Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Zahra Rewel


__ADS_3

Sore ini Aris pulang cepat. Dia tadi kepikiran yang macam-macam soal Dinda dan anaknya. Jadi dia ijin gak lembur. Lemburnya dia tunda besok saja.


Saat Aris sudah di rumah. Benar saja, Zahra rewel. Nangis terus sampai Bu Lastri bantuin gendong, karena Dinda gak sanggup momong sendirian jadi dibantuin Bu Lastri. Entah karena apa Zahra bisa serewel itu? Biasanya juga anteng. Tapi Aris buru-buru ke kamar mandi dan berganti pakaian.


"Kenapa Zahranya Din?" tanya Aris ikut khawatir.


"Gak tahu mas, dari tadi rewel terus. Disusuin juga gak mau," cerita Dinda sambil kebingungan.


"Makasih ya Bu, udah bantuin jaga Zahra," kata Aris sambil mengambil alih Zahra dari Bu Lastri.


Bu Lastri tak berucap apa-apa. Dia hanya tersenyum kecil, lalu meninggalkan Aris dan Dinda. Perlu di garis bawahi, Bu Lastri masih tidak suka dengan keberadaan Aris di rumah ini.


"Mas pegang badannya juga gak panas Din," kata Aris sambil melihat Dinda yang tengah menyiapkan susu.


"Dinda juga gak tahu mas. Kata ibu tadi, Zahra kena sawan," kata Dinda memberi tahu.


"Masa sih?" tanya Aris sedikit tidak yakin.


'Masa iya Zahra sawanen? Terus gimana dong?' batin Aris mulai bingung.


"Entah mas," balas Dinda pasrah.


"Pusernya Din? Jangan-jangan ini gara-gara pusernya mau putus, jadi dia rewel," duga Aris dan membuat Dinda setengah berfikir.


"Eh iya, bisa jadi mas. Kok aku gak kepikiran ya?" sahut Dinda setuju.


Jadi Dinda segera membawa Zahra ke kamar, dan melihat gimana keadaan pusarnya sekarang.


"Gimana?" tanya Aris memastikan.


"Iya mas, agak sedikit bengkak. Mungkin mau pupak ya?" kata Dinda yang setuju dengan ucapan Aris.


"Jadi gimana dong?" tanya Aris bingung.


"Kayaknya gak apa-apa deh mas. Nanti kalau udah putus, pasti Zahra gak akan rewel lagi," ucap Dinda menenangkan Aris.


"Ya udah sini, biar mas gendong. Kamu belum mandi kan?" tebak Aris yang melihat Dinda masih kusut. Meskipun kusut, Dinda tetaplah cantik. Wajarlah istrinya, pasti bagaimana pun bentuk rupanya akan tetap dipuji cantik oleh Aris.


"Hehe, belum," jawab Dinda cengengesan. Dia tadi repot, jadi mana sempat mikir mandi. Masih syukur Zahra udah dimandiin duluan tadi. Jadi mumpung Aris di rumah, saatnya Dinda mandi.


"Ya udah kalau gitu mas, Dinda mau mandi dulu," pamitnya.

__ADS_1


"Kalau gak bisa, panggil mas ya?"


Dinda menoleh ke arah sambil mengangguk. 'Dasar istriku, kenapa bisa secantik itu? Kenapa aku nyadarnya baru sekarang ya?' batin Aris sambil senyum-senyum sendiri. Rupanya Aris baru menyadari kecantikan istrinya setelah Dinda mau menerimanya. Sebelumnya Dinda memang terlihat cantik, hanya saja, dulu yang didapati Aris selalu wajah murung dan wajah keterpaksaan dari Dinda. Namun sekarang, wajah Dinda sudah berubah. Mungkin gara-gara sering di kiss sama Aris, jadi hati Dinda sudah goyah. Pikirnya.


"Oweeek!"


Aris sampai melupakan anaknya yang masih rewel gegara mikirin Dinda. "Uluh uluh uluh, anak ayah kenapa nangis? Bobok yuk? Sini ayah timang-timang," kata Aris sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zahra biar segera terlelap.


Sementara itu, Bu Lastri tengah berada di kamar Mega. Sedari tadi mereka gak nyaman dengan suara tangisan bayi yang gak ada berhenti-berhentinya.


"Berisik banget ya? Dari tadi gak mau diem," celetuk Bu Lastri dengan nada tak suka.


"Iya Bu. Berisik banget, ku gendong juga gak boleh kan?" curhat Mega minta dukungan sama Bu Lastri.


"Iya, takut anaknya kamu apa-apain kali."


"Kayak aku sakit Corona aja, anaknya disentuh gak boleh," lanjut Mega dengan sedikit kesal.


"Ya uweslah, biarin aja. Mending kita masak buat makan malam," ucap Bu Lastri mengakhiri acara gosipnya.


"Yuk Buk," jawab Mega antusias.


"Oiya Buk, kapan-kapan Mega ikut ke pasar dong?" pinta Mega disela-sela dia hendak mengupas bawang.


Mega mendekat ke telinga Bu Lastri. "Mega mau ikut ibuk ke pasar. Boleh?" tanyanya lagi.


"Oalah, ya boleh dong. Kamu mau apa? Nanti kita beli sama-sama," jawab Bu Lastri seneng. Maklumlah, Mega kan istri anak kandungnya. Pasti akan lebih disayang dari pada anak pak Bambang yang lainnya.


"Itu bayi kalau gak ada diemnya gimana Buk?" tanya Mega lagi. Dia merasa kasihan juga kesel. Kesel karena Dinda gak ngijinin Mega menggendong Zahra. Andai Dinda ngijinin, pasti Mega gak akan sedendam seperti sekarang ini.


"Iya, gimana ya? Pasti kamu dan Wawan akan terganggu dan gak bisa tidur. Atau gak, kamu ajakin Wawan tidur di rumahmu. Gimana?" Bu Lastri memberikan ide.


"Boleh sih Buk. Nanti Mega coba ajak mas Wawan buat nginep di rumah Mega," jawab Mega gak yakin. Masalahnya Wawan gak pernah mau diajakin Mega untuk pulang.


"Kapan-kapan ibuk boleh main ke tempatmu kan? Biar ibuk tahu, keluarga mantu ibuk bagaimana?" ucap Bu Lastri dengan semangat.


Mega hanya tersenyum hambar. Dia gak bisa menceritakan tentang keluarganya. Jadi biarin ibu Lastri tahu sendiri bagaimana dengan keadaan dia sekarang ini.


...****************...


Malam harinya. Harusnya malam ini semua orang sudah tidur. Tapi tidak dengan keluarga yang satu ini. Semua keluarga pak Bambang tak bisa tidur akibat tangisan Zahra yang melengking ke seluruh ruangan. Seharian ini bayi kecil itu terus menangis dan gak bisa tidur.

__ADS_1


Aris dan Dinda juga terus berjaga. Padahal Aris sudah menyuruh Dinda untuk tidur saja, tapi namanya juga ibu, pasti mendengar tangisan anaknya jadi gak tega. Mana mungkin Dinda bisa tidur, sementara anaknya terus menangis tiada henti.


Di luar ruangan, Wawan terus menyalahkan Aris. Dia menuduh Aris gak becuslah, terus Zahra kena sawan gara-gara jimat Arislah. Pokoknya banyak banget tuduhan yang Wawan berikan kepada Aris. Untung Aris gak denger, kalau denger? Udah gak tahu lagi Wawan akan jadi apa? Mungkin akan dijadiin bakwan dengan tepung sajiku sama Aris, biar Wawan gak bisa menuduhnya macem-macem lagi.


"Bentar deh Din!" ucap Aris tiba-tiba.


"Gimana Mas?" tanya Dinda heran.


"Coba kamu rebahan aja," suruh Aris. Awalnya Dinda mengernyitkan dahinya. Tapi kemudian Dinda menuruti perintah Aris.


"Nah iya, buka ASI-nya dong?" suruh Aris lagi. Kali ini Dinda mendelik.


"Jangan macem-macem mas! Anak kita lagi nangis lho!" ucap Dinda mengingatkan.


"Ini gak macem-macem sayang. Cuma satu macem aja. Udah ikutin apa yang mas bilang," kata Aris lagi tanpa bantahan.


Dinda pun membuka asinya.


"Nah gitu," jawab Aris dan dia langsung meletakkan Zahra di pangkuan Dinda.


Lalu Zahra ditengkurepkan sambil mulutnya berada di asi Dinda. Awalnya si Zahra meronta-ronta tak mau menyusu. Tapi kemudian bayi itu menyedot dengan kuatnya. Hingga tak lama kemudian si Zahra diam.


"Nah, akhirnya tidur juga," kata Aris senang.


"Mas kok tahu beginian?" tanya Dinda heran.


"Iya, aku pernah baca majalah, tengkurap sambil minum asi itu adalah posisi favorit bayi," jelas Aris dan Dinda jadi senang. Akhirnya orang rumah kembali tenang.


Sementara Aris, dia langsung keluar kamar dan minta maaf pada semua orang.


"Maaf ya, kalau Zahra udah ganggu ketenangan ayah, ibuk, mas Wawan dan mbak Mega juga."


"Hampir aja aku ngungsi," celetuk Wawan yang sudah bersiap hendak pergi ke rumah Mega. Tapi semuanya batal karena Zahra udah tenang.


"Lain kali dijaga yang bener? Anakmu begitu bisa jadi kena sawanmu," ucap Wawan sambil pergi begitu saja.


"Maksudmu apa mas?" cegah Aris sambil menatap Wawan dengan tajam.


Wawan menelan ludahnya kepayahan. 'Sial! Dia mau ngajakin perang,' batin Wawan ketar-ketir.


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2