
...****************...
Di dalam kamarnya pak Bambang. Bu Lastri tengah mendekati pak Bambang. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.
"Ayah," panggilnya.
"Eh, ada apa Bu?" jawab pak Bambang sambil berganti pakaian. Acara sepasaran sudah selesai, makanya sekarang beliau mau berganti pakaian terus istirahat.
"Itu lho Yah... Dinda sama Aris menamai anak mereka minta pendapat ke ayah apa enggak sih?"
Pak Bambang setengah berpikir. Beliau menggeleng. "Soal nama anak mereka, itu hak mereka Bu," balas pak Bambang kemudian.
"Tapi Yah, namanya Fatimah. Kayak kuno banget gitu loh!" Bu Lastri seperti gak setuju dengan nama yang Aris berikan kepada anaknya.
"Biarin aja lah Bu. Lagian ayah ngebebasin anak-anak ayah buat menentukan pilihannya sendiri," jawab pak Bambang bijak.
"Iya Yah. Terus kapan mereka menikah lagi? Ibu takut kalau serumah dengan Aris terus-terusan. Ayah tahu kan? Nak Aris itu punya kelainan," ucap Bu Lastri dengan membesar-besarkan masalahnya.
"Iya sih Bu. Tapi bagaimana dengan Dinda? Ayah sendiri gak tega kalau Dinda berduaan dengan Aris."
Sepertinya Bu Lastri tengah egois. Dia memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan Dinda bagaimana seandainya Dinda punya rasa takut seperti dirinya? Ini seperti Bu Lastri mengumpankan Dinda untuk Aris biar dia selamat.
"Gini aja Yah. Selama mereka belum menikah lagi, gimana kalau Ayah menyuruh Aris untuk tinggal di rumahnya sendiri. Lagian kalau soal bayi Zahra, ibu dan Mega siap ngebantuin kok Yah. Tapi selama Aris tinggal di rumah ini, ibu dan Mega gak bisa bantu Yah. Ayah tahu kan, kami gak pernah bertegur sapa lagi. Ibu takut Yah, gimana kalau tiba-tiba dia membunuh salah satu anggota keluarga kita? Siapa yang akan disalahkan? Sebelum semua itu terjadi, lebih baik ayah bertindak dari sekarang. Karena lebih cepat akan lebih baik," kata Bu Lastri setengah menghasut pak Bambang. Jika pak Bambang terhasut, maka Bu Lastri akan kembali bebas beraktifitas tanpa dihantui rasa takut soal Aris yang ingin membunuhnya.
"Bener kata ibu. Ayah emang harus segera bertindak. Tapi di mana Aris? Ayah gak mungkin bicara sama Aris kalau ada Dinda. Soalnya ayah lihat, Dinda semakin akrab dengan Aris," kata pak Bambang berpendapat.
Bu Lastri manggut-manggut, percaya kalau perkataan pak Bambang ada benarnya.
"Tuh kan, Yah. Masa Dinda langsung akrab kayak gitu? Padahal kata Ayah kemarin itu, Dinda sempat trauma gara-gara kelakuan bejat Aris. Ibu yakin Yah, kalau Aris pasti main dukun biar Dinda mau menerima dia. Soalnya gak mungkin banget, korban pemerkosaan mau menerima pelakunya tanpa syarat kayak gini." Bu Lastri terus memanas-manasi pak Bambang, pokoknya sampai pak Bambang benci banget sama Aris dan Aris diusir dari rumah ini.
"Ya udah Bu. Tolong ibu lihatin keadaan di rumah bagaimana? Kalau Aris di luar, ibu kabarin ayah ya? Ayah mau bicara soal ini sama Aris."
__ADS_1
"Iya Yah. Tenang aja, ibu akan lihat situasinya kayak gimana?" ucap Bu Lastri antusias sambil meninggalkan pak Bambang.
Dan tepat sekali, saat Bu Lastri keluar kamar. Dia melihat Aris yang tengah membawa cucian yang akan di jemur di halaman belakang.
"Kebetulan banget. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku," gumam Bu Lastri bahagia.
Dia langsung balik ke kamarnya buat ngasih info yang bahagia ini pada suaminya. Sayang sekali pak Bambang kalah dengan cinta, jadi dia mudah terhasut begitu saja tanpa mencari kebenarannya.
"Yah, Aris ada di halaman belakang," kata Bu Lastri setengah berbisik.
"Ada Dinda gak Bu?"
"Gak ada. Dinda ada di kamarnya Yah," jawab Bu Lastri dengan yakin.
"Ya udah, ayah mau nemuin Aris dulu," pamit pak Bambang sambil beranjak keluar.
"Semoga berhasil Yah," kata Bu Lastri sambil menyemangati pak Bambang.
Pak Bambang hanya mengangguk. Dia berjalan menuju ke arah belakang.
Pak Bambang gak mau nyamperin Aris. Dia hanya menunggu Aris di tempat meja makan. Karena di rasa ini aman buat pak Bambang. Sementara Nesa dan Jo, entah kemana mereka. Lagian semua orang di rumah ini gak ada satupun yang menyukai Aris selain Dinda. Jo, dia netral. Tapi kayak lebih condong ke Aris juga sih, tapi itu tidak masalah buat pak Bambang.
Saat pak Bambang melihat Aris sudah masuk ke dalam rumah. Pak Bambang segera memanggilnya.
"Aris!"
"Iya Yah," jawab Aris setengah kaget. Soalnya wajah pak Bambang terlihat begitu serius.
"Sini duduk!" suruhnya dan Aris manut saja. Setelah dia meletakkan bak cucunya, dia segera menghampiri pak Bambang dan duduk di depannya.
'Ayah kenapa ya? Gak mungkin ayah ngajakin aku makan dengan wajah yang kayak gitu,' batin Aris yang merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Kapan rencanamu untuk menikahi Dinda lagi?" tanya pak Bambang seperti penuh menuntut.
"Anakmu sudah lahir. Sebenarnya sebagai orang tua Dinda, ayah gak ingin misahin kalian berdua. Jadi untuk kejelasannya, ayah menanyakan hal itu sama kamu!"
Wajah pak Bambang begitu serius. Hingga Aris merasa terpojokkan akan semua pertanyaan pak Bambang barusan. Padahal rencana Aris dan Dinda itu mereka akan melangsungkan ijab kabul lagi setelah Dinda selesai nifas. Kalau untuk sekarang, keadaan Dinda masih kurang baik. Jalannya aja masih susah, kakinya juga bengkak-bengkak. Mereka semua mana perduli dengan keadaan Dinda yang seperti itu, tahunya cuma Aris saja yang selalu melakukan kesalahan.
"Em begini Yah, rencana kami berdua akan ijab lagi setelah Dinda usai nifas," jelas Aris.
"Jadi masih lama?" tanya pak Bambang memastikan.
Tanpa mencurigai apapun tentang pertanyaan pak Bambang, Aris segera menjawabnya.
"Iya Yah, kurang lebih sebulan lagi," jawabnya antusias. Gak tahu saja, kalau jawaban Aris barusan akan menjadi alasan pak Bambang untuk mengusirnya dari rumah ini.
"Sebulan lagi kan? Kalau gitu ayah minta lebih baik kamu tidur di rumahmu sendiri," kata pak Bambang yang membuat Aris membelalakkan matanya saking kagetnya.
"Maaf maksud ayah apa ya?" Aris minta penjelasan.
"Semua orang yang tinggal di sini takut akan kelakuanmu. Jadi dari pada masalah ini makin besar, ayah memintamu untuk tinggal di rumahmu sendiri sampai kalian resmi menikah lagi," kata pak Bambang tanpa perasaan.
Rasanya jantung Aris bagaikan diremas-remas. Pak Bambang sedang mengusirnya sekarang. Sebenarnya dia punya salah apa? Sampai-sampai mertuanya sendiri memisahkannya dari istri dan anaknya.
"Aris akan pergi Yah, tapi bareng Dinda dan Zahra," jawab Aris dengan tegas. Apapun masalahnya, Aris gak akan pernah mau berpisah dengan istri dan anaknya.
"Ayah gak akan ngerestuin kamu membawa Dinda pergi dari rumah ini. Lagian pernikahanmu dengan Dinda belum sah sepenuhnya, kamu bilang cerai sekarang, maka semuanya udah bubar. Kamu dan Dinda gak akan punya hubungan apa-apa lagi," jelas pak Bambang yang semakin membuat Aris terpojok.
"Bener apa yang ayah bilang. Dari pada keberadaanmu di sini membuat keluarga ini gak nyaman, lebih baik kamu angkat kaki dari sini Ris!"
Aris menoleh ke sumber suara.
'Kurang ajar, pasti Wawan di balik semua ini,' batin Aris yang menuduh Wawan. Sebab tanpa angin tanpa hujan, Wawan ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Siapa lagi dalangnya kalau bukan?
__ADS_1
'Apapun yang terjadi, aku harus bertahan. Meskipun aku masuk penjara lagi, aku rela,' batin Aris sambil mengepalkan kedua tangannya. Aris akan melawan. Siapa bilang Aris takut? Tidak, demi keluarganya Aris gak akan takut.
Bersambung...