
"Padahal dia tahu kamu lagi di dapur, tapi kok gak ada rasa perduli sedikitpun pada Zahra ya?" kata Aris lagi.
Kali ini Dinda mendekat dan memberi pengertian terhadap Aris.
"Barusan udah digendong kok mas. Cuma Zahranya gak mau diem. Jadi pas diem ku letakin di box, gak tahunya tetep nangis," kata Dinda menggamblangkan praduga negatif dari Aris.
"Ow, tapi ini ibu di depan kamar mas Wawan lho. Apa gak ada niatan buat nungguin bentar gitu?" Aris tiba-tiba merasa geram sendiri. Padahal dia tadi beliin semua keperluan dapur biar Bu Lastri dan Mega seneng. Itung-itung juga biar mereka mau bantuin Dinda barang sedikitpun. Tapi gak tahunya malah hal kayak gini yang didapatkan oleh Aris. Ini bukan masalah gak ikhlas, hanya saja Bu Lastri terlalu egois pada dirinya sendiri.
"Udahlah mas, gimana lagi. Mereka juga sepertinya lagi ada masalah. Gak pa-pa, Dinda bisa jaga Zahra sendirian kok. Bayi nangis wajar tho? Raskha juga nangis mulu kok, tapi mbak Nesa tetep sanggup ngatasinnya sendiri," kata Dinda dan Aris jadi kasihan.
Dinda duduk didekat Aris. Aris tengah murung itu gak baik, jadi Dinda segera mengalihkan perhatiannya.
"Gimana pencarianmu hari ini mas? Ketemu ibu dan Lia gak?"
Aris menatap Dinda dengan sayu. "Aku gak ketemu sama mereka," jawabnya.
"Gak apa-apa mas, masih banyak waktu buat mencari. Semangat ya, jangan pantang menyerah."
"Kalau aku menyerah, kan ada kamu yang nyemangatin aku," goda Aris kemudian.
Dinda paling bisa mengalihkan semua perasaannya. Aris gak tahu lagi, gimana hidupnya nanti jika tanpa Dinda?
Keduanya saling melontarkan tawa. "Hahaha, bisa aja kamu mas."
"Oiya Din," kata Aris terjeda.
"Apa itu mas?"
"Kayaknya ada titik terang dengan rumah lamaku. Soalnya pekarangan rumahnya masih terlihat bersih. Kalau menurutku, ibu dan Lia masih sering nengokin rumah itu," jawab Aris dengan yakin.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau gitu mas. Berarti mas setiap hari juga harus nengokin rumah itu, siapa tahu mas bakalan ketemu di sana."
"Iya, mas harap juga begitu." Aris kembali murung. Dinda gak bisa membiarkan ini.
"Terus kenapa masih sedih mas?" tanya Dinda sambil memberanikan diri menyentuh tangan Aris. Ini adalah sikap agresif Dinda pertama kalinya menyentuh Aris. Ada desiran hawa nafsu yang menyengat badannya. Sebelum semua itu semakin menjadi, Dinda segera menjauhkan tangannya tapi dicegah oleh Aris. Arispun juga sama. Di saat sedang kacau begini, cuma Dindalah obatnya.
"Din," panggil Aris dan kedua mata mereka saling beradu. Aris segera merebahkan Dinda dan Dinda pun menurut. Setiap diperlakukan mesra begini oleh Aris, jantungnya tak pernah aman.
"Mmuah! I love you Din," kata Aris sambil mengecup bibir Dinda.
Diperlakukan seperti itu, Dinda segera memejamkan matanya.
"Mmuuah! Mmuaah!"
Yang tadinya cuma kecupan-kecupan kecil. Kecupan itu langsung merembet dari bibir sampai ke leher Dinda. Aris seperti menggelitik nafsunya Dinda. Dinda gak bisa untuk gak bersuara engh. Hingga yang di luar sana curiga.
Wawan tak sabaran untuk mendobrak pintu kamar Dinda. Apalagi posisi Aris yang setengah menindih Dinda, pasti Aris langsung tertuduh tanpa ampun.
"Kenapa nak?" tanya Bu Lastri curiga dengan sikap Wawan yang tak biasa.
"Gak Buk." Wawan terlihat semakin lesu.
"Kamu gak jadi dobrak pintunya?" tanya Bu Lastri memastikan.
"Biarin ajalah Buk. Sekarang ini Wawan lagi laper, terus kenapa juga si Mega pake acara pulang? Gak pamit Wawan lagi," keluh Wawan pada ibunya.
"Ya udah makan dulu. Ibuk ambilin. Soal Mega ibuk gak tahu, ibuk pikir dia udah ijin kamu. Atau gara-gara kamu tidur, jadi dia gak enak pamitnya. Lagian dia bilang cuma bentar. Paling nanti dia juga balik," jawab Bu Lastri menenangkan Wawan.
"Kalau balik Buk."
__ADS_1
'Ibuk gak tahu aja, gimana hubungan Wawan dengan Mega? Andai ibuk tahu kalau kami hanya sebatas status tanpa ada rasa,' batin Wawan begitu hambar. Dia terlanjur panas mendengar lenguhan Dinda yang entahlah, terdengar begitu enak di telinga Wawan. Sampai Wawan merasa frustasi dan menyerah untuk mendapatkan Dinda.
"Kalau kalian baik-baik aja, kenapa gak balik? Atau mungkin Mega ada masalah sama keluarganya. Kalau Mega gak balik, kamu harus susulin dia Wan. Dia menantu ibuk yang paling pengertian, jangan sampai ibuk kehilangan dia," kata Bu Lastri setengah khawatir. Takut kehilangan Mega.
"Ogah ah Buk. Ngapain juga Wawan susulin dia. Wawan lagi gak enak badan Buk. Lagian rumah si Mega itu jauh banget," sahut Wawan sambil berjalan menuju ke tempat makan. Dia lapar gara-gara gak diurusin Mega. Nyatanya, meskipun dia gak cinta. Tapi Mega ada gunanya juga buat dia. Buat ngurusin pola makannya. Ya kalau boleh jujur juga, masakan Mega sangat lezat. Jadi siapa sih yang gak minat sama masakan Mega?
Sementara itu. Aris terasa lega dan bahagia saat dia melihat ada lukisan bibirnya di leher Dinda.
"Mas Aris ih, kenapa lihatin Dinda sampe segitunya?" tanya Dinda sedikit malu. Soalnya dari tadi Aris menatapnya tanpa berkedip sedetikpun.
"Jangan hapus hasil karya mas ya Din?" kata Aris sambil mengusap leher Dinda, yang di mana Aris membuat karya di sana.
"Dinda gak bakalan ngehapus mas, tapi kalau ada yang lihat gimana?" Dinda balik bertanya. Malu juga kan kalau sampai ada yang lihat. Kesannya Aris mesum banget sampai ninggalin kissmark di leher Dinda.
"Ya gak masalah. Lagian kita gak lagi itu kan? Kita cuma kissing dan ngenakin diri kita sendiri," jawab Aris dengan masa bodoh. Dia sudah gak perduli mereka mau ngomong apa lagi tentang Aris. Yang penting sekarang dia bahagia.
"Ya udah, mas mau ambil jemuran dulu ya? Kayaknya udah pada kering," kata Aris berpamitan.
"Iya mas, mau ku bantuin gak?" tawar Dinda.
"Gak usah sayang. Kamu bobok aja, atau mau makan?"
"Makan boleh, tapi bareng mas ya?" Dinda penuh harap.
"Iya sayang, kita makan setelah mas angakatin jemuran ya?"
"Iya mas," jawab Dinda sambil tersenyum. Sepergian Aris, Dinda langsung menuju ke cermin. Menatap pantulan dirinya. Bukan, lebih tepatnya menatap hasil kissmark Aris yang sempat membuatnya melayang ke langit ke tujuh.
"Kenapa aku baru ketemu sama kamu? Kenapa gak dari dulu aja mas? Andai dari dulu, mungkin nasib kita gak akan kayak gini. Mungkin aku udah merelakan diriku tanpa kamu paksa seperti dulu," gumam Dinda sambil menyentuh lehernya. Kissmark Aris benar-benar merubah Dinda jadi dewasa. Dewasa sebelum waktunya. Harusnya otak Dinda masih 19 plus bukan 21 plus kayak yang sekarang ini. Mana sekarang dia udah punya anak lagi.
__ADS_1
'Argh mas Aris.'
Bersambung...