Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Wawan Begitu Perhatian


__ADS_3

***


Dinda POV


Masa iddah ku sudah berakhir. Rasanya lega sekali. Satu masalahku sudah berhasil ku lewati. Kini tinggal jawaban ke Aris yang masih menggantung.


Kenapa sangat sulit untuk mengatakan iya ke Aris? Ada apa sebenarnya denganku?


Huh. Nafasku sering ngos-ngosan setelah beraktifitas. Mungkin ini karena usia kandunganku yang sudah berusia 7 bulan lebih, jadi ruang gerakku jadi terbatas. Gampang capek, terus mulai susah tidur. Tapi beruntung, tiap aku kepanasan gak bisa tidur. Mas Wawan selalu siaga menyiapkan kipas angin. Atau menyiapkan keperluanku agar aku ini tidak repot. Soal mas Wawan, jangan tanyakan lagi. Seperti sekarang ini, dia sibuk menyiapkan susu hamil untukku.


"Diminum Din, biar debay (dedek bayi) dan kamunya sehat," kata mas Wawan sambil menyodorkan segelas susu untukku.


"Makasih Mas. Udah mau direpotkan sama aku," kataku sambil menerima segelas air susu itu.


"Heleh apaan sih, pake acara makasih segala. Kek sama orang lain aja," cemberutnya gak terima dengan ucapan terimakasih ku.


"Iya-iya aku minum."


"Gitu dong!" Mas Wawan menipiskan bibirnya. Mengambil langkah untuk duduk di sebelahku. Sebenarnya agak risih, tapi aku mulai terbiasa dan menganggap mas Wawan ini seperti kakak kandungku sendiri. Karena dia begitu baik dan sangat perhatian sama aku. Aku senang, setidaknya aku gak terlalu kerepotan.


"Gimana Din? Masakan ibu enak gak?" tanya ibu Lastri tiba-tiba.


Ku lihat dari tadi, ayah sama ibu Lastri senyum-senyum. Entah apa yang mereka pikirkan. Aku gak mau terlalu kepo. Biarin aja, itu urusan mereka. Asal mereka bahagia, aku udah ikut seneng lihatnya.


"Enak kok Bu. Apasih masakan ibu yang gak enak?" pujiku menggoda.


"Weleh, sikap ayah kenapa nurun di kamu Din?" celetuk ayahku.


"Kalau gak nurun ayah, terus nurun siapa? Masa nurun tetangga tho Yah?" sahut mas Wawan dan semuanya jadi cekikikan. Termasuk aku sendiri.


Di tengah menikmati sarapan pagi ku ini, tiba-tiba aku kepikiran soal Aris. Hampir setiap harinya dia selalu menanyakan tentang uang darinya. Uang pemberiannya yang disimpan lewat kartu ATM waktu lalu. Dia selalu bertanya, kenapa uang yang diberikannya gak pernah ku pakai?


Aku memang sengaja tak ingin memakainya. Orang lagi tidak butuh, masa iya sih ku paksa buat beli. Takutnya malah mubazir dan terkesan kalau aku ini boros. Lagi juga kami belum menikah. Jadi rasanya aku gak berhak menggunakan uang darinya


"Ngelamunin apa sih?"

__ADS_1


Pertanyaan mas Wawan langsung membuyarkan semuanya.


"Gak Mas," dustaku.


"Habisin susunya," suruhnya penuh perhatian. Dia memang selalu begini. Perhatian dan sayang banget sama aku. Mungkin karena dia anak tunggal kali ya, jadi dia seneng gitu pas dapat saudara meskipun tiri.


"Iya Mas." Segera ku minum susu itu sampai tandas.


"Nah pinter," katanya sambil meraih gelas kosong dari tanganku.


Author POV


Melihat susu buatannya telah tandas, Wawan segera meraih gelas itu. Ia bawa kembali ke dapur dan segera mencuncinya. Wawan memang benar-benar bersikap seperti kakak yang baik buat adiknya. Padahal dia begini karena dia punya rasa untuk Dinda. Tapi tak ada seorangpun yang peka akan perasaannya itu. Jadi jangan salahkan jika sekeluarga ini mengira kalau perhatian Wawan ke Dinda hanyalah rasa sayang ke adik. Meskipun sebenarnya semua itu sangatlah salah. Tapi selama masih ada kesempatan, Wawan akan terus mencari perhatian pada Dinda.


Setelah selesai mencuci gelas. Wawan melihat jam di ponselnya. Ternyata sudah mepet waktunya untuk bekerja.


"Mas mau berangkat dulu Din. Kalo butuh apa-apa, langsung telpon Mas aja." Diusapnya lembut poni yang sebatas alis itu. Dinda langsung manyun, Wawan selalu begitu di setiap paginya. Merusak rambut Dinda. Huft, menjengkelkan.


"Yah, Buk! Wawan berangkat. Assalamualaikum," pamitnya agak tergesa.


***


Setelah pulang kerja. Aris menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan. Buah yang akhir-akhir ini jadi kesukaannya, mangga madu. Aris berharap, Dinda juga menginginkan buah itu.


Tak hanya mangga saja, Aris juga membelikan beberapa makanan ringan, seperti coklat, susu, roti. Ya mungkin buat cemilan Dinda. Sebab sampai sekarangpun Dinda belum mau membelanjakan uangnya.


"Dinda ini sebenarnya kenapa sih? Apa dia ini gadis yang gak ngerti uang? Padahal setahuku, gadis seumurannya tu lagi seneng-senengnya habisin duit. Shopping ini itu. Tapi Dinda... dia benar-benar berbeda. Aku jadi semakin cinta," gumam Aris sambil Aris melajukan sepeda motornya.


"Ah, jadi gak sabar. Pengen cepet-cepet halalin Dinda. Tidur bareng, tinggal seatap. Uh, udah gak sabar rasanya. Pasti sweet banget," ucap Aris lagi penuh harap.


Selang beberapa menit kemudian, Aris sudah sampai di halaman rumah Dinda. Menenteng 2 kantong plastik belanjaannya.


Dia menghirup nafas sejenak, agar kegugupannya pergi jauh tak menghinggapinya lagi. Rasanya Aris benar-benar jatuh cinta pada Dinda. Baru saja menginjakkan kaki, tapi jantungnya sudah berdenyut tak beraturan.


"Assalamu'alaikum," salam Aris tepat di depan pintu kayu berwarna hitam itu.

__ADS_1


"Kayak ada yang ngucapin salam?" tanya Bu Lastri pada Dinda.


Tapi Dinda menggeleng. Sebab dia tak mendengar suara apa-apa.


Sore hari di dalam rumah itu hanya ada Dinda dan bu Lastri saja. Keduanya masih asik bercengkerama di dapur. Mendengar dua kali salam, impulsif bu Lastri segera beranjak dari dapur menuju ke ruang tamu.


Dibukanya pintu itu, ada kata bertanya di dalam hatinya tentang siapakah sosok pria yang ada di depannya ini?


"Wa'alaikumussalam, cari siapa ya?" jawabnya seraya bertanya.


Aris sempat kaget. Tapi dia sudah menduga kalau Dinda punya mas tiri, itu tandanya Dinda juga punya ibu tiri. Terbukti dengan berdirinya bu Lastri yang kini ada di depannya. Jadi Aris kudu hormat tentunya. Tak ada kata untuk tidak hormat, meski ulah Wawan begitu menyebalkan dan membuatnya jealous. Tapi ibu Lastri ini juga calon mertuanya.


"Saya Aris, Bu. Mau bertemu Dinda. Dindanya ada?"


Sedikit berfikir, akhirnya bu Lastri mengiyakan. Dia sudah tahu bukan? Tentang nama Aris yang sering disebut-sebut sebagai ayah biologis dari anak yang di kandung Dinda.


'Jadi ini orang yang udah menghamili Dinda,' batin Bu Lastri sedikit kaget. Tapi kemudian Bu Lastri bersikap biasa saja. Selain tampan, Aris terlihat mapan dan dewasa. Makanya Jo setuju kalau Aris menikahi Dinda.


"Oh, nak Aris. Tunggu sebentar, saya panggilkan Dinda dulu. Ayo silahkan masuk!" suruh Bu Lastri pada akhirnya.


Aris hanya mengikuti intruksi dari bu Lastri. Duduk di kursi biasanya yang dekat dengan pintu masuk.


Sementara Bu Lastri pergi ke dapur, menemui Dinda.


"Din."


"Iya Bu," jawab Dinda penasaran.


"Ada tamu tuh?" kata Bu Lastri setengah-setengah.


"Siapa Bu?" Dinda makin kepo.


"Emmm..."


Dinda makin penasaran. Sebenarnya siapa tamu yang datang itu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2