumpah mas gak berduaan sama mbak Mega. Mas tadi nyuci barang-barang yang mas beli tadi. Biar anak kita gak kegatelan pas makainya," terang Aris menjelaskan.
Dinda mencelos. Gak tahu kenapa, dia tiba-tiba merasa cemburu saat denger Mega sendirian di rumah. Apalagi Aris juga ada di rumah itu. Huft. Kenapa jiwa labilnya gak hilang-hilang? Dinda menarik nafas panjang. Haruskah dia percaya dengan kesetiaan Aris?
Bersambung...
__ADS_1