Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Aris Sakit Perut


__ADS_3

Saking gak tahannya, Aris sampai lupa menutup pintu kamar. Tapi itu malah membuat pak Bambang kepo. Dia cuma melihat Dinda sedang bobo miring sambil selimutan. Semuanya terlihat rapi. Mungkin apa yang dikatakan Aris benar adanya.


'Aris emang gak ngapa-ngapain,' batin pak Bambang manggut-manggut sendiri.


Tak perlu waktu lama, tiba-tiba Aris keluar kamar. Dia memegangi perutnya yang entah kenapa itu.


"Masih sakit?" tanya pak Bambang sambil melihat Aris dari atas sampai bawah.


"Alhamdulillah udah gak Yah," jawab Aris yang kini keluar dari kamar, tak lupa pintunya ia tutup kembali.


"Kamu salah makan kali," tuding pak Bambang santai.


"Gak tahu nih Yah," jawab Aris yang tak mau ambil kesimpulan. Takut kalau jatuhnya fitnah atau malah nuduh.


"Kalau kamu masih mencret, minumin obat. Atau daun jambu muda, manjur itu buat sakit kayak gitu," ucap pak Bambang ngasih tahu.


"Iya, makasih Yah. Sekarang udah baikan," jawab Aris sambil duduk di kursi.


"Udah malam, ayah mau balik ke kamar," kata pak Bambang sambil berlalu.


"Iya Yah," jawab Aris sambil mencoba merebahkan tubuhnya.


Baru saja dia memejamkan mata, rasa sakit seperti tengah diremasi itu melandanya lagi.


"Ya Allah, ada apa dengan perutku?" gumamnya bingung. Perasaan dia cuma makan nasi pecel (waktu di kantor) dan malamnya makan nasgor. Apa iya gara-gara makanan itu?


Sudah gak tahan, Aris langsung lari menuju kamar. Saking kerasnya dia menutup pintu, Dinda sampai kebangun. Dinda langsung mengucek matanya dan duduk menatap pintu kamarnya yang ternyata gak ada siapa-siapa.


Dinda hendak mengatur posisinya, tapi dia mendengar suara gemericik dari kamar mandinya. Mungkinkah Aris? Duganya.


Diurungkannya untuk tidur kembali. Jadi Dinda terjaga sambil menunggu Aris keluar dari kamar mandi.


Dinda hendak marah, tapi diurungkannya. Sebab Dinda melihat Aris yang seperti kesakitan dan tangannya sambil memegangi perutnya. Dinda jadi heran dan memicingkan matanya.


"Kamu kenapa Mas?" tanya Dinda kemudian.


"Loh, kebangun ya? Maaf ya, gara-gara Mas kamu jadi bangun," sahut Aris merasa gak enak.


"Aku nanya, kamu kenapa?" tanya Dinda yang mengabaikan sahutan Aris barusan. Karena dia butuh jawaban bukan permintaan maaf seperti itu.


"Em ini, perutku dari tadi mules," jawab Aris pada akhirnya.


"Mas salah makan?" tanya Dinda sambil mencurigai Aris.

__ADS_1


"Gak tahu ini Din. Rasanya aneh aja, tiap dibawa ke kamar mandi gak ada keluar apa-apa. Tapi kadang masih sakit," curhat Aris kemudian.


"Ya udah, mas istirahat aja dulu. Biar Dinda ambilkan air anget. Takutnya mas Aris masuk angin," jawab Dinda sambil beranjak dari kasur. Lalu dia menuju ke dapur, mengambil air hangat yang ia janjikan untuk Aris.


Aris manut saja. Dia istirahat di kursi depan TV. Menyandarkan bahunya sambil memegangi perutnya. Ini pengalaman teraneh yang ia rasakan. Biasanya kalau masuk angin juga gak gini-gini amat, pikirnya penuh membedakan.


"Diminum Mas!" Dinda meletakkan segelas air hangat tepat di depan Aris.


"Makasih sayang," kata Aris tapi ternyata gerak-geriknya dimata-matai oleh si Wawan dari kamarnya.


'Sayang-sayang, sok sweet banget si Aris. Bikin gue pengen bejek-bejek mukanya,' batin Wawan penuh dengki.


Untungnya si Mega sudah tidur, jadi dia tak akan tahu kelakuan Wawan di belakangnya. Sampai kapanpun, Wawan masih ingin merebut Dinda dari Aris. Entah sampai kapan niatnya itu akan pupus. Tapi kalau dilihat-lihat sekarang, dia belum ada kapok-kapoknya.


Balik ke Aris. Perutnya kembali melilit. Segera dia minum air hangat buatan Dinda itu sampai habis.


"Pelan-pelan Mas," kata Dinda memperingatkan.


"Ini sakit banget Din," kata Aris sambil kembali memegangi perutnya.


"Lain kali jangan makan sembarangan!" nasehat Dinda saat melihat Aris hendak lari ke kamar mandi.


Dinda pun mengikuti Aris sampai kamar. Dinda sendiri merasakan aneh pada pinggangnya. Mendadak jadi kram. Padahal belum masa lahiran, perkiraan masih 2 mingguan kurang lebih.


"Masih sakit?" tanya Dinda merasa aneh.


"Sakitnya tuh hilang timbul. Pas sakit banget kayak tadi, kalau dibawa ke kamar mandi gak keluar apa-apa," jelas Aris pada Dinda.


"Kok aneh si Mas? Apa perlu Dinda rebusin air daun jambu?" tanya Dinda khawatir dengan keadaan Aris.


"Boleh Din. Tapi malam-malam gini, nyari daun jambu di mana?" Aris balik bertanya. Keringat dingin itu mendadak bermunculan akibat menahan rasa sakit yang sangat tak biasa.


"Di halaman belakang ada kok," jawab Dinda dengan yakin. Dinda keluar kamar diikuti oleh Aris. Karena Aris tak akan membiarkan Dinda sendirian di tengah malam seperti ini.


Wawan yang masih menguping itu, langsung pura-pura keluar kamar. Biar bisa nemenin Dinda niatnya. Tapi seribu sayang, saat dia melihat keluar. Ternyata sudah ada Aris. Jadi niat Wawan itu diurungkannya.


"Kenapa balik? Merasa gak berguna ya?" sindir Mega sambil mencebikkan bibirnya.


"Ngapain lu bangun? Ganggu aja," dengus Wawan sebal. Dia segera berjalan melewati Mega.


"Gue gak enak badan Wan. Ambilin minum kek!" suruh Mega kesal. Dari dia pingsan tadi, rasanya dia mau dehidrasi.


"Ambil aja sono sendiri!" ucap Wawan sambil kembali ke tempat tidurnya.

__ADS_1


"Punya suami gak ada gunanya," keluh Mega sambil menatap Wawan kesal.


"Apa lu bilang? Lu itu yang gak berguna!" maki Wawan balik. Tapi Mega gak perduli. Dia tinggalkan Wawan ke dapur dan mengambil air minum.


Tak sengaja, si Mega melihat Aris yang tengah berdiri sambil bersandar di pintu. Mega ingin bertanya, tapi diurungkannya. Lebih baik dia segera pergi dapur. Karena itu bukan urusannya. Lagi pula, dia sama Dinda masih ada perang batin yang belum ada kata maaf.


"Bentar ya Mas, aku rebusin." Dinda berjalan melewati Aris. Dia menyiapkan sedikit air di panci. Meletakkan di atas kompor lalu menyalakannya.


Aris berkali-kali mengaduh. Dinda jadi tak tega melihatnya.


"Mas tiduran aja deh, biar sambil ku olesin perutnya," kata Dinda yang membuat Aris bahagia. Tapi di satu sisi dia sedang kesakitan.


"Makasih ya sayang," ucap Aris sambil meninggalkan Dinda.


Dinda menunggu jamunya mendidih, tak lama setelah itu dia pergi ke kamar. Mengambil minyak oles untuk Aris.


"Sini aku olesin," kata Dinda sambil duduk di dekat Aris.


Aris menaikkan bajunya. Ragu sih? Tapi Dinda mengambil nafas panjang dan menuangkan sedikit minyak oles itu ke tangannya.


Dengan perlahan Dinda mengusapkan tangannya di perut Aris. Aris tersenyum melihat ketulusan Dinda padanya.


'Ya Allah, aku ingin waktu berhenti di sini saja. Biarkan Dinda tetap perhatian padaku Ya Allah, jangan kau ambil rasa bahagia ini dari hidupku. Aamiin.'


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Dinda saat usai mengolesi perut Aris. Pasalnya Dinda curiga kalau sakit Aris ini pura-pura.


"Enggak. Aku cuma bahagia diperhatikan sama kamu," jawab Aris yang membuat Dinda jadi deg-deg ser. Aris bukan tukang gombal seperti Briyan, tapi setiap kelakuannya bisa membuat Dinda luluh dalam sekejap.


"Oiya, jamunya," kata Dinda yang mengalihkan pembicaraan Aris barusan.


"Nih, diminum. Biar sakit perutnya hilang," ucap Dinda yang menyodorkan langsung ke tangan Aris.


"Aku lemes Din, pegangin gelasnya boleh?" pinta Aris yang sengaja ingin dimanjakan oleh Dinda.


Dinda mendesah pelan. Tapi tak sedikitpun dia menolak permintaan Aris itu.


"Iya sini," suruhnya yang membuat Aris makin tersenyum lebar.


'Terima kasih cinta, ketulusan hatimu adalah obat dari segala sakitku.'


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2