Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Malam Honeymoon


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


"Sayang, kenapa gak makan?" tanya Aris pada Dinda. Sepulang kerja tadi, Bu Rukmini langsung mengadu pada Aris karena Dinda tidak mau makan. Karena khawatir Dinda sakit, makanya Bu Rukmini mengadukannya pada Aris. Siapa tahu dengan begitu, Dinda mau makan.


"Aku lagi gak nafsu mas," kata Dinda lesu.


"Kenapa? Cerita sini mas," bujuk Aris sambil mengelus jemari Dinda.


Dinda memberikan selembar kertas yang telah diberikan Mega kepadanya tadi.


"Apa ini Din?" tanya Aris penasaran. Sebab Bu Rukmini tak bicara apapun selain Dinda gak mau makan. Jadi soal Mega bertamu ke rumahnya, Aris pun tidak tahu.


"Mas baca aja itu." Dinda kembali membelakangi Aris. Dia bingung dengan perasaannya yang tak karuan. Kesal sama Wawan yang seperti tidak tahu diri. Semudah itukah dia minta dibebaskan?


Aris membaca surat itu dengan diam. Dia tak mau komen apapun, karena Aris tahu Wawan pasti akan melakukan ini. Kalau Aris sih tidak masalah membebaskan Wawan. Tapi Dinda? Dia yang telah berusaha menangkap pelakunya. Dan Dinda melakukan semua ini karena dia sayang sama Aris. Jadi rasanya Aris tak berhak apapun. Biarkan semua keputusan Dinda yang menentukan.


"Udah jangan sedih lagi, mas gak ikut campur kali ini," kata Aris sambil memeluk Dinda dari belakang.


Semenjak tinggal sama Bu Rukmini, Zahra jadi sering diasuh sama Bu Rukmini. Jadi Aris dan Dinda banyak waktu untuk berduaan. Seperti malam ini, Aris bisa membujuk Dinda agar mau makan. Meskipun Dindanya masih sulit dibujuk juga. Tapi seenggaknya, waktu mereka untuk dekat semakin banyak.


"Makan yuk?" ajak Aris sambil meletakkan dagunya di pundak Dinda.


Aris memandang wajah Dinda dari samping. Dinda menggelengkan kepalanya tanda masih belum mau.


"Oiya sayang, kamu udah gak nifas kan?" tanya Aris. Rasanya dia ingin meminta haknya malam ini. Kalau Dinda gak mau makan, gimana kalau Aris saja yang memakan Dinda? Pikirnya yang mulai mesum.


"Kenapa? Bukannya udah enggak dari kemarin," kata Dinda sambil melirik Aris. Dia masih asik pada pandangannya ke depan. Entah memandang apa itu?


"Asikk. Ya udah yuk, kita honeymoon malam ini," ajak Aris sambil membalikkan badan Dinda.


"Eh mas!" Dinda kaget saat Aris langsung melahap bibirnya dengan rakus. Sepertinya Aris sudah sangat menantikan masa-masa ini. Sampai-sampai dia sangat tak sabaran buat memasuki surga duniawinya.


Dari berciuman sampai membuat Dinda terbuai. Dia baru sadar saat Aris melucuti seluruh pakaian yang ia kenakan.


"Mas," panggil Dinda sedikit takut. Dia takut kesakitan trauma atas perlakuan Aris terulang kembali.

__ADS_1


"Gak sayang, mas gak akan nyakitin kamu lagi. Nunggu kamu basah, baru mas masukin," kata Aris memastikan.


Dan Dinda mengangguk. Dia cuma takut. Karena bisa dibilang ini adalah hubungan badan mereka secara sadar. Memang benar Dinda pernah menjanda, tapi dulu dia tidak setakut ini saat melakukannya sama Briyan. Jadi kali ini dia gak boleh takut juga. Karena dia sudah menantikan hal ini, mau tapi malu buat mengatakannya.


"Ahhh!" Dinda meringis saat merasakan sensasi itu lagi. Rasanya sudah lama dia tidak seperti ini.


"Mas," panggil Dinda sambil memeluk Aris. Dan Aris langsung mengecupnya berkali-kali. Sungguh indahnya malam ini buat mereka berdua. Honeymoon yang sudah lama mereka nantikan akhirnya kesampaian juga.


Di saat kedua insan ini bahagia. Berbeda dengan Mega yang menangis sambil melihat tubuh nenek Nur yang terbujur kaku di depannya.


"Nenek, kenapa nenek ninggalin Mega di saat Mega dalam kesulitan?" Mega terus menangis tiada henti. Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi, hanya mertuanya harapan dia saat ini.


Mega pulang lebih dulu, jasad nenek Nur di perkirakan di antar jam 9 malam. Karena ambulance nya masih antri. Mega menatap jam di ponselnya, ini masih jam 8 malam. Jadi perkiraan sejam lagi jasad neneknya akan sampai.


Segera Mega lapor pada perangkat desa setempat, tak lupa juga dia menelepon ibu mertuanya itu. Karena cuma dia harapan Mega.


Bu Lastri yang tengah bersitegang dengan pak Bambang, langsung kaget saat membaca pesan WhatsApp yang dikirimkan oleh Mega.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un," ucap Bu Lastri dan pak Bambang yang tadinya cuek langsung menoleh.


"Siapa yang meninggal?" tanya pak Bambang dari kejauhan. Ya, kedua orang ini sedang berseteru. Bahkan Bu Lastri sempat ingin mengakhiri hidupnya kalau pak Bambang tetap mendiamkannya.


Pak Bambang masih waras, dia masih mengenal agama. Jadi dia melarang keras Bu Lastri agar tidak bunuh diri.


"Apa perdulimu Ayah?" sahut Bu Lastri dan pak Bambang tak suka.


"Aku udah bertanya baik-baik. Sekali lagi aku tanya, siapa yang meninggal?" tanya pak Bambang kali ini menggunakan emosinya.


"Neneknya Mega," jawab Bu Lastri sambil memberikan ponselnya.


"Innalilahi." Pak Bambang juga kaget. Bagaimana pun juga Mega adalah menantu tirinya.


"Biar aku kasih tahu Aris dan Dinda," kata pak Bambang dan mencoba menelpon Dinda. Tapi nihil, Dinda tak mengangkatnya.


Ya, sejoli itu masih menikmati indahnya honeymoon. Mereka tak mau diganggu. Pokoknya malam ini mereka berdua akan memuaskan hasrat yang telah lama tertunda.

__ADS_1


"Kita coba sensasi baru yuk?" bisik Aris saat keduanya dalam posisi wajar. Dinda di bawah dan Aris di atas. Tapi kali ini Aris ingin mencoba rasanya sensasi baru. Tentunya dituntun oleh Dinda yang udah berpengalaman.


"Biar aku yang muasin mas," kata Dinda dan dia mengendalikan permainan itu layaknya menunggangi kuda yang berlaju dengan kencang.


Aris kewalahan. Ternyata seperti inilah indahnya bercinta. Tak seperti waktu yang pertama ia lakukan dulu. Yang hanya diselimuti dendam tanpa bisa menikmatinya sedetail ini. Saking asiknya, akhirnya keduanya terkulai lemas. Mereka berdua sudah tak bertenaga untuk ronde selanjutnya. Jadilah, Dinda merebahkan diri di samping Aris.


"Makasih sayang untuk malamnya," bisik Aris sambil memeluk Dinda.


"Makasih mas, udah membuat rasa traumaku hilang." Dinda memejamkan matanya saat Aris mencium keningnya.


Kriuuuk!!


"Nah perutmu bunyi tuh!" celetuk Aris sambil menahan tawa.


"Mandi terus aku ambilin makan ya?" kata Aris. Sepertinya mereka berdua masih lupa akan kabar meninggalnya nenek Nur. Zahra saja tidak mengganggu, jadi ngapain ngurusin hal lain. Pikirnya dan kini Aris memilih untuk mandi lebih lebih dulu.


Dinda tersenyum bahagia. Baru kali ini dia keluar rasanya seperti melayang ke angkasa. Padahal dulu-dulu dia tidak seperti ini.


"Alhamdulillah, hidupku terasa lengkap," gumamnya. Dan di saat mata ingin terpejam, Dinda mendengar dering ponselnya yang semakin terdengar jelas. Dia segera mengenakan dasternya yang sempat tercecer di lantai akibat ulah Aris tadi.


"Siapa sayang?" Aris melingkarkan tangannya di perut Dinda sambil ikut menatap layar ponsel Dinda.


"Banyak banget bekas ayah nelpon mas," ujar Dinda heran.


"Coba telepon balik, takutnya penting."


"Innalilahi," ucap Dinda yang membuat Aris kaget.


"Kenapa sayang?"


"Neneknya mbak Mega meninggal," jawab Dinda sedikit merasa bersalah. Padahal dia tidak tahu apapun.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un," balas Aris.


"Ya udah, sekarang kamu mandi. Mas ambilin makan, terus kita istirahat, besok baru kita melayat," kata Aris dan Dinda pun menurut.

__ADS_1


Di malam mereka bahagia, di sisi lain justru ada orang lain yang sedang sedih.


Bersambung...


__ADS_2