Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mengantarkan Wawan


__ADS_3

...****************...


Sore itu, Aris mengantarkan Wawan mencari rumah Mega. Aneh memang, masa sama rumah istrinya saja Wawan gak tahu. Dia cuma ingat pertama kali Wawan ketemu Mega saat di tong sampah waktu dulu.


"Jadi rumah mbak Mega di tempat sampah ya mas?" tanya Aris sambil terkikik geli saat Wawan minta diberhentikan di tempat pembuangan sampah.


"Diem lu Ris. Lu tuh gue mintain tolong buat nganter, bukan buat nertawain gue!" kata Wawan emosi. Udah sakit, disuruh nyari, sekarang malah diketawain Aris. Bener-bener lengkap hidupnya penuh penindasan. Itu sih menurut Wawan, karena hatinya udah gelap. Jadi pikirannya negatif mulu.


"Biasa aja kali mas. Gitu aja langsung emosi. Nih ye, kalau mas Wawan pernah ketemu dia buang sampah di sini, berarti rumah mbk Mega itu gak jauh-jauh dari sini. Gitu aja repot," sahut Aris memberitahu.


Aris punya pikiran yang cemerlang lah dibanding Wawan. Soalnya Aris sudah berpengalaman dalam mencari seseorang. Bahkan mencari Dinda. Kalau modelan kayak Wawan gini disuruh nyari, kayaknya sudah menyerah di tempat. Buktinya pas mencari Dinda pun, Wawan gagal menemukannya.


Wawan menatap Aris sambil setengah berpikir. Sepertinya perkataan Aris ada benarnya juga. "Ya udah ayo nyari. Apalagi? Masa diem terus di sini," balas Wawan yang malah menyalahkan Aris.


Yang benar saja? Bukannya makasih malah kayak gitu si Wawan. Gengsi mungkin, makanya gak mau bilang makasih.


"Iya mas, yaelah yang gak sabar mau ketemu istri," goda Aris. Dia gak peduli Wawan benci padanya. Biarin aja Wawan benci, yang penting Aris kan gak dendam. Netral aja gitu jadi orang.


"Hilih lambemu kalau ngomong Ris!" ucap Wawan yang sudah tak mengelak lagi.


Sesaat kalau dilihat-lihat, mereka ini seperti sepasang sahabat. Tapi dilihat sesaat doang, faktanya Wawan gak pernah mau akur sama Aris kalau gak terpaksa. Sebenarnya bisa, cuma Wawan masih malas mengakui kalau Aris itu suaminya Dinda.


Setelah bertanya kesana-kemari, akhirnya Aris dan Wawan menemukan titik terang. Salah seorang warga memberitahu di mana Mega tinggal.


"Jadi sebelah itu ya Bu?" tanya Aris sambil menunjukkan rumah yang dimaksud.


"Iya, kalian masuk di gang itu. Tanyain di mana rumah Mega, pasti langsung ketemu."


Aris dan Wawan manggut-manggut. Setelah berterima kasih, Aris langsung melanjutkan perjalanannya ke rumah Mega. Ternyata benar, di depan rumah itu ada sepeda motornya Mega.


"Pasti ini rumahnya mas," kata Aris ngasih tahu Wawan.


Baru juga Wawan hendak menjawab. Mega sudah keluar dari dalam rumahnya.


"Assalamualaikum." Aris mengucapkan salam, karena sedari tadi Wawan hanya diam mematung.


Wawan terdiam karena tak menyangka di balik gaya modisnya Mega, ternyata dia terlahir dari kalangan biasa. Wawan sempat mengira kalau Mega anak dari orang kaya. Faktanya Mega cuma anak orang biasa. Pantas saja, waktu tinggal di rumah pak Bambang, Mega tak pernah menuntut apapun.


"Wa'alaikumussalam," jawab Mega sambil menatap Aris dan juga Wawan.


Mega juga tengah tak mengira, kalau Wawan bakalan mencarinya. Satu lagi yang membuat Mega heran, Wawan bareng Aris? Benarkah ini? Mega seperti tengah bermimpi di sore hari gara-gara Wawan yang sudah berbaikan dengan Aris.

__ADS_1


"Masuk kalian, silahkan!" suruh Mega pada akhirnya. Bagaimanapun juga, Wawan adalah suaminya. Dan Aris? Aris adalah bagian keluarga pak Bambang yang harus ia perkenalkan dengan orang yang ada di rumah Mega.


"Iya mbak, makasih," jawab Aris yang hendak berjalan lebih dulu. Tapi dilihatnya Wawan seperti kaku di tempat.


"Mas, ayo masuk!" ajak Aris kemudian. Dan Wawan akhirnya tersadar.


"Eh i-iya," jawabnya sedikit terbata.


"Siapa yang datang?" tanya seorang nenek yang tengah berbaring di ruangan tengah.


Nenek itu adalah neneknya Mega, namanya nenek Nur yang kini tengah berbaring sakit.


"Ini nek, suami Mega."


"Mas Wawan, kenalin ini nenekku," ucap Mega sambil memperkenalkan Wawan.


"Dan ini Aris nek. Suami dari adiknya mas Wawan," kata Mega yang kini memperkenalkan Aris.


'Kapan aku seperti ini? Ngenalin istriku pada ibu dan Lia,' batin Aris begitu terharu.


Apalagi kondisi nenek Nur juga tak sehat seperti ibunya Aris. Jelas saja Aris langsung teringat akan keadaan ibunya di sana. Aris sudah gak sabar menunggu besok, dia akan datangi rumahnya kembali.


'Semoga ketemu,' doa Aris dalam hati. Dia sudah sangat kangen sama ibunya. Aris juga ingin minta maaf karena selama ini dia menyia-nyiakan ibunya. Semoga Allah memberikan kesempatan itu kepadanya.


"Mas Wawan!" panggilnya saat melihat Wawan yang tengah berdiri, sementara Mega ada di dalam ruangan yang tak terlihat dari mata Aris.


"Ya Ris, ada apa?"


"Mas Wawan balik bareng aku apa sama mbak Mega?" tanya Aris, dia butuh kepastian. Karena tugasnya buat mengantarkan Wawan untuk bertemu Mega udah beres.


"Em, kamu duluan aja deh Ris. Btw, makasih ya?" kata Wawan yang membuat hati Aris tercubit.


'Tumben,' batin Aris. Tapi Aris seneng, akhirnya dia masih dibutuhkan juga untuk Wawan.


"Sama-sama mas," kata Aris sambil tersenyum ramah.


"Mbak Mega, aku pamit ya? Nek, Aris pamit pulang duluan ya? Semoga nenek lekas sembuh," doa Aris sebelum berpamitan.


"Aamiin, makasih ya nak," balas nenek Nur sambil bersalaman dengan Aris.


Setelah berpamitan pada semuanya. Aris langsung pulang. Di tengah perjalanan dia jadi kepikiran dengan kedua orang tua Mega yang tak kelihatan di rumah itu.

__ADS_1


Tapi semua pikiran itu segera Aris tepiskan. Karena gak ada gunanya juga buat Aris.


Sebelum sampai rumah, Aris sempatkan diri buat membeli sesuatu. Hitung-hitung oleh-oleh buat istrinya. Sebab Dinda ini sifatnya masih kekanakan, jadi kalau dikasih sesuatu gitu pasti seneng banget.


...****************...


"Assalamualaikum istriku," ucap Aris setelah dia masuk kamarnya Dinda.


"Wa'alaikumussalam. Kok lama mas? Jauh ya?" tanya Dinda penasaran.


"Lumayan jauh sayang. Oiya, ini mas bawain oleh-oleh buat kamu," kata Aris sambil menyodorkan beberapa buah-buahan dan Snack.


"Makasih mas. Jadi pengen makan apelnya," kata Dinda berbinar.


"Ya udah dimakan, mau dikupasin gak?" tawar Aris.


"Mas Aris capek, biar Dinda aja," kata Dinda menolak tawaran Aris.


"Oiya, ibu Lastri dikasih 2 ya? Biar dia ada camilan juga," ijin Aris pada Dinda. Sejatinya Aris ini pria yang sangat pengertian dan suka berbagi. Cuma mereka saja yang gak pernah menyadari baiknya Aris itu seperti apa.


"Boleh mas," ucap Dinda dan Aris jadi seneng.


"Kamu aja yang ngasih kan ya?" suruh Aris. Ini karena Aris ingin istrinya dihargai juga oleh Bu Lastri.


"Iya, ini aku kasih sekalian mau ke dapur ya?"


Setelah mendapat persetujuan dari Aris. Dinda segera menghampiri Bu Lastri.


"Ibu Lastri, ini dibeliin apel sama mas Aris," kata Dinda sambil memberikan 3 buah apel ke tangan Bu Lastri.


Bu Lastri sempat berprasangka buruk akan buah itu. Tapi saat dia melihat Dinda yang begitu nikmat memakan buah apel itu, Bu Lastri jadi pengen memakannya juga.


"Makasih ya nak, ibu jadi pengen juga."


"Oiya, tadi mas Wawan udah ketemu sama mbak Mega kan?" tanya Bu Lastri penasaran.


"Udah kok Bu."


"Alhamdulillah kalau gitu. Ngomong-ngomong, apelnya enak," puji Bu Lastri sambil mengunyah sepotong apel yang sudah ia kupas barusan.


Kelihatannya keluarga ini makin akrab ya. Lalu gimana dengan keluarga Aris? Akankah cepat ketemu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2