
"Kenapa Bu? Apa Dinda baik-baik aja?" Itulah akhirnya pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Betapa sayangnya Aris pada Dinda. Makanya, tak ada orang lain yang ia khawatirkan selain Dinda.
Bagaimana kalau misalnya, yang bu Lastri tangisi orang lain? Apakah Aris akan malu? Tidak. Aris tidak akan malu. Justru dia akan merasa lega jika Dinda baik-baik saja.
"Dinda kabur, nak Aris," tangis bu Lastri pecah kembali.
"Astaghfirullah!" Mimpi Aris bak jadi kenyataan. Benarkah Dinda meninggalkannya?
Bu Lastri yang tidak tahu-menahu, sempat menangis histeris saat mendapati anak tirinya itu tak berada di kamarnya. Pak Bambang saat itu sudah berangkat bekerja. Jadi hanya bu Lastri lah yang menangis dalam kesendirian itu.
Berkali-kali pak Bambang menelepon agar jangan terlalu khawatir. Namun hati wanita. Hati seorang ibu tetaplah rapuh ketika menyadari anaknya hilang. Dinda sudah bu Lastri anggap sebagai anaknya. Ya walaupun darah tak sekental air. Tetap saja, bu Lastri merasakan kesedihan itu.
"Sejak kapan dia hilang, Bu?" tanya Aris ingin tahu lebih detail kejadiannya. Meskipun tidak tahu dengan menyeluruh, Aris tetap akan bertekad mencarinya. Dinda sedang hamil. Usia kandungannya belum 8 bulan, pasti rawan prematur bukan?
'Aku akan tetap mencarimu Din,' batinnya.
"Ibu gak tau Nak, hiks." Tangis bu Lastri pecah. Ini masalah yang serius baginya.
"Ibu gak usah khawatir, aku akan mencarinya. Permisi Bu. Aris pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucapnya sambil berlalu.
"Mau mencari kemana kamu Nak? Ibu harap kamu bisa membawa Dinda pulang," sahut Bu Lastri.
Aris tak perduli dengan sahutan bu Lastri. Tujuannya adalah mencari Dinda. Entah di mana dia akan mencari. Mungkin Aris akan ijin cuti sampai waktu yang tak ditentukan. Dia akan fokus mencari Dinda.
"Dinda, sebenarnya kamu di mana?" bisiknya lirih pada angin sore itu.
Aris memarkirkan motornya di teras. Ia mau mandi dan beristirahat sejenak. Setelah selesai mandi, Aris menunggu maghrib. Sayang kalau dilewatkan. Dia sudah sadar akan dosa yang selama ini ia lakukan. Jadi dia ingin mendekatkan diri pada Allah. Makanya Aris sudah bisa bersikap sabar sekarang. Tapi masih belajar.
Selesai beribadah, Aris menuju ke dapurnya. Melihat keadaan dapur, ia teringat akan Dinda. Dia merindukan Dinda di hidupnya. Sayangnya, wanita itu seperti meragukannya. Kemudian dia membuat segelas kopi. Agar otaknya sedikit encer.
"Dinda, aku rindu kamu Din? Aku janji, aku akan mencarimu. Aku gak ingin kamu dan bayi kita kenapa-kenapa," ucapnya pelan.
Lelaki tak boleh menyerah, bukankah Aris pernah berkata seperti itu? Ingin mendapatkan Nesa saja dia rela melakukan apa saja. Sekarang dia harus tunjukkan pada Dinda, kalau dia akan berjuang. Hanya saja, sekarang dia melakukan dengan jalan yang baik. Tidak seperti dulu, yang mengutamakan kekerasan dan dendam.
Kopi itu siap dinikmati. Sayang, sang penikmatnya sedang melamun. Fikirannya terbang tanpa arah. Memikirkan cara, bagaimana ia akan menemukan Dinda dengan cepat. Paling tidak dalam seminggu atau dua minggu, Dinda harus ia temukan. Bahaya dengan bayinya. Aris tidak ingin Dinda mengalami kesulitan. Biarkan Aris saja yang sulit. Tapi jangan Dinda.
__ADS_1
"Bahkan kalau nyawa sebagai taruhannya, aku rela menggantikan nyawa Dinda denganku," gumamnya lagi.
"Ya Allah, aku mohon. Selamatkanlah Dinda dan calon bayinya selamat, di manapun dia berada. Aamiin."
Lama melamun, kopi yang dibuatnya mendingin. Aris jadi tak selera untuk meminumnya lagi. Ia biarkan kopi itu di tempat. Dalam hatinya terus berdoa. Semoga Allah memberikannya petunjuk. Jalan mana yang harus ia tuju untuk mencari Dinda.
Memasuki kamarnya. Kenangan pahitnya masa itu. "Huh, Dinda. Sebenarnya kamu ada di mana?" gumamnya pelan. Ia meraih ponselnya. Ada notif pesan sms di sana.
Mungkin operator, fikirnya. Jadi dibiarkannya notif itu tak terbaca. Andai Aris membacanya. Tapi sayang, fikiranya hanya fokus ke Dinda.
"Ya Allah, mudahkanlah hamba mencari Dinda," pintanya dan segera mengendarai motornya. Mulai malam itu, Aris sudah fokus mencari Dinda.
***
Aris kelimpungan. Mencari seseorang tanpa alamat itu------ ah, rasanya begitu menyulitkan. Itu bagai kita ingin pergi puncak gunung, namun tidak tahu jalannya. Yang ada malah sering tersesat. Itulah Aris, yang kini bagai berada di arah jalan yang salah.
Aris sedikit berfikir, apa dia harus bertanya pada pak Bambang? Tidak perlu, percuma juga bertanya. Mereka juga sedang kesulitan mencari.
Istirahat sejenak. Selesai menepikan sepeda motornya, Aris mengambil ponsel yang ia selipkan di saku celananya. Iseng, dia-pun membuka Short Message Service alias kotak pesan SMS. Dilihatnya di sana. Tadinya biasa-biasa saja, itu hanya laporan dari operator, bahwa masa aktif datanya akan segera berakhir.
Hanya saja satu pesan yang membuatnya tergelitik ingin melihatnya. Pesan itu laporan dari bank. SMS Banking. Mungkinkah Dinda? Segera ia check, dan diteliti. Tumben. Dinda mengambil uang dari ATM pemberiannya.
Sebenarnya Aris tak mempermasalahkan nominal. Baginya uang dia ya uang Dinda juga. Tapi masalahnya buat apa? Apa Dinda sedang ada masalah?
"Oh iya, Dinda sedang kabur. Mungkin dia memerlukan sesuatu untuknya," fikir Aris.
Setelah ditelusuri, akhirnya Aris tahu di mana Dinda melakukan transaksi uang itu? Sedikit lega. "Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya Engkau memberikan petunjuk bagi hamba."
Segera ia menyalakan kembali sepeda motornya itu. Menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir 1 jam lamanya. Jangankan 1 jam, 24 jam pun Aris Rela melakukannya.
"Aku akan datang Din. Menjemputmu," ucap Aris sambil tersenyum.
Dia senang. Berkat Dinda yang mau mengambil uang dari ATM-nya, akhirnya jalan buat menemukan Dinda akan mudah. "Alhamdulillah." Kata hamdalah terus ia ucapkan di sepanjang perjalanannya. Semua bagai mimpi.
***
__ADS_1
Di kediaman pak Bambang. Jo penasaran dengan semua yang terjadi secara dadakan itu. Jo sudah diberi tahu sejak awal sama Dinda. Tapi dia disuruh berjanji untuk tidak diberi tahukan siapa-siapa. Tapi sekarang kondisinya menyangkut istrinya, kakaknya Dinda.
"Bagaimana, Yah?" tanya Jo pada pak Bambang.
Melihat Nesa yang terus menangis, akhirnya Jo putuskan untuk bertanya pada pak Bambang. Agar memberikan keputusan yang pas. Sepertinya tidak masalah jika Nesa diberitahu. Dari pada dia juga ikutan sedih. Kalau bu Lastri? Ah, masalah semakin sensitif saja. Jika bu Lastri diberi tahu. Tak menutup kemungkinan juga, bu Lastri akan memberi tahukan ke Wawan. Sementara ini juga, Wawan juga tengah sibuk mencari Dinda. Sulit.
"Ya udah, kamu kasih tau Nesa pelan-pelan ya Jo. Kalo bisa jangan di sini. Ayah takut, ibu akan denger," bisik pak Bambang begitu pelan. Takut bila bu Lastri menangkap obrolannya, perang ke-2 akan terjadi. Kan gawat jika pak Bambang gak dapat jatah dari Bu Lastri.
Maafkan pak Bambang yang telah menutupi hal ini dari istrinya. Ini demi kebaikan bersama. Dinda... dia tidak ingin terus-terusan digunjing. Memang boleh dia menikah dengan Wawan. Tapi jika ada yang lebih berhak, kenapa harus tetap dalam selingkup? Maka dari itulah, Dinda ingin melihat perjuangan Aris dulu. Jika Aris memang serius, Aris pasti mencarinya.
"Ayah jangan kuatir. Oh ya, malam ini kami akan nginep di sini Yah."
"Gak usah ijin gitu ah. Sama ayah sendiri kan? Jadi bebas kalau kalian mau tidur di sini kapanpun. Lagian ayah lebih seneng kalian tidur di sini. Jadi rame. Apalagi cucu ayah? Pengen nyubit terus bawaannya. Hahaha," canda pak Bambang sambil tertawa lepas.
Jika orang tabu yang melihatnya. Mereka akan berfikir, anaknya hilang, tapi kok masih bisa tertawa? Biarin aja. Ini kan pak Bambang. Pak Bambang ini ya, kalau denger cerita ya masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Begitulah orangnya, makanya dia tidak terlalu repot saat dirinya digunjing gara-gara Dinda. Yang ada, pak Bambang justru kasihan sama mereka. Mulut kok buat ghibah, kenapa gak dibuat untuk bicara yang baik-baik saja?
"Kalau gitu, Jo masuk ke dalam dulu Yah."
Setelah mendapati anggukan pak Bambang. Jo akhirnya masuk kembali ke dalam rumah. Dia mengajak Nesa ke kamar dan menceritakan semuanya pada Nesa.
***
Hampir satu jam lamanya, akhirnya Aris menemukan kota itu. Kota di mana Dinda bertransaksi menarik uang dari kartu debitnya. Sebut saja kota Sidoarjo. Kota yang dekat dengan kota surabaya. Namun sayangnya, Aris tak tinggal di kotanya. Dia hanya tinggal di kawasan perumahan biasa.
Melihat jam di ponselnya.
"Sudah jam 1."
Mustahil bagi orang lain untuk melanjutkan perjalanan. Namun Aris bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tanyai satu persatu orang yang berada di sana. Siapa tahu ada yang kenal dengan ciri-ciri Dinda.
"Gak ada yang melihat ya?" tanya Aris sedih.
Namun orang-orang hanya bisa menjawabnya dengan gelengan. Sulit. Tapi dia harus tetap melanjutkannya.
"Duh, perutku mules lagi. Sabar sayang, ayah udah dekat denganmu. Tapi kamu di mana?" tanya Aris, seolah-olah dia lagi berbicara dengan anaknya.
__ADS_1
Bersambung...
Akankah Aris bisa menemukan Dinda?