Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mega Pingsan


__ADS_3

"Loh mbak Mega?"


Samar-samar Mega masih bisa mendengar suara Dinda. Tapi sedetik kemudian dia tak sadarkan diri.


Episode 65.


Dan yang terjadi sebenarnya adalah... itu tadi hanyalah halusinasi si Mega. Mana mungkin Dinda bicara sesarkastik itu pada Mega. Apa lagi ngadu? Itu bukanlah sikapnya Dinda.


"Mas Wawan nanya aku habis nangis kan?" Dinda balik bertanya sambil menatap Mega. Ditatap setajam itu oleh Dinda, Mega jadi ketakutan. Rupanya malam ini bukan Bu Lastri saja yang merasakan ketar-ketir. Tapi si Mega pun sama. Dia seperti habis di sekakmat dan mati di tempat. Ketar-ketir yang sudah berlebihan sampai tangannya gemetaran.


Mega tak kuasa melihat Dinda lagi. Matanya kabur dan sekarang dia lebih memilih menunduk.


Tak lama kemudian, Mega ambruk tak sadarkan diri.


"Loh mbak Mega?" Dinda langsung kaget melihat Mega yang tiba-tiba pingsan itu.


"Mas, istrimu jatuh itu. Kenapa kamu diemin?" Aris sampai heran menatap respon Wawan yang hanya diam saja.


"Mas Wawan, Mbak Mega!" Dinda sangat panik. Tapi dia gak bisa membantu apapun. Sebab besar perutnya sudah sangat mengganggunya.


Wawan sempat malas. Tapi ini di depan Dinda. Jadi mau tak mau Wawan langsung menggendong Dinda menuju ruang TV, tempat di mana Aris tidur.


"Mega kenapa Nak?" tanya Bu Lastri dengan panik.


"Ya Allah, kamu kenapa Nak Mega?"


Dinda yang tadinya sempat ingin mendekat, diurungkannya tiba-tiba. Lebih baik dia melanjutkan makannya. Dia laper, anaknya juga perlu asupan gizi darinya.


Rupanya Aris menangkap gelagat aneh dari istrinya. Sejak kapan Dinda cuek pada keluarganya? Biasanya Dinda selalu perduli, tapi hari ini Dinda terlihat cuek-cuek saja.


"Kamu beneran oke kan?" tanya Aris yang kini sudah duduk di samping Dinda lagi. Dia tak mungkin ikut campur dengan keadaan Mega. Toh Mega sudah punya suami. Biarin aja dia diurusin suaminya, ada ibunya Wawan juga. Jadi kehadiran mereka juga tak akan berguna.


"Aku mau makan, laper." Hanya itu balasan Dinda. Tapi Aris langsung tahu. Kalau Dinda memang sedang ada masalah.


'Dinda sebenarnya ada masalah dengan siapa sih? Jangan-jangan Mega,' tebak Aris pada akhirnya. Karena Aris juga menemukan kejanggalan dengan kelakuan Mega yang tiba-tiba pingsan.


"Ya udah, habisin dulu. Apa mau disuapin lagi?" tawar Aris yang kini juga melanjutkan makannya.

__ADS_1


Dinda menggeleng. Cepat-cepat dia melahap nasinya sesuap demi sesuap hingga habis tak bersisa.


"Laper banget ya? Mau lagi gak?" tawar Aris sambil memperlihatkan nasi gorengnya yang sudah tinggal seperempat.


"Buat kamu aja. Btw, aku langsung ke kamar ya? Mas kalau mau bobo, bobo aja. Gak usah begadang, apalagi main HP," nasehat Dinda sebelum meninggalkan Aris.


"Iya Din. Jangan lupa isya dulu kamu," kata Aris sambil mengingatkan Dinda. Karena Dinda sekarang adalah istrinya. Jadi kalau Dinda melupakan sholat, Aris juga yang akan menanggung dosanya nanti. Dosanya aja sudah banyak, apalagi ketiban dosa istri. Pasti akan berat buatnya nanti.


"Iya," jawab Dinda datar, dia sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Aris.


Sebelum sampai kamar, Dinda melintasi keberadaan Mega. Dinda penasaran dengan kondisi Mega, dan ternyata sudah siuman. 'Mbak Mega kenapa ya? Kok dia bisa pingsan kayak tadi?' tanya Dinda pada dirinya sendiri.


Masih terlihat raut ketakutan dari wajahnya si Mega. Dinda hendak bertanya namun dia urungkan. Lebih baik Dinda menyapa ayahnya dan berpamitan untuk istirahat.


"Malam Yah," sapa Dinda. "Oya, Dinda mau istirahat dulu di kamar," ucapnya sambil membuka handle pintu.


"Iya Nduk, banyak-banyak istirahat. Biar kamu dan cucu ayah sehat," balas pak Bambang yang diangguki oleh Dinda. (Nduk\=Nak)


Dinda pusing, hasratnya dari tadi sore belum tersalurkan. Dari pada dia terjaga dan berpikiran yang mesum, lebih baik dia merebahkan diri dan mencoba untuk menutup matanya.


Sementara Aris, usai makan dia langsung mencuci piringnya dan piring yang dipakai Dinda. Mau balik ke tempat biasa ia tidur, tapi masih dipakai orang. Dia capek, butuh merebahkan diri sebentar. Boleh gak kalau dia numpang tidur sebentar saja di kamar Dinda?


"Sepertinya gak masalah," gumamnya sambil berlalu meninggalkan dapur.


Sama halnya dengan Dinda. Aris pun juga melihat keadaan Mega. Kalau Dinda enggan mendekat, berbeda dengan Aris. Dia justru mendekat dan terang-terangan menanyakan keadaan Mega.


"Mbak Mega gimana keadaannya?" tanya Aris.


"Em, tinggal pusing dikit," jawab Mega. Mega sedari tadi menyalahkan kondisi tubuhnya. Padahal itu tadi cuma khayalan Mega, tapi kenapa sampai membuatnya pingsan?


"Nak Aris mau tidur? Ya udah, kami pindah dulu." Itu suara Bu Lastri. Terdengar seperti terusir gara-gara kedatangan Aris.


"Gak apa-apa Bu, pakai aja! Aris masih mau sholat dulu," kata Aris sambil melangkah beberapa langkah ke belakang.


"Pelan-pelan Ris, Dinda lagi istirahat!" Pak Bambang mengingatkan Aris.


"Iya Yah," jawab Aris mengerti. Kapan keluarga Dinda mau menerimanya dengan tulus? 'Ah, apaan sih aku ini. Harusnya aku membuat Dinda menerimaku dulu ketimbang orang lain,' batin Aris sambil membuka pintu. Kemudian dia menutup pelan saat melihat Dinda tengah tertidur.

__ADS_1


Aris mau sholat? Sepertinya kata-kata itu tertunda. Sebab yang Aris lakukan sekarang adalah menyusul Dinda dan tidur di sebelahnya. Jelas-jelas itu larangan. Tapi Aris gak ngapa-ngapain, dia sekedar capek dan ingin merebahkan dirinya.


Kedua insan itu merasakan kenyamanan menikmati dunia mimpinya. Apalagi Dinda, dia yang biasanya kesulitan untuk tidur. Sekarang bisa tidur nyenyak. Benar-benar nyenyak tak ada kata bangun.


Jika Dinda nyenyak, berbeda dengan Aris. Aris terbangun gara-gara ingat kalau dia belum melaksanakan sholat. Dan dia kaget saat dia malah tidur di samping Dinda. Sebelum ketahuan sama Dinda, buru-buru Aris beranjak dari kasur dan menuju ke kamar mandi.


Aris sangat beruntung, biasanya pak Bambang dan Bu Lastri sangat cerewet soal dia dan Dinda. Tapi malam ini sepertinya mereka sibuk dengan Mega, sampai Aris tak diingatkan lagi agar tak sekamar dengan Dinda.


Usai sholat isya, Aris keluar kamar. Sudah hampir jam 10, tapi rupanya pak Bambang masih terjaga.


"Belum bobo Yah?" tanya Aris pada pak Bambang.


"Ngapain aja kamu di dalem?" tanya pak Bambang setengah kepo.


Padahal ini privasi. Tapi Aris tetap harus jujur. "Aris gak sengaja ketiduran Yah!"


"Ketiduran aja kan? Gak nidurin?" ucap pak Bambang santai. Matanya masih awas menatap televisi yang mati itu.


"Gak Yah sumpah!" kata Aris sambil menunjukkan jarinya bentuk peace.


"Kalau kamu keblabasan, ku potong burungmu sampe habis!" ucap pak Bambang yang membuat Aris mendelik.


Untungnya sama-sama cuek. Jadi Aris pun menjawab sekenanya. "Kalau dihabisin, gimana ayah bisa dapat cucu lagi?"


"Satu aja belum lahir, udah bahas cucu lagi. Benar-benar otakmu Ris!" pak Bambang mencebik. Rupanya Aris sama normalnya dengan dirinya. Masih ingin menikmati rasanya menafkahi istri lahir dan batin.


"Duh Yah!" Tiba-tiba Aris mengaduh kesakitan.


"Ha, kamu kenapa Ris?" panik pak Bambang saat melihat Aris memegangi perutnya.


"Gak usah bercanda Ris!" tuding pak Bambang gak percaya.


"Ini beneran sakit Yah," kata Aris yang langsung ngacir ke kamar mandi.


"Dasar cah edan. Kebelet ee' aja pake aduh-aduh segala," kata pak Bambang sedikit kesal melihat sikap kekanakannya Aris.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2