
...****************...
"Mas Aris, Alhamdulillah kamu udah sadar mas," ucap Dinda saat Aris sudah membuka matanya.
Setelah dipindahkan dari IGD ke kamar inap, 3 jam lamanya Dinda menunggu Aris siuman. Dan kini apa yang Dinda inginkan sudah terkabul. Suaminya sudah berhasil melewati masa kritisnya.
"Ya Allah, anakku!" Bu Rukmini menangis harus. Sedari tadi beliau sama cemasnya seperti Dinda. Menunggu Aris sadar itu rasanya sangat gelisah campur aduk tak menentu. Tapi hati kedua wanita ini akhirnya lega setelah harapannya tercapai.
"Mas Aris, akhirnya kamu sadar mas. Ya udah, Dinda panggilin dokter dulu ya?"
Dinda ingin berlari meninggalkan Aris, namun tiba-tiba saja tangan Aris yang tak terinfus meraih tangan Dinda.
Dinda yang posisinya membelakangi Aris langsung menoleh ke belakang.
"Iya mas," kata Dinda.
Tapi Aris tak bisa bersuara. Dia seperti ingin membuka mulutnya tapi susah.
'Tetaplah di sini Din,' batin Aris yang ingin mencegah kepergian istrinya itu.
"Mas, aku di sini. Jangan khawatir ya." Seperti bisa membaca pikiran Aris, Dinda langsung balik arah dan duduk di samping Aris.
"Mana yang sakit mas? Biar Dinda tiup sakitnya, biar cepat sembuh," kata Dinda yang berusaha menghibur suaminya.
"Am, em." Rasanya mulut Aris sangat kaku.
'Ya Allah, kenapa denganku? Kenapa aku sangat kesulitan untuk berucap,' batin Aris sangat sedih.
"Argh!" teriak Aris tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa mas?" Dinda makin panik dibuatnya. Aris tak bicara apa-apa, tapi kenapa dia langsung berteriak seperti merasakan kesakitan?
"Mas, Dinda panggilin dokter ya? Sebentar aja," ijin Dinda yang kali ini segera meninggalkan keberadaan Aris.
Saat ini Dinda hanya berharap yang terbaik buat Aris. Setelah Aris sadar, cobaan apa lagi yang harus ia terima?
"Dok, pasien bernama Aris di kamar Fattah nomor 03 udah siuman!" ucap Dinda dengan lantang. Saat ini dia berada di meja tempat dokter siaga.
"Baik, saya akan segera ke sana!" jawab salah seorang dokter sambil menyiapkan alat-alatnya. Di belakangnya ada seorang perawat yang mendampinginya.
"Kapan pasien siuman?" tanya dokter itu sambil mengecek detak jantung Aris dan sebagainya.
"Beberapa menit yang lalu dok," jawab Dinda sambil menatap wajah si dokter yang sangat sulit ditebak.
"Coba bilang aaaa," suruh dokter itu pada Aris.
Kalau soal suara, Aris tidak kenapa-kenapa. Hanya saja isi hati dan mulutnya sedang tidak sinkron.
"Sepertinya ini akibat benturan keras yang mengenai kepalanya pak Aris. Baiklah pak, biar saya berikan obat penghilang nyerinya. Jangan khawatir, sakit kepala yang bapak derita akan cepat pulih. Asal pak Aris tidak terlalu berpikiran yang macam-macam," kata dokter itu menenangkan Aris.
'Aku ingin sembuh! Dan menikah dengan Dinda besok,' batin Aris sambil menatap Dinda sambil menangis.
"Oya dok, kenapa seluruh badanku gak bisa digerakkan? Aku hanya bisa menggerakkan tangan yang ini, tapi yang ini, kenapa susah?" tanya Aris setengah berteriak. Ini bukanlah Aris, Aris yang sekarang seperti kehilangan kendali atas hati dan ucapan dari mulutnya.
Dokter itu terdiam seketika. Dia memang belum mengatakan apapun tentang kondisi tubuh Aris. Apalagi Dinda, rasa was-was itu sangat mengganggunya. Mengingat rem blong dan sepeda motor Aris sudah tak kelihatan layaknya sepeda. Sangat beruntung sekali Bu Rukmini ditakdirkan selamat dalam kecelakaan yang hampir menghilangkan nyawa Aris ini.
"Sebenarnya semua kondisi tubuh pak Aris sangat bagus. Hanya saja, ada sebagian syaraf otot yang putus. Dan itu membutuhkan kemoterapi. Kalau kondisi tubuh pak Aris sudah bagus, bapak bisa melakukan kemoterapi di kemudian hari. Dan maaf, mungkin efeknya juga bisa mengenai kaki pak Aris," kata dokter tak enak hati.
"Ya Allah!" Dinda membelalakkan matanya saking kagetnya. Benarkah suaminya tengah lumpuh sekarang ini?
__ADS_1
'Enggak! Mas Aris tidak mungkin seperti itu. Mas Aris pasti akan sembuh,' batin Dinda berusaha menyemangati dirinya.
Aris mengernyitkan dahinya. Apa dia akan mati rasa? Benarkah seperti itu? Tapi Aris tidak yakin, sebab Aris masih ingat betul gimana jatuhnya dia dari kendaraannya. Hanya saja, benturan di kepalanya emang tak bisa dia hindari. Tapi Aris rasa dia tak separah ini, sebenarnya apa yang terjadi dengan dia?
"Ini gak mungkin terjadi Dok. Pasti hasil check up nya ada yang salah," protes Aris tak terima. Bagaimana Dinda bisa menerimanya kalau dia cacat seperti ini?
"Sabar pak Aris. Pasti pak Aris akan sembuh," ucap dokter itu lagi dan Aris hanya menampakkan ekspresi bingung.
"Dinda," panggil Aris dan Dinda sudah berdiri lemas dalam rangkulan Bu Rukmini. Siapa yang gak kaget mendengaf anaknya cacat? Bu Rukmini pun sama terpukulnua dengan Dinda. Tapi beliau masih kuat, karena Bu Rukmini sudah bertekad akan tetap merawat Aris jika Dinda sudah tak mau dengan Aris lagi.
"Kalau aku lumpuh, apa kamu masih mau menerimaku?" tanya Aris sungguh-sungguh. Kenyataan bahwa dirinya sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, jadi sekarang ini Aris hanya bisa pasrah akan hidupnya yang seperti ini. Kalau Dinda menolaknya, mungkin cukup di sini jodoh mereka berdua.
Dilihat-lihat Dinda masih cantik, masih muda. Mana mungkin Dinda mau menerima keadaan Aris. Jadi kalaupun Dinda menjanda pasti banyak yang cowok-cowok antri untuk menikahinya lagi.
"Mas Aris jangan bilang begitu. Aku percaya mas Aris bakalan sembuh. Kamu udah janji mau nikahin aku lho mas? Jadi jangan berpikir yang macam-macam lagi. Karena aku akan selalu ada di sampingmu," kata Dinda yang kini sudah menggenggam tangan Aris.
"Kamu yakin?" tanya Aris memastikan lagi.
Dinda hanya mengangguk. Karena air mata terus mengalir tanpa Dinda mau.
"Makasih sayang. Tapi beneran deh, aku gak mau bebani kamu. Kalau kamu gak mau menerima keadaanku, aku ikhlas. Karena kamu berhak bahagia Din. Seberapa pun aku berusaha dan melarangmu untuk tidak pergi dariku, tapi sekarang aku sadar. Kebahagiaanmu adalah yang terpenting. Soal Zahra, tetap sesuai janjiku dulu. Biar aku yang merawatnya," kata Aris mengakhiri ucapan-ucapannya. Dia langsung memalingkan wajahnya dari hadapan Dinda.
Sakit, sungguh sakit rasanya. Hatinya bagai tertusuk sebilah sembilu saat mengatakan semua itu. Perpisahan bukanlah keinginannya. Tapi Aris sadar, dia sebagai kepala keluarga namun sudah tak ada gunanya sekarang. Jadi dari pada menyusahkan Dinda seumur hidupnya, lebih baik dia yang menderita. Ya, Aris sudah bilang sendiri. Kalau ditinggalkan Dinda dia akan mati, dan Aris ingin mati saat ini juga.
"Mas Aris! Gak usah bercanda kayak gitu. Dinda gak suka. Udah, mas Aris jangan berpikiran yang macam-macam ya. Ingat kata dokter tadi, mas Aris gak boleh banyak pikiran."
Dinda berusaha menahan emosinya. Tidak baik kalau dia menanggapi ucapan Aris yang seperti itu. Tega-teganya Aris tak ada niatan untuk sembuh hanya gara-gara perkiraan yang dokter ucapkan tadi. Di mana janjinya yang katanya mencintai Dinda? Tidak, pokoknya Dinda harus buat Aris sembuh lagi.
Bersambung...
__ADS_1