Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Hari Pernikahan Pak Bambang dan Bu Lastri


__ADS_3

***


Dinda POV


Aku dan Mbak Nesa sudah berdandan sedari tadi. Kami semua tersenyum bahagia. Melupakan kesedihan kita barang sejenak. Sebab hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ayah dan bu Lastri yang tak lain adalah ibu sambungku.


Ya, beberapa menit yang lalu. Ayah dan Bu Lastri sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Aku begitu bahagia dan terharu melihat ayah yang begitu berbeda dari biasanya. Rupanya selama ini ayah hampa. Sama persis yang aku rasakan sekarang ini.


"Ayah kelihatan seneng banget ya Din," ucap mbak Nesa setengah berbisik.


"Iya mbak. Semoga ayah selalu bahagia ya mbak," balasku pada mbak Nesa. Tak terasa, saking terharunya aku malah menitikkan air mata.


"Aamiin. Eh, kok kamu nangis?" tanya mbak Nesa sambil menatapku.


"Ah gak mbak. Aku cuma seneng aja lihat ayah," dustaku. Entah apa yang ku rasakan sekarang. Aku merasa sedih dan gelisah. Tapi aku juga merasa bahagia atas pernikahan ayahku. Entahlah, mungkin aku belum bisa melupakan kejadian pahit kemarin.


"Ya udah, ayo kita beri ucapan selamat buat ayah dan ibu baru kita!" kata mbak Nesa dengan semangat.


"Iya yuk mbak," balasku tak kalah semangat juga.


Author POV


Setelah Dinda dan Nesa memberikan salam ucapan. Tiba-tiba para tamu undangan, khususnya para emak-emak mungkin temennya Bu Lastri. Tiba-tiba saja bertepuk riuh. Dinda seperti tak perduli dan langsung pamit beristirahat. Maklum, lagi hamil.


Ternyata mereka tengah menyambut anak Bu Lastri. Anak Bu Lastri ini memang berasal dari desa. Tapi soal penampilan dan fisiknya, weuh gak bisa diremehkan. Cuakep pol katanya orang jowo. Bagus dan rapi. Pastilah setiap orang yang baru melihatnya akan terpesona.


Anak ini sangat lugu dan sopan. Hingga semua tamu undangan disapa dan disaliminnya. Termasuk Jo, Nesa, pak Wahyu, Bu Rosalin dan semuanya yang ada di sana. Kecuali satu orang yang tak dia salami, yaitu Dinda.


Pria ini adalah Wawan, berusia 25 tahun. Datang dari desa. Baru sampai tapi malah sok sibuk sendiri. Hingga Jo gak tega dan menyuruhnya istirahat.

__ADS_1


"Mending kamu istirahat aja Wan. Kamu baru sampai, pasti kecapekan. Oya kalau mau makan, nanti kamu panggil tukang rewangnya aja. Biar diladenin mereka," ujar Jo dan dibalas sebuah senyuman kecil.


"Makasih Mas," jawab Wawan sopan.


"Ya udah, ikut aku!" ajak Jo. Dan Wawan pun mengekorinya.


Jo menunjukkan kamar yang memang disediakan untuk Wawan. "Ini dulunya kamar istriku. Karena gak dipakai lagi, jadi kamu boleh memakainya sepuas hatimu," ujar Jo.


Wawan hanya manggut-manggut tanda paham. "Iya Mas. Ya udah, aku masuk dulu ya?" ijin Wawan.


"Iya silahkan!" Jo pun pergi meninggalkan Wawan.


Siapa kira. Kalau di dalam kamar Nesa saat ini ada Dinda yang sedang menatap foto keluarganya. Di dalam foto itu ada almarhumah ibunya, pak Bambang, Nesa kecil dan Dinda yang masih balita. Terlihat unyu dan gendut mirip Raskha kecil.


Posisi Dinda yang setengah tertutup lemari, karena lemarinya di buka oleh Dinda. Dan posisi lemarinya membelakangi pintu kamar. Jadi yang masuk pun pasti hanya mengira, kenapa pintu lemarinya kebuka?


Terus ditambah lagi dengan fikiran Dinda yang melalang buana entah kemana. Jadi dia tak sadar jika ada orang lain yang tengah masuk ke kamar itu. Hingga suara Dinda yang menutup kembali pintu lemari itu membuat Wawan berjingkat kaget.


Mendengar kata-kata aneh barusan. Dinda segera menghapus air matanya. Memicingkan matanya pada orang yang tak ia kenal. Orang itu masih betah berdiri di atas kasurnya Nesa. "Masnya siapa? Kenapa masuk ke kamar ini? Mas mau nyolong ya?" tuding Dinda pada Wawan.


"Hah! Bukan mbak. Bukan! Saya bukan maling!"


Wawan langsung kikuk. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Sa-saya Wawan Mbak, lah Mbak sendiri siapa? Ngapain juga ada di kamar ini?" Wawan balik bertanya seraya turun pelan-pelan dari kasur itu. Matanya awas menatap Dinda setengah malu. Diamatinya dengan lekat wajah Dinda. Terlihat sangat manis dan khas anak remaja. Tapi kok sudah hamil? Sekelibat, fikiran Wawan menjadi negatif thinking. 'Apa gadis ini hamil di luar nikah? Astaghfirullahal'adziim,' ujarnya membatin. Fikirannya membayangkan yang tidak-tidak.


Saat Dinda hendak membuka mulut. Pintu kamar itu dibuka oleh seseorang dari luar. Bu Lastri orangnya. Dia hendak menemui anaknya. Sambil menyunggingkan senyum ramah pada anaknya sekaligus anak tirinya Bu Lastri mendekat.


"Wawan, Dinda!" sapanya begitu ramah.


Wawan memang belum pernah diperkenalkan dengan keluarganya pak Bambang. Jadi wajar saja kalau Wawan belum kenal siapa-siapa. Ini karena pekerjaan Wawan yang tak bisa ditinggalkan. Dan lagi karena Wawan tinggalnya di desa yang jauh dari kota. Berbeda dengan Bu Lastri yang memang sudah lama tinggal di kota. Jadi mereka jarang bertemu kalau bukan karena hal mendesak atau hal yang penting.

__ADS_1


Dinda mengangguk sambil tersenyum saat disapa oleh Bu Lastri. Sepertinya Bu Lastri mengenal cowok yang ngakunya adalah Wawan. Jadi Dinda diam saja.


"Buk," panggil Wawan pada bu Lastri.


"Eh, Wawan. Sudah kenalan sama adikmu belum?" tanya bu Lastri seraya merangkul bahu Dinda.


Dinda agak terkejut. Tapi dia baru paham. Kalau cowok yang ada di depannya ini adalah kakak tirinya.


"Adik?" gumam Wawan lirih. Namun masih terdengar di pendengaran Dinda dan bu Lastri.


"Iya Wan. Jadi kalian belum kenalan?" Bu Lastri menatap Dinda dengan sebuah senyuman tipis nan menghangatkan. "Yuk, kenalan dulu. Dinda, ini mas Wawan. Anak ibu satu-satunya," lanjut bu Lastri sambil menepuk lengan Wawan.


"Eh." Dinda baru ngeh.


"Ayuk Wan, kenalan. Ini Dinda. Adiknya mbak Nesa."


Wawan mengangguk. Dengan ragu-ragu dia mengulurkan tangannya. Dan dengan ragu-ragu pula Dinda menyambutnya.


Bagai aliran listrik. Tangan Wawan bagaikan tersengat aliran listrik di siang bolong hingga tak berkutik. Wawan berdiri kaku dan keduanya pun menunduk.


"Tadi dia ngiranya kalau aku ini maling, Buk?" adu Wawan pada Bu Lastri.


"Kalian sih, kenapa gak kenalan dulu?" tanya Bu Lastri heran pada tingkah anaknya.


"Masalahnya Buk, pintu lemarinya dibuka. Jadi Wawan mana tahu kalau ada orang?" ucap Wawan cari perhatiannya Dinda.


Dinda hanya tersenyum biasa. "Ya mana Dinda tahu kalau kamu bukan maling. Lagian kenapa masuk kamarnya gak bersuara?" elak Dinda. Dia tak terima disalahkan sepihak oleh Wawan.


"Udah-udah, jangan kayak anak kecil. Saling minta maaf kalian!" suruh Bu Lastri. Dan Wawan pun jadi salah tingkah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2