
"Jadi Dinda, maukah kamu menikah denganku?" tanya Aris penuh harap.
Dinda menyeka air matanya. Ini adalah pilihan tersulit dalam hidupnya.
'Ya Allah, aku harus gimana?' batinnya bimbang.
"Dinda," panggil Lia.
Dinda menatap Lia dengan intens. "Ku harap, kamu mau melaporkan kejahatan mas Aris ke kantor polisi," bisik Lia pelan.
Aris tak suka melihat kedekatan Lia dengan Dinda. "Apa yang kau lakuin Lia?"
"Aku nyuruh Dinda buat ngepenjarain mas Aris. Atau gak, mas Aris aja yang nyerahin diri ke kantor polisi," ucap Lia kemudian dia meninggalkan tempat itu. Dia sudah tak punya muka lagi di depan keluarga Dinda.
Dipinta seperti itu oleh adiknya sendiri. Aris terdiam mematung. Hanya 1 harapannya, yaitu Dinda tetap membela dirinya. Ntah karena ancaman atau apapun. Yang penting saat ini adalah Dinda.
Setelah kepergian Lia, keadaan menjadi sunyi. Hanya terdengar suara isakan yang keluar dari mulut Dinda.
"Din, kalau Dinda belum bisa memutuskan. Lebih baik pertanyaan Aris tadi gak usah dijawab. Tapi maafin mas Jo ya, kalau mas Jo akan menyerahkan Aris ke kantor polisi," putus Jo akhirnya. Namun lagi-lagi Dinda menahan keputusan sepihak dari Jo.
"Jangan mas! Dinda udah membuat keputusan," ujarnya sambil menarik ujung pakaian Jo.
Jo menatap dalam adik iparnya itu. Pak Bambang iba dan sebagai bapak dia hanya bisa pasrah. Pak Bambang tak ingin menekan Dinda lebih jauh. Sebab pak Bambang tahu, gimana keadaan Dinda saat ini. Jadi pak Bambang menyerahkan semua keputusannya di tangan Dinda. Apapun keputusannya nanti, pak Bambang akan mencoba menerimanya.
Sedang Lia, di luaran sana dia menangis. Menangis meratapi keluarganya dan juga kisah percintaannya yang mungkin tak bisa menyatu. Lia malu, malu dengan keluarga Jo. Terutama dengan pak Wahyu. Apa yang akan ia katakan nanti. Pak Wahyu pasti jijik melihat kelakuan masnya itu.
***
Di tempat lain.
Briyan tengah mendatangi Nesa. Dua manusia yang berbeda sikap dengan kepribadian ini sedang bertemu. Nesa langsung bersikap biasa, berusaha menutupi hal yang terjadi saat ini pada Dinda. Karena sejatinya, Dinda sangat mencintai Briyan begitu tulus.
Tapi di lubuk hati Nesa yang paling dalam. Nesa takut Briyan tak akan bisa menerima Dinda lagi. Apalagi dengan fakta yang ada sekarang, apakah Briyan bisa menerima Dinda?
Sedang Nesa sendiri tak akan pernah menyetujui kalau Dinda dinikahi laki-laki kejam seperti Aris. Pasti Dinda akan terus mengalami kekerasan dalam rumah tangganya nanti.
"Dinda belum ada kabar ya, Teh?" tanya Briyan dengan muka yang masam.
Nesa merasa tak enak, tapi dia harus tetap bungkam.
__ADS_1
"Belum ada Yan, mudahan Dinda segera ketemu ya?"
"Iya Teh, gue gak tahu kalo kayak gini jadinya. Gue fikir, Dinda ngambek kayak biasanya," balas Briyan lesu. Dari kemarin dia berusaha mencari keberadaan Dinda, dengan mendatangi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Namun nihil, di manapun Dinda tetap tak ia temukan.
***
Back to Dinda.
Dinda diam beberapa saat. Semua yang ada di sana masih sabar menunggu keputusan dari Dinda. Dinda mengusap ingusnya, lalu menarik nafas dalam-dalam. Setelah ia keluarkan, barulah dia membuka suaranya.
"Biarkan dia bebas mas. Tapi untuk menikah? (sambil menggeleng) kayaknya Dinda gak bisa."
Mendengar itu, Aris langsung kecewa. Dia terdiam di tempatnya. Entah kenapa, Aris jadi melow begini. Tak bisa dipungkiri, Aris pun sedih. Layaknya seorang cowok yang ditolak oleh pujaan hatinya.
Jo malah mengangguk setuju. Dia senang. Sepertinya ini adalah keputusan yang tepat untuk Dinda. Pak Bambang pun juga menyetujui keputusan Dinda.
Tapi Lia, ternyata dia ikut mendengarkan keputusan final yang Dinda pilih. Lia gak terima akan keputusan itu.
"Kenapa gak dilaporkan ke polisi aja Din? Mas Aris gak pantes bebas kayak gini," sahut Lia tiba-tiba.
"Enggak mbak Lia. Aku gak mau balas dendam," jawab Dinda dengan pasti.
"Tapi Din..."
Sebenarnya Lia hanya takut. Jika kesempatan dia untuk lebih dekat lagi dengan pak Wahyu akan gagal gara-gara kasus memalukan seperti ini.
Kali ini Aris yang gak terima dengan keputusan Dinda. Sepertinya Dinda melupakan ancamannya. Karena bagaimanapun juga Aris akan menikahi Dinda. Apapun itu akan Aris lakukan. Karena kalau tidak, Lia pasti yang akan dinikahi oleh pak Wahyu. Aris gak terima jika dia punya adik ipar yang harusnya pas dijadikan bapak untuknya.
"Dinda, kamu lupa ya Din?" Aris mencoba bersikap selembut mungkin untuk Dinda. Aris sudah berjalan beberapa langkah tepat di depan Dinda.
Justru suara Aris nan lembut itu membuat Dinda terasa terancam. "Gak! Tolong jangan mendekat!" teriak Dinda histeris.
Melihat Dinda yang ketakutan, Jo segera melindungi tubuh Dinda di balik punggungnya.
"Mau apa loe Ris?" tanya Jo sarkastik.
Pak Bambang yang melihatnya juga ikut melindungi Dinda. "Sekali lagi kamu buat anakku menangis, akan ku sembelih lehermu!"
"Udah, Yah. Biar Jo aja. Lebih baik ayah bawa Dinda pergi dari sini," bisik Jo pelan.
__ADS_1
Pak Bambang pun mengerti, dia segera membawa Dinda sedikit menjauh dari tempat itu. Namun sayangnya, Dinda enggan menggeser posisinya. Dinda masih berdiri menatap Aris dengan sendu.
"Dinda, ayo ikut ayah!" bisik pak Bambang lirih. Namun lagi-lagi, Dinda menolaknya.
"Biarin Dinda di sini Yah," sahutnya hampir tak terdengar di telinga pak Bambang.
"Tapi Din..."
Dinda langsung memotongnya dengan gelengan.
Dinda POV
Ntah kenapa, rasanya sulit sekali untuk pergi dari masalah ini. Apa lebih baik aku serahkan sama mas Jo aja ya? Aku takut kalau keputusan yang ku ambil akan merugikan banyak pihak, terutama buatku sendiri.
"Mas Jo, aku serahkan keputusan ini sama mas Jo aja. Soalnya... Dinda percaya kalau keputusan mas Jo adalah yang terbaik buat kedepannya," bisikku pelan.
Mas Jo langsung menoleh ke belakang, menatapku seperti gak percaya. Kelihatan kalau mas Jo sedikit berhati-hati menanggapi ucapanku tadi. Ya mungkin mas Jo takut bakal kenapa-kenapa. Mungkin takut disalahkan sih menurutku. Sebab, masalah ini menyangkut pernikahan. Jadi keputusan itu harusnya ada di tanganku, bukan orang lain.
"Gak Dinda, semua ada di tanganmu. Kalau kamu masih ragu... Ayo! Kalau gitu kita bicarakan semuanya dengan baik-baik," bujuknya tiba-tiba.
Mas Jo emang sangat dewasa. Padahal usianya gak beda jauh dengan usiaku yang udah 19 tahun ini.
Dan mas Jo dulunya juga pernah dalam posisi itu. Tapi mas Jo bukannya terpuruk, tapi dia lebih menikmati takdirnya yang sekarang.
"Din," panggil Aris yang mengagetkanku.
'Dia ini sebenarnya mengajak menikah atau memaksa menikah sih?' batinku heran.
Ini gak mudah buatku. Berat. Sangat berat malahan. Haruskah aku menerima Aris di saat aku udah punya pacar? Aku mencintai Briyan gak mau yang lain. Kalau aku menikah dengan orang asing ini, lalu bagaimana dengan Briyan?
Bimbang. Aku bingung dengan keputusan apa lagi selain menolaknya.
"Kasih aku waktu!" putusku kemudian.
"Tapi..." ucapan Aris terhenti sejenak.
Bersambung...
Apa keputusan yang akan diambil oleh Dinda? Menolak atau menerima?
__ADS_1