
Di tempat Aris dan Dinda.
Bu Rukmini dan Lia menyambutnya dengan heboh. Tidak meriah, tapi suasananya terasa hangat dan harmonis. Kekeluargaannya lebih terasa ketimbang sebelumnya.
"Ututu cucu nenek. Sini biar ibuk yang gendong Din, kalian berdua makan aja dulu." Bu Rukmini mengambil alih Zahra ke gendongannya.
Dinda tersenyum bahagia. Akhirnya ada yang mau menyayangi Zahra dengan tulus.
"Makasih ya Buk. Maaf ngerepotin." Dinda tak enak hati.
"Udah, gak apa-apa. Kenapa harus minta maaf? Zahra ini cucuku, darah dagingnya Aris, Din. Jadi udah tugas nenek buat bantu menjaga kalau mampu, iyakan Ris?" Bu Rukmini minta persetujuan pada Aris.
"Iya Buk. Makasih ya." Aris ikut seneng, seenggaknya ibunya welcome pada Dinda dan anaknya.
"Sama-sama. Ya udah, enakin makannya ya. Ibuk mau bawa Zahra ke ruang tamu," kata Bu Rukmini berpamitan.
"Gimana sayang?" tanya Aris saat melihat ibunya menjauh.
"Gimana apanya?" tanya Dinda polos. Dia mana tahu kode etik dari pertanyaan Aris itu.
"Gini lho, kira-kira kamu betah gak tinggal di sini?" tanya Aris memastikan. Aris gak mau Dinda hidup tersiksa untuk kedua kalinya. Jadi kalau ada jalan buat bahagia, kenapa harus memilih jalan yang susah?
Dinda mengambil nafas panjang. Melihat sikap Bu Rukmini kepadanya, ditambah lagi ini semua terjadi atas kemauan Dinda sendiri. Jadi Dinda merasa mantap tinggal di sini. Mungkin dia baru pindah kalau Lia sudah menikah nanti.
"Insya Allah aku betah mas," jawab Dinda jujur.
"Yakin gak? Atau jalanin aja dulu ya?" Aris mengusap kepala Dinda dengan sayang.
Dinda mengangguk dan melanjutkan acara malam mereka.
Beberapa hari kemudian.
Saat Dinda sudah bahagia hidup bersama ibu dan adiknya Aris. Si Mega tiba-tiba datang bertamu. Dalam keadaan hamil, badan kurus. Sepertinya Mega tidak terlalu merawat dirinya. Bisa dibilang. berbanding terbalik dengan keadaan Dinda dulu. Meskipun Dinda hamil tanpa suami, bahkan dalam keadaaan yang stres juga Dinda mengandung. Tapi untuk kondisi tubuh, Dinda malah lebih subur.
Ya tak bisa disalahkan juga. Mungkin Mega begini karena tak ada yang perhatian padanya. Wawan telah dipenjara akibat perbuatan jahatnya. Tapi apa tujuan Mega mau bertemu dengan Dinda?
"Ya mbak Mega, silahkan masuk!" Dinda telah mempersilakan Mega untuk masuk ke dalam rumahnya Bu Rukmini.
__ADS_1
Tentunya Dinda tak sendirian. Di rumah ini ada Bu Rukmini yang selalu menemani Dinda dan menjaga Zahra, sebab Aris dan Lia sudah fokus untuk bekerja lagi.
"Udah di sini aja Din," kata Mega mencegah langkah Dinda yang hendak masuk ke dalam.
"Kenapa?" tanya Dinda menatap Mega dengan heran.
"Aku cuma mau ngasih surat titipan dari Wawan. Maaf baru ngasihnya sekarang, soalnya beberapa hari ini aku sakit Din," curhat Mega. Tidak hanya sakit, Mega sendiri sebenarnya sangat malu untuk menemui Dinda dan Aris. Ini dia datang kemari karena nekat. Demi Wawan dia rela begini.
"Astaghfirullah, sakit apa mbak?" Mega langsung mengajak Mega untuk duduk di sampingnya. Bagaimana pun juga, Mega itu tetap saudara iparnya.
"Mungkin bawaan hamil Din. Atau anakku mungkin pengen dimanjain sama papanya," ucap Mega sambil mengelus anaknya.
Tadinya Dinda sumringah. Mendengar kata papa, seolah-olah di sini Dinda yang salah. Padahal jelas-jelas Mega begini karena ulah Wawan sendiri. Harusnya Mega sadar diri dan gak usah bawa-bawa papa di dalam percakapannya.
"Ow, kenapa mbak Mega gak jenguk mas Wawan kalau anaknya mbak Mega kangen papanya?" Salahkah pertanyaan Dinda ini? Mega saja tak berperasaan pada Dinda, jadi apakah salah kalau Dinda membalasnya dengan begini?
"Aku udah jenguk Din. Makanya dapat surat ini?" Mega mengelak. Dia sangat pandai untuk beralasan.
"Ow, coba aku baca isinya." Dinda menerima secuil kertas dari Mega. Kertasnya kelihatan kecil karena dilipat beberapa kali.
Assalamualaikum
Aris...Dinda, ini aku mas Wawan
Ku harap setelah kalian membaca surat ini, kalian tahu betapa tersiksanya aku di sini.
Din, Ris. Aku mohon kemurahan hati kalian. Anakku di dalam perut Mega, dia membutuhkanku.
Jujur aku sangat menyesal Ris
Aku emang bersalah udah mencelakaimu dan membuatmu hampir lumpuh
Maka dari itu aku nulis surat ini buat minta maaf pada kalian.
Tolong Din, Ris. Maafin mas Wawan yang udah jahat sama kalian. Aku janji, aku akan berubah. Tapi ku mohon, cabut laporan kalian ya. Mas janji kali ini mas Wawan gak akan pernah mengganggu kalian lagi.
Kalau bisa mas akan tinggal jauh dari kalian, asal mas Wawan bisa bersatu dengan Mega dan anak kami berdua. Karena mas Wawan baru sadar, kalau mas Wawan jatuh cinta sama Mega.
__ADS_1
Ku mohon kalian mengerti keadaanku di sini. Makasih banyak sebelumnya, dan maaf kalau udah ganggu kenyamanan kalian berdua.
Salamku
Wawan
Dinda membaca surat itu sambil gemetar. Matanya memerah sambil memikirkan hidupnya waktu dulu.
"Din," panggil Mega agak takut. Wajah Dinda sudah merah padam, entah menahan tangis atau menahan amarah. Yang jelas Mega hanya ingin berpamitan saja.
"Kalian hanya egois pada diri kalian sendiri," kata Dinda dan langsung meninggalkan Mega. Dinda sudah tak kuat. Dari pada dia berbuat nekat, lebih baik dia yang meninggalkan Mega.
Mega menatap kepergian Dinda dengan iba. Padahal Mega berharap Dinda punya hati nurani, tapi yang ada justru di luar ekspektasinya.
Melihat Dinda yang masuk dengan wajah sedih, Bu Rukmini akhirnya keluar dan menatap keberadaan Mega di depan.
"Apa yang kamu lakuin pada mantuku, nak?" tanya Bu Rukmini penuh pembelaan terhadap Dinda. Bu Rukmini sebenarnya tak ingin ikut campur, tapi kalau tidak begini... takutnya Mega akan terus menyakiti Dinda.
"Aku hanya menyampaikan amanat, gak lebih Bu." Mega ketakutan juga. Rasanya dia sudah tertekan akan hidupnya yang sekarang. Bolehkah kalau dia mengakhiri hidupnya sekarang? Andai tak ingat akan kehamilannya. Pasti Mega putuskan untuk meninggalkan Indonesia dan jadi TKW di luar negeri.
"Ibu harap kamu gak nyakitin Dinda lagi," kata Bu Rukmini sambil kembali balik badan.
Mega menghela nafas berat. Air matanya tiba-tiba kembali menetes. Harapan terakhirnya saat ini hanyalah bantuan Aris. Tapi apakah dia senekat itu buat bertemu Aris? Padahal Mega sendiri tidak tahu menahu atas perbuatan jahat yang telah Wawan lakukan pada Aris.
"Ya Allah, kenapa aku gak pernah bahagia? Padahal beberapa detik di hari itu aku baru merasakan kebahagiaan, tapi kenapa Engkau merenggutnya? Hiks." Mega menangis sambil meninggalkan pekarangan rumah Bu Rukmini.
DUARRR!!
Padahal hari ini tidak terlalu mendung, tapi tiba-tiba saja ada petir yang menyambar.
Dinda menatap keluar jendela kamarnya. Hujan juga belum turun, tapi petir tadi seperti hatinya yang kesambar atas surat yang Wawan tuliskan.
"Kenapa mas Wawan gak mikirin perasaanku? Mudahnya dia menyuruhku mencabut laporan ini? Sampai kapanpun aku gak ridho. Kalau maaf, aku pasti memaafkannya. Tapi kalau masalah keadilan, biarkan hukum negara yang menentukannya," gumam Dinda sambil memegang tralis jendela kamarnya.
Bersambung...
Akankah Dinda berubah pikiran?
__ADS_1