Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Prahara Baru


__ADS_3

"Ehm!" Tiba-tiba pak Bambang mengejutkannya.


"Eh ayah!" kata Aris yang langsung menghadap ke belakang.


"Hm! Ada air panas gak?" tanya pak Bambang.


"Ada, mau buat apa Yah? Kopi? Biar Dinda buatin," tawar Dinda untuk menghindari konflik lagi. Siapa tahu, gara-gara Dinda asik berduaan kayak gini, pak Bambang akan marah lagi sama Aris.


"Mau buatin teh anget buat ibu," kata pak Bambang lagi. Padahal beliau sudah berdandan rapi untuk berangkat kerja.


Melihat itu, Aris langsung menawarkan diri. "Kalau gitu biar Aris aja Yah. Tadi katanya Ayah ada rapat, kalau gak cepet berangkat takutnya telat," kata Aris mengingatkan.


"Emm, biar Dinda aja yang buatin ya? Kalau yang buatin kamu, takutnya gak diminum," kata pak Bambang memberitahu.


Aris tersenyum kecil. "Oh iya Yah, biar Dinda aja kalau gitu," jawabnya. Memang bibirnya mengumbar senyum. Tak tahukah pak Bambang, kalau ucapannya tadi membuat hatinya Aris terasa kecewa dan sakit hati. Ternyata hidup serumah dengan mertua itu tak semudah dengan harapan Aris selama ini.


"Iya Yah, biar Dinda aja yang buatin. Ayah berangkat aja," kata Dinda kemudian.


Setelah pak Bambang pergi. Dinda segera mendekat ke arah Aris. "Mas aja yang buatin ya? Nanti biar Dinda antarkan," kata Dinda sambil menyentuh pundak Aris.


Aris menatap ke arah Dinda. Dinda benar-benar mengerti akan perasaannya. Tapi Aris menolak perintah dari Dinda. Bagaimana pun juga, permintaan pak Bambang tadi adalah amanat.


"Gak apa-apa, kamu aja Din. Soalnya ini amanat dari ayah. Kalau mas paksa buat bikin teh, takutnya gak diminum beneran," kata Aris yang kini sudah mencoba untuk lebih dan lebih lebih sabar lagi.


"Iya mas. Ya udah Dinda bikinin ya, mas Aris lanjut kupas bawang aja," suruh Dinda kemudian.


"Iya sayang, ih bikin gemes tahu gak?" kata Aris yang udah geregetan pengen mencubit pipi chubby-nya Dinda.


"Apaan sih mas!" protes Dinda sambil terkikik geli melihat tingkah lakunya si Aris.

__ADS_1


Teh hangat buatan Dinda udah jadi. Saatnya Dinda antar ke kamarnya Bu Lastri.


"Bu, ini teh hangatnya. Diminum ya?" suruh Dinda sambil meletakkan teh hangat itu di meja.


"Iya makasih Nak," jawab Bu Lastri sambil membuka matanya.


Dinda tersenyum dan duduk mendekat.


"Ibu sakit apa?" tanya Dinda yang kini sudah duduk di dekat Bu Lastri.


"Gak tahu ini, kepala ibu pusing banget. Oiya, mas Wawan sama mbak Mega belum pulang ya?" tanya Bu Lastri yang terlihat begitu sedih. Mungkin rasa pusingnya ini gara-gara mikirin Wawan yang dari kemarin belum pulang.


Dinda diam aja. Salah Bu Lastri gak mau nanya ke Aris. Atau gak, kenapa gak video call langsung si Wawannya? Sekarang dia jadi sakit gara-gara mikirin itu. Masa iya hanya itu saja?


Sebenarnya Bu Lastri sampai sakit kayak gini karena rasa takut. Takut kalau Dinda dan Aris ngadu ke pak Bambang. Sementara dia sendirian tak ada siapapun yang membelanya. Tanpa sadar, sebenarnya Bu Lastri ini merasa bersalah. Hanya saja gengsi buat ngakuin kesalahannya.


"Din," panggil Bu Lastri lagi.


Ya iyalah, Wawan gak pulang kan menginap di rumah istrinya. Jadi apa yang harus ditakutin?


Terdengar isak tangis dari Bu Lastri ketika dia mendengar jawaban dari Dinda. Dinda gak merasa bersalah, lagian dia cuma menasehati, bukan mengolok-olok. Kenapa Bu Lastri sampai nangis kayak gini? Kayak yang hendak dicekik Dinda aja.


"Kenapa ibu pakai menangis segala? Kan apa yang Dinda katakan benar. Mas Wawan lagi di rumah mbak Mega, jadi apa yang harus ibu pikirin?" kata Dinda sedikit kesal melihatnya. Bukan Dinda tak sayang, tapi Bu Lastri terlihat begitu lebay.


"DINDA!" teriak pak Bambang dari ambang pintu kamarnya. Karena sehabis Dinda masuk tadi, sama Dinda gak ditutup kembali.


"Ayah!" panggil Dinda sambil menatap ke arah pak Bambang.


"Jadi begini kelakuanmu di belakang ayah! Kamu ayah sekolah kan biar punya tata krama pada orang tua, dan begini caramu memperlakukan ibumu?"

__ADS_1


Melihat Dinda dimarahi oleh ayahnya, Bu Lastri langsung tersenyum simpul. Ini yang dia inginkan. Dia tadi cuma pura-pura menangis saat melihat dari cermin ada pantulan pak Bambang di sana.


"Maksud ayah apa? Tata Krama? Emangnya Dinda berbuat apa?"


Mendengar ada yang ribut-ribut di kamar depan, Aris segera berjalan meninggalkan dapur. Dia mengikuti sumber suara dan berhenti tepat di depan pintu kamar mertuanya.


"Kenapa kamu berkata kasar seperti itu sama ibu? Ayah itu ibu Lastri ini cuma ibu sambungmu, tapi kenapa kamu sampai membuat ibu Lastri menangis? Ayah gak pernah didik kamu buat berani sama orang tua ya Dinda?"


Merasa disudutkan, Dinda langsung menangis.


"Ayah tanya aja sama Bu Lastri. Emangnya Dinda berkata kasar apa sama dia? Ibu Lastri menangis gara-gara mikirin mas Wawan sama mbak Mega, bukan gara-gara Dinda Yah!" protes Dinda sambil menyeka air matanya.


Pak Bambang langsung berubah ekspresinya. 'Apa benar yang dikatakan oleh Dinda?' batin Pak Bambang yang mulai merasa bersalah.


"Buk, apa bener ibuk nangis gara-gara mikirin Wawan sama Mega?" tanya pak Bambang memastikan.


Tiba-tiba Bu Lastri kembali menangis. Drama Indosiar sepertinya mau dimulai.


"Hiks. Ibuk gak nyangka Dinda bakalan berkata seperti sama ibuk, Yah. Ibuk sadar ibuk ini cuma ibu sambungnya. Tapi kenapa Dinda seolah-olah gak bisa menerima ibu? Ayah gak tahu aja, selama ini Dinda dan Aris berbuat jahat pada ibuk. Tapi saat di depan ayah? Ayah tahu sendiri kan, mereka selalu berbuat baik pada kita," cerita Bu Lastri yang isinya adalah fitnah semua.


"Astaghfirullah. Bisa-bisanya ibu memfitnah saya dan istri saya," potong Aris yang kini ikutan masuk ke dalam.


"Aris rasa, ayah gak usah dengerin omongan ibu Lastri. Karena asal ayah tahu, Dinda tiap hari menangis gara-gara omongan Bu Lastri yang gak enak didengar. Emang ayah setega itukah sama anak ayah sendiri, tiap hari dia digosipin sama orang yang serumah sama dia? Gimana perasaan Dinda Yah?" ucap Aris yang mencoba menyadarkan pak Bambang.


Pak Bambang terlihat bingung. Tapi bisa dipastikan, dia gak akan pernah percaya dengan omongan Aris barusan.


"Itu gak bener!" teriak Bu Lastri membela dirinya. Sepertinya Bu Lastri tengah mencari prahara baru agar Aris dan Dinda terusir dari rumah ini.


"Gak bener kata ibu?" Kali ini Dinda yang menimpali. Sepertinya, hari ini riwayat ibu Lastri akan tamat.

__ADS_1


Jika semuanya bicara, dan Wawan gak ada di rumah. Siapa yang akan membelanya?


Bersambung...


__ADS_2