
"Iya," jawab Aris sambil berbinar.
"Tanganmu," ucap Dinda seraya memberitahu.
"Ssssst!" Aris menyuruh Dinda untuk diam.
"Kenapa? Bukannya ini berita yang bagus," kata Dinda kurang setuju dengan permintaannya Aris.
"Mas mohon kamu mengerti. Cuma kamu yang tahu Din," ucap Aris lagi.
"Ada sesuatu?" tanya Dinda curiga.
Aris hanya mengangguk saja. "Nanti mas kasih tahu. Yang penting mas keluar dari sini dulu," kata Aris lagi.
"Kalau kamu gak sembuh, gimana kamu bisa keluar dari sini," kata Dinda sambil mengusap-usap tangan Aris.
"Mas pasti cepet sembuh kok Din. Oiya, Zahra gimana? Kenapa kamu nungguin mas terus? Apa Zahra gak nangis?"
Inilah yang Dinda mau. Dinda sangat suka kalau Aris banyak bertanya seperti ini.
"Zahra sama Lia. Makanya mas Aris cepet sembuh, biar kita bisa bareng-bareng merawat Zahra."
"Tapi dokter bilang kalau mas lumpuh Din," kata Aris memelas.
"Bohong! Buktinya tangan mas bisa bergerak," kata Dinda membantah ucapan Aris.
"Iya mas bohong kali ini," kata Aris dengan yakin.
"Kenapa mas? Apa alasannya?"
"Mas akan ceritain nanti Din. Sekarang bantu mas biar bisa keluar dari sini ya?" mohon Aris pada istrinya.
"Pasti mas, nanti kalau kondisi mas Aris sudah membaik. Pasti dokter akan mengijinkan mas Aris pulang. Tapi mas, mas Aris gak lupa sama janji kita kan?" Dinda menanyakan soal kepastian hubungan mereka. Mana enak digantung kayak gini tanpa kepastian. Meskipun status mereka masih suami istri, tapi mereka berdua belum mengesahkannya lagi entah secara agama maupun negara.
"Jangan khawatir sayang. Asal kamu menerima keadaan mas, mas tetap akan melanjutkan rencana kita. Untuk keadaan mas, sebenarnya mas gak lumpuh. Tapi mas akan berpura-pura untuk beberapa waktu. Ku harap kamu bisa bertahan."
"Jangan khawatir mas, asal itu demi kebaikan kita. Dinda pasti akan mendukungnya," kata Dinda lagi. Sebenarnya dia sangat penasaran. Namun Aris belum mau memberitahunya. Tapi tak apalah, yang penting Aris baik-baik saja. Dinda cukup bahagia kalau suaminya tak mengalami kelumpuhan seperti yang dimaksudkan oleh dokter kemarin.
"Iya sayang. Semua yang ku lakukan hanya demi kebaikan kita," kata Aris sambil membawa Dinda ke pelukannya.
Saat asik berpelukan. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Kayak suara mas Wawan," kata Dinda sambil menatap Aris.
__ADS_1
'Mau ngapain Wawan ke sini? Atau mau ngetawain aku?" batin Aris tak suka.
"Ya udah bukakan Din. Tapi jangan bilang kalau mas baik-baik aja," pinta Aris dan Dinda mengangguk mengerti.
Kalau boleh bicara, Dinda sebenarnya tak suka dengan permintaan Aris. Kalau Wawan tahu Aris lumpuh, pasti Wawan akan senang. Bagaimana kalau suatu ketika Wawan menggodanya? Pasti Wawan tak punya rasa takut lagi kepada Aris, tapi ini adalah permintaan suaminya dan demi kebaikannya. Mau tak mau Dinda juga ikutan berbohong.
"Assalamualaikum Dinda," ucap Wawan saat Dinda membukakan pintu ruangan itu.
Dinda sedikit bernafas lega, ternyata Wawan bersama istrinya.
"Wa'alaikumussalam. Mas Wawan, mbak Mega."
"Iya Dinda. Maaf ya, kalau mbak baru datang sekarang," kata Mega sambil menjabat tangannya si Dinda.
"Gak apa-apa kok mbak. Makasih udah ditengokin," kata Dinda dan terlihat Wawan celingukan ingin tahu kondisinya Aris seperti apa?
"Masuk aja mas!" suruh Dinda dan Dinda menatap suaminya yang tengah berpura-pura tidur.
"Aris lagi tidur?" tanya Wawan sambil melihat Aris yang tengah menutup matanya.
"Iya mas, biasa efek obat," kata Dinda yang mengajak keduanya duduk di tikar.
"Oiya, kata dokternya keadaan Aris gimana?" tanya Wawan ingin tahu.
"Seperti yang mas Wawan lihat. Mas Aris belum terlalu baik," kata Dinda sedih.
"Dinda gak tahu pasti mas, kan Dinda di rumah sama kalian," kata Dinda sedikit kesal di ujungnya.
"Yang sabar ya Din. Semoga Aris cepet sembuh," kata Mega.
"Makasih ya mbak," jawab Dinda sambil sedikit senyum.
"Oh iya, mbak sama mas Wawan bawain makanan sama selimut buat kamu. Katanya ayah kamu kedinginan di sini."
"Makasih ya mbak. Maaf udah ngerepotin," kata Dinda lagi.
"Emang Aris gak ada cerita apa gitu?" Rupanya Wawan tak putus semangat. Dia tetap ingin tahu kronologi kejadian jatuhnya Aris dari motor.
"Nanti kalau mas Aris udah bangun, mas Wawan bisa tanyakan langsung sama mas Aris."
"Idih, jutek amat sih adiknya mas Wawan," ledek Wawan. Tapi Dinda enggan menanggapi.
'Katanya Aris lumpuh, tapi kenapa Dinda gak ada sedih-sedihnya?' pikir Wawan dalam hati.
__ADS_1
"Oiya, ibu Lastri gimana mbak?" tanya Dinda pada Mega. Ya siapa tahu Bu Lastri masih sakit, jadi dia gak ikut jenguk.
"Ibu udah agak mendingan sih. Tapi dia titip salam tadi, katanya semoga Aris cepet sembuh."
"Aamiin. Makasih doanya. Nanti Dinda sampaikan ke mas Aris."
Meskipun Aris gak nimbrung, tapi Dinda yakin kalau Aris mendengar obrolan mereka.
"Ya udah deh Din, berhubung Aris masih tidur. Kami mau berpamitan aja," kata Wawan tiba-tiba.
"Lah, kenapa mas? Buru-buru banget," ucap Dinda basa-basi.
"Kasihan ibu Din. Ayah hari ini kan kerja, jadi ibu sendirian," kata Mega lagi.
"Iya udah mbak, gak apa-apa. Aku makasih loh, kalian udah mau nengokin mas Aris," kata Dinda lagi. Ya Dinda senang, seenggaknya mereka masih punya rasa simpati pada Aris.
"Sama-sama Dinda. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi mas Wawan ya," ucap Wawan yang diangguki pura-pura oleh Dinda.
'Sungkan apanya Wan? Itu mah maunya kamu, biar makin dekat dengan Dinda,' batin Aris geram dengan kelakuan si Wawan.
"Mas," panggil Dinda sambil mendekat ke arah Aris.
"Iya sayang." Aris membuka matanya. Tiba-tiba kepalanya kembali terasa sakit.
"Argh! Kepalaku Din," teriak Aris dan Dinda langsung memegangi tangannya Aris.
"Dinda panggilkan dokter ya mas," ucap Dinda dan dia segera berlari meninggalkan Aris.
Di waktu yang bersamaan. Jo langsung menuju ke kantor polisi. Dia melihat keadaan sepeda motor Aris yang mungkin masih layak digunakan. Cuma ada goresan dan kabel rem yang mengganjal. Sayangnya kalau udah di kantor polisi, urusannya juga harus melibatkan pihak yang berwajib. Jadi ingin memecahkan masalah ini pun gak bisa sendirian.
"Aku harus membicarakan ini dengan Aris. Apapun keputusannya, semoga dia mengambil langkah yang tepat," gumam Jo dan dia segera berpamitan meninggalkan kantor polisi itu.
Sementara itu, keadaan kepalanya Aris masih belum stabil. Aris akan terus mengalami kesakitan kalau pembuluh darahnya yang membeku tidak dioperasi.
"Apa? Jadi mas Aris harus operasi dok?" tanya Dinda khawatir.
"Kalau tidak secepatnya dioperasi, dia akan terus merasakan sakit seperti tadi," terang dokter itu. Jadi mau tidak mau, kali ini Aris harus operasai kepala. Mana biayanya tidak murah.
Kasihan nasib Aris. Sepeda motornya sudah rusak, sekarang ditambah lagi dengan biaya sakit dan operasinya. Bahkan uang yang Aris berikan di ATM-nya Dinda pun gak cukup.
"Ya Allah, harus gimana aku?" gumam Dinda lagi.
Tapi Aris tidak terlalu khawatir. Seenggaknya dia masih punya tabungan yang lain.
__ADS_1
"Jangan khawatir ya Din. Soal biaya, mas masih ada. Yang penting mas sembuh dan mas akan mencari tahu kenapa motor mas sampai kayak gitu?' kata Aris dan dia lanjutkan dalam hati.
Bersambung...