
***
"Met pagi," sapa Aris sambil tersenyum. Dia sudah bangun sebelum adzan subuh tadi. Dan setelah dia selesai sholat subuh, dia menunggu Dinda bangun.
Dinda membuka matanya. "Kamu! Ngapain masih di sini?" tuding Dinda kaget.
"Bukannya dari semalam kita tidur bareng ya?" jelas Aris.
Dinda baru bangun, jadi nyawanya belum kembali seutuhnya.
"Lain kali gak usah kayak gini lagi. Aku dan kamu itu belum punya ikatan, apa kata orang!" tegas Dinda sambil beranjak dari kasur.
Aris menggeser posisinya biar Dinda ada jalan. "Aku terpaksa begini Din. Karena aku gak bisa tidur semalam."
Dinda diam tak menanggapi. Dia justru menyiapkan pakaian dan peralatan mandi.
"Din, ayo kita balik! Kalau kita berlama-lama di sini, kapan kita akan menikah?" bujuk Aris.
"Aku betah di sini, jadi gak usah paksa aku." Dinda menuju ke kamar mandi. Dia mau membersihkan badan dan juga bersiap untuk menunaikan sholat subuh.
Dengan setia Aris menunggu Dinda. Dia menatap kamar kost-an yang begitu sempit.
Cukup lama, akhirnya Dinda keluar dari kamar mandi. Memakai daster model import bergambarkan kartun. Sangat cantik, dan menggoda keimanan Aris.
"Aku mau sholat, kamu udah?" tanya Dinda ketus.
"Aku udah," sahut Aris. Dan Dinda langsung menunaikan kewajibannya.
Melihat Dinda yang sedang sholat, Aris berinisiatif membelikan sarapan pagi buat mereka. Tentunya via online. Sekarang semuanya serba mudah. Mau apa-apa tinggal pesan, pasti diantar. Syaratnya cuma satu, uang. Maka itulah, hidup tanpa uang bagai sayur tanpa garam. Hambar.
"Din," panggil Aris setelah dia melihat Dinda yang melipat mukenanya.
"Kita pulang yuk Din? Please!" bujuk Aris lagi.
"Kenapa? Kalau kamu mau pulang silahkan!" balas Dinda sambil membereskan beberapa barang yang berantakan.
"Aku punya pekerjaan di sana Din. Terus keluargamu di sana? Apa kamu gak kangen sama mereka?"
Aris terus membujuk Dinda agar mau pulang dengannya. Apalagi mendengar kata keluarga, otomatis hati Dinda menciut. Dia kangen sama keluarganya.
__ADS_1
"Ya udah, aku mau. Aku juga kangen sama Raskha," sahut Dinda. Tapi dari jawabannya itu, Dinda masih terlihat belum yakin.
"Bener ya? Jam berapa kita pulang?" tanya Aris begitu antusias.
"Sore aja," sahut Dinda sekenanya.
Sarapan telah usai. Keduanya kembali bercakap-cakap. Entah kenapa, rasanya Aris enggan balik ke hotel. Padahal sudah berkali-kali Dinda mengusirnya. Namun Aris tak mau pergi. Dia malah menjadi-jadi. Tiap diusir, Aris malah pura-pura tidur.
Akhirnya Dinda pasrah. Dia membiarkan Aris tinggal bersamanya. Rasanya bagai pengantin baru saja. Tinggal berdua, seatap bahkan seranjang.
Mereka tak tahu. Bahwa di luar sana. Kehadiran Aris ke kamar Dinda telah diintai oleh beberapa pasang mata warga sekitar.
Hampir seharian mengurung diri di dalam kost-an. Tanpa ada kegiatan lain selain hanya duduk dan berbincang. Niat Aris menunggu sampai sore. Tapi ini sudah sore, namun belum ada tanda-tanda Dinda memberesi barangnya.
"Jadi gimana?" tanya Aris memastikan.
"Apanya?" sahut Dinda sambil memainkan ponselnya. Dia tengah menonton video senam sehat ibu hamil.
"Jadi pulang kan?" jelas Aris mencoba mengingatkan.
"Oiya," jawab Dinda enteng.
Dinda terlanjur betah. Setelah seminggu merasakan tinggal di kota orang, Dinda bagaikan bebas. Telinganya aman dari bully-an dan cacian orang-orang sekitar. Hatinya terasa tentram dan damai.
"Udah sore, kamu gak ke hotel? Mandi atau ngapain gitu?" tanya Dinda sedikit mengusir. Dia merasa kegerahan, jadi dia mau mandi sore.
"Kamu mau mandi? Ya udah, mandi aja. Masa mau ku temenin sih?" canda Aris sambil cengengesan.
"Ck. Dalam mimpimu!" sahut Dinda sambil ke kamar mandi.
Lagi, Aris tetap setia berjaga. Baju dari semalam juga belum berganti. Itu masalah kecil. Setelah Dinda selesai mandi, giliran Aris yang akan mengajak Dinda ke kamar hotelnya. Mengajaknya menginap lebih baik. Fikirnya.
Jangan berfikiran kotor untuk kata menginap. Karena Aris hanya ingin tidur bareng saja. Lagian, Dinda sedang hamil. Mana mungkin Aris berani melakukan hal kotor itu lagi? Kecuali jika ada yang membujuknya. Setan mungkin. Bisa jadi hal itu akan terjadi lagi.
Cukup lama, akhirnya Dinda keluar dari kamar mandi itu. Dinda tak malu lagi saat di depan Aris. Bukannya tidak malu, Dinda hanya beranggapan bahwa Aris tidak ada. Makanya dia berani bersisiran rambut di depan pria itu. Bahkan Dinda juga berani menggunakan lipgloss di depan Aris. Lagian sedari pagi Dinda gak sisiran, gak menggunakan lipgloss. Sekarang dia berani karena Aris gak pergi-pergi dari tempatnya. Mau gak mau, Dinda tetap melakukan itu.
Aris rasa, selera Dinda berbeda jauh dengan selera Nesa. Jika Nesa terkadang menggunakan krim siang-malam dan bedak. Namun tidak dengan Dinda. Dinda hanya percaya diri jika menggunakan lipgloss saja. Irit atau bagaimana? Namun di mata Aris. Meskipun tak berdandan, Dinda tetaplah cantik. Malah terlihat mempesona di matanya. Aish, mata kurang ajar ini namanya. Padahal dia tak ingin hal lebih dari ini. Namun tetap saja, bujukan setan lebih kuat dari perisainya.
Saking terpesonanya Aris dengan Dinda. Dia segera berdiri menghampiri Dinda. Meraih tubuh Dinda dalam pelukannya.
__ADS_1
"Eh, apa-apaan ini!" pekik Dinda saking kagetnya. Aris ini selalu membuat jantungnya Dinda tak aman.
"Din, kau begitu menggoda," bisiknya.
Dan yah, kali itu. Aris menyerobot bibir Dinda tanpa permisi. Dinda memukul-mukul badan Aris dengan kuat.
Dinda kehabisan nafas, namun Aris tetap melahap bibirnya dengan rakus.
"Berhenti bodoh! Kamu mau membunuhku, hah!" teriak Dinda sambil mengusap bibirnya yang basah akibat liur mereka. Lipgloss orange yang tadinya tertata sempurna, sekarang jadi belepotan gak karuan.
"Hah? Aku gak maksud kayak gitu Din. Habis kamu sih, kenapa buat aku jadi begini?"
"Maksudnya?" tanya Dinda penuh selidik.
"Kamu terlihat begitu menggoda Din. Boleh lagi gak?" pinta Aris.
Usia kandungan Dinda yang cukup matang, membuat hormonnya naik. Tiba-tiba pikiran Dinda terlintas akan hubungan yang lebih dari ciuman.
'Astaghfirullah, kenapa aku membayangkan hal lain?' batinnya jadi tak enak.
"Enggak. Mending kamu balik ke hotel. Mandi. Bau tahu? Bisa-bisa aku muntah," cibir Dinda sambil berusaha mengusir.
Tak tahukah mereka, kelakuan mereka itu sedang diintai warga sekitar. Mereka pendatang baru. Harusnya lebih waspada. Apalagi dari semalaman sepeda motor Aris terparkir di luar. Dan di dalam? Pasti orang lain akan menduga yang tidak-tidak.
"Muntah? Emang Dinda pernah muntah?" tanya Aris sambil ketawa lebar. Tawa yang mengejek.
'Nyebelin banget sih ayahmu!' gerutu Dinda dalam hati.
Melihat Dinda yang hanya diam saja, sempat terpikirkan di benak Aris untuk mengulanginya lagi. Namun diurungkannya, mengingat dia yang seharian belum mandi. Pasti bisa saja Dinda beneran muntah gara-gara mencium bau badannya. Jadi, setelah Dinda merapikan dandanannya. Aris membawa Dinda menuju ke penginapannya.
"Ya udah, kalau gitu anterin aku. Aku mau mandi," ajak Aris setengah memaksa.
"Gak! Kamu cowok, masa minta dianterin?" tolak Dinda.
"Aku emang cowok. Tapi kamu calon istriku Dinda, jadi apa salahnya?"
Merasa kalah, akhirnya Dinda manut, menurut saja. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang baru saja jadian. Sayang sekali, harusnya Aris halalin Dinda lebih dulu ketimbang seperti ini. Memang terasa manis, tapi berujung dosa.
Bersambung...
__ADS_1
Gimana nasib mereka berdua? Kira-kira kapan mereka menikah? Terus pantengin ya, tiap hari up. Jadi mohon dukungannya.