
***
Lia sudah sampai di sebuah tempat kos-kosan. Namun sayang, kata pemilik kosan Aris sudah lama tak datang ke situ.
Tapi Lia belum menyerah, dia menanyakan kepada seorang teman akrab Aris. Dan berhasil, Aris tengah tinggal di sebuah perumahan yang baru selesai di bangun. Penghuninya juga masih belum terlalu banyak katanya.
Maka di sini-lah mereka bertiga. Jo, pak Bambang dan Lia berada.
"Yakin ini tempatnya?" tanya Jo memastikan. Tapi setelah ditelurusi, rumah ini terlalu sepi. Hanya ada sebuah mobil di pekarangan rumahnya. Apa Aris sekaya ini? Fikir Jo sedikit heran. Tapi dia segera membuang pikiran itu. Dinda yang lebih penting, bukan harta atau kekakayaan Aris.
Mereka ber-3 berpencar menyelidiki rumah itu. Jika ada hal yang mencurigakan, mereka akan segera bertindak.
Namun hari ini, sepertinya Jo sedang dalam keadaan antara beruntung dan sial. Jo beruntung mendengarkan keberadaan seseorang. Namun sialnya, suara yang ia dengar hanya desisan nikmat dari seorang pria dan kesakitan dari seorang perempuan.
***
Dinda POV
Setelah menarik tanganku tadi. Dia bak kerasukan iblis. Dia membanting tubuhku di atas kasur.
"Apa lagi yang kau inginkan, heh!" makiku tepat di depan wajahnya. Sebab dia menindihku tanpa memberikan celah sedikitpun.
"Ini kan yang kamu mau. Dikasarin," ucapnya penuh emosi.
"Kau gila!"
PLAK!
Astaghfirullah. Sakit sekali tamparan tangannya. Dia sangat kasar. Sukanya main kekerasan.
"Diam! Aku sudah mengasihanimu. Tapi ternyata kamu masih belum puas atas kenikmatan yang ku berikan. Jadi, bersiaplah Dinda. Aku akan memuaskanmu lagi," katanya tanpa memikirkan perasaanku.
"Enggak! Kau gila. Aku gak mau!" teriakku sambil berusaha memberontak.
"Emangnya apa perduliku. Kamu hamil, aku juga yang bakalan nikahin kamu," katanya lagi.
"Aku gak sudi. Kau menjijikkan!" teriakku lagi.
"DIAM!!"
PLAK!
__ADS_1
Kali ini dengan tamparan keras, yang membuatku meringis kesakitan. Aku kembali menangis, nafasku sedikit memburu akibat menahan tamparan yang begitu sangat menyakiti pipiku itu.
Di saat aku lengah. Aris menurunkan celana boxer yang ku pakai. Kakiku sudah berusaha menendangnya, tapi sayang dia sudah membaca gerak tubuhku.
"Ku mohon, jangan lakukan lagi."
Aku terus memohon padanya. Tapi semua usahaku sia-sia. Dia sudah kesetanan dan menodaiku dengan sadis.
Dengan semampuku aku berteriak. Minta tolong dan minta dihentikan. Tapi dia benar-benar tak menghiraukannya. Dia justru menikmati hal yang menyakitkan seperti ini. Di saat dia sudah berada di puncaknya. Tiba-tiba terdengar gedoran dari luar sana. Aku membuka mata dan melihat Aris yang masih meneruskan hal kejinya. Hingga saat benih-benih cinta itu sudah tersembur. Dia menjauh dan menutupi ku dengan selimut terdekat.
Terlihat ketakutan dari raut wajah Aris. Ternyata meskipun dia penjahat, dia tetaplah manusia yang punya rasa takut saat perbuatannya ketahuan oleh orang lain.
"Siapapun yang datang, bilang pada mereka. Kalau kita melakukan ini atas dasar suka sama suka. Atau aku akan membunuh mereka tepat di depanmu!" ancamnya yang membuatku kembali trauma.
Dalam hatiku bertanya-tanya. Siapa yang datang? Apakah mas Jo? Atau ayah? Aku berharap, seseorang datang menolongku.
Aris segera merapikan rambut dan pakaiannya. Dia kembali menatapku. Tatapan teduh nan sayu.
"Cepet pakai bajumu Dinda, kamu ini makin lama makin ngeselin ya!" teriaknya, tapi dengan volume kecil. Mungkin agar orang yang ada di luar rumahnya tak mendengar perkataannya itu.
Ternyata dia benar-benar ketakutan. Sebab, dia menungguiku merapikan pakaianku. Sambil menungguku rapi, dia mengintip situasi luar rumahnya dari balik jendela.
Sayup-sayup aku mendengar umpatannya. Sepertinya dia tak akan selamat. Ah, Alhamdulillah. Semoga pertolongan segera datang untukku.
Matanya memerah saat melihat siapa yang datang. Ternyata yang terlihat dari jendela itu adalah mas Jo dan seorang perempuan. Ntah siapa perempuan itu? Yang jelas aku berterimakasih padanya. Pastilah si Aris ketakutan.
Author POV
Aris semakin emosi. 'Lia, bisa-bisanya dia berduaan dengan Jo,' umpatnya dalam hati.
"Kau, tunggulah di sini!" suruh Aris pada Dinda.
Dinda tak menimpali apapun selain suara isakan tangisnya. Dia masih lemas. Jadi yang ia lakukan sekarang adalah duduk. Sampai bantuan datang padanya.
Aris membuka pintunya, hendak menghardik Jo dan Lia. Namun sayang, saat dia membuka pintu. Sebuah bogeman langsung melayang di pipinya. Pak Bambang lah pelakunya. Hingga Aris tak berani balas memukul.
Ternyata, pak Bambang sudah standby di depan pintu. Jadi Aris yang belum siap apa-apa, langsung saja terhuyung ke belakang.
"Dasar iblis, aku tak akan mengampunimu!" teriak pak Bambang emosi.
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Kembali pak Bambang melayangkan pukulannya. Dia benar-benar emosi tingkat tinggi. Penjahat seperti Aris tak akan mendapat ampunan darinya.
Setelah pak Bambang selesai meluapkan amarahnya. Kini giliran Jo yang mendekat ke arah Aris.
Jo mencengkeram kaos Aris bagian dada. Tatapan setajam elangnya keluar. Siapapun yang melihat amarah Jo pasti akan ketakutan. Begitu-pun dengan Aris.
"Loe apakan adik gue!" desis Jo tajam.
Aris gugup bukan main, biasanya dia melawan. Entah, saat di hadapan Jo. Tiba-tiba saja nyalinya menciut.
"Aris! Jawab gue!" bentak Jo lagi.
Ntah bisikan dari mana. Seketika kegugupan Aris hilang begitu saja. Kini sebuah senyuman licik bertengger di bibirnya.
'Emangnya aku akan menyerah? Gak akan,' batin Aris dengan niat jahatnya.
Mendengar ada suara ayah dan kakak iparnya. Dinda segera berlari keluar. Dengan kaki sedikit diseret akibat ulah kasar Aris tadi. Jadi jalannya sudah mulai kurang normal.
Dinda langsung mendekati ayahnya dan memeluknya dengan erat. Menumpahkan segala kepedihan dan kepiluan hidupnya. Dia yang harusnya mempunyai impian yang panjang, namun mendadak harus berhenti di sini. Berhenti tanpa kemauannya. Semua gara-gara orang asing yang bahkan Dinda belum mengenalnya sama sekali.
"Ayah, Dinda udah kotor," bisiknya yang membuat Lia yang mendengarnya begitu tak tega. Mas Arisnya memang gila, dia belum puas di penjara ternyata. Hukuman 1,5 tahun masih kurang. Oh, mungkin harus dihukum seumur hidupnya, biar insyaf.
Lia, dia menyumpahi hal buruk pada kakak laki-lakinya itu. Gak peduli, seberapa besar pengorbanan Aris padanya. Baginya, salah tetaplah salah.
Pak Bambang tak mampu berkata apa-apa selain membalas pelukan dari anaknya itu.
"Dinda kotor, Yah!" ucapnya lagi.
Pak Bambang langsung menumpahkan air matanya. Anak bungsunya yang ia manjakan, kini telah dinodai oleh pria jahat. Dinda gadis mandiri meskipun selalu dia manja, sama halnya pak Bambang memanjakan Nesa. Tapi pak Bambang memanjakan Dinda dengan cara yang lain, karena Dinda anaknya penurut tak pernah membangkang. Beda dengan Nesa yang sedikit pembangkang, bahkan sama suaminya juga gitu.
Aris melayangkan tatapan menantangnya pada Jo. Dia menepis tangan Jo yang masih mencengkeram bajunya.
Aris langsung buka mulut. "Loe fikir, gue ngelakuin ini karna gak ada sebabnya. Loe salah Jo, harusnya Papa kesayangan loe itu loe bawa sekalian ke sini."
Jo menautkan alisnya. Kenapa menyeret Papanya? Memangnya pak Wahyu ada masalah apa dengan Aris?
Bersambung...
Sebenarnya apa motif Aris melakukan ini semua?
__ADS_1