
"Apa itu Din?" tanya Wawan yang masih stay menunggu Bu Lastri dari luar kamar mandi belakang.
"Dari ibuku," jawab Dinda datar.
"Ibu? Ibunya siapa?" tanya Wawan lagi, penasaran level akut.
"Yah!" panggil Dinda saat melihat pak Bambang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Hm." Pak Bambang terlihat cuek. Kayaknya Bu Lastri memfitnahnya lagi.
'Bodo amat,' batin Dinda gak peduli. Yang penting dia mau ngasih tahu ke ayahnya itu, kalau besannya lagi duduk di luar. Ada tamu, masa sih dicuekin? Pikir Dinda yang jadi tidak mengerti akan sikap ayahnya.
"Di depan ada ibunya Aris. Dia nengokin Dinda dan Zahra. Ayah kalau masih punya hati, lebih baik ayah temuin beliau," kata Dinda lagi yang mulai kesal dengan sikap ayahnya. Mengingat tadi pagi ayahnya gak percaya sama omongannya, benar-benar membuat Dinda sakit hati. Kenapa sih kalau mantan napi? Apa mantan penjahat selamanya akan berbuat jahat?
'Nyebelin banget,' batin Dinda yang mulai tak karu-karuan dengan sikap ayahnya yang udah berubah gara-gara pernikahannya dengan bu Lastri.
"Jadi ibunya Aris? Ngapain gitu pake acara ke sini segala. Hadeh, jangan bilang pernikahan mereka dipercepat," gumam Wawan mulai was-was.
'Ini gak boleh dibiarin,' batin Wawan yang berusaha mengacaukan keadaan.
"Ini oleh-oleh dari ibu. Ayah atau semuanya yang mau, silahkan ambil. Karena ini diberikan untuk kalian semua," kata Dinda lagi sebelum meninggalkan semua orang.
Jangan kira Dinda terus diam. Sekali-kali biar pak Bambang paham. Seberapa sakitnya hati Dinda saat difitnah seperti tadi. Dinda memang pendiam, tapi kalau sudah keterlaluan kayak gitu. Mana mungkin dia diam? Nanti disangkanya gak ada apa-apa lagi. Ini Dinda belum cerita langsung ke pak Bambang. Bagaimana kalau nanti dia cerita tentang kelakuan busuk Bu Lastri the Genk, apakah pak Bambang akan percaya?
"Ya udah, nanti ayah temuin mereka. Tapi setelah mengantarkan ibuk istirahat," kata pak Bambang sambil terus mengantarkan Bu Lastri, dan dibantu Wawan di sebelahnya.
'Ada apa ya kok keluarganya Aris datang ke sini? Nengokin cucu? Ah, aku kok lupa. Kan Aris nyariin mereka, berarti udah ketemu dong?' Pak Bambang menduga-duga. Dia tak fokus mengantarkan Bu Lastri, sampai-sampai dia hampir kesandung lantai.
"Hati-hati Yah. Emang lagi mikirin apa?" tanya Bu Lastri penasaran.
"Gak Buk. Ya udah ibuk istirahat aja," ucap pak Bambang setelah merebahkan Bu Lastri.
__ADS_1
Pak Bambang bersiap untuk menemui keluarganya Aris, dan tak ketinggalan pula, si Wawan yang super kepo itu akhirnya ikutan menemuinya.
"Hai, ibunya Aris ya?" Pak Bambang berbasa-basi.
"Iya Pak. Assalamualaikum, salam kenal." Bu Rukmini menimpali basa-basinya pak Bambang.
"Alhamdulillah, akhirnya perjuangan Aris gak sia-sia ya." Pak Bambang menjeda ucapannya dan menatap ke Aris.
"Oya, ngomong-ngomong ketemu di mana Ris?"
"Iya Yah Alhamdulillah. Tadi Aris ketemu di rumah lama," kata Aris yang menanggapi ucapan pak Bambang. Pak Bambang emang agak berbeda jika di belakang Bu Lastri. Dia lebih care ke Aris, atau ini hanya firasatnya Aris saja.
"Terus ini rencananya gimana?" tanya pak Bambang memastikan.
'Duh, kenapa ayah pake tanya itu segala lagi?' Wawan gelisah. 'Bisa gawat kalau gini caranya.'
"Saya sebagai orang tua hanya ikut bagaimana baiknya Pak. Lagian semuanya udah ku pasrahkan sama Aris. Tinggal Nak Dindanya gimana? Karena saya tahu, letak kekurangan anak saya itu di mana," kata Bu Rukmini yang sudah pasrah akan keadaan Aris. Apalagi tentang masa lalunya Aris, pasti jarang-jarang ada orang yang mau menerimanya.
"Mas Wawan!" teriak Dinda emosi.
Bisa-bisanya di depan ibunya Aris, Wawan berkata begitu. Benar-benar gak punya sopan santun.
"Itu emang faktanya. Kamu jadi berubah kayak gini juga karena pengaruh dari Aris kan Din? Aris ini emang penjahat, jadi susah buat ngilangin kelakuan jahatnya itu."
"Saya gak belain siapa-siapa, emang seperti itulah anak saya seperti apa yang kalian lihat. Tapi sebagai ibunya Aris, saya gak rela kalau anak saya dikatain terus-terusan seperti itu!" sahut Bu Rukmini dengan tegas.
Ibu kandung mana yang akan diam saja jika anaknya dijelek-jelekkan seperti itu? Apalagi Aris sendiri hanya diam saja. Pasti rasanya kayak nelan air mata dan rasanya sampai ke ulu hati.
Sebenarnya siapa anak muda ini? Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan orang tua? Di mana attitude-nya? Pikir Bu Rukmini heran.
"Maafkan perilaku anak saya Bu." Pak Bambang tak enak hati. Sungkan gara-gara mulut Wawan yang gak ada rem.
__ADS_1
"Wan, mending kamu masuk ke dalam aja," suruh pak Bambang kemudian.
"Iya Yah!" jawab Wawan setengah dongkol.
"Sial! Lihat itu Buk! Ayah aja belain Aris dan ngusir Wawan," curhat Wawan pada Bu Lastri.
Bu Lastri ingin membela Wawan, tapi kondisinya tak memungkinkan.
"Gak pa-palah Wan. Biarin aja, lagian itu urusan mereka kan? Kita gak berhak ikut campur masalah keluarganya Aris," ucap Bu Lastri pasrah. Dia juga bingung mau ngapain. Semua segala bujuk rayu agar pak Bambang benci sama Aris sudah ia lakukan. Tapi ternyata semua usahanya hanya berakhir sia-sia, jadi harus apa lagi? Jalan dan rencana masih buntu, ditambah kondisinya yang kurang fit dari sebelumnya. Sangat-sangat menyusahkan Bu Lastri.
"Ya usahalah Buk. Masa iya aku jadi dibenci semua orang," keluh Wawan pada ibunya.
"Ya udah nanti ibu coba bujuk ayah ya. Biar dia sayangin kamu lagi," kata Bu Lastri mengalah.
"Pokoknya jangan sampai Dinda dan Aris menikah lagi," kata Wawan sambil menatap Bu Lastri dengan serius.
"Kenapa?" tanya Bu Lastri penasaran. Masalahnya Bu Lastri sendiri kepengen agar Dinda dan Aris cepat-cepat menikah. Jadi otomatis dia akan bebas saat berada di rumahnya pak Bambang. Tapi kenapa Wawan malah ingin menggagalkan pernikahan itu?
"Pokoknya lakuin apa yang Wawan suruh Buk. Soal yang lain gak usah tanya, itu urusan Wawan sendiri," kata Wawan emosi dan meninggalkan Bu Lastri.
Bu Lastri meratapi nasibnya. Mungkinkah dia salah mengasuh Wawan, sampai Wawan bersikap kurang ajar kayak gitu kepadanya?
Sementara itu. Di ruang tamu masih bersitegang soal kelakuan Wawan yang keterlaluan kayak tadi. Sampai Bu Rukmini jadi gak ikhlas membiarkan Aris berada di tengah-tengah keluarganya pak Bambang.
"Bapak sudah tahu keadaannya kan? Anak saya emang begini adanya. Kalau dia di sini menderita, biarkan saja dia tinggal di rumah saya dulu," kata Bu Rukmini. Dia sebenarnya juga tidak tahu menahu masalah aslinya seperti apa?
"Iya Bu, nanti Aris tinggal di rumah ibu. Tapi setelah kami menikah."
"Terus rencana kalian kapan? Ibu udah gak sabar," jawab Bu Rukmini senang.
Sepertinya kalau Dinda lihat, ibunya Aris begitu tulus dan sayang sama Aris. Benarkah?
__ADS_1
Bersambung...