Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Kesungguhan Aris


__ADS_3

Aris yang melihatnya, merasa begitu kasihan pada Dinda. Hingga dia yang mengambil alih, menggantikan menjawab untuk Dinda.


"Anak itu anak gue Jo, darah daging gue," ucapnya sambil menunduk. Aris tak berani menatap Jo atau Nesa secara langsung. Dia merasa bersalah pada semua orang yang ada di sini.


"Astaghfirullah, kok jadi pelik gini ya," ucap Jo gusar. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Tak menyangka jika hal ini akan menimpa pada adiknya itu. Masih muda, tapi cobaannya sudah begitu berat. 'Semoga kau bisa melewatinya Din.'


"Ya Allah Din, jadi kamu hamil anaknya Aris!" teriak Nesa dengan spontan. Netranya langsung menatap tajam ke arah Aris. Dia berdiri dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Aris. "Ini semua gara-gara loe Ris? Ngapain loe hancurin hidup adik gue? Loe emang bejat. Gak tahu diri. Gue gak sudi terima loe jadi ipar gue. Gak sudi! Lu tuh harus balik ke penjara lagi, Ris. Gak pantes lu duduk di sini," emosi Nesa menggebu-gebu.


"Astaghfirullah, Bunda!"


Jo segera meraih tangan Nesa. Nesa kalau emosi memang jarang terkontrol bicaranya.


"Bunda, tenang Bunda. Gak boleh bicara kayak gitu. Kasihan Dinda. Gimana anaknya nanti? Pasti anaknya juga ingin tahu, siapa ayah kandungnya kan? Bunda jangan bicara kayak gitu lagi. Gak boleh misahin anak dengan ayahnya, okey!" ucap Jo menenangkan Nesa. Menurut Jo, jika Dinda mau menikah dengan Aris. Kenapa tidak?


Nesa langsung diam seketika. Mengikuti intruksi Jo untuk duduk di tempat semula. Sebenarnya Nesa masih kesal. Tapi gimana lagi, dia harus nurut perkataan suaminya.


Jo memejamkan matanya sejenak. "Tapi Din, pas di tes dulu. Katanya hasilnya negatif? Briyan juga bilang gitu lho sama Mas. Kenapa sekarang kamu mengatakan kalau yang kamu kandung ini anak Aris?"


Dinda menggeleng tanda gak tahu. "Briyan emang lihat hasil tesnya. Gak mungkin dia lupa Mas, tapi dia jadi nuduh Dinda yang macem-macem. Katanya ngejebaklah, inilah, itulah. Tapi dokter udah bilang, kalau alat tes belum tentu akurat hasilnya. Jadi ya kemungkinan besar, anak ini anaknya (anak Aris)," jujur Dinda sambil menunduk. Dia mencengkeram erat ujung dasternya. Takut dan malu campur aduk.


Aris yang melihatnya, ingin sekali menggantikan ujung daster itu dengan tangannya. Namun diurungkannya. Mengingat Dinda masih istri orang lain. Dan lagi, emosi Dinda gak menentu. Setidaknya Aris beruntung gak menikah dengan Nesa. Aris baru tahu, kalau Nesa lebih emosian ketimbang Dinda.


"Keterlaluan si Briyan. Ijinkan Mas ngomong sama dia. Mas emang pernah mergoki dia check in hotel. Mas juga berusaha langsung tanyakan pada Dinda waktu itu. Namun sayangnya Dinda bungkam. Jadi Mas diem aja. Tapi gak tahunya dia berulah makin parah kayak gini. Mas gak terima harga dirimu diinjak-injak Din," ucap Jo kesal.


"Dinda udah gak punya harga diri Mas," jawab Dinda lesu.


"Dinda." Aris tercengang.


Dinda mendongakkan kepalanya. Dia menampilkan sebuah senyuman keputus asaannya.


"Mas udah tahu soal Briyan. Kenapa Mas menutupi semuanya dari aku Mas?" tanya Nesa kesal. Nesa merasa dibodohi oleh Jo. Suaminya telah menyembunyikan hal sebesar itu tanpa pengetahuannya.


"Belum saatnya sayang. Kan ini juga urusan kita. Tadinya Mas ingin konfirmasi dulu sama Dinda. Andai Dinda mau cerita waktu itu, Mas pasti udah ngasih tahu ke kamu. Karna Dinda ceritanya baru sekarang, jadi yaaa baru sekarang juga Mas ngomongnya," jelas Jo pada Nesa.

__ADS_1


Kini tatapan Jo beralih pada Aris. "Apa tanggung jawabmu sebagai bapak dari anaknya Dinda?" tanya Jo begitu dingin.


Aris menelan salivanya, kemudian ia menjawab niatan dari awalnya. "Aku tetap akan menikahi Dinda Jo. Dia seperti ini karena ulahku. Yang jelas, aku akan bertanggung jawab penuh pada anakku," ucapnya sungguh-sungguh.


Jo mengangguk. "Kau memang harus menikahi Dinda Ris, tapi biarkan Dinda resmi berpisah dulu. Setelah selesai masa iddah, barulah kalian menikah." Tanpa persetujuan Dinda Jo berkata seperti itu.


"Mas..." potong Dinda. Dia gak bisa menikah begitu aja dengan Aris. Apa Jo gak mikir, kehidupan dia kedepannya bakalan bagaimana?


"Tapi Din... kamu butuh seseorang yang harus bertanggung jawab soal anakmu. Jadi mas fikir, kalian emang seharusnya menikah," kata Jo lagi.


Aris gak nyangka atas jawaban Jo. "Terima kasih Jo." Aris langsung bersimpuh di kaki Jo mengucapkan rasa terima kasihnya. Jo benar-benar baik kepada semua orang. Aris sangat menyesal atas kelakuannya yang dulu. Sekarang dia sudah berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik. Aris harus bisa.


"Gak usah drama," celetuk Nesa yang tak suka dengan sikap lebay-nya Aris.


"Bunda..." interupsi Jo pada istrinya itu.


"Gak usah kayak gini kali Ris. Gue cuma manusia biasa. Jangan berlebihan kayak gini. Duduklah di tempatmu!" perintah Jo dan Aris pun kembali duduk.


"Aku butuh waktu mas," sahut Dinda kemudian.


"Iya Din, masalah ini kita rundingkan nanti aja. Tapi semuanya tetap, tergantung di tanganmu," jawab Jo.


Dinda memegang erat lengan Nesa. "Mbak Nesa," panggil Dinda pelan.


"Iya Dinda," jawab Nesa sambil mengelus tangan Dinda.


"Mbak Nesa ngerestuin pernikahanku sama si monster gak?" tanya Dinda pada Nesa.


"Jujur gak!" sahut Nesa. "Tapi balik lagi. Semua keputusan kamu yang ambil," kata Nesa menjelaskan.


"Aku butuh waktu yang lama mbak. Aku gak mau kalau habis masa iddah langsung nikah. Aku gak mau mbak."


"Oke Din. Mbak coba tanya ke mas Jo ya?" kata Nesa memenangkan Dinda. Masalahnya, hal ini sangat sensitif. Menyangkut rumah tangga Dinda kedepannya.

__ADS_1


"Mas, apa pernikahan ini gak kecepeten? Masalahnya ini habis masa iddah lho?" Nesa yang ditanya Dinda justru melontarkan pertanyaan balik pada suaminya itu.


"Semuanya tergantung Dinda, Bun!" balas Jo dengan yakin. "Kalau Dinda setuju, kenapa tidak? Toh, Briyan sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Dia pria playboy. Jadi dia harus bisa menerima resiko atas kelakuannya," lanjut Jo dengan santai.


"Tuh kan, semua terserah Dinda aja. Mas Jo juga bilang gitu kan? Jadi mbak ngikut keputusan Dinda," balas Nesa pasrah.


Semburat kelegaan tergambar jelas di wajah Aris. Setidaknya, Aris sudah mengantongi restu dari Jo dan Nesa. Sekarang giliran Dinda. Semoga Dinda mau ya Allah, doanya penuh harap.


"Dinda akan fikirkan nanti ya Mas, mungkin setelah perceraian saja. Aku tak enak dengan keluarga Briyan Mbak. Belum juga bercerai, masak sudah punya calon suami lagi. Apa kata keluarganya nanti tentang aku? Kalau Briyan selingkuh, biar aja dia selingkuh. Dinda gak mau ikutan," balas Dinda seraya membayangkan kelakuan Briyan padanya. Dinda tak ingin balas dendam. Pasti kalau Dinda melakukan itu, dia gak bisa membayangkan cacian yang akan ia terima nantinya.


Aris mengangguk maklum atas jawaban Dinda barusan. Meskipun dalam hatinya dia masih sedikit kecewa. Ternyata Dinda masih menghargai perasaan keluarga Briyan. Padahal jelas-jelas Briyan menyakiti hatinya. Tapi Aris berhak mendapatkan semua perlakuan Dinda saat ini. Karena kekecewaannya tak pernah sebanding dengan kesedihan yang Dinda alami.


Jo menyetujui ucapan Dinda itu. "Ya, Dinda benar. Jadi Aris, apa kau sanggup menunggu kesiapan Dinda?" tanya Jo memastikan kemantapan Aris kepada Dinda.


"Aku siap menunggunya kapanpun itu Jo," balasnya yang kini posisi Aris sudah duduk kembali di sofa.


Nesa menghela nafas berat. Sebagai kakak, dia berhak khawatir bukan? Maka dengan itu, Nesa ingin memberikan larangan untuk Aris.


"Heh loe Aris. Kalau Dinda mau nerima loe. Gue harap, loe jangan sakiti dia. Gue gak rela adik gue disakitin sama loe atau siapapun itu! Udah cukup dia menderita bertubi-tubi gara-gara kelakuan busuk lu. Jadi kalau sampai kalian menikah, gue yang akan pastikan kalau lu janji gak akan pernah nyakitin adik gue. Entah mukul atau berkata kasar. Loe gak boleh ngelakuin itu!" ucap Nesa penuh syarat menuntut.


"Gue udah berusaha berubah Sa, gue akan jagain Dinda semampu gue. Gue janji, kalau gue sampe nyakitin Dinda lagi. Gue akan nyerahin diri gue langsung ke penjara. Loe gak perlu takut Sa. Maafin kesalahan gue yang dulu. Yang pernah ngancem loe juga waktu dulu. Tapi kali ini gue bener-bener janji, kalau gue akan sayangi Dinda. Gue gak akan kasarin dia, kecuali kalau gue khilaf Sa. Gue ini juga manusia biasa. Tapi percayalah, gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk gak nyakitin Dinda. Entah batin maupun lahirnya," ucap Aris sungguh-sungguh.


Nesa langsung buang muka. Aris terlalu bertele-tele menurutnya.


Jo yang melihatnya tak bisa melarang apa-apa. Jo sendiri juga ingin marah kala mengingat dia diselingkuhi istrinya di bawah ancaman seorang Aris.


Merasa tak direspon. Aris beranikan diri mendekati Dinda. Sedang Nesa, dia segera mendekat ke arah suaminya. Menyaksikan drama apa lagi yang tengah Aris perankan saat ini.


"Din, maafin aku yang baru minta maaf sekarang. Aku janji, aku akan memperbaiki semuanya. Aku sayang sama kamu Din, sama anak kita," ucap Aris pelan seraya meletakkan tangannya di atas perut Dinda.


Dinda menatap ke arah tangan Aris. Rasanya ingin menepisnya tapi...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2