Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Belum Membuahkan Hasil


__ADS_3

Kebetulan atau memang belum takdirnya. Saat Dinda keluar dari petak kecil itu, Aris justru memunggunginya.


"Halo Pak. Maaf hari ini saya lagi ada urusan mendadak. Jadi sepertinya saya mau mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan. Apa boleh?"


Saat ini Aris sedang sibuk menelepon atasannya. Dia lupa tak minta ijin dulu pada bos nya. Jadi beginilah dia. Menelepon sang atasan hingga tak terlalu memperhatikan tempat kosan tersebut.


Sedang Dinda yang sedari awal tidak menyadari kehadiran Aris. Dia hanya berjalan dengan santai, berjalan tanpa beban seperti biasanya. Hanya beban bayinya saja yang terkadang menendangnya dengan kuat. Dan juga tak bisa berjalan dengan cepat.


Dinda berjalan berlawanan arah. Jika Aris menghadap ke selatan. Maka Dinda berjalan ke arah utara. Mereka saling memunggungi. Dan saat Dinda berbelok ke arah timur, di situlah Aris menatap ke arahnya. Karena jauh, jadi Aris tak menyadari. Kalau yang ia tatap sekilas tadi adalah Dinda.


"Iya pak. Terimakasih banyak," jawab Aris dengan senang.


Klik.


Telepon usai. Aris kembali mengintai kost-an Dinda. Namun apa yang didapat. Hampir satu jam lamanya ia menunggu. Namun tak ada tanda-tanda kehadiran Dinda di sana.


"Kayaknya Dinda gak nge-kost di sini deh. Ya udah, aku coba cari di tempat lain aja," gumamnya.


Lalu dia memutar balikkan kendaraannya, menuju ke tempat kosan yang sedikit lumayan jauh. Kali aja Dinda ada di sana. Harapnya.


***


Sudah 6 tempat kost-an yang didatangi Aris. Namun sialnya, ke-6 tempat itu belum ada tanda-tanda keberadaan Dinda. Kekalutan semakin merajai hatinya. Dan seharian ini usahanya tak membuahkan hasil.


Dia kelelahan. Akhirnya ia kembali ke hotel tempatnya menginap semula. Saat dia merebahkan diri. Entah kenapa, dia merasa seperti dekat dengan Dinda. Tapi di mana? Apa mungkin mereka se-hotel? Fikirnya.


"Kok aku mikirnya Dinda ada di sini ya?"

__ADS_1


Aris mengubah posisinya menjadi duduk di ranjang yang bersepreikan warna cream itu. Mungkin dia harus merogoh kocek sementara ini. Untuk menginap beberapa hari di hotel. Tak apalah, semuanya demi Dinda dan anaknya. Dia yang mulai berbuat masalah. Jadi dia juga yang harus berkorban, bertanggung jawab atas kesalahannya. Semangat untuknya.


Aris mengambil ponselnya. Dia memberikan sebuah pesan kepada Dinda.


"Maaf ya, aku belum bisa menemukanmu."


Pesan itu terkirim langsung ke Dinda. Dinda justru merasa lega saat membaca pesan dari Aris barusan. Itu tandanya, ia masih bisa bernafas bebas. Jadi Dinda tak perlu khawatir lagi untuk keluar dari tempat kost-nya lagi.


"Alhamdulillah. Huh, lega banget. Aku gak perlu takut lagi buat keluar dari tempat kost."


Fikir Dinda, Aris pasti sudah pindah tempat. Tak mungkin ia berlama-lama menyewa hotel di sini. Karena itu bisa menguras kantongnya Aris. Ya, Dinda yakin. Aris pasti sudah menjauh dari tempatnya sekarang.


"Iya, aku yakin... kalau Aris udah gak di hotel ini lagi."


Jika itu benar, maka perjuangan mereka untuk bersama masih lama. Semua hanya tergantung Aris. Dan Dinda? Dia hanya pasif. Menerima kenyataannya saja. Jika itu pahit, mungkin dia harus mencari penawarnya. Mencari sesuatu yang manis.


"Kita harus sabar ya Sayang. Jika dia benar-benar sayang sama kamu, pasti dia mencarimu," ucap Dinda pelan. Tangan lentiknya itu terulur mengusap perut yang lumayan menonjol. Asal diketahui saja, Dinda ini jarang berperiksa. Alias tidak rutin. Jadi tentang jenis kelamin anaknya pun dia tak tahu. Karena dia merasa malu sudah hamil janda pula.


Sebenarnya Dinda juga ingin menghubungi ayahnya. Tapi mengingat kalau pak Bambang dan Bu Lastri masih kategori pengantin baru. Jadi Dinda sedikit tak enak kalau tiap waktu mengganggu mereka. Lagi pula, keberadaannya ini sedang dirahasiakan. Biar Wawan gak berharap pada Dinda. Begitu juga sebaliknya.


Wawan? Wawan memang ada, selalu ada disetiap Dinda butuhkan. Tapi Dinda takut, dia tak berhak jatuh cinta pada Wawan. Meskipun hal itu sangat boleh. Sah sah juga, jika mereka menikah.


Hanya saja, Dinda takut jika Wawan tak bisa menerima anaknya. Sekali lagi, anaknya ada yang lebih berhak. Ayah biologis juga ada. Kalaupun harus memilih, dia lebih memilih sendiri. Single parent sepertinya tak masalah. Cuma pertanyaannya, sanggupkah dia? Single parent artinya harus siap menjadi ibu dan ayah sekaligus. Tandanya dia harus siap menafkahi kebutuhan anaknya dan juga dirinya sendiri.


Melihat dia yang masih lulusan SMA. Sepertinya Dinda belum sanggup, ia tak mampu melaluinya.


"Huh, kenapa jadi mikir itu sih? Lagian Aris kenapa? Kalo dia gak bisa nemuin kan ya udah," omelnya tiba-tiba. Mendadak dia berharap pada Aris.

__ADS_1


Ini sangat tak biasa. Dinda jarang mengomel, tetiba saja dia mengomel hanya karena Aris belum bisa menemukannya. Bukankah dia menjauh karena keinginan Dinda sendiri? Harusnya Dinda bisa menerima resikonya.


"Sebenarnya Aris sayang gak sih sama aku?" tanyanya pada keheningan malam.


Mungkin Dinda begini karena efek kehamilannya dan dia juga kesepian di sini.


***


5 hari sudah Aris mencari Dinda. Namun masih belum ada tanda-tanda. Rasanya ingin sekali menyerah. Tapi itu tak boleh terjadi. "Aku harus menemukan Dinda, gimana pun caranya. Ya Allah, berikanlah petunjuk. Kenapa rasanya Dinda semakin jauh dari hamba Ya Allah?"


Sore itu, cuaca di sana begitu cerah dan panas. Saking panasnya, ibu hamil ini merasa kehausan. Ia ingin mencari es degan yang ada di seberang penginapan.


Apa Dinda berani ke sana? Jawabannya sangat berani. Meskipun Aris di Sidoarjo, buktinya sampe sekarang mereka tidak bertemu. Bukan tidak, mungkin belum dipertemukan. Mungkinkah Aris menyerah? Atau dia sedang mencari di tempat lain?


"Bagus deh, mendingan gak usah ketemu sekalian. Kita emang gak jodoh, jadi biarkan aja aku ngebesarin anak ini sendirian. Cowok emang gak bisa dipercaya. Aku benci Aris!"


Yah, itu Dinda. Sepertinya dia sedang membalikkan fakta. Lain di mulut, lain juga di hati. Di mulut bisa saja dia berkata seperti itu, tapi di hati? Bukankah dia sering menangis gara-gara menunggu kedatangan Aris?


Dengan berjalan kaki, hitung-hitung ini adalah olah raga. Jalan-jalan sore. Ia menyebrang jalanan yang lumayan sedikit padat. Dan ya, Dinda berhasil menyeberang.


"Yeay, kita beli es degan Sayang," gumam Dinda girang.


Sementara itu, Aris melamun di samping jendela kaca yang berwarna putih bening. Padahal pemandangan di sore hari sangatlah menarik. Namun sayang, pemuda 26 tahun ini sepertinya hanya tertarik pada fikirannya yang entah lagi di mana.


Dia mendesah lelah. Diusapkan tangannya ke wajah dengan kasar. Pandangan itu kembali normal seperti biasanya. Saat ia hendak menutup tirai jendela hotel. Matanya menangkap sesosok perempuan yang ia cari selama ini.


Mungkinkah itu Dinda?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2