Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Paket Misterius


__ADS_3

***


Beberapa saat kemudian Dinda dan Jo telah sampai di rumah. Terlihat Nesa sudah menunggu kedatangan mereka.


"Lama amat sih kalian," gerutu Nesa.


"Namanya juga lagi nyari mbak," sahut Dinda datar. Ntah kenapa, Dinda sudah mau berinteraksi dengan yang lainnya.


"Iya Dinda. Gimana perasaanmu hari ini?" tanya Nesa menurunkan egonya. Ingin marah, kayaknya gak mungkin.


"Campur aduk mbak," balas Dinda sambil duduk di kursi.


"Dinda kenapa mas?" bisik Nesa pada Jo penasaran.


"Gak hon. Oya ini mangganya," balas Jo sambil menyerahkan beberapa buah mangga muda. Dia tak mungkin cerita, kalau di jalan tadi mereka bertemu sama Aris. Terus soal mangga ini, pasti Nesa gak mau makan jika tahu kalau yang bantuin nyari mangganya adalah Aris. Jo tahu, seberapa bencinya Nesa sama Aris sekarang ini.


"Yeay, akhirnya dapat juga. Ayo Din, ikut mbak ngrujak mangga."


Tanpa jawaban dari Dinda, ibu hamil yang satu ini langsung menyeret lengan adiknya. Dia sudah tak sabar ingin menikmati mangganya.


"Eh eh!" Dinda terkejut dibuatnya.


"Bisa ngupas kan Din?" Nesa menyerahkan sebuah mangga untuk Dinda.


Dinda hanya mengangguk saja. Lalu dia mengambil sebuah pisau. Dia mulai mengupas mangga itu seperti biasanya. Semua terlihat tak ada masalah. Tapi tiba-tiba...


"Aw!" Teriakan Dinda membuat kaget si Nesa.


"Ya Allah, Din. Kenapa?" tanya Nesa panik.


"Gak mbak. Cuma tergores dikit." Dinda meniupi jarinya yang berdarah.


"Hati-hati. Kayaknya kamu harus istirahat deh Din," bujuk Nesa kemudian. "Maafin mbak yang udah maksain kamu barusan," sesal Nesa.


"Gak apa-apa mbak. Cuma pikiran Dinda lagi gak nentu," jelas Dinda. Dia tengah kepikiran Aris dan masa depannya nanti.


"Ya udah, kamu ke kamar aja gih."


"Maaf ya mbak. Dinda gak bisa bantuin mbak Nesa," kata Dinda sedih.


"Udah. Kesehatanmu itu lebih penting dari apapun Din. Mbak ngerti kok," ujar Nesa menenangkan.

__ADS_1


"Makasih mbak."


Dinda pun pergi ke kamarnya. Sepertinya dia masih butuh istirahat. Kondisinya belum stabil sampai sekarang.


***


Seminggu berlalu, keadaan Dinda semakin membaik. Dinda sudah seperti biasanya. Kalau sedih, namanya juga manusia punya perasaan. Pastilah Dinda sedih. Tapi kesedihan itu sudah tak berlarut-larut seperti dulu. Dinda tahu bagaimana caranya dia happy. Tentunya buat mengecoh akan musibah yang pernah dialaminya kemarin.


Untuk Briyan. Briyan sering mendatangi rumah pak Bambang. Dia selalu berusaha ingin menemui Dinda. Minta maaf atas kesalahannya yang telah meninggalkan Dinda secara sembarangan. Namun semua usaha itu berakhir sia-sia. Dinda masih belum mau menemuinya. Dinda insecure, minder buat ketemu sama Briyan. Dia takut, jika Briyan tahu tentang dirinya. Maka Briyan akan menganggap dirinya rendah nanti. Jadi biarkanlah Dinda menyendiri dulu.


'Lebih baik aku seperti ini. Kalau ku paksakan bertemu sama mas Briyan, mas Briyan pasti akan menganggap ku murahan,' batin Dinda tanpa pikir panjang.


Masalah Aris, semuanya Dinda serahkan pada Jo. Biarkan semuanya seperti ini. Tak ada yang mengganggunya. Sebab Dinda menginginkan situasi yang tenang. Yaitu dengan berada di rumah Nesa. Ya, mulai hari ini Dinda akan menginap di rumah Nesa. Kuliah? Ia meliburkan diri beberapa minggu, tapi Dinda janji akan mengejar materi yang ditinggalkan nantinya. Mungkin belajar secara online.


Hari ini Dinda sudah beraktifitas seperti biasanya. Seperti sekarang ini. Nesa sedang menyapu halaman rumahnya, namun dilarang oleh Dinda. Dinda menawarkan diri, menggantikan pekerjaan Nesa. Lagipula Dinda sadar diri, dia tengah menumpang. Jadi kalau bisa membantu, kenapa tidak dibantu?


"Udah, mbak Nesa duduk aja," suruhnya pada Nesa kemudian.


"Gak mau Din, mbak Nesa harus banyak gerak lho. Biar lahirannya lancar nanti," protes Nesa namun kengeyelan Dinda sepertinya udah kembali.


"Udah, mbak Nesa duduk aja. Aku gak enak tau sama mas Jo. Masa aku cuma numpang doang mbak. Mbak duduk aja sana, cepetan! Nanti aku ngambek tau mbak," cemberutnya sambil mulai menyapu pelan-pelan.


"Ya udah deh, mbak mau nanam bunga aja kalau gitu," balas Nesa sumringah. Adiknya yang sempet stres akhirnya sudah kembali normal seperti sedia kala. Meskipun Nesa yakin, semua ini tak mudah Dinda lalui.


"Iya Din. Kalau mbak males-malesan. Mbak takut nanti pas lahiran gak kuat," kata Nesa yang memulai aktifitas.


"Moga lancar ya mbak. Dinda udah gak sabar gendong keponakan," sahut Dinda. Dia tersenyum kecil membayangkan ada seorang bayi yang ia gendong.


"Aamiin, makasih doanya Din."


"Sama-sama mbak." Keduanya melanjutkan aktivitas masing-masing.


Terlihat Dinda hampir selesai menyapu. Tiba-tiba seorang kurir menemui mereka berdua. Kurir itu mengantarkan sebuah paket atas nama Dinda dan satunya untuk Nesa.


Perasaan, Nesa tak pernah memesan apa-apa. Membuat Nesa berfikir kalau Dinda yang memesan. Tapi gak mungkin juga Dinda. Dinda kan masih dalam mode penyembuhan.


Begitu pula dengan Dinda. Dinda fikir, mbak Nesanya tengah memberinya kejutan. Makanya dia dibelikan barang online seperti ini.


"Mbak Nesa," panggil Dinda ingin bertanya.


"Ya Din," sahutnya.

__ADS_1


"Mbak Nesa beliin aku sesuatu?" tanya Dinda.


"Loh, mbak Nesa fikir malah kamu loh yang order. Jadi kamu gak order Din?" tanya Nesa ingin memastikan.


Dinda terdiam. Merasa tak memesan apapun, akhirnya Dinda membuka suara.


"Itu ada nama pengirimnya gak pak?" tanya Dinda ingin tahu.


"Iya Pak, boleh saya melihatnya sebentar. Soalnya kami gak merasa memesan online," timpal Nesa yang kini segera meraih satu paket untuknya.


Yahhh, petunjuknya juga gak ada. "Ini dropship Din. Bahkan gak ada nomer HP-nya."


Mendengar itu, Dinda langsung panik.


"Terus gimana dong mbak?" tanya Dinda yang jantungnya mulai berdebar-debar. Dinda memang tak boleh mendapatkan kejutan yang membahayakan kayak gini. Takut kalau yang mengirim barang adalah orang yang ingin mencelakainya.


Nesa menghela nafasnya gusar. Matanya menatap pak kurirnya yang terlihat memelas. Nesa jadi tak tega. Dia hamil, makanya mudah sensitif pada hal-hal yang sekecil apapun.


"Ya udah deh Pak, makasih sebelumnya. Oya, ongkirnya gimana nih Pak?" tanya Nesa memastikan. Jangan-jangan, setelah diterima dimintai ongkos kirim lagi. Jadi ya, Nesa perlu memastikan saja.


"Aman mbak, ongkir sudah ditanggung pembeli," jawab pak kurir itu sambil memamerkan senyumannya.


Tapi maaf beribu maaf, Nesa dan Dinda tak tertarik. Hingga Nesa menjawab terimakasih. Yang dibarengi dengan kepergian pak kurir itu.


"Aku kok takut ya mbak, jangan-jangan ada yang mau nyelakai kita lagi," panik Dinda yang tak jadi melanjutkan acara menyapunya.


Begitu pula dengan Nesa. Acara cocok tanamnya jadi gagal total. Sebenarnya siapa orang yang mengirimkan paket buat mereka berdua? Itu satu pertanyaan yang terlintas di kepala Nesa dan Dinda saat ini.


Mereka berdua tak menyadari, bahwa tulisan di paket mereka ada yang berbeda. Karena dirundung kepanikan, itulah sebabnya mereka berdua tak menelitinya dengan detail.


Nesa hendak membawanya ke dalam. Namun lagi-lagi di cegah oleh Dinda. Dinda jadi super protektif, semenjak kasus kemarin itu.


"Jangan mbak. Dinda takutnya itu bom," kata Dinda yang membuat Nesa tergelak tawa.


"Hahaha, kamu lucu Din."


"Ya gimana lagi mbak. Ini paket misterius. Dinda takut mbak. Dinda gak bisa menerimanya," ujar Dinda.


Padahal yang dropship itu hanya di paketnya Nesa. Dinda terlanjur khawatir. Jadinya dia tak meneliti paket yang ia terima.


Bersambung...

__ADS_1


Kira-kira apa ya isi paketnya Dinda? Terus siapa yang ngirim?


Tunggu kelanjutannya. Terimakasih udah setia membaca.


__ADS_2