
Author POV
Tepat jam 8 malam. Perut Aris terasa begitu mules.
"Kenapa lagi sih perutku?" gumamnya pelan dengan tampang yang bingung. Tanpa ada jawaban apapun. Seketika itu, lidahnya menginginkan soto Surabaya. Aris seperti mengerti. Mungkin bayi yang ada dalam perut Dinda menginginkan itu. Aris melihat dompetnya, ternyata uang di dompetnya sudah menipis. Mana dia belum mendapatkan pekerjaan. Kalau begini terus, mungkin mobilnya akan ia jual.
Aris tak mungkin menolak keinginan bayinya. Dia juga sudah berusia 26 tahun sekarang ini. Menjadi ayah, sepertinya sudah sangatlah pantas untuknya.
Aris mulai melajukan mobilnya. Mencari-cari warung soto Surabaya. Dia ingin mencari ke tempat yang tak jauh dari tempat tinggal Dinda. Mungkin sekalian dibungkus buat Dinda. Sepertinya gak masalah, fikir Aris.
Andai Dinda waktu itu mau menerima lamarannya. Pasti saat ini, mereka tengah makan bareng. Menikmati sepiring sotonya untuk berdua. Namun semua itu hanya di mimpinya Aris saja.
Dinda sudah menikah dengan Briyan. Bahkan Dinda masih bertahan dengan pria pilihannya itu. Bagaimana nasib Dinda ya? Apakah Briyan tetap menyayangi Dinda? Atau malah berbuat kasar setiap hari?
Mengingat kemarin Briyan menyuruh Dinda untuk membunuh bayinya. Aris jadi geram sendiri. Bayinya tak bersalah. Jika memang Briyan dan Dinda tak menginginkan bayi itu. Aris siap merawatnya. Aris bahkan sudah siap menjadi ayah sekaligus ibu buat anaknya kelak. Anak biologisnya yang sengaja Aris inginkan gara-gara kesalah pahaman waktu itu. Setidaknya dialah orang yang harus bertanggung jawab sepenuhnya, bukan Briyan.
Setelah sampai di warung soto Surabaya. Aris minta dibungkuskan 2. Niatnya yang sebungkus diberikan untuk Dinda dan calon anaknya. Ya, pasti Dinda menginginkan soto ini juga. Persis apa yang ia ingini sekarang ini.
Lalu, Aris mengemudikan mobilnya ke rumah Dinda. Sambil melihat situasi rumah Dinda pastinya. Mungkin dari kejauhan saja. Takut-takut kalau Briyan sedang di rumah. Jika ketahuan akan semakin berabe nanti. Ya meskipun Briyan tak kenal dengan Aris juga. Tapi di saat genting seperti ini, pasti semuanya akan berdampak buruk bagi Dinda.
Aris mengamati rumah itu begitu sepi. Tak ada niatan apapun selain mengawasi dari dalam mobilnya. Lama menunggu sampai sotonya mulai mendingin. Tak sengaja Aris melihat Dinda keluar lewat jalan belakang. Menggunakan hodie dan celana jeans panjang.
Oh, Dinda ini. Hamil-hamil masih pakai jeans aja. Tapi kenapa lewat belakang? Kenapa gak lewat pintu depan? Pikir Aris tapi dia gak securiga itu. Dia malah kepikiran ingin membelikan baju yang longgar untuk Dinda. Andaikan Dinda istrinya, pasti stok daster sudah selemari penuh.
Melihat Dinda yang sendirian. Aris beranikan diri untuk menghampirinya. Dengan sekantong plastik hitam yang berisi sebungkus soto Surabaya di tangannya. Aris mulai mendekat dan menyapa Dinda. Agak kikuk juga. Mengingat dirinya pernah jahat pada Dinda.
"Malam Dinda," sapanya berusaha ramah.
Dinda menoleh ke sumber suara tersebut. Halaman rumah yang remang-remang menyulitkan Dinda menangkap sosok Aris yang masih jauh 3 meter darinya.
"Ya, siapa?" tanya Dinda takut-takut. Karena Dinda saat ini berada di samping motornya. Ingin naik ke atas motor, karena Dinda hendak keluar sebentar mencari sesuatu yang ingin dia makan. Mumpung Briyan gak di rumah juga sih. Dia gak peduli jua kalau Briyan gak bukain pintu buatnya. Sebab, saat ini Dinda tengah menginginkan sesuatu.
Sepertinya Briyan tak pulang malam ini. Mengingat kelakuannya yang begitu menyebalkan.
__ADS_1
Ditanya seperti itu, Aris tak langsung menjawab. Dia hanya berjalan mendekat dan menyodorkan kantong plastik berwarna hitam ke Dinda. "Soto Surabaya, kalau kamu gak suka. Buang aja," ucapnya. Namun sepertinya, Dinda enggan menerimanya. Aris maju selangkah. Dan menggantungkan kantong itu ke pegangan setir.
Aris beranikan menatap Dinda sekilas. Untuk mengobati rasa rindu dan rasa bersalah di dadanya. Dinda hanya diam di tempat. Setiap ada Aris, Dinda tak bisa berkutik. Dinda benci situasi ini. Sebab Dinda tak tahu harus melakukan apa.
Tanpa berucap apa-apa lagi. Aris segera pergi dari tempat itu. Aris sadar diri kok, dia hanya orang asing yang merusak hidup Dinda. Dia bukan siapa-siapanya Dinda. Tapi dia ayah dari anak yang dikandung Dinda saat ini.
Selalu seperti ini. Dinda benci banget sama Aris. Tapi dia gak bisa menolaknya juga. Setelah Aris pergi. Dinda segera membuka kantong plastik itu. Ternyata benar, sebungkus soto Surabaya tanpa nasi. Sebuah senyuman akhirnya tercetak jelas di bibir Dinda. "Alhamdulillah, kita makan soto Surabaya Nak," ucap Dinda sambil mengelus perutnya. Dinda sangat senang. Sampai-sampai dia lupa, kalau itu pemberian dari Aris.
Saking tak sabarnya Dinda langsung berlari menuju dapur. Setidaknya dia selamat, karena gak jadi keluar rumah. Yang tergambar di lidahnya saat ini ya hanya ini. Soto Surabaya. Sangat kebetulan bukan?
"Monster itu tau aja aku lagi pengen ini," gumam Dinda sambil memanasi kembali sotonya. Setelahnya ia mengambil sepiring nasi untuknya. Masih dalam keadaan panas, Dinda segera memakannya. Rasanya sangat luar biasa lezatnya. Aneh, biasanya tak seperti ini lidahnya. Ada apa dengan lidahnya Dinda?
"Ah, makasih ya Allah. Setidaknya meskipun aku dalam kesusahan, masih ada hal yang membuatku lega seperti ini. Terimakasih atas semua pemberian yang telah Engkau berikan kepada hamba, aamiin."
***
Semakin lama, hubungan Dinda dan Briyan semakin pelik saja. Dinda bagaikan seorang budak di rumah suaminya sendiri. Tak dianggap, hanya disuruh ini itu untuk melayaninya dan melayani perempuan random yang entah didapat dari mana. Tapi meskipun begitu, Briyan tak pernah malu. Wanita itu justru dibawa Briyan ke rumah setiap malamnya. Briyan begitu menjijikkan. Andaikan Dinda tak mengingat keluarganya. Pasti Dinda sudah kabur jauh-jauh hari.
"Sampai kapan kamu begini Bang?" tanya Dinda memberanikan diri. Apapun tentang dia, status mereka masihlah suami istri.
"Bukan urusan loe. Udah gue bilang, jangan pernah
usik hidup gue kalau lu masih mau gue anggap istri!"
Dinda langsung terdiam. Dia jadi teringat akan Aris. Setelah acara soto Surabaya malam itu, Dinda tak pernah lagi melihat batang hidungnya. Entah ke mana monster jahat itu pergi. Padahal Dinda ingin sekali bertemu dengannya. Mungkin ini karena anak yang ada dalam kandungannya adalah anak Aris. Jadi dengan tiba-tiba saja Dinda memikirkannya.
Jika Dinda masih meratapi nasibnya yang tak berujung kebahagiaan. Berbeda dengan Jo yang lagi gencar-gencarnya menyelidiki Briyan. Sebenarnya Jo sudah punya beberapa bukti tentang perselingkuhan Briyan dengan wanita lain. Hanya saja kebungkaman Dinda selama ini yang membuat Jo bertanya-tanya. Sebenarnya rahasia apa yang tengah Dinda sembunyikan saat ini? Memang benar ini bukan urusan Jo. Tapi kembali lagi, Jo gak rela adiknya disakiti.
Saat ini keluarga kecil Jo tengah mengunjungi kediaman Dinda. Hamil 6 bulan badan Dinda justru mengurus. Tak seperti waktu Nesa hamil dulu. Ya, saat ini Jo membandingkan badan Nesa yang melebar kala itu dengan Dinda saat ini yang hanya menonjolkan perut buncitnya.
Nesa-pun mengiyakan pendapat Jo itu. Hingga Nesa langsung mengutarakan pendapatnya langsung ke Dinda.
"Din, mbak lihat-lihat badanmu kok makin kurusan ya? Wajahmu juga kusut, kayak gak terawat. Emang Briyan gak pernah kasih jatah bulanan ke kamu?" tanya Nesa jujur kepada adiknya itu. Sepertinya bertanya seperti itu tak ada masalahnya. Mengingat kalau Nesa adalah kakak kandung Dinda.
__ADS_1
Dinda bingung ingin menjawab apa. Sejauh ini yang ia lakukan hanya berbohong untuk menutupi masalah dalam rumah tangganya. Bagaimana-pun juga, Briyan adalah orang yang pernah dicintainya dan masih suaminya. Jadi sebagai istri, Dinda harus pandai-pandai menutupi masalah keluarganya dari orang lain.
"Aku lagi males dandan aja, Mbak. Kalo masalah kurus, Dinda gak tahu. Soalnya akhir-akhir ini nafsu makan Dinda agak berkurang," sahutnya sambil menunduk.
Wanita yang sedang sakit hati, terkadang mood makannya jadi berkurang. Selain itu juga, Briyan tak memberinya uang yang cukup untuk Dinda. Jangankan untuk membeli make up, membeli makan-pun Dinda kesulitan. Untung ada pak Bambang yang baik hati. Setiap berkunjung, ayahnya itu selalu memberikan sedikit uang untuk Dinda. Pak Bambang sebagai orang tua juga merasa prihatin melihat fisik Dinda yang jauh berbeda, dari saat usia kandungan Dinda masih berusia sebulan waktu itu.
"Bumil harus makan tepat waktu lho Din, terus vitaminnya juga jangan lupa diminum. Biasanya mas Jo yang sering ngingetin mbak. Kalau Briyan gimana? Suka ngingetin kamu apa enggak?" tanya Nesa yang membuat Dinda tersenyum kecut.
'Ngingetin? Boro-boro, periksa aja gak pernah,' batin Dinda meratapi nasibnya. Untung aja, bayi yang dikandungnya gak pernah menyusahkannya.
Owek owek!
Tangisan Raskha sedikit melegakan Dinda. Pasalnya, dia tak perlu berbohong lagi untuk yang kesekian kalinya.
Saat Nesa menyusui Raskha di kamar. Jo menggunakan waktu yang ada ini untuk bicara yang sebenarnya dengan Dinda.
"Din," panggilnya.
"Iya Mas," balas Dinda lirih tak semangat. Wajahnya kembali murung.
"Din, ceritalah sama Mas. Mas siap ngebantuin Dinda kalau Dinda punya masalah," ujar Jo seraya membujuk.
Namun Dinda hanya menggelengkan kepalanya saja. "Dinda gak ada apa-apa Mas, mungkin bawaan hamil aja," bohongnya lagi.
'Maafin ibu ya Nak. Terpaksa harus menggunakan kehamilan ini sebagai alasan masalah yang ibu alami sekarang,' batinnya lagi sedih.
Jo, dia tak percaya begitu saja dengan ucapan Dinda. Dinda terlalu menutupi kehidupan rumah tangganya. Meskipun Jo tak berhak ikut campur, tapi kebahagiaan adiknya ini juga penting baginya. Setidaknya jika ada masalah harus diselesaikan dengan segera. Dari pada memendam sendiri, itu tak akan baik jadinya.
"Jujur, Mas gak percaya sama Dinda. Dinda boleh menutupinya dari Mas. Tapi setidaknya, jika Dinda gak bahagia dengan pernikahan ini. Pintu rumah mas selalu terbuka untuk Dinda. Mas akan menunggu Dinda bercerita. Dinda tahukan? Kalau mas Jo ini menyayangi Dinda layaknya adik mas sendiri," ujar Jo mengingatkan Dinda. Jo tahu, dipancing seperti apapun juga. Dinda tak bakalan mau bercerita.
Dinda merasa bersalah sendiri. Tapi dia belum ingin menjabarkan semuanya. Dinda takut keluarganya akan marah-marah gara-gara anak yang ia kandung adalah anak Aris. Dinda takut kalau hidupnya semakin hancur. 'Semua gara-gara Aris. Kenapa dia menghancurkan hidupku?' jerit Dinda dalam hati. Dia gak terima atas perlakuan Aris padanya. Rasanya Dinda ingin membalasnya suatu saat nanti.
Bersambung...
__ADS_1