Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Pertanyaan Dinda


__ADS_3

"Mas Wawan, bisa jelasin apa yang kalian obrolin barusan?" tanya Nesa tanpa bisa diganggu gugat.


"Gini Nes..."


Episode 79


"Ini masalah pekerjaan kok. Tadinya aku nyaranin mbak Mega buat kerja di kantornya Jo gitu. Tapi mbak Mega gak enak, nanti yang ada malah ganggu Jo gitu kan. Jadi dia mutusin gak kerja aja," ucap Wawan berbohong.


Nesa memicingkan matanya. Dia tadi hanya mendengar samar-samar. Bisa jadi dia salah dengar kan? Hampir saja dia curiga yang bukan-bukan.


"Ow masalah kerjaan. Ya udah tinggalin dulu urusan kalian itu. Ayah ngajak makan sekarang, mumpung semua udah pada kumpul!" ajak Nesa kemudian.


"Iya Nes," balas Wawan sambil melihat kepergian Nesa.


"Wan," panggil Mega yang mulai percaya dengan sikap palsu Wawan.


"Kenapa?"


"Makasih ya udah belain aku," kata Mega pada akhirnya. Tapi dia juga ingin tahu dong, apakah Wawan mau berjanji gak akan ganggu Dinda dan fokus pada rumah tangganya saja?


"Itu tugas suami kan?" tanya Wawan balik.


'Harusnya elu hati-hati kalau ngomong. Untung gue tadi sigap, jadi gue tahu harus jawab gimana!' batin Wawan yang ternyata menyimpan kekesalan.


Mega mengangguk. "Tapi soal yang tadi?" tanya Mega ingin tahu.


"Mas Wawan! Ayo!" panggil Nesa lagi.


"Iya Nes, kami mau ke situ," jawab Wawan yang merasa senang. Akhirnya pertanyaan Mega teralihkan.


"Ayo makan! Gak enak sama mereka!" ajak Wawan pada akhirnya.

__ADS_1


'Mana mungkin gue mau berjanji untuk gak ganggu Dinda. Sementara hati gue isinya hanya Dinda,' batin Wawan lagi.


Di saat yang lain pada kumpul. Kini giliran Dinda dan Aris yang gak bisa kumpul. Karena kasihan pada Dinda kalau harus jalan kesana-kemari. Kakinya lagi bengkak akibat melahirkan. Jadi dia dan Aris lagi menikmati makan di dalam kamar.


"Enak gak?" tanya Aris begitu perhatian. Soalnya sedari tadi Dinda minta disuapin.


"Enak mas, kayaknya ini masakan ibu Lastri dan mbak Me..." ucapan Dinda terputus sesaat.


"Mbak Mega, sayang. Mas lihat, akhir-akhir ini kalian jarang bertegur sapa. Kalian ada masalah?" tanya Aris yang merasa curiga dengan sikap keduanya. Aris begini karena Aris peka terhadap Dinda. Dinda memang pendiam, tapi kalau gak ada masalah apa-apa, dia gak akan langsung diam dan berpikir sedalam itu. Aris memang baru sebentar kenal dengan Dinda, tapi seenggaknya Dinda mudah dipahami oleh Aris. Begitu juga dengan rahasia Dinda, Aris peka. Hany saja Dinda gak pernah mau cerita.


Dinda menggeleng. Lebih baik dia diam dari pada jujur tapi seperti mengadu domba.


"Yakin gak apa-apa?" tanya Aris lagi.


"Kalau ada apa-apa, cerita ya? Mas ini suamimu, jadi apapun yang kamu pendam dalam hati, ceritain ke mas. Meskipun mas gak bisa membantu, tapi seenggaknya mas merasa berguna buat kamu," kata Aris yang kini dengan sedikit desakan. Siapa tahu dipancing seperti ini, Dinda akan luluh dan mau membuka hatinya. Apalah arti pernikahan jika saling merahasiakan. Lebih baik jujur, meskipun itu menyakitkan.


"Sebenarnya ada yang Dinda pendam mas," jawab Dinda kemudian. Dia tak enak juga memendam sesuatu ini sendirian.


"Iya, soal apa itu?"


...'Udah ku duga. Dari malam kejadian Mega pingsan, aku emang udah merasa janggal,' batin Aris yang merasa firasatnya terjawab....


"Kalian kenapa?" tanya Aris lagi. Pokoknya Dinda gak boleh banyak pikiran. Siapapun yang menyakiti Dinda, mereka semua harus berhadapan dengan Aris.


"Mas, salah gak sih kalau aku negur mereka?" tanya Dinda sambil menatap mata Aris, minta pendapat tentang hal apa yang dia lakukan terhadap Mega dan Bu Lastri Tempo kemarin.


"Negur apa dulu?" tanya Aris dengan sabar. Sebenarnya dia tak sesabar ini, kalau yang bicara bukan Dinda, mungkin sudah Aris sekakmat biar ngomong langsung ke intinya. Gak harus putar-putar keliling bikin Aris menduga yang tidak-tidak.


"Mereka mas... (Dinda sambil nangis) Mereka ngegosipin kita," jujur Dinda pada akhirnya. Dia tak kuasa menahan air matanya.


"Astaghfirullah," gumam Aris setengah gak percaya.

__ADS_1


Kalau masalah ngegosip, Aris dukung 100 persen kalau Dinda menegur mereka. Lha wong Aris sendiri juga pernah negur emak-emak lambe turah yang sempet ngerasani Dinda kok.


Ngerasani \= ngegosip


"Menurut mas ya Din... Kamu itu gak salah negur mereka. Mending kamu tegur langsung dari pada kamu denger malah bikin sakit hati. Emang mereka gosipin kita soal apa? Soal mas yang gak berguna atau soal yang lain?" tanya Aris yang emosinya mulai terpancing gara-gara masalah gosip.


"Mereka bilang mas ini mantan napi. Apa itu benar?" tanya Dinda hati-hati.


Dinda, dia emang pernah dengar selenting tentang Aris yang notabene residivis penganiayaan terhadap muridnya. Hanya saja Dinda enggan bertanya langsung. Soalnya Dinda saja menikah dengan Aris karena terpaksa. Tapi untuk sekarang? Dinda dalam mode penasaran dengan suaminya. Jadi dia ingin tahu masa lalu Aris dari mulut Aris sendiri. Bukan dari orang lain yang bisanya nambahin atau mengurangi kisah aslinya.


Jantung Aris berdebar-debar. Rasanya dia ingin teriak dan menampar orang yang berani membicarakan aibnya di depan Dinda. Padahal Allah saja menutupi aib hambanya seperti hadits Ibnu Majah yang berbunyi Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.


Dinda yang melihat perubahan Aris langsung paham. Mungkin mental Aris belum stabil. Sepertinya Dinda salah bertanya dan salah memberitahu Aris. Sebab Aris sendiri pasti belum bisa menerima kenyataan sepahit itu.


Segera Dinda mengambil piring yang ada di tangan Aris. Lalu Dinda menggenggam erat jemari Aris. Ini adalah bentuk penenangan dari Dinda untuk Aris.


Sebenarnya Dinda sendiri juga korban dari perlakuan bejat dari Aris. Dia bisa menerima Aris karena anak. Tapi semua itu berubah karena sikap Aris yang selalu perhatian padanya. Dan sekarang Dinda akan balas menunjukkan rasa keperdulian itu kepada Aris. Aris sudah berusaha sejauh ini, dan Aris harus bisa menerima kenyataan. Dia gak boleh terus melakukan kejahatan gara-gara psikologisnya yang seperti terganggu.


"Mas, tenang mas! Percaya sama aku, aku gak akan kenapa-kenapa asal kamu cerita semuanya. Kalau kamu belum bisa cerita, jangan dipaksakan!" kata Dinda sambil terus menggenggam tangan Aris begitu kuat.


Dinda takut, kalau Aris dibiarkan begitu saja. Aris akan mengamuk atau bahkan nekat. Ya, semua ini salah Dinda. Seharusnya dia memang harus memendam semuanya sendiri. Bukan malah bercerita dan akhirnya bertanya tentang masalah yang begitu sensitif dalam hidup Aris.


"Mas!" panggil Dinda sedikit teriak.


Sontak Aris menatap mata Dinda sambil berkedip beberapa kali. Dengan cepat Aris memeluk tubuh Dinda.


"Ku mohon jangan tinggalin aku Din. Apapun berita di luar sana tentang aku, tolong jangan pernah sedikitpun kamu berpaling dariku. Karena kamu itu nyawaku Din. Aku gak tahu lagi akan bagaimana, jika hidup tanpa dirimu," ucap Aris sambil menangis.


Aris memang belum sembuh. Tapi dia akan selalu berusaha semaksimal mungkin.


ARGHHHHH!!

__ADS_1


Rasanya Aris ingin membunuh 2 orang wanita itu.


Bersambung...


__ADS_2