
***
Dinda POV
Usai sarapan pagi. Ku putuskan duduk di teras depan. Menatap kosong ke depan. Memikirkan lamaran Aris yang sampai sekarang masih ku gantung. Aku sadar, cepat atau lambat Aris pasti akan menanyakannya lagi. Meminta jawaban dariku.
Huh! Susah sekali rasanya. Kenapa aku selalu dihadapkan ke hal-hal yang sulit seperti ini? Jujur, rasa trauma masih menghantui mimpiku. Ya, meskipun tak sesering dulu. Tapi rasanya sulit banget ngelupain kejadian buruk yang pertama kali aku alami.
'Ya Allah, kenapa aku jadi mikirin yang tidak-tidak?'
"Dik Dinda bengong aja?"
"Hah!" Aku hampir jantungan gara-gara pertanyaan mas Wawan.
"Eh, maaf Din. Kaget ya?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk saja.
"Emang ngelamunin apa? Mas lihat, kamu dari tadi bengong terus?" keponya.
Dilihat-lihat, mas Wawan orangnya baik juga.
"Lagi mikir sesuatu aja Mas," sahutku kemudian.
"Mikirin apa? Bagi cerita dikit dong?" harapnya. Mungkin sih kepo.
Aku hanya mengumbar sedikit senyuman hambar. Enggan rasanya menanggapi mas Wawan. Kami kan baru kenal, jadi rasanya gak enak aja nyeritain hal yang gak dia ketahui.
"Huft!"
Terdengar mas Wawan seperti mendesah lelah.
"Mau nemenin Mas gak? Mas mau jalan-jalan, pengen menikmati suasana baru di sini itu seperti apa?" tawarnya padaku.
Sedikit tergiur dengan kata "jalan-jalan". Tak ada salahnya-kan, kalau aku menemani mas Wawan? Lagian aku juga bosen di rumah terus, aku juga butuh suasana baru buat menghibur diriku. Antara menerima Aris, atau----menolaknya lagi.
"Boleh," balasku.
"Yuk!" ajaknya sambil tersenyum lebar.
Tadinya aku sempat merasa aneh. Tapi ku cuekin aja.
Kami pun keliling komplek, dan terakhir berhenti di supermarket. Mas Wawan orangnya humoris. Jadi mau gak mau akupun melontarkan tawaku.
__ADS_1
"Mas Wawan apaan deh?" kataku menyahuti leluconnya.
"Gitu dong ketawa. Dari tadi manyun terus. Kayak jalan sama musuh aja," jawabnya.
"Mana ada begitu?" sahutku.
Dan setelah acara jalan-jalan hari ini. Aku makin yakin kalau mas Wawan bisa dijadikan kakak yang baik untukku. Ya meskipun aku belum bisa percaya 100% untuk menceritakan masalahku. Biarlah ku pendam sendiri. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan keluarnya. Aamiin.
***
Author POV
Sepulangnya dari supermarket. Wawan mengajak Dinda jalan-jalan di pujasera. Tempat khusus menjual makanan dan souvenir. Tentu Dinda senang. Dia merasa beban hidupnya sedikit berkurang.
"Wah, ada boneka!" teriaknya seperti anak-anak.
"Dinda mau boneka?" tanya Wawan.
Namun hanya dibalas anggukan semangat oleh Dinda.
"Ya udah, ambil gih!" suruh Wawan akhirnya.
"Bener mas? Asik?" jawab Dinda kegirangan.
'Comelnya ni anak. Bikin gemes aja,' batin Wawan senang. Dari tadi bibir si Wawan tak berhenti tersenyum. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi Wawan hari ini terlihat sangat bahagia.
"Dinda," panggil laki-laki itu pelan.
Namun Dinda masih bungkam. Hanya bola matanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri menatap mata Aris. Entah kenapa setiap ketemu ayah dari anaknya ini, lidah Dinda seraya kelu. Jantungnya bertalu-talu. Dinda benar-benar tak bisa mendeskripsikan perasaannya terhadap Aris. Perasaan yang mengambang. Antara menapak di bumi atau melayang di udara. Dinda benar-benar dibuat kaku oleh Aris dalam sekejap mata.
Mata Wawan memicing tak suka tatkala melihat tangan seorang pria yang dengan lancangnya menggenggam lengan adik tirinya.
"Maaf Mas, bisa lepasin gak?" suruh Wawan sambil menampik kasar tangan Aris yang masih setia bertengger di lengan Dinda.
Seketika itu juga, Aris melepaskan tangannya dan menatap Wawan dengan rasa penasaran. Siapa? Hanya itu kalimat tanya yang sepintas hinggap di otaknya.
Aris kembali menatap Dinda. Mempertanyakan rasa penasarannya itu. "Dia siapa Din?" tanyanya.
Baru saja Dinda menelan ludahnya hendak menjawab. Tiba-tiba Wawan menyelanya.
"Kenalkan, saya Wawan. Mas tirinya Dinda," ucap Wawan dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi. Tangannya menjulur ke depan dada Aris.
Aris langsung tersenyum lebar. Hanya kakak tiri bukan? Lalu dengan senang hati Aris membalas uluran tangan dari Wawan.
__ADS_1
"Saya Aris, calon suaminya Dinda."
'Hah?' batin Wawan kaget. Yang benar saja? Dinda-kan lagi hamil anak orang lain? Terus dia baru bercerai? Masa iya langsung punya calon suami? 'Gak bener nih,' ucapnya dalam hati tak percaya dengan jawaban yang dilontarkan oleh Aris.
Wawan langsung tersenyum. "Gak usah mengada-ada Mas, mana mungkin Dinda punya calon suami?"
Sepertinya Wawan meremehkan status Aris untuk Dinda. Beruntung sekali Wawan. Saat Wawan meremehkannya, Aris hanya balas tersenyum kecut. Jika mengingat masa lalunya, harusnya Wawan sudah mendapat bogeman mentah dari Aris.
Dinda jadi malas menghadapi mereka. Boneka yang hendak ia ambil tadi diurungkannya. Dia segera meninggalkan Aris dan Wawan. Pria dewasa yang saling tak percaya. Satu Aris yang mengklaim dirinya sebagai calon suaminya. Dan satunya kakak tiri yang begitu protektif pada Dinda.
Melihat kepergian Dinda, seketika itu juga kedua pria itu langsung mengikuti kepergiannya. Bak seorang putri, Dinda bagai didampingi dua pelayan pria yang kini berada di belakangnya.
"Dinda tungguin mas Wawan," pinta Wawan yang kesulitan mengejar langkah Dinda yang begitu cepat.
'Huft, apa-apaan sih mereka. Kayak anak kecil aja,' omel Dinda dalam hati. Mereka gak ngerti apa perasaan Dinda sekarang ini seperti apa?
Di sisi lain Aris juga gak mau kalah. Segera ia langkahkan kakinya menyamai lebar langkah kaki Dinda. "Dinda, inget anak kita. Kalo jalan jangan cepet-cepet, oke?" ucap Aris yang membuat Wawan membelalakkan matanya.
Wawan langsung menatap Aris dengan sinis. Permainan saling mencari muka, saling mengambil hati Dinda, itulah cara yang kini mereka berdua lakukan agar Dinda memihak salah satu di antara mereka.
"Kalian bisa diem gak?" ucap Dinda sambil menghentikan langkahnya. Suaranya naik satu oktaf, membuat dua pria yang ada di samping kanan dan kirinya terdiam seketika.
Dinda membalikkan badannya untuk menatap kedua pria yang ada di hadapannya ini, kemudian maju beberapa langkah biar agak dekat.
Dinda menatap Wawan dan disambut dengan wajah cemberut dari Wawan. Mungkin Wawan protes karena dibentak oleh Dinda.
Kemudian, pandangan Dinda beralih pada Aris. Aris seperti orang yang selalu menahan penyesalan. Wajah menyesallah yang kini Aris tampilkan membuat hati Dinda ikut merasakan betapa sakitnya penderitaan mereka berdua.
'Enaknya diapain ya si pembuat onar ini?'
Dinda mengatur nafasnya berkali-kali, sebelum mengatakan sesuatu pada mereka. "Dinda mau rujak," ujarnya kemudian.
Aris langsung tersenyum senang. "Ayo kalau begitu, kita beli rujak! Pasti anak ayah-kan yang minta?" ucapan spontanitas dari mulut Aris membuat Dinda ingin mengiyakan. Namun lagi-lagi, suara Dinda seperti tercekat di tenggorokan.
Wawan sempat mengernyitkan dahinya. Tak faham dengan apa yang dikatakan oleh Aris. Ayah bagaimana? Tanya ataukah meragukan? Yang jelas, Wawan tak ingin sependapat dengan itu.
"Biar aku aja, aku mas-nya!" serobot Wawan dengan embel-embel mas sebagai senjatanya.
Dinda langsung menoleh, menabrakkan bola matanya dengan bola mata Wawan. Jantung Wawan terhenti seketika. Ada apa dengan dirinya? Kenapa pengaruh Dinda begitu kuat dengan jantungnya?
"Dinda pengen sendiri. Tapi kalau kalian mau diem, Dinda ijinin kalian ikut," ucap Dinda sambil tersenyum senang. Tak sadarkah dia, kalau saat ini dia tengah menjaili si Aris dan Wawan.
'Emang enak?'
__ADS_1
Bak disihir, kedua pria itu memilih bungkam dan mengikuti kemanapun Dinda pergi. Termasuk menemaninya membeli rujak atau hanya sekedar membuang sampahpun mereka temani. Apa sih yang gak buat Dinda?
Bersambung...